
"Jalan setapak yang tidak berbatu.. oh, itu dan belok ke kiri."
"Nah itu pasti cahaya bunga teratai nya."
"Cantik sekali, benar - benar memikat."
Samar - samar Leathina melihat cahaya kebiruan di tengah - tengah danau, semakin ia menatapnya semakin ia terpesona dan perlahan - lahan mendekati pinggiran danau.
"Byurrr"
"Astaga apa yang aku lakukan!"
Tiba - tiba saja terdapat suara deburan air yang cukup keras membuat fokus Leathina kembali ke dunia nyata.
Leathina kemudian berlari ke sumber suara untuk mencari tahu suara apa yang barusan ia dengar.
"Tolong! Tolong! Tol..."
"Hupp... Tolon.. !"
Suara teriakan anak laki-laki sesekali terdengar kemudian menghilang kembali.
Leathina mempercepat jalannya mengelilingi danau mencari si pemilik suara.
" Nora! Astaga!"
Leathina melihat tubuh Nora pelan - pelan tenggelam ke dalam danau Leathina yang melihat hal itu segera mencari bantuan sayangnya ia tidak menemukan siapapun di sekitar area danau.
"Byurr"
Leathina segera melepas gaunnya karena terlalu berat baginya untuk berenang dengan gaun tebalnya dan hanya menyisakan dress putih tipis ********** kemudian melompat ke danau untuk menolong Nora sebelum benar - benar tenggelam.
Leathina berenang secepat yang ia bisa menuju ke tempat Nora berada.
"Kudapat!"
"Tenang, tenang, lihatlah ini aku Leathina kakak perempuan mu."
Rasa lega Leathina rasakan saat berhasil menggapai tangan Nora dan menarik nya ke permukaan agar bisa menghirup udara serta berusaha untuk menenangkan Nora yang masih meronta.
"Ka.. kak!"
Nora berhasil ditenangkan oleh Leathina dan mengenalinya setelah itu kesadarannya hilang.
"Eh, Kok tidak bisa."
Saat berusaha menarik tubuh Nora keluar dari Danau, Leathina kesulitan untuk menariknya dan malah mereka yang tertarik.
Leathina kemudian menempatkan tubuh Nora di permukaan agar bisa tetap menghirup udara sementara ia sendiri menyelam untuk melihat apa yang terjadi di bawah hingga mereka berdua tidak bisa bergerak.
Astaga akar teratai sihir mengikat tubuh Nora dan sulit untuk dilepaskan karena berduri, Nora akan terluka jika aku memaksa untuk mengeluarkan nya dari lilitan akar teratai sihir ini.
"Huapp"
Leathina kembali muncul ke permukaan menghirup udara sebanyak mungkin dan menyelam kembali.
setelah menyelam kembali Leathina memotong satu duri teratai dan menusukkannya di pahanya setelah itu cairan warna merah pelan - pelan mengalir keluar bercampur dengan air danau.
Darah Leathina berhasil memikat tumbuhan sihir yang mengekang tubuh Nora dengan darah nya kemudian pelan - pelan melepaskan tubuh Nora dan beralih mengikat kaki Leathina yang mengeluarkan darah.
Bagus, ini berhasil.
Setelah berhasil melepaskan Nora, Leathina segera mendorong tubuh Nora dan menyeretnya ke permukaan.
Sementara Leathina melepaskan paksa akar teratai yang kini telah melilit kakinya yang berdarah, karena telah terpikat dengan darah tumbuh teratai sihir semakin mengekang kakinya semakin ia bergerak semakin duri - durinya menancap di kakinya.
Leathina tidak memperdulikan kaki nya yang tergores dan terus berusaha berenang ke pinggiran sampai teratai sihir melepasnya.
Setelah bergulat dengan tubuh sihir akhirnya Leathina berhasil menggapai pinggiran danau dan mendorong tubuh Nora naik ke permukaan setelah itu barulah ia melompat naik ke pinggiran dan segera menyeret tubuh Nora ke tempat yang aman.
"Syukurlah dia masih bernafas." Leathina meletakkan jarinya di hidung Nora kemudian memeriksa nadinya.
"Nora, Nora, Nora bangunlah, apa kamu mendengar suaraku?"
Leathina menepuk - nepuk wajah Nora untuk melihat respon nya, dan membuka matanya untuk melihat pupil matanya tapi tidak ada respon dari Nora.
Karena tidak ada respon Leathina berusaha untuk menyembuhkan dengan sihir penyembuh milliknya.
"Percuma, ini tidak berguna. Sihir ku hanya menyembuhkan fisiknya tidak dengan kesadarannya. Aku harus mengeluarkan air yang ia telan terlebih dahulu."
Leathina melakukan pertolongan pertama dengan menggunakan teknik CPR ilmu dari kehidupan sebelumnya untuk mengeluarkan air yang telah ditelan oleh Nora.
Janneth yang baru muncul langsung berteriak karena terkejut melihat keadaan Leathina dan Nora yang tidak sadarkan diri.
"Oh, syukurlah Nona Janneth datang. tolong segera minta pertol..... "
Belum sempat Leathina menyelesaikan perkataannya Janneth sudah berlari pergi meninggalkan Leathina.
"Oh, cepat sekali responnya. akan lebih baik jika ia segera mengirimkan bantuan."
"Huek!"
"Uhuk, uhuk."
"Bagus, keluarkan semua air yang tadi kamu telan."
"Kakak.. Lea.."
Nora sadar dan melihat Leathina kemudian kembali tidak sadarkan diri.
"Dia pasti kedinginan, oh iya gaunku."
Leathina melihat Nora mulai menggigil dan mulutnya mulai membiru cepat - cepat Leathina mengambil gaunnya yang tadi ia lepaskan dan menyelimuti tubuh Nora agar tidak kedinginan, meletakkan kepala Nora di pangkuannya sambil menunggu bantuan datang.
...
Sementara itu di ruang banquet Janneth berlari masuk dan jatuh terduduk hingga menarik perhatian semua orang.
"Ada apa Nona Janneth, kenapa seperti sangat ketakutan."
"Wanita itu, Wanita itu membunuh adiknya sendiri. pakaiannya berlumuran darah dia bahkan menekan dada adiknya beberapa kali. Aku melihatnya dengan jelas." tangan Janneth gemetaran.
"Siapa yang anda maksud?"
"Penjaga! Penjaga! tangkap wanita gila itu cepat sebelum membunuh yang lainnya."
Janneth berlari ke arah Winter kemudian memaksanya menangkap seseorang.
"Tenang, tenang lah terlebih dahulu Nona, kemudian ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Dengan lembut Winter menenangkan Janneth yang masih panik.
"Leathina, Leathina, gadis itu membunuh adiknya sendiri aku melihatnya di pinggir danau pakaiannya dipenuhi darah dan ia menekan - nekan dada Nora, adiknya."
mendengar penjelasan Janneth semua orang menjadi terkejut, termasuk Duke Leonard dan Nicholas.
"Kamu jangan asal menuduh, Nona Janneth."
Nicholas membantah tuduhan Janneth.
"Tidak! aku tidak berbohong! pergi dan lihat lah sendiri di pinggir Danau, mereka ada di sana."
Semua orang kemudian segera ke danau yang ditunjukkan oleh Janneth termasuk Raja Daylen dan ratunya beserta kedua pangeran.
"Leathina." Duke Leonard memanggil nama Leathina, matanya tertuju pada gaun putih Leathina yang berlumuran darah dan Nora yang tidak sadarkan diri.
"Oh, ayah syukurlah kamu datang tepat waktu. tolong pindahkan Nora ke tem...
"Plak!"
Belum sempat Leathina menyelesaikan ucapannya Duke Leonard sudah berjalan ke arah Leathina dan melayangkan sebuah tamparan tepat di wajah Leathina.
"Ay.. yah? Apa.. yang kamu lakukan?" Leathina tergagap dan perlahan - lahan menyentuh pipinya yang terasa nyeri akibat tamparan keras yang diberikan ayahnya.
" Seharusnya aku yang bertanya seperti itu Leathina, apa yang kamu lakukan. aku tidak percaya kamu melakukan ini."
Leathina menunduk dan melihat gaun putihnya ternyata berlumuran darah dan melihat Nora yang masih tidak sadarkan diri.
"Oh, darah ini, gaunku, aku, ayah salah paham." Ucapan Leathina tidak beraturan karena tidak tahu ingin menjelaskan dari mana.
Tidak ada tanggapan dari ayahnya Leathina kemudian berpindah ke yang lainnya menatap nya satu persatu penuh dengan harapan.
"Nicholas?"
"Winter?"
"Edward?"
Satu orang saja, aku mohon satu orang saja, berbicara lah untukku.
Leathina menatap semua orang berharap seseorang mempercayainya tapi semuanya memiliki tatapan yang sama. Mereka semua sama - sama hanya menatap Leathina tanpa berniat membela atau bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi.
......***......