
“Jaga ruangan ruangan ku untukku, jangan biarkan siapapun masuk selama aku keluar!” ucap Leathina memberitahukan pada penjaga sebelum pergi berkeliling.
“Nona Leathina anda ingin pergi kemana?” tanya para penjaga.
“Aku hanya ingin melatih kekuatan kakiku dengan berjalan-jalan mengelilingi mansion sebentar jadi jangan khawatir.”
“Kami paham Nona Leathina.”
“Jangan mengikuti ku tetaplah berjaga di tempat jaga kalian masing-masing.” Setelah mengatakan tujuannya para penjaga pun mengikuti Leathina hingga membuat Leathina risih dan merasa terganggu karena tidak bisa bergerak dengan bebas untuk mencari informasi.
“Kami tidak bisa meninggalkan nona Leathina berkeliling sendirian, ini perintah tuan duke langsung untuk menjaga nona Leathina.”
“Tidak bisa seperti ini, jika aku ingin mendapatkan lebih banyak informasi aku harus lepas dari semua orang yang terus mengikutiku termaksud para penjaga.” Batin Leathina yang kemudian berfikir dengan keras untuk menemukan solusi agar dia bisa pergi sendirian kemanapun ia mau tanpa harus ada pengawalan dari para penjaga.
“Jadi maksud kalian perintahku tidak lebih penting dari duke?” ucap Leathina yang dengan sengaja memperovokasi para prajurit.
“Bu- bukan seperti itu nona Leathina” jawab para penjaga sambil menunduk karena takut mengambil keputusan.
“Baiklah aku paham apa yang membuat kalian khawatir, tapi tenang saja aku akan baik-baik saja. Jadi kalian tidak usah mengiktiku terus-menerus seperti ini. Aku juga sudah lebih baik dari sebelumnya.”
“Tapi Nona ...”
“Ah, sudah yah. Aku pergi dulu, pokoknya jangan mengikutiku jika tidak ingin mendapat masalah.”
Leathina pun bergegas meninggalkan para prajurit, sesekali ia menoleh ke belakang untuk memeriksa dan saat para penjaga mulai bergerak hendak mengikutinya Leathina langsung memelototi para penjaga hingga tidak ada dari mereka yang berani bergerak, dan pada akhirnya mereka semua menuruti perkataan Leathina dan tetap berjaga di sekitar ruangan Leathina, membiarkan Leathina pergi berkeliling seorang diri.
“Sebaiknya aku pergi kemana ya agar bisa mendapatkan informasi.” Gumam Leathina sambil melihat ke sekelilingnya.
“Ah, aku akan ke dapur untuk memeriksa. Biasanya para pelayan suka bergosip saat memasak.” Gumam Leathina kemudian bergegas ke dapur.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Leathina telah berada di depan pintu dapur. Dari luar sudah dapat di dengarkan berbagai suara orang yang saling mengobrol untuk membunuh kejenuhan saat bertugas di dapur.
“Nah, dugaanku benar kan. Para pelayan biasanya suka bergosip di dapur.” Batin Leathina kemudian sengaja berdiri di depan pintu, ia tidak ingin menampakkan dirinya karena tujuannya datang hanya untuk mendengar pembicaraan para pelayan yang sedang hangat dibicarakan belakangan ini.
Biasanya para pelayan memiliki perkumpulan nya sendiri, dan memiliki cara untuk bergosip dengan sesamanya.
“Sudah berapa lama Nona Leathina sadar?” tanya seorang pelayan pada temannya.
Leathina mempertajam indera pendengarannya berusaha mendengar dengan baik apa yang di bicarakan oleh para pelayan yang sedang bekerja di dapur.
“Ini sudah hampir tiga minggu, Nona Leathina masih dalam masa pemulihan.” Jawab seorang pelayan.
“Mereka membicarakan aku.” Batin Leathina saat mendengar para pelayan ternyata sering membicarakan tentang dirinya.
“Bukankah mansion terasa lebih hidup lagi?”
“Betul, kau tahu sejak Nona Leathina tidak sadarkan diri susana mansion jadi suram. Madam Duchess hanya bolak-balik ruangannya ke ruangan Nona Leathina untuk terus memeriksa kondisi tubuhnya, kedua tuan muda juga selalu bertampang murung. Itu benar-benar masa yang sulit.” Ucap salah seorang pelayan.
“Duchess dan yang lainnya benar-benar melakukan hal seperti itu hanya untukku? Seharusnya mereka tidak terlalu memperlakukan aku dengan baik, ini akan menjadi sulit jika perasaan sudah bercampur.” Batin Leathina yang masih mendengarkan pembicaraan para Pelayan.
“Betul apa yang kamu katakan, tuan muda Nicholas bahkan selalu merasa kesal pada hal-hal kecil setelah nona Leathina sakit. Pernah sekali aku diminta untuk membawakan teh untuknya tapi tuan muda menatapku dengan tatapan tidak suka, aku pikir waktu itu aku akan langsung di pecat. Syukurlah nona Leathina bisa sadar kembali.”
“Menurut kalian sampai kapan hal itu akan berlangsung? Apa kalian pikir nona itu akan terus baik seperti itu. Kau harusnya khawatir jika nenek sihir itu nantinya tiba-tiba berubah dan menindas para pelayan lagi.” Tiba-tiba seroang pelayan wanita dengan suara serak menimpali pembicaraan, membuat semua orang langsung terdiam karena apa yang telah ia ucapkan.
“Ah, tentu saja. Sebaik apapun aku sekarang pasti akan ada orang-orang yang masih membenciku terlebih karena memang Leathina yang dulu sangat suka menghukum para pelayan.” Batin Leathina yang pasrah dibicarakan seperti itu oleh pelayan tadi.
“Kau seharunya tida berbicara buruk seperti itu tentang Nona Leathina!”
“Memangnya apa yang kau harapkan dari perempuan itu? Walaupun kalian membelanya mati-matian, dia tidak akan pernah memperhatikan kalian jadi jangan bertindak bodoh.”
“Kau seharunya melakukan pekerjaanmu, jangan memotong pembicaraan kami. Jika kamu tidak suka mendengarnya maka pindah saja, jangan malah membuat keributan seperti ini.”
Beberapa pelayang yang tidak setuju dengan perkataan pelayan yang menceritakan hal buruk tentang Leathina menjadi marah, hingga terjadi percekcokan kecil di antara mereka yang masih tidak menyukai Leathina dan pelayang yang sudah menyukai Leathina.
“Aku merasa bersalah dengan mereka karena berkelahi karena aku, tapi aku tidak boleh menunjukkan keberadaan ku pada mereka ini akan menjadi masalah besar nantinya, terimakasih telah membelaku. Tapi sepertinya aku harus pergi sekarang, seseorang pasti akan menghentikan pertengkaran mereka nanti.” Batin Leathina setelah mendengar percakapan para pelayang yang bekerja di bagian dapur.
Leathina diam-diam meninggalkan area dapur menuju tempat lainnya yang menurutnya bisa menjadi tempat mengumpulkan informasi untuknya.
“Ini Area pencucian, para pelayan juga biasanya berkumpul dan saling berbagi cerita jika mencuci pakaian.”
Leathina berjalan-jalan di sekitar area pencucian dan area penjemuran kain, dilihatnya tidak banyak pelayan yang berada di sana. Hanya beberapa orang yang sedang menjemur sebuah serbet dan selimut.
“Tidak banyak orang disini.” Gumam Leathina, kemudian memilih duduk di bawah sebuah pohon rindang untuk beristirahat.
“Aku akan beristirahat sebentar.” Batin Leathina.
“Huff ...”
Leathina menghembuskan nafas panjang dan bersandar di dahan pohon, sesekali ia mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar tempatnya duduk beristirahat untuk membunuh kebosanannya.
“Kau dengar kan pelayan dari keluarga lain, itu keluar ...”
“Husst... jangan kau sebutkan nama keluarganya, kalau ada orang yang mendengar kau mungkin akan dihukum karena berbicara menjatuhkan keluarga bangsawan lain.”
“Ah, iya. Maafkan aku. Tapi kau tahukan ceritanya?”
“Iya aku tahu.”
“Akhir-akhir ini banyak pelayan yang di pulangkan dari keluarga lain.”
“Benar, katanya mereka semua bermasalah.”
“Apa kau berfikir seperti itu bahwa mereka memang di pulangkan?”
“Temanku yang mengalami hal itu di tempatnya bekerja, mengatakan bahwa ada salah satu temannya yang dipulangkan karena bermasalah, tapi saat teman ku ini pulang kampung dan mencarinya temannya ternyata temannya itu tidak pernah pulang ke kampungnya.”
“Maksudmu teman dari teman mu itu menghilang begitu saja?”
“Iya, tidak ada yang tahu kemana dia pergi.”
“Memangnya apa kesalahan yang dia perbuat hingga di pulangkan?”
“Mereka mulai bergosip.” Batin Leathina yang tidak sengaja ikut mendengarkan cerita para pelayan di area pencucian karena tempatnya tidak jauh dari mereka.
“Mendekat lah aku akan memberitahumu, tapi kau tidak boleh memberitahukan pada orang lain ya?”
Si pelayan satunya mengangguk dengan antusias kemudian segera mendekatkan kupingnya agar bisa mendengar apa yang akan dikatakan temannya.
“Dia hamil, dan isteri dari bangsawan yang merupakan majikannya sangat marah jadi pelayan itu langsung dipulangkan.” Bisik si pelayan pelan.
“Aku tahu, bahwa akhir dari gosip seperti ini pastilah seperti itu.” Batin Leathina yang masih ikut mendengarkan,
“Kita juga harus berhati-hati mulai dari sekarang.”
“Iya aku juga agak sedikit takut, walaupun aku yakin bahwa kita aman disini tapi siapa yang tahukan laki-laki tetaplah seorang laki-laki.”
Kedua pelayan tersebut pun bergidik dan kemudian langsung kembali ke pekerjaannya masing-masing.
“Hei, hei, menangnya keluarga Yarnell keluarga seperi apa hingga kalian berkata seperti itu!” batin Leathina kesal mendengar perkataan si pelayan.
“Hah, sebaiknya aku pergi dari sini. Jika lama-lama mendengar gosip seperti itu telingaku mungkin bisa rusak.” gumam Leathina pelan kemudian beranjak dari tempat peristirahatannya.
“Hei! Hei! Aku punya berita bagus!” seorang pelayan lainnya yang baru saja datang dengan membawa keranjang cucian kotor berteriak memanggil teman pelayannya yang sedang berada di area pencucian, membuat Leathina yang tadi berniat pergi mengurungkan niatnya dan tetap tinggal karena penasaran dengan cerita yang akan di katakan si pelayan tadi.
“Ah, iya maafkan aku. Tapi aku bear-benar punya cerita yang bagus untuk dibagikan.”
“Apa katakanlah, kalau tidak menarik kami akan menggelitikmu sampai menangis.”
“Hei, Hei, jangan berlebihan.” Ucap pelayan yang baru datang dengan membawa keranjang cuciannya.
“Aku mendengar ini dari para kesatria yang baru saja pulang dari kota.”
“Apa yang mereka katakan?”
“Katanya di kota ada sebuah tempat yang bisa mengubah takdir mu dalam semalam.”
“Apa maksudmu? Kau sedang menceritakan cerita dongeng pada kami yah. Jangan membodohi kami deh.”
“Sungguh, aku tidak berbohong! Aku mendengar ini dari para kesatria.”
“Memangnya ada tempat seperti itu?”
“Iya, katanya itu seperti sebuah restoran yang digunakan sebagai tempat perkumpulan. Orang-orang yang masuk ke dalam tempat tersebut harus menggunakan topeng hingga tidak saling mengenal satu sama lain.”
“Terus apa hebatnya tempat itu?”
“Ah, ini nih jika punya teman yang pemikirannya pendek.”
“Kau jangan mencemooh ku ya! katakan saja kenapa tempat itu bisa mengubah takdir dalam semalam.”
“Itu karena banyak bangsawan yang juga sering datang ke sana, jika kebetulan kau bertemu salah satu dari mereka dan jatuh cinta maka mungkin saja kau akan dibawa dan dijadikan istrinya atau dijadikan selirnya maka dalam semalam hidup mu akan berubah. Apa kalian mau kesana?”
“Wah! Itu benar-benar kesempatan yang bagus, walaupun hampir tidak mungkin tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bukan. Kalau begitu ayo kita pergi saat hari libur tiba.”
“Memangnya kau tau nama tempatnya?”
“Ah, iya aku hampir lupa. Kalau tidak salah para kesatria tadi menyembut namanya dengan ‘Secret cafe’ katanya tempatnya berada di sekitar pintu masuk area kumuh.”
“Bukankah di sana berbahaya? Bagaimana jika orang-orang jahat juga datang.”
“Ini seperti sedang bertaruh keberuntungan jika kau beruntung maka kau bisa memenangkan banyak hadiah sekaligus, tapi jika tidak maka kita tidak akan rugi apa-apa bukan. Kita hanya perlu berhati-hati. Jadi bagaimana apa kalian mau pergi ke sana?”
“Kalau begitu aku akan ikut untuk bersenang-senang saja.”
“Aku juga.”
“Kita sudah sepakat yah! Awas kalau kalian tidak jadi pergi.”
“Iya kami akan pergi, lagi pula kami juga penasaran tempat seperti apa di sana.”
“Nah, kita sudah sepakat. Kalau begitu kita pergi bersama di hari libur.
“Baik.”
“Kalau begitu aku kembali ke dalam lagi, masih banyak kain kotor yang harus aku antarkan untuk segera di cuci.”
“Iya, hati-hati. Jangan sampai terjatuh.”
Setelah membuat kesepakatan bersama si pelayan tadi segera meletakkan keranjangnya yang berisi kain kotor yang dibawanya dari dalam setelah itu segera kembali ke dalam mansion lagi.
“Para pelayan-pelayan itu terlalu polos, mempercayai hal-hal seperti itu. Bukankah sudah jelas bahwa itu hanya lah trik untuk memancing para pelanggan, dan jika itu benar maka hanya dua kemungkinan pertama kalian akan beruntung bertemu dengan bangsawan kaya lalu membawamu bersamanya, kedua kalian akan dijebak oleh para penjahat.” Gumam Leathina dan menggelengkan kepalanya karena merasa prihatin dengan harapan para pelayan-pelayan yang masih wanita muda.
“Tapi, walaupun kalian bertemu seorang bangsawan yang menyukai kalian, belum tentu dia akan membawamu. Karena tidak mungkin bangsawan menikahi wanita biasa kecuali jika dia benar-benar telah kehilangan pikiran sehatnya, anak mu yang akan lahir pun pasti akan tersiksa seumur hidupnya karena lahir dengan darah campuran. Aku harap mereka datang kesana memang untuk bersenang-senang saja bukan untuk memikat para bangsawan muda. Semoga gadis-gadis tadi baik-baik saja.”
Leathina tidak ingin lagi mendengar gosip-gosip aneh yang disebarkan oleh para pelayan, ia akhirnya memilih untuk kembali ke ruangannya.
“Secret cafe? Kedengarannya menarik, apa aku harus pergi kesana untuk melihat-lihat?” gumam Leathina dalam perjalanannya kembali ke ruangannya.
“Hah! Hari ini masih sama, informasi yang sama sekali tidak berguna.” Seru Leathina kemudian merenggangkan tubuhnya karena merasa bosan.
“Apa yang tidak berguna!”
“Woah!”
Seseorang tiba-tiba saja berbicara tepat di telinga Leathina membuat Leathina refleks meninju orang tersebut karena muncul secara mendadak.
“Winter?!” seru Leathina saat mengetahui siapa yang tiba-tiba saja berbicara di dekatnya tadi.
“Ah, seperti yang aku duga kau benar-benar kuat Leathina.” Ucap Winter sambil menutupi hidungnya yang mengeluarkan dari akibat tinju yang Leathina berikan padanya.
“Oh, Astaga! kau berdarah Winter. Maafkan aku, aku tidak sengaja memukulmu.” Ucap Leathina panik. Leathina pun segera membantu Winter untuk menghentikan pendarahan pada hidungnya.
“Duduk yang tegap dan posisikan kepalamu sedikit condong ke depan Winter, ini akan memuat pendarahannya berhenti dengan cepat.” Ucap Leathina kemudian mencubit hidung winter sebentar untuk menghentikan pendarahannya.
“Leathina?” panggil Winter saat Leathina berjongkok tepat di depannya dan menyentuh wajahnya dengan hati-hati.
“Tetaplah seperti ini sedikit lebih lama Winter, hidungmu masih berdarah.” Leathina masih fokus untuk menghentikan pendarahan pada hidung Winter, sementara Winter tidak bisa mengelak dan mengikuti semua perkataan Leathina.
“Apa sekarang sudah berhenti?” gumam Leathina sambil menunduk dan memperkatikan hidung Winter, “Maafkan karena aku pakaianmu jadi kotor.” Ucap Leathina saat melihat banyak darah di pakaian Winter.
Leathina segera mengambil sapu tangan miliknya yang ada di kantongnya kemudian membersihkan hidung Winter yang kini sudah tidak berdarah lagi.
“Pegang ini.” Leathina menarik tangan Winter dan memintanya untuk memegang sapu tangan sendiri untuk menutupi hidungnya yang kotor karena darah.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Leathina khawatir karena sejak tadi Winter hanya terdiam.
Winter tidak berbicara ia hanya mengangguk pelan tapi mataya masih fokus melihat Leathina yang masih menghawatirkan dirinya.
“Apa kau benar-benar baik-baik saja Winter? Sepertinya aku memukulmu terlalu keras hingga kemampuan komunikasi mu jadi rusak apa sebaiknya aku panggilkan dokter yah ...” gumam Leathina yang semakin panik karena Winter berperilaku aneh setelah ia memukulnya tadi. Leathina bergegas berdiri dan hendak membawa Winter segera ke ruangan pengobatan.
“Leathina tunggu!” seru Winter yang menarik kembali Leathina hingga Leathina berhenti berjalan.
“Aku baik-baik saja.” Ucapnya kemudian matanya tertuju pada tangan Leathina yang dipenuhi oleh darahnya.
“Ah, maafkan aku tanganmu jadi kotor karena darahku.” Ucap Winter kemudian mengambil sebuah sapu tangan dari sakunya dan dengan hati-hati mulai membersihkan tangan Leathina yang terkena noda darah.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Leathina sekali lagi pada Winter. “Wajahmu memerah, apa sesakit itu? Kita sebaiknya harus segera ke ruangan pengobatan.” Leathina mendongak melihat wajah Winter.
Winter yang tadi tertunduk karena fokus membersihkan tangan Leathina kemudian bersitatap langsung dengan mata Leathina yang mendongak untuk melihatnya.
“Aku baik-baik saja!” Ucap Winter kemudian segera mendorong Leathina sedikit menjauh darinya.
“Leathina sebaiknya kau kembalilah ke ruangan mu ini sudah mau gelap, aku juga memiliki sesuatu yang haru aku selesaikan.” Ucap Winter kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan Leathina.
“Tadi hampir saja, ada apa denganku.” Gumam Winter setelah berbalik dan pergi meninggalkan Leathina.
“Apanya yang hampir saja?” tanya Leathina pada dirinya sendiri karena mendengar gumam Winter sebelum pergi.
“Apa maksudnya tadi dia hampir saja balas memukuliku karena aku telah membuat hidungnya berdarah?” gumam Leathina saat melihat Winter kini telah menghilang setelah berbelok.
“Sebaiknya aku harus hati-hati dengan refleks tubuh Leathina.”
Setelah Edward pergi Leathina pun segera kembali ke ruangannya, dan saat sampai para penjaga ternyata masih berjaga di depan ruangannya.
...***...