I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 215



Leathina terus menatap Edward yang sepertinya sangat menikmati apa yang ia lakukan dan setiap mereka berdua bersitatap Edward spontan langsung tersenyum kemudian melanjutkan kegiatannya lagi untuk menyuapi Leathina sampai bubur di dalam mangkuk habis.


Setiap kali Leathina melihatnya Edward langsung tersenyum membuatnya merasa harus mencurigai tindak tanduknya itu jangan sampai Edward yang sekarang bersikap manis padannya itu merencanakan sesuatu yang lainnya.


Leathina sudah biasa melihat senyuman palsu yang sengaja Edward buat ketika berada di istana dan bertemu dengan orang-orang, bibirnya tersenyum tapi matanya masih terlihat was-was mengamati setiap orang yang bertemu dengannya, namun kali ini berbeda senyuman Edward yang Leathina lihat sekarang terlihat lebih hidup dari sebelumnya, bibirnya yang merah terus tersenyum melengkung menghiasi wajahnya yang memang seperti portrait ditambah matanya yang terlihat seperti anak anjing yang senang melihat pemiliknya setelah lama tidak bertemu.


“Kau sepertinya senang sekali.” Leathina akhirnya bersuara setelah lama terdiam dan hanya fokus menelan bubur yang disuapkan Edward masuk ke mulutnya.


“Humm?” Edward menatap Leathina setelah meniup bubur yang ada di sendok kemudian menyuapkannya pada Leathina setelah dirasa telah dingin, “Apa?” tanya Edward karena sebelumnya tidak terlalu jelas mendengar apa yang di ucapkan Leathina, setelah itu kembali sibuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di bibir Leathina dengan mengusapkan tangannya ke bibir Leathina.


“Umh, kenapa kau membersihkannya menggunakan tangan?! bukankah kamu punya sapu tangan?” Leathina menggerutu kemudian menepis tangan Edward dan langsung menyambar sapu tangan yang ada di atas meja dan membersihkan mulutnya sendiri.


“Kenapa?” tanya Edward tanpa merasa itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan.


“Kotor Edward, ini kotor, tanganmu jadi kotorkan.” Gerutu Leathina masih sibuk membersihkan mulutnya.


“Tidak ini tidak kotor.” Jawab Edward santai kemudian menjilat ujung jempolnya yang tadi ia gunakan untuk membersihkan bibir Leathina yang di tempeli bubur.


“Ihk!” Leathina melongos kemudian bergidik ngeri melihat sisi lain dari Edward yang baru kali ini ia tunjukkan.


“Apa kau melakukan hal seperti ini pada yang lain juga?!” ditatapnya Edward dengan tatapan aneh, “Bersihkan tanganmu dengan ini, kau pikir aku suka melihatmu seperti itu.” Gerutu Leathina kemudian melemparkan sapu tangan yang tadi ia gunakan ke pada Edward.


“Kenapa?” tanya Edward dengan polosnya, “Rata-rata wanita suka kok,”  ucapnya lagi kemudian akhirnya membersihkan tangannya dengan sapu tangan yang dilemparkan Leathina padanya.


“Memangnya wanita mana yang berani melihatmu begitu, sebelum melihatmu bertingkah aneh seperti itu kau pasti sudah menggorok lehernya terlebih dahulu. Kalau kau mau, kau jadi kucing liar saja sana.” Celetuk Leathina kemudian meraih segelas air dari meja dan meminumnya.


“Bukankah aku terlihat imut?” tanya Edward kemudian tersenyum ketika melihat wajah Leathina yang memerah ketika melihat aksinya tadi.


“Uhukk ... uhukk ... uhukk!” Leathina terbatuk-batuk tersendak oleh air yang baru diminumnya.


“Ah! Leathina kau tidak apa-apa?” tanya Edward panik kemudian segera membantu Leathina, menepuk-nepuk punggungnya sampai Leathina berhenti terbatuk-batuk


“Kau sedang menggodaku ya?!! pergi kau, aku tidak ingin melihatmu.” Seru Leathina dengan wajah memerah kemudian mengusir Edward dan langsung berbaring di tutupnya tubuhnya sampai menutupi seluruh kepalanya.


“Bahaya! Ini bahaya! Kenapa sifatnya mendadak berubah.” Batin Leathina panik yang merasakan ada banyak perubahan pada diri Edward setelah hampir setengah tahun ia pergi dari kerajaan.


Sebelumnya Edward memang sering menggoda Leathina tapi dengan maksud yang lain, berbeda dengan yang sekarang yang dilihat bagaimanapun Edward memiliki maksud tersembunyi.


“Leathina?” panggil Edward namun Leathina dengan sengaja tidak menjawab.


“Leathina?” panggil Edward lagi.


“Apa?!” risih di panggil terus dan sepertinya Edward pun tidak akan  menyerah mengganggunya dan memanggil namanya akhirnya Leathina menyerah.


“Leathina ada yang ingin aku katakan.” Ucap Edward serius.


Leathina yang mendengar Edward kali ini berbicara lebih serius dan tidak main-main lagi kemudian keluar dari selimutnya dan duduk kembali di bantu oleh Edward.


“Apa?” tanya Leathina dengan serius.


“Maafkan aku yang sebelumnya tidak memberitahukan apa-apa padamu,” ucapnya dengan nada lembut. “tapi percayalah aku melakukannya demi kebaikanmu Leathina.”


Leathina mengangguk mengerti tidak ingin berlama-lama dan berbelit-belit dengan masalah yang sudah berlalu, “Jadi jika kau merasa bersalah padaku sekarang kau harus menceritakan semuanya tanpa ada yang di sembunyikan dikurangi tau sengaja kau lebihkan.” Pinta Leathina serius kemudian di balas dengan anggukan oleh Edward.


“Setelah monster naga yang mengamuk di kerajaan membawamu pergi bersamanya Duke Leonard, ayahmu seperti orang gila mengejar mu malam itu juga dia mengikuti ke arah mana monster itu membawamu sayangnya dia tidak bisa mengejar mu dan menjadi sangat frustasi. Setelah kembali Duke Leonard langsung membentuk tim pencarian dari prajurit yang bekerja untuk keluarga Leonard, kerajaan juga menambah jumlah prajurit pencari dari kerajaan, tim regu pencari di sebar ke seluruh penjuru kerajaan, sehari berlalu, kemudian waktu berlalu sangat cepat menjadi seminggu hingga berbulan-bulan  lamanya dan kamu masih belum bisa ditemukan, Aku sendiri juga mengirimkan permintaan bantuan pada kerajaan-kerajaan terdekat untuk mengabarkan jika menemukanmu sayangnya dari sekian banyak kerajaan yang kami hubungi mereka juga tidak memberikan kabar bagus dan duke serta keluargamu semakin frustasi hingga jarang bersosialisasi lagi dan fokus menjari keberadaan mu.” Jelas Edward panjang lebar.


“Ayahku melakukan itu?” tanya Leathina sedikit tidak percaya mendengar ayahnya yang bertindak seperti itu setelah kepergiannya. “Aku pikir dia akan melakukan proses pencarian seperti bisa.” Gumamnya kemudian menunggu Edward meneruskan ceritanya lagi.


“Leathina!” seru Edward mencengkram kedua bahu Leathina membuat Leathina terkejut dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Edward.


“Ka- kau kenapa seperti ini Edward?” tanya Leathina sedikit gugup karena Edward begitu keras mencengkram bahunya.


“Leathina kenapa kau selalu berfikir seakan-akan bahwa kau tidak berharga.” Ucap Edward yang dari nada suaranya dia terdengar kecewa. “Kenapa kau memilih tidak ingin kembali, apa kau benar-benar membenci orang-orang yang ada di kerajaan termaksud ayahmu dan aku? Memang dulu mereka tidak memperlakukanmu dengan baik aku juga saat itu tidak sedikitpun menaruh perhatian padamu, tapi sekarang berbeda setelah bertemu denganmu aku tahu kau orang baik dan tidak layak diperlakukan seperti itu.”


“Edward!” panggil Leathina tegas, ditatapnya Edward dengan serius kemudian menepis tangan Edward yang masih mencengkram bahunya. “Jangan memancingku untuk mengungkit masa lalu, ada banyak alasan kenapa aku bisa membenci kalian dan meninggalkan kerajaan, atau mau aku beri alasan yang jelas? Bukankah dengan mengetahui bahwa kalian semua membenciku dan tidak memperdulikan bagaimana keadaanku dulu sudah lebih dari cukup menjadi alasanku untuk tidak kembali ke kerajaan!” Ucap Leathina dingin. “Kau juga sama pada awalnya bukan? Kau yang tidak tahu apa-apa jadi diam lah!”


Edward membisu dan hanya bisa menatap Leathina tanpa mampu membalas  pernyataan Leathina yang terakhir membuatnya tidak berkutik, ia tahu betul bahwa dirinya memang tidak berhak mencampuri urusan Leathina. “Ah! Maafkan aku Leathina, aku terlalu ikut campur hingga tidak memperhatikan bagaimana perasaanmu dan aku malah memaksakan perasaanku padamu.” Ucapnya lirih.


“Huff...!” Leathina menghela nafas panjang, sebenarnya tidak bermaksud menohok Edward dengan kehidupan masa lalunya, melihat Edward menjadi terluka karena ucapannya membuat Leathina tidak tega melihatnya.


“Hah! Lupakan, sekarang katakan kenapa kamu sampai menawarkan diri untuk datang mencari ku bersama Adam dan yang lainnya?” tanya Leathina kemudian sengaja mengubah topik pembicaraan agar tidak terlalu berlarut-larut dalam pertengkaran mereka berdua.


“Suatu hari Duke Leonard tiba-tiba mendapat sebuah surat tanpa alamat dan nama pengirim hanay dililitkan dengan pita merah baru kemudian Duke Leonard tahu bahwa itu surat darimu ketika telah membuka dan membaca isinya, Duke yang senang karena mengetahui bahwa putri yang dicari-carinya ternyata masih hidup kemudian menjadi panik karena kamu mengatakan tidak ingin kembali lagi dari kerajaan, Duke yang tidak mau orang-orang mengetahui keberadaan mu kemudian menyembunyikan surat mu kemudian diam-diam menghubungi organisasi tentara bayangan dan meminta bantuan untuk mencari mu secara rahasia.”


Edward mengangguk ditambah dengan senyumannya yang canggung saat Leathina tahu sandiwara terhadap keluarganya. “kau benar-benar licik Edward.” Ucap Leathina, “Itulah kenapa aku takut padamu.” Gumamnya kemudian dengan suara lebih kecil. “Kenapa ayahku menyembunyikan surat ku dan tidak ingin orang-orang tahu bahwa aku masih hidup?” tanya Leathina lagi sebelum Edward bertanya lagi apa maksud dari ucapannya tadi.


“Kau betul-betul pandai mengalihkan pembicaraan Leathina.” Gumam Edward pasrah tapi kemudian tidak mempermasalahkannya dan menjawab pertanyaan Leathina. “Setelah orang-orang tahu bahwa kamu punya kemampuan penyembuh yang levelnya lebih tinggi dari pengguna sihir penyembuh biasa mereka menjadi gempar dan menjadi terobsesi untuk menemukanmu agar bisa menyembuhkannya, kau tahu kebanyakan orang yang telah kau sembuhkan pada malam itu karena tertimbun reruntuhan bangunan sembuh bahkan bersama penyakit bawaan mereka, kamu menjadi target di kerajaan bahkan beberapa kerajaan lainnya yang tertarik menawarkan bantuan secara intens untuk mencarimu sayangnya di tolak oleh Duke Leonard.”


“Kenapa?” tanya Leathina.


“Kaena sebagai gani bantuannya mereka meminta pernikahan politik untukmu, mereka menginginkan keturunan yang sama dengan kemampuanmu untuk memonopoli mu.”


“Ah! Aku tahu hal semacam ini pasti akan terjadi jika banyak orang yang tahu, beberapa orang Serakah yang melihat keuntungan pasti akan melakukan hal gila, tapi aku tidak berfikir bahwa mereka samapi berencana mengatur kan pernikahan politik hanya karena ingin mendapatkan keturunan yang kemampuannya sama denganku.”


“Bayangkan saja banyaknya keuntungan yang bisa mereka ambil jika punya kemampuan sepertimu bahkan kerajaan pun bisa tunduk jika kamu licik Leathina mungkin kamu bisa memonopoli bangsawan-bangsawan yang memiliki status tinggi namun tidak baik dalam kesehatannya dan membuatnya tunduk padamu bukan? untungnya kau tidak jahat seperti yang orang-orang rumorkan.”


“Benar apa yang kamu katakan, jika mereka berhasil mengendalikan ku dan dengan memanfaatkan kemampuanku ini mungkin mereka akan langsung memulai perang untuk merebut kerajaan lain dan memperluas kekuasaan mereka tanpa perlu khawatir persediaan medis dan orang-orang yang terluka.”


Edward tertegun menatap Leathina. “Kau kenapa?” tanya Leathina bingung melihat Edward yang terdiam dan terus menatapnya.


“Aku tidak berfikir sampai sejauh itu Leathina pikiranku hanya sebatas mereka menjual kemampuanmu itu untuk uang tapi ucapan mu barusan sangatlah masuk akal dengan kemampuanmu itu kerajaan pasti tidak perlu membutuhkan banyak dana lagi untuk persediaan medis dan para tentara yang terluka bisa langsung sembuh dan berperang kembali tanpa menunggu proses penyembuhan luka nya yang normalnya mungkin harus memakan waktu berbulan-bulan bahkan mungkin harus menambah pasokan prajurit baru. bagaimana kau bisa memikirkan memulai perang?” Tanya Edward sedikit takjub dengan pemikiran Leathina.


“Aku yang memiliki kemampuan seperti ini tentu saja telah memikirkan berbagai kemungkinan jika orang-orang tahu, itulah kenapa aku menyembunyikannya.”


“Kau ingin memulai perang Leathina dan membangun kerajaanmu sendiri? Tanya Edward tiba-tiba. “Aku punya banyak pengikut yang memiliki kemampuan melebihi prajurit dan tentu saja dengan kemampuanmu itu kami pasti akan menag tanpa pelu mengkhawatirkan luka yang akan menjadi dampaknya nanti.” Tawar Edward membuat Leathina tercengang dengan tawarannya.


Leathina menatap mata Edward dalam mencoba mencari tahu apakah yang dikatakannya itu serius atau hanya candaan tapi sepertinya Edward sangat serius ketika menawarkan Leathina untuk membentuk kerajaan baru.


“Huff..! Leathina menghela nafas ketika menatap mata Edward yang bersungguh-sungguh.


“Kau tahu aku juga seorang pangeran.” Ucapnya lagi.


“Itu tidak mungkin Edward, dan aku juga tidak ingin, yang aku inginkan hanya hidup dengan tenang tanpa menghawatirkan kehabisan uang nantinya.” Ucap Leathina sementara Edward hanya fokus mendengarkan keinginan Leathina.


“Hanya itu keinginanmu?” tanya Edward lagi.


Mendengar pertanyaan Edward membuat Leathina tiba-tiba memikirkan berbagai hal yang ingin ia lakukan selama di kehidupannya dulu. “Ah! Tentu saja banyak salah satunya aku ingin hidup dengan pasanganku nanti tanpa ada gangguan pelakor, kemudian hidup bahagia dan masih banyak lagi.” Ucap Leathina yang secara acak mengatakan sedikit dari banyak keinginan yang sekarang bertumpuk di kepalanya.


“Pelakor?” tanya Edward tidak mengerti. “Apa itu, ini pertama kalinya aku mendengarnya.”


“Ah! Itu artinya tanpa adanya pengganggu dalam dua pasangan yang hidup bersama jadi setelah dua pasangan berjanji untuk bersama selamanya tidak boleh ada orang ketiga,” jelas Leathina yang sebenarnya juga gugup karena menggunakan bahasa yang tidak di mengerti oleh Edward.


“Orang ketiga?” gumam Edward sambil berfikir kera, “Tapi bukankah mempunyai selir sebagi orang ke tiga wajar di kerajaan? Bahkan ada samapi yang ke empat dan ketujuh.” Ucapnya lagi.


“Nah! Itu maksudku, aku tidak ingin ada orang ketiga, keempat, ketujuh atau kesepuluh, yang ada hanya aku dan pasanganku nanti hidup berdua sampai menua hingga dipisahkan oleh mau, itulah yang namanya cinta sejati dan sehidup semati.” Ucap Leathina bangga dengan penjelasannya.


“Jadi seperti itu, hanya ada kamu dan aku nantinya?” seru Edward paham, “Ah! Maksudku hanya ada kamu dan pasanganmu nantinya kemudian hidup berdua sehidup semati. Akan aku ingat keinginanmu itu.” ucap Edward lagi meluruskan saat Leathina menatapnya dengan tatapan aneh. "Tapi Leathina kenapa  keinginanmu hanya itu, bukankah memiliki kekuasaan jauh lebih bagus jika kamu menjadi pemimpin di suatu kerajaan kamu tidak perlu takut diremehkan bukankah orang-orang sangat mendamba-dambakan hal semacam itu? Ditambah dengan dukungan kemampuanmu menjadikan keinginan seperti itu bukan lagi hal yang mustahil, bukan?”


“Aku tidak memerlukan hal merepotkan seperti itu.” Ucap Leathina sekenanya, “Dan lagi pula jika aku terus-menerus menggunakan kemampuanku maka aku bisa kehilangan diriku sendiri.” Gumam Leathina.


“Apa maksudmu?” tanya Edward kembali tidak mengerti apa yang dimaksud Leathina.


“Hah!” Leathina menghela nafas berat, “Aku tidak tahu harus menilai mu pintar atau bodoh Edward,” Ucapnya dengan nada bercanda melihat Edward yang kini kembali serius.


“Kenapa seperti itu Leathina? Maksudku kenapa bisa kau kehilangan dirimu sendiri?”


“Bukankah sudah menjadi pengetahuan umum jika kau mendapatkan sesuatu maka harus ada harga yang kau bayar? Seperti pengguna sihir sebagai gantinya untuk menggunakan kemampuannya dia harus memiliki mana yang cukup dalam tubuhnya sama seperti pengguna sihir penyembuh kami harus punya energi yang banyak agar bisa menyembuhkan orang lain. Pengguna sihir bias jika mana dalam tubuhnya habis maka mereka bisa mengumpulkannya kembali, begitu juga dengan pengguna sihir penyembuh mereka juga bisa mengumpulkan energinya kembali seiring membaiknya kondisi tubuhnya tapi jika sihir penyembuh digunakan terus menerus tanpa memperhatikan kondisi penggunanya maka energi yang diserap bisa saja energi tubuhnya sendiri yang disalurkan ke tubuh orang lain dan jika berlebihan maka energi kehidupannya mungkin bisa terkuras habis dan merenggut nyawa penggunanya.” Jelas Leathina pada Edward.


Mendengar penjelasan dari Leathina ekspresi Edward berubah sejenak Leathina yang melihatnya kemudian menjadi penasaran, “Kau kenapa Edward?” tanyanya.


“Leathina jadi berbahaya bagimu jika terus menggunakan kemampuanmu itu?” tanya Edward kemudian dibalas anggukan oleh Leathina.


“Kalau begitu kedepannya kamu tidk ....”


“Tok, Tok, Tok,”


“Permisi Tuan!”


Belum sempat Edward menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba pintu ruangan di ketuk kemudian disusul suara Nina yang memanggilnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk menyelesaikan kalimatnya dan langsung pergi untuk membuka pintu,


“Tunggu sebentar Lea.” Ucap Edward kemudian beranjak pergi.


...***...