
“Mau kemana?” tanya Adam sambil menarik pedangnya dari sarungnya kemudian langsung mengarahkan pedang miliknya itu ke leher kusir kereta yang ingin kabur melompat dari kereta.
Troy yang sibuk mengontrol laju kereta karena tadi si kusir tiba-tiba melepaskan kendalinya membuatnya berfikir bisa lolos dan berniat untuk segera melarikan diri.
“Bergerak sedikit saja maka tangan kanan mu akan aku potong.” Ucap Adam serius, membuat si kusir yang tadi berniat melompat dari kereta untuk melarikan diri mengurungkan niatnya takut pada Adam dan Troy.
“S-saya tidak tahu apa-apa tuan.” Si kusir memelas cepat ia menyerah karena menyadari situasinya yang tidak menguntungkannya.
“Katakan!”
“Saya benar-benar tidak tahu apa-apa, sungguh!”
“Baiklah!” Adam mengayunkan pedangnya berniat memotong tangan si kusir.
“Tunggu! Tunggu dulu Adam!” seru Troy panik saat melihat Adam.
“Ada apa?” tanyanya kemudian menghentikan ayunan pedangnya.
“Keretanya akan kotor dengan darah kalau kau membunuhnya disitu.”
“Akh!” teriak si kusir kesakitan saat Troy menendang bokongnya hingga terjungkal dan jatuh dari kereta terguling-guling kemudian menghantam akar kayu.
“Nah, selesaikan disitu saja.” Teriak Troy kemudian kembali memecut kuda yang membawa kereta meninggalkan Adam yang masih harus mengurur si kusir tadi di belakang mereka.
Troy bergegas sampai di desa sebelum matahari terbit hingga pada akhirnya ia berhasil sampai di gerbang desa, Nina yang masih mengekor di belakang kereta bergegas mencari penginapan kemudian membawa Leathina ke sana.
“Sudah samapi Tuan Ed.” Troy membuka pintu memberitahu Edward bahwa penginapan sudah siap kemudian mempersilahkan Edward untuk turun.
Edward mengangguk paham kemudian tangannya dengan cekatan mengambil jubah yang tadi ia gunakan sebagai selimut untuk Leathina kemudian diambil kembali dan memakaikannya pada Leathina hingga menutupi wajah dan rambutnya.
“Ah, istrinya pasti sangat kelelahan silahkan masuk tuan-tuan.” Sambut si pemilik penginapan ramah saat melihat Edward masuk dengan Leathina di gendongannya.
Tidak ada respon dari Edward, Edward hanya meliriknya sebentar kemudian langsung menuju ruangan yang telah Nina sewa untuk mereka menginap selama berada di sana.
“Tapi tuan, apa istrinya baik-baik saja? Apa mau saya panggilkan dokter?” Ucap si pemilik penginapan yang malah mengekori Edward sampai di kamarnya.
Si pemilik penginapan terus mengoceh bahkan hingga Edward telah sampai di depan kamar yang ia sewa namun sebelum masuk ia menghela nafas sebentar menahan diri agar tidak membungkam mulut si pemilik penginapan yang cerewet.
“Tuan, lancang sekali!”
Karena Edward mengabaikannya si pemilik penginapan mereka Edward tidak masalah jika ia bertindak semaunya ia kemudian kembali mencoba melihat Leathina yang wajahnya tertutup kain.
karena masih tidak bisa melihat wajah di balik kain membuatnya semakin penasaran kenapa wajahnya ditutupi dan tanpa sadar tangan si pemilik penginapan sudah berada di depan wajah Leathina ingin membuka jubah yang menutupi wajahnya, merasa ada yang aneh Troy langsung menghentikannya di genggamnya tangan si pemilik penginapan hingga menyipitkan mata karena menahan sakit tangan Troy yang besar terlalu erat menggenggam pergelangannya.
“Ah! Maafkan saya.” Ucapnya refleks dan langsung menarik tangannya karena sudah tidak tahan sakit akibat tangan Troy yang terlalu kuat mengekang tangannya.
“Saya akan segera menyiapkan keperluan anda.” Ucap si pemilik penginapan panik kemudian terburu-buru pergi meninggalkan Troy dan Edward.
“Maafkan saya tuan, saya tidak tahu kalau pemilik penginapan ini lancang.” Ucap Troy kemudian cepat-cepat membukakan pintu kamar untuk Edward karena Edward tidak bisa membuka pintu sendiri tangannya ia gunakan sebagai penahan agar Leathina tidak terjatuh dari gendongannya.
“Tidak masalah,” Ucap Edward kemudian langsung masuk ke dalam ruangan, “Tapi dari gerak-geriknya sepertinya dia memiliki maksud tersembunyi.” Sambungnya lagi.
Dengan hati-hati Edward membaringkan Leathina di atas tempat tidur kemudian memperbaiki posisi Leathina agar Leathina merasa nyaman walaupun masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Iya tuan, saya juga berfikir begitu. Saat Nina yang masuk si pemilik penginapan sepertinya tidak terlalu peduli padannya, aku tidak tahu kalau memang nina yang tidak menarik atau ..Aww!” pekik Troy saat tiba-tiba seseorang memukul kepala bagian belakangnya dengan cukup keras memuatnya beringsut menahan sakit beberapa saat.
“Nina!” pekiknya saat melihat Nina yang terlihat tidak merasa bersalah meletakkan barang-barang milik Leathina yang tertinggal di kereta.
“Adam pergi membersihkan diri setelah dia membereskan bandit tadi.” Nina tidak lagi mempedulikan Troy kemudian langsung melapor pada Edward.
“Mereka bandit?” tanya Edward.
“Iya, dan si kusir bertugas untuk membawa calon korbannya. Mereka semua bekerja sama dari awal, teman-temannya yang lain bersembunyi di dalam hutan kemudian menyerang jika telah melewati titik-titik tertentu sesuai yang mereka tentukan.”
“Cepat sekali kau dapat kabar dari Adam, Adam saja belum samapi.” Celetuk Troy.
“Diam kau otak otot!” bentak Nina.
“Baru saja saya bertemu Adam di luar saat ingin masuk ke dalam kamar penginapannya.”
“Ah! Dan soal si pemilik penginapan yang tadi, sepertinya mereka mencari seseorang.” Ucap Nina lagi melaporkan karena tidak sengaja mendengar percakapan anatar Edward dan Troy.
“Dari mana kau tahu?” tanya Troy kemudian menyilangkan tangannya di depan dadanya karena menahan kesal akibat perbuatan Nina terhadap dirinya.
“Kami berpapasan dan saya tidak sengaja mendengar si pemilik penginapan berbicara dengan temannya dan mengatakan bahwa hampir saya ia melihat wajahnya kalau tidak di cegat oleh orang aneh." ucap Nina sengaja membesarkan suaranya di kalimat akhirnya, "Jika memang dia yang dicari maka harus segera dilaporkan secepatnya agar mendapat imbalan karena telah menemukan orang yang sedang dicari.” Sambung Nina lagi, namun jawabannya tentu saja bukan untuk menjawab pertanyaan Troy melainkan melanjutkan laporannya pada Edward.
“Jadi begitu, kemungkinan besar mereka mencari Leathina. karena kerajaan dan bahkan kediaman Duke telah memberitakan secara besar-besaran tentang kehilangan Leathina setelah Leathina menghilang, mereka bersedia membeli informasi apa pun yang berkaitan tentang Leathina hanya untuk menemukan Leathina.” Gumam Edward kemudian ditatapnya Leathina yang masih tidak sadarkan diri.
“Kalian berdua carilah informasi lebih banyak lagi.” Pinta Edward setelah berfikir sebentar.
“Baik Tuan.”
Troy dan Nina langsung menyanggupi kemudian segera menjalankan tugas yang diberikan Edward untuk mereka berdua.
“Trak!”
Baru saja Troy dan Nina hendak keluar dari kamar Adam sudah membuka pintu terlebih dahulu dan mereka bertiga secara tidak sengaja berpapasan.
“Sudah beres?” tanya Nina ketika melihat pakaian Adam telah bersih setelah tadi sebelumnya saat berpapasan dilihatnya banyak percikan darah di pakaiannya dan bau amis darah mengikuti Adam.
“Sudah!” jawab Adam singkat tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Nina dan Troy karena khawatir mereka berdua akan mempermainkannya.
Adam bukannya takut menghadapi dua koleganya itu hanya saja Adam tidak suka menghabiskan tenaga nya berdebat dengan dua orang yang selalu di penuhi energi seperti mereka berdua.
“Kau lama sekali, kau main rumah-rumahan dulu dengan mereka ya?” ucap Troy otak jail nya kembali aktif setelah tadi mati saat kepalanya dipukul oleh Nina.
“Nina, kau mau pergi kemana?” tanya Adam pada Nina dan dengan sengaja mengabaikan pertanyaan Troy, membuat Troy mendengus karena kesal diabaikan oleh Adam tapi tidak berani bertindak lagi karena khawatir Nina yang berdiri di sampingnya dapat langsung menikamnya.
“Kami akan mencari informasi tambahan, sepertinya seseorang mengetahui keberadaan Nona Leathina. Si pemilik penginapan bahkan mencoba untuk mencari tahu.” Jawab Nina memberitahukan Adam.
“Baiklah, kalau begitu aku juga akan pergi.” Adam pun mengurungkan niatnya untuk masuk karena Adam tahu bahwa Nina pasti telah melapor pada Edward mewakilkan dirinya.
“Ada apa?” tanya Adam saat Nina menariknya mundur.
“Kau disini, kita bertiga tidak boleh keluar secara bersamaan seseorang harus berjaga.” Ucap Troy memberitahu Adam, sengaja tidak membiarkan Nina berbicara untuk membalas kekesalannya.
“Baiklah, kalian berdua berhati-hatilah. Sepertinya ada seseorang yang mengendalikan desa ini, bahkan bandit yang menyerang di hutan tadi sepertinya didalangi oleh seseorang.” Adam memperingati Nina dan Troy, meminta dua rekannya itu untuk tetap berhati-hati. Edward merasa ada yang janggal dengan desa yang baru mereka masuki itu.
“Kau terlalu khawatir Adam, tenang saja.” Troy meremehkan, “Eh! Nina tunggu aku!” teriaknya kemudian dengan terburu-buru menyusul Nina yang telah pergi terlebih dahulu dan meniggalkan Adam agar tetap berjaga di sekitar penginapan dan kamar Leathina.
...***...