
“Aku sudah cukup lama beristirahat, sebaiknya aku pulang orang – orang dari mansion kediaman Keluarga Duke Yarnell pasti juga sudah pulang.”
Setelah menemukan ruangan kosong dan menggunakannya sebagai tempat beristirahat Leathina menyadari bahwa dirinya telah terlalu lama berada di dalam ruangan tersebut Leathina kemudian segera pergi ke tempat kereta kuda yang mengantarnya tadi.
“PLAK”
“Dasar perempuan tidak tahu diuntung!”
Saat Leathina berjalan melewati koridor istana menuju tempat keretanya diparkirkan tiba – tiba saja Leathina mendengar seorang wanita sedang marah dan menampar seseorang dan dari tempatnya berdiri Leathina melihat dua orang wanita yang sepertinya sedang bertengkar.
Aduh, bagaimana ini? Jalan satu – satunya menuju ke tempat parkiran kereta hanya jalan ini, aku juga tidak mungkin melewati mereka begitu saja.
Tubuh Leathina refleks berhenti berjalan dan segera bersembunyi di balik tiang karena ia merasa tidak enak melihat orang yang sedang bertengkar.
“Ibu, ibu maafkan aku! Aku telah berusaha.”
“Aku telah mengeluarkan begitu banyak modal untukmu agar bisa membuat pria – pria yang memiliki pengaruh besar di kerajaan tertarik padamu, tapi apa yang bisa kamu lakukan? kamu hanya bermain – main dengan pria rendahan.”
“Tapi aku telah membuat Pangeran Yardley tergila – gila padaku, Ibu!”
Ini suara Yasmine? Dan dia memanggil wanita yang satunya lagi dengan sebutan Ibu? Kalau aku tidak salah ingat Ibu Yasmine itu Ny. Amber istri dari tuan Viscount Arley, ibu Yasmine juga dikenal sangat penyayang dia bahkan menyantuni beberapa panti asuhan. Apa aku tidak salah dengar sekarang, mungkin aku berhalusinasi tapi ini terasa nyata.
“Aku tidak percaya gadis yang terkenal bermasalah itu bahkan bisa menari bersama dengan dua pria sekaligus Pangeran Edward dan Tuan Winter, ibu tidak mau tahu pokoknya kamu harus mendapatkan mereka berdua. Kamu tahukan Yasmine ayahmu sakit, dan bisnisnya juga hampir bangkrut jalan satu – satunya agar kita bertahan hidup dalam kemewahan adalah cara ini apa kamu mau hidup susah?”
“Aku juga tidak ingin hidup dalam kemelaratan, baiklah ibu, Yasmine mengerti. Aku akan memikat mereka berdua, tidak yang benar adalah mereka berdua pasti akan terpikat denganku, bukan hanya dia saja tapi seluruh pria yang berpengaruh di kerajaan, aku juga akan membuat perempuan itu jatuh dalam kehancuran bahkan sampai dia tidak bisa lagi merangkak keluar dari kehancurannya.”
Sorot mata Yasmine yang tadinya lembut seketika berubah dengan tatapan kebencian dan penuh dengan manipulasi. Leathina yang melihat kepribadian Yasmine yang sebenarnya menjadi sangat terkejut Leathina bahkan menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suaranya karena sangat terkejut melihat dan mendengar perkataan Yasmine dan ibunya.
“Bagus sayang, bagus teruslah seperti itu ibu akan mendukung mu sampai yang kamu ucapkan itu terwujud.”
Tidak lama kemudian Yasmine dan ibunya pergi, mereka berjalan melewati tiang tempat Leathina menyembunyikan dirinya sementara Leathina segera mengelilingi tiang tersebut agar Yasmine dan ibunya tidak melihatnya atau menyadari keberadaanya.
“Astaga apa yang barusan aku dengar? Apa aku sedang bermimpi? Plak! Aw.. aw.. sakitnya nyata, ini bukan mimpi.”
Leathina menampar pipinya sendiri untuk memastikan apakah yang barusan ia saksikan hanya halusinasinya saja atau hal itu benar – benar terjadi.
Mulai sekarang aku harus lebih berhati – hati lagi, Leathina memiliki banyak musuh. Walaupun dari awal aku memang mengetahui bahwa Leathina memiliki banyak musuh tapi tidak pernah aku bayangkan bahwa Yasmine adalah salah satu dari sekian banyak musuhnya. Tapi kenapa Yasmine menaruh dendam pada Leathina? Sayang sekali padahal aku sempat kagum padanya beberapa saat yang lalu, aku bahkan mendoakannya agar hubungannya lancar dengan Pangeran Yardley sebagai cinta sejatinya.
Setelah Leathina memastikan bahwa Yasmine dan ibunya telah benar – benar pergi barulah Leathina keluar dari persembunyiannya dengan terburu – buru ia berjalan menuju kereta kuda yang mengantarkannya tadi.
“Nona! Nona Leathina.” Saat melihat Leathina datang Anne dengan senang menyambut kedatangan Leathina ia bahkan melambai – lambaikan kedua tangannya ke arah Leathina agar Leathina bisa menyadari keberadaanya.
“Anne?”
Dari kejauhan Leathina melihat Anne yang telah berdiri di depan pintu kereta kuda ia ternyata sedang menunggu Leathina agar bisa pulang bersama dengan Nonanya.
“Nona Leathina dari mana saja, saya dari tadi mencari Nona tapi tidak saya temukan di manapun.”
“Aku beristirahat di ruangan kosong dekat dapur kerajaan.”
“Benarkah, kenapa nona tidak beristirahat di ruang peristirahatan khusus para tamu bangsawan?”
“Disana terlalu berisik.”
Setelah Leathina berada di dekat kereta Anne segera berdiri di samping pintu kereta dan membantu Leathina menaiki kereta setelah Leathina masuk barulah Anne menyusul masuk ke dalam kereta setelah itu Anne berteriak memberi tanda bahwa ia telah naik agar kusir yang bertugas membawa kereta segera memacu kudanya dan menarik kereta.
“Anne, ada apa dengan wajahmu?” Leathina memanggil Anne yang sedang duduk di depannya dan agak sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa melihat wajah Anne lebih jelas lagi.
Saat Leathina melihat wajah Anne dari jarak yang dekat ia melihat beberapa lebam dan bekas cakar di wajahnya hal itu membuat Leathina penasaran kenapa wajah pelayannya itu bisa dipenuhi dengan luka.
“Ah, ini tadi aku terjatuh. Aku tidak apa – apa besok juga pasti sembuh Nona.” Anne berbicara sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal dan merasa sedikit canggung karena Leathina masih memandangi wajahnya dari jarak dekat.
“Kau berbohong Anne! Sejak kapan terjatu bisa memberikan luka cakar di wajah.”
“Ini tergores kayu nona, aku memang terjatuh.”
“Nona tapi keretnya masih berjalan.”
“Lompat saja! toh kamu sudah terbiasa terjatuh. Aku tidak suka satu kereta dengan pembohong sepertimu.”
Tak
Leathina membuka paksa pintu kereta yang masih dalam keadaan berjalan dan memaksa Anne untuk segera melompat turun.
“Baiklah, baiklah, Nona aku akan beritahu tapi aku mohon jangan dorong saya turun, maafkan saya, aku mohon Nona.”
Anne yang ketakutan melihat Leathina yang benar – benar membuka pintu kereta yang masih berjalan dan menarik tubuhnya secara paksa mendekati pintu yang terbuka dengan lebar ia segera memegang lutut Leathina dan meminta agar tidak didorong turun dari kereta yang sekarang sedang melaju dengan cepat.
“Baiklah aku beri kesempatan sekali lagi.”
Leathina kembali menutup pintu kereta dan kembali duduk dengan tenang agar bisa mendengarkan penjelasan Anne.
“Aku mendapatkan luka ini karena berkelahi dengan pelayan bangsawan yang lain Nona.”
“Berkelahi? Kenapa kamu berkelahi usiamu bahkan sudah sangat tua untuk berkelahi Anne.”
“Itu.. itu.. karena dia mengejek Nona Leahina yang pertunangannya dibatalkan dengan Pangeran Yardley, aku tidak terima jika ada yang menjelek – jelekkan Nona Leathina padahal tidak tahu cerita yang sebearnya bahwa pangeran lah salah.”
“Jadi kamu berkelahi karena aku?”
“Iya Nona, tapi tenang saja walau aku mendapatkan luka lebam aku berhasil mematahkan hidungnya.” Awalnya Anne hanya membalas pertanyaan Leathina dengan anggukan tapi melihat ekspresi dingin Leathina, Anne segera berbicara dan bersikap bahwa dirinya baik – baik saja.
“Anne kemari duduklah disampingku agar aku bisa melihat lukamu dengan jelas.”
“Aku duduk di sini saja Nona, aku tidak mungkin berani duduk di samping Nona Leathina.”
Leathina meminta Anne duduk di sampingnya agar dia bisa melihat luka di wajah Anne dengan jelas tapi Anne malah duduk di bawah.
Posisi Anne sekarang sedang berlutut tangannya ia letakkan di atas lutunya dan wajahnya ia tengadahkan ke arah Leathina agar Leathina bisa melihatnya dengan cara menunduk.
“Aw.. aw.. aw.” Anne meringis keskitan saat leathina menekan – nekan wajahnya dengan sengaja.
“sakit?”
Anne menjawab pertanyaan Leathina dengan anggukan.
“Mulai sekarang jangan berkelahi karena aku, jika kamu mendengarkan orang bercerita tentang aku berpura – puralah kamu tidak mendengarnya.”
“Tapi Nona aku..”
“Aku tidak membutukanmu untuk membelaku di depan orang – orang yang aku butuhkan adalah kesetiaanmu jangan menghianatiku, dan aku tidak ingin ada orang yang terluka karena aku.”
“Nona tapi mereka sangat keter...”
“Jangan lakukan apa yang tidak perlu kamu lakukan, lakukan saja apa yang aku perintahkan , aku tuanmu dan kamu pelayanku. Paham?”
“Iya Nona, aku paham.”
Saat Anne ingin memberikan penjelasan Leathina terus memotong perkataan Anne ia tidak memberikan kesempatan pada Anne untuk menyelesaikan kalimatnya, membuat Anne terpaksa harus menyetujui perkataan Leathina yang dikatakan untuknya.
Leathina menempelkan telapak tangannya di wajah Anne kemudian aura hijau perlahan – lahan keluar dari telapak tangannya dan aura yang Leathina keluarkan menutupi luka di wajah Anne hingga lukanya benar – benar pulih seperti semula.
“Nona! Ini, ini, ini sihir penyembuh Nona Lethina bisa menggu...”
“Kecilkan suaramu dan rahasiakan ini dari orang – orang.”
Leathina kembali memotong perkataan Anne yang sangat terkejut karena mengetahui kemampuan Leathina. Sementara Anne segera menutup mulutnya karena sempat berteriak histeris karena mengetahui kemampuan Leathina yang bisa menggunakan sihir penyembuh, Anne kemudian hanya membalas perkataan Leathina dengan anggukan sementara matanya masih terpesona saat melihat aura hijau yan tadi menyembukan lukanya perlahan - lehan menghilang secara sendirinya.
......***......