
Setelah semua orang telah keluar dari kamar Leathina dan meninggalkannya sendiri, Leathina a segera berlari ke pintu dan menguncinya dari dalam agar tidak ada orang yang bisa masuk ke kamarnya kemudian berlari kembali ke tempat tidurnya.
“Aw.. aw.. aw sakit.” Leathina berguling – guling di atas kasurnya sambil terus mengusap – usap pipinya yang di tampar Nicholas.
“Aduh aku yakin Nicholas menaruh semua dendam lamanya di tamparannya tadi, kalau aku hitung pasti 50% karena semua yang aku ucapkan benar dan membuatnya marah, 20% karena memang benar – benar dia tidak menyukaiku, dan 30% nya lagi karena aku adalah Leathina.”
“Sakit sekali, untung tadi aku bisa menahan sakitnya dan berpura – pura tenang, jika karena tidak menjaga wibawa Leathina aku sudah menarik rambutnya dan menginjak lehernya.”
“Bagaimana bisa Leathina yang asli bisa menahan ini semua, baik sikap dingin ayahnya ataupun sikap Nicholas terhadapnya di tambah lagi harus menguatkan mental untuk menyerap semua sindiran ataupun perkataan kasar dari orang – orang dari hampir seluruh penghuni kerajaan membencinya kalau aku pasti sudah lama aku mencekik mereka satu persatu.”
“Loh aku kok nangis, kenapa tiba – tiba hatiku merasakan sakit tapi tidak tau apa penyebabnya, sakitnya melebihi sakit fisik yang diberikan secara lansung.” Tiba – tiba air mata Leathina mengalir sendirinya dan makin lama Leathina semakin sesenggukan.
“Kok nangis sih, berhenti dong besok pasti mataku kelihatan bengkak, jangan – jangan ini semua perasaan Leathina yang selalu dia pendam.” Leathina terus mengusap matanya yang masih terus mengeluarkan air mata.
“Huaa.. Leathina yang sakit hati kok aku yang harus nangis.”
Jika diingat – ingat aku memang telah mengigat beberapa ingatan Leathina, Leathina setiap malam selalu menagis saat akan tidur karena tidak kuat lagi memendam rasa sakit yang selalu ia tampung dari orang – orang.
“Maafkan aku Leathina, aku juga dulu tidak menyukaimu saat membaca novel ini, itu salah autor yang tidak menjelaskan keadaanmu yang sebenarnya makanya semua orang membencimu.”
“Sebenarnya kenapa Leathina harus disalahkan atas semua kejadian buruk yang terjadi di dunia ini, tidakkah mereka berfikir ini terjadi karena perbuatan mereka juga, kenapa tiba – tiba menaruh perhatian padaku akankah lebih baik jika mereka semua berperilaku sama seperti sebelumnya menganggapku seperti tidak terlihat atau sebaiknya aku seharusnya menghilang secepat mungkin huahh... “
Aku bahkan sudah mencubit pahaku sendiri dan menggigit bibirku agar berhenti menagis tapi kok masih terus keluar airmatanya.
Bella yang sekarang menempati tubuh Leathina menagis sepanjang malam karena tidak bisa menghentikan air matanya yang terus menerus mengalir dengan sendirinya.
...
“Plak.”
Duke Leonard sampai di ruangan kerjanya bersama dengan Nicholsa setelah masuk dan menutup pintu tiba – tiba saja Duke Leonard menampar Nicholas, membuat Nicholas tertegun karena kaget.
“Ayah? Kenapa ayah menamparku?”
“Bagaimana perasaanmu setelah ayah tampar?”
“Ayah itu.. itu..?”
“Perasaan yang sama juga pasti yang Leathina rasakan, sekarang katakan padaku kenapa kamu menamparnya? Kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga pantas kamu tampar.”
“Aku tidak tahu ayah, aku hanya merasa marah saja karena dia selalu bersikap seperti itu.”
“Sebenarnya aku sedikit kecewa padamu Nicholas, sudah beberapa kali kamu bertindak tanpa memikirkan alasan dan akibatnya terlebih dahulu.”
“Maafkan aku ayah.”
“Kamu harus memperbaiki sifatmu ini.”
“Baik ayah.”
“Dan sebaiknya kamu harus segera meminta maaf padanya.”
“Baik ayah akan saya akukan setelah keluar dari sini.”
Setelah percakapan mereka selesai Nicholas kemudian keluar dari ruangan kerja Duke Leonard dan saat perjalanannya menuju ruangan milik Leathina Nicholas tidak sengaja bertemu dengan Anne di koridor.
“Kamu mau ke ruangan ayahku.”
“Iya Tuan Nicholas.” Sebelum berbicara Anne membungkukkan badanya terlebih dahulu untuk memberi hormat pada Nicholas.
“Ah itu.. sebenranya.. .”
“Tidak apa – apa katakan padaku.”
“Tadi kami memeriksanya langsung pada dokter kerajaan dan katanya kondisinya tidak sedang baik – baik saja dan masih harus segera dipantau.”
“Benarkah?”
“Iya Tuan Nicholas.”
Setelah mendengarkan apa yang diucapkan Anne, Nicholas kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju kamar Leathina dan saat sampai di depan pintu Nicholas tidak langsung masuk dan hanya berdiri di depan pintu kamar Leathina.
“Ah ini akan sedikit memalukan jika aku harus meminta maaf padanya, tapi aku harus segera meminta maaf karena memang aku yang salah, tunggu ada apa dengannya.”
Saa Nicholas berisap – siap dan memikirkan apa yang harus ia katakan saat bertemu Leathina dan meminta maaf Nichola mendengar suara sesenggukan dari dalam kamar Leathina.
“Terkunci.” Nicholas mencoba untuk membuka pintu kamar Leathina dan mencoba mengintip untuk mencari ahu apa yang sedang terjadi tapi sayangnya pintu kamar Leathina terkunci dari dalam akhirnya Nicholas hanya menempelkan telinganya berusaha mendengar dari luar.
“Leathina? Dia menagis?” Nicholas samar – samar mendengar Leathina dari balik pintu dan mendengarkan beberapa perkataanya.”
“Ternyata dia bisa menagis juga, aku pikir dia itu manusia batu yang tidak memiliki perasan sama sekali.”
“Sebenarnya kenapa Leathina harus disalahkan atas semua kejadian buruk yang terjadi di dunia ini, tidakkah mereka berfikir ini terjadi karena perbuatan mereka juga, kenapa tiba – tiba menaruh perhatian padaku akankah lebih baik jika mereka semua berperilaku sama seperti sebelumnya menganggapku seperti tidak terlihat atau sebaiknya aku seharusnya menghilang secepat mungkin huahh... “
“Tunggu apa maksudnya semua orang? Kenapa harus menghilang?” Nicholas samar – samar mendengar beberapa ucapan dari Leathina yang masih sesenggukan menagis, Nichoas kemudian kembali mempertajam pendengarannya ingin mendengar lebih banyak lagi tapi setelah ucapan letahina tadi tidak ada lagi yang ia dengar selain suara Leathna yang menagis sesenggukan.
“Maafkan aku, aku kira kamu tidak akan merasakan sakit karena aku tidak pernah melihatmu menagis sebelumnya, dan karena kamu hanya menatap semua orang dengan tatapan dingin jadi aku pikir kamu tidak membutuhkan kasih sayang dan perhatian lagi.” Nicholas bergumam lirih kemudian pergi meninggalkan kamar Leathina dan mengurungkan niatnya untuk meminta maaf karena tidak ingin menganggu Leathina.
“Dia menagis bukan hanya karen kakak tapi semua orang.”
“Nora?” sejak kapan kamu di sini?”
Saat akan beranjak pergi tiba – tiba saja Nora muncul di hadapannya dan membuat Nicholas kaget.
“Aku belum pernah meninggalkan tempat ini sejak awal.” Nora berbicara menjawab perkataan Nicholas.
“Jangan menganggunaya lagi kakak Nicholas.”
“Kamu yang jangan menganggunya lagi Nora, aku lebih takut jika kamu terus menempel padanya seperti anak kecil yang polos padahal kamu tidak sebaik yang dia bayangkan jangan mengambil keuntungan karea ingatannya tidak benar – benar bagus.”
“Kenapa? aku menyukainya saat dia memelukku seperti adiknya dengan penuh kasih sayang. bukannya kamu dulu juga menyukainya.”
“Aku peringatkan jangan terlalu dekat dengannya Nora, dia dulu hampir membunuhmu kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti tetap waspada tidak ada yang bisa melindungimu selain dirimu sendiri.”
“Tenang saja aku sudah hampir rampung mempelajari seluruh pelajaran dari keluarga Yarnell baik teori maupun paraktik.”
“Aku tahu watakmu sudah dewasa melebihi anak - anak seumuranmu tapi kamu tetaplah hanya anak kecil dan jangan bersikap imut di depannya itu sangat aneh bersikaplah seperti biasanya biarkan dia menerimamu apa – adanya Nora.”
“Baik akan aku ingat, tapi apa kakak tidak terlalu keterlauan saat menamparnya tadi?”
“Iya aku tahu.”
Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan ruangan Leathina dan kembali ke ruangannya masing – masing.
......***.......