
“Aw!” jerit Aelfric.
Semua orang terfokus melihat Aelfric yang jatuh sementara Leathina yang kebingungan karena kamarnya ramai dengan orang-orang langsung menegang karena kaget dan secara refleks langsung bersembunyi di balik Edward.
“Ada apa kakak Lea?!” Tanya adiknya Nora yang ikut panik melihat kakaknya panik.
“Kau kenapa?” Bisik pangeran Edward yang juga ikut bingung.
Leathina sendiri juga bingung kenapa ia refleks bersembunyi kemudian setelah sepenuhnya sadar ia akhirnya tidak bersembunyi lagi dan dengan canggung duduk kembali di sofa.
“Aku kebiasaan bersembunyi dari mereka, aku kira kita masih dalam pelarian.” Bisik Leathina pada pangeran Edward sebelum kembali duduk.
“Ahk!” Pangeran Edward cekikikan namun langsung terdiam karena Leathina mencubit pahanya.
Sementara nicholas yang memperhatikan sedang mewanti-wanti mereka berdua, merasa heran kenapa kakak perempuannya yang dulunya terkenal dingin dengan pria selain putra mahkota malah begitu akrab dengan pangeran kedua yang terkenal oleh semua orang-orang di kerajaan sebagai bajingan pemain wanita yang sering keluar masuk rumah bordil, pemalas dan pembangkang.
“Nona Leathina, terimakasih telah kembali dengan selamat.” Sambut Winter dengan suka cita, dengan hormat ia mencium punggung tangan Leathina sebagai salam penghormatan setelah lama tidak bertemu.
“Maafkan saya yang tidak berkesempatan menyelamatkan anda malam itu, Nona Leathina.” Ucap Zeyden membungkuk untuk memberi hormat.
“Leathina, kau kembali!” Seru Aelfric dengan semangat tapi tidak seperti tadi yang langsung melompat ia kembali mengingat asal usulnya kemudian bertingkah seperti Winter mencium punggung tangan Leathina mencoba menjadi berwibawa.
“Cih!” desis pangeran Edward kemudian dengan sengaja mendorong Aelfric dan kali ini pangeran Edward yang mengucapkan kalimat sambutan.
“Selamat datang nona Leathina, semua orang pasti sangat merindukan anda, saya juga sangat merindukan anda.” Ucapnya dengan wibawanya.
“Kenapa kamu melakukan ini, kamu kan melihatku semalam.” Bisik Leathina gemas dengan tingkah Edward yang benar-benar berubah dibandingkan dengan kepribadian identitasnya yang lain, Edward yang sekarang sedikit lebih centil dan agak menjengkelkan.
Pangeran Edward tersenyum jahil, “Tidak melihatmu sedetik pun aku juga rindu.” Bisiknya pada Leathina.
Alis Nicholas semakin berkerut dengan paksa ia menarik kakaknya Leathina dibantu dengan Nora. “Maafkan ketidak sopanan saya tuan-tuan, tapi kalian juga tidak sopan bagaimana bisa anda semua masuk ke kamar wanita yang belum menikah bahkan belum berpakaian dengan benar, silahkan keluar kakak saya mau membersihkan dirinya terlebih dahulu.” Ucap Nicholas tegas, sementara Anne mengangguk keras setuju dengan perkataan Nicholas, Nora pun menjalan kan fungsinya dengan paksa ia mendorong mereka semua ke luar dan langsung menutup pintu.
“Nah tuan-tuan, untuk sekarang kalian pulanglah dulu putri saya butuh istirahat dia baru kembali dan mohon maafkan perilaku tidak sopan kedua putra saya barusan mereka hanya menghawatirkan kakaknya saja.” Ucap Duke Leonard agak canggung karena perlakukan dua anaknya tadi pada Winter, Zeyden, Aelfric terlebih pada Edward yang merupakan seorang pangeran kerjaan.
“Tidak masalah duke, kalau begitu saya pamit.” Jawab pangeran Edward ramah. “Ah! Dan kalau begitu saya akan berkunjung lagi nanti.” Ucapnya sebelum pergi.
Setelah itu Zeyden meminta maaf karena datang tanpa pemberitahuan kemudian pamit untuk pulang.
“Paman ada hal yang ingin saya laporkan lagi.” Ucap Winter serius, Winter memanggil duke dengan paman jika hanya mereka saja karena mereka sudah sangat akrab dari lama.
“Bagaimana dengan anda tuan Aelfric?” tanya duke Leonard saat melihat Aelfric hanya diam saja dari tadi. “Saya tidak tahu anda ternyata berada di kerajaan saya pikir anda tidak ada disini.”
“Aku akan tinggal disini.” Ucapnya tanpa malu-malu, membuat Winter dan Duke Leonard malah saling pandang.
“Kenapa?” Tanya Winter.
“Bukankah dulu Pangeran Edward selau meminta anda untuk tinggal di kediamannya karena anda adalah tamu kerajaan, tenang saja kalau begitu saya akan menghubungi kerajaan untuk mencarikan tempat tinggal yang layak.”
“Ah! Tidak!” jerit Aelfric. “Aku mohon tuan Winter jangan pangeran Edward, dia itu lebih kejam dari iblis dia senang menyiksaku di sana dia selalu memaksaku makan dengannya, bahkan setiap sore mengajak untuk minum teh di taman dia bahkan membawaku ke rumah malam, aku mohon biarkan aku tinggal disini.” Aelfric memelas sedih.
“Padahal menyenangkan tinggal di istana kerajaan loh.” Celetuk seseorang.
“Tidak! Di sana setiap hari seperti neraka jika bersama pangeran kedua itu.” Jerit Aelfric.
“Ah! Pangeran Edward, apa ada barang anda yang ketinggalan?” tanya Winter.
Sontak Aelfric menutup mulutnya dan menciut, ternyata orang yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul.
“Aku lupa mengatakan bahwa tuan muda Aelfric yang merupakan sekutu kerajaan kita akan tinggal di istana, dia akan selalu menjadi tamu paling istimewa di kediamanku hahaha.” Ucap pangeran Edward dengan tersenyum di susul dengan suara tawanya. “Kalau begitu saya pamit duke dan tuan winter, terimakasih atas jamuannya.” Ucapnya lalu pergi.
“Tidak, tidak, aku mohon jangan....! .” Jerit Aelfric tapi ia sudah terlanjut di seret oleh pangeran Edward dan mau tidak mau ia hanya bisa pasrah karena pangeran Edward tidak berniat melepaskannya.
"Kau membuatku malu, bagaimana nanti jika Duke Leonard dan tua. Winter salah paham padaku dan mengira aku benar-benar memperlakukan tamuku dengan buruk." Ucap Pangeran Edward sembari membawa Aelfric ikut pulang bersamanya.
…
Zeyden seperti linglung setelah keluar dari rumah Duke leonard, “Kenapa aku harus repot-repot kesini.” Gumamnya kemudian mengibaskan tangannya dan seketika ia sudah sampai di menara sihir.
Beberapa penyihir lain menyambutnya dan yang lainnya segera menanyakan berbagai hal untuk meminta persetujuan untuk izin-izin penyihir lainnya, dan seorang lagi menunjukkan dokumen-dokumen penting yang telah menggunung di atas meja kerja nya karena ia tiba-tiba menghilang dan meninggalkan pekerjaannya sendiri.
“Akan aku kerjakan nanti, untuk sekarang jangan ada yang menganggu ku.” Ucapnya tegas kemudian penyihir lainnya langsung mengerti dan meninggalkannya sendiri.
Zeyden kembali ke ruangannya kemudian menutup pintu keras-keras, ‘Kenapa aku malah jadi aneh seperti ini.’ Pikirannya tidak karuan dan kembali memikirkan perkataan pangeran Edward tadi.
“Apa-apaan orang itu.” gumamnya kesal, kemudian terngiang di kepalanya Leathina yang tampak cantik dengan gaya polosnya tadi, dan rambut merahnya yang panjang menjuntai malah membuatnya semakin terlihat memesona dimatanya.
“Astaga apa-apaan sih, dasar sialan.” Ucapnya kesal.
“Siapa?” tiba-tiba seseorang bertanya padanya.
“Aaakh!” Zeyden terkejut hampir menyerang orang berbicara tadi.
“Untuk apa kau di sini?” Tanya Zeyden kesal melihat seseorang berada di ruangannya saat pikirannya sedang kalut.
“Kenapa kau malah marah-marah, kau juga sering tiba-tiba ada di ruanganku bukan.”
“Zeyden, kau darimana saja? Kenapa tiba-tiba menghilang? Proyek yang aku kerjakan membutuhkan beberapa penyihir aku sudah mengirimkan dokumen persetujuan tapi belum juga ada kabar darimu.” Tanyanya lagi tapi ia malah bingung melihat temannya yang tidak fokus dengan percakapan mereka.
...***...