
Butuh waktu sejam bagi Leathina untuk kembali ke ibu kota dan lima belas menit untuk perjalanan kembali ke kediamannya dengan menunggangi kuda miliknya.
Setelah melihat kediamannya sendiri dari kejauhan Leathina berhenti sebentar dan menghembuskan nafas panjang perjalanan jauhnya akhirnya berakhir dan segera melanjutkan kembali perjalananya kembali.
Saat memasuki gerbang dua orang penjaga menghampirinya dengan kebingungan tapi segera membungkuk dengan hormat ketika Leathina melepaskan tudung jubahnya mengurai rambutnya dan memperlihatkan wajahnya.
“Selamat datang kembali Nona Leathina.” Sambutnya setelah Leathina turun dari kudanya dan penjaga yang lainnya segera mengambil alih kuda yang digunakan Leathina hendak membawanya kembali ke kandang kuda.
“Rawat dia dengan baik, beri makan dan minum.” Perintah Leathina pada penjaga yang membawa kudanya.
“Baik Nona Leathina.” Jawabnya patuh membungkuk sopan sebelum benar-benar pergi ke kandang kuda.
“Astaga Nona Leathina anda telah kembali.” Pekik Anne kemudian dengan tergopoh-gopoh berlari ke arah Leathina.
Anne langsung membantu Leathina melepaskan jubahnya dan menggantungkannya di lengan kirinya dan mengambil tas kain milik Leathina. Kemudian mengikuti Leathina dari belakang yang berjalan kembali ke ruangannya.
“Leathina!” Panggi Duke Leonard dan Winter hampir bersamaan saat tidak sengaja berpapasan dengan Leathina di koridor saat dalam perjalanannya menuju ruangannya.
Duke Leonard dan Winter terus memperhatikan Leathina sampai perempuan itu berhenti tepat di depan mereka kemudian sedikit membungkuk untuk memberi salam setelah itu berdiri tegak kembali.
“Leathina dari mana saja kamu selama beberapa hari ini? Sepertinya perjalananmu cukup jauh.” Tanya Duke Leonard kemudian mataya beralih pada jubah dan tas kain yang dibawa oleh Anne kemudian melirik ujung gaun Leathina yang terlihat kotor terkena percikan lumpur.
“Saya mengunjungi seorang teman lama.” Jawab Leathina singkat tanpa memusingkan tatapan penasaran dari dua orang yang menghalangi jalannya.
“Oh, iya aku hampir Lupa. Ayah seberapa penting ras elf di kerajaan ini?” Tanya Leathina tiba-tiba mengingat kejadian yang baru saja ia saksikan.
“Bangsa elf umumnya dilidungi oleh semua kerajaan karena mereka menjaga empat unsur kehidupan Air, api, angin, dan tanah, ras mereka satu-satunya yang dapat mengendalikan semua itu secara turun temurun maka dari itu tidak ada yang berani menganggu ras para elf.”
“Bagaimana jika seseorang menculik salah satu bangsa elf dan menyelundupkannya dan mengguakannya secara rahasia. Apa hukuman melakukan hal semacam itu?”
“Aku tidak yakin itu merupakan kejahatan yang cukup serius, terkadang raja elf sendiri yang akan menghukum mereka. Kepribadian mereka arogan dan temperamen jadi akan sulit berurusan dengan mereka. Ada apa Leathina apa kamu bertemu salah satu dari bangsa elf, dan menganggumu? Sesulit-sulitnya menghadapi merek ayah tetap bisa membalasnya jika mereka mengganggumu!”
“Ah, tidak seperti itu ayah. Hanya saja sepertinya saat perjalanan kembali aku tidak sengaja melihat elf yang sepertinya sedang diselundupkan.”
“Benarkah?! Sepertinya ini bukan masalah kecil, bukan saja hanya berhadapan dengan raja elf tapi juga kerajaan lain yang melindungi mereka.”
“Leathina aku tahu kamu baru saja kembali dan pasti Lelah, tapi ini masalah serius dan akan berimbas terjadinya perang jika terjadi kesalahan tolong beritahu kami apa yang kamu liat dan ketahui.”
“Baiklah. Aku akan memberi tahu kalian berdua tapi aku punya beberapa kondisi yang harus kalian lakukan untukku.”
Kedua alis Duke Leonard berkerut mendengar perkataan Leathina yang sepertinya sedang membuat kesepakatan dengan dirinya dengan sebuah informasi sebagai balasannya.
“Leathina!” Panggil Duke Leonard sedikit meradang.
“Ah, ka-kalau anda tidak mau juga tidak apa-apa. Aku tetap akan memberitahu kalian informasi yang aku punya.” Jawab Leathina gugup ketika ayahnya terlihat mencurigainya.
“Bukan, bukan seperti itu maksudku. Kau seharusnya langsung mengatakan saja apa yang ingin aku lakukan untukmu tanpa melalui kesepakatan seperti ini. Aku pasti akan melakukannya untukmu!” Jawab Duke Leonard tiba-tiba membuat Leathina sedikit tergelitik karena beberapa waktu lalu tatapannya masih menatapnya dengan tatapan tidak suka tapi kini berbeda. Ada perasaan aneh yang ia rasakan di hatinya namun tidak bisa ia ungkapkan karena tidak mengetahui apa persisinya yang ia rasakan.
“Baiklah kita seharusnya ke ruangan ku untuk membicarakannya lebih lanjut.” Duke Leonard akhirnya kembali ke ruangannya diikuti oleh Leathina dan Winter, sementara Anne meneruskan perjalanannya ke kamar Leathina untuk menyiapkan air mandi dan pakaian yang akan dipakai oleh Leathina nanti setelah kembali.
“Bagaimana pembicaraan anda dengan Tuan Duke?” Tanya Anne pada Leathina setelah Leathina kembali dari ruangan Duke Leonard dan kini telah selesai membersihkan badannya.
Anne dengan hati-hati membantu Leathina mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
“Berjalan lancar.” Jawabnya kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju tempat tidurnya.
“Apa kau telah mempersiapkan apa yang aku minta sebelum aku pergi, Anne?” tanya Leathina sambil merebahkan badannya dan Anne membantunya menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Sudah Nona.” Jawabnya singkat kemudian mematikan beberapa lilin karena Leathina akan segera tidur.
“Tetap rahasiakan itu sampai hari pesta datang.” Pinta Leathin kemudian memejamkan matanya.
Melihat Leathina telah tertidur pulas Anne kembali memperbaiki selimut Leathina dan kemudian segera keluar untuk membiarkan Nonanya tidur dengan nyaman.
...
“Salam pangeran, cahaya dari kerajaan dan calon ayah dari seluruh rakyat.” Yasmine membungkuk memberi salam dengan hormat pada pangeran Yardley.
“Oh, Astaga Yasmine kau tidak perlu memberi salam seformal itu padaku.” Pangeran Yardley kemudian berjalan mendekati Yasmine dan merangkul pinggangnya membawanya ke sebuah kursi dan memintanya duduk dengan nyaman di sana.
“Pangeran?” Gumam Yasmine malu-malu karena seluruh pandangan tertuju padanya.
“Anda tidak perlu seperti ini, orang-orang melihat kita.”
“Kau tidak usah mempedulikan pandangan mereka, mereka sudah tahu kita berteman akrab kan?”
“Berteman?” Tanya Yasmine tiba-tiba dengan alis sedikit berkerut kemudian secat-cepat tersenyum kembali sebelum seseorang menyadari perubahan ekspresinya.
“Iya aku senang berada di dekatmu Yamine. Kau sangat baik dan orang-orang menyukaimu juga.” Jawab Yardley dan mengambil tempat duduk tepat pada kursi yang ada di depan Yasmine.
“Duh, pangeran bodoh ini terlalu naif. Bukankah kau tertarik padaku? Kenapa malah mengungkit pertemanan sekarang.” Salah satu alis Yasmien berkedut karena kesal namun berhasil ia tutupi dengan senyuman manisnya.
“Oh iya. Aku dengar Nona Leathina Yarnell akhirnya telah ditemukan dan kembali ke kerajaan.” Yasmine kemudian mengahilkan pebicaraan dan memusatkan topik pembicaraanya pada Leathina.
“Iya aku mendengarnya.” Jawab pangeran Yardely kemudian terdiam sebentar memikirkan sesuatu di benaknya saat Yasmine menyebutkan nama Leathina.
“Syukurlah Nona Leathina kembali dengan selamat. Tapi aku sedikit khawatir...” Ekspresi pada wajah Yasmine dengan mulus terus berubah-ubah. Ia memasang wajah bahagiah di awal kemudian mengantinya dengan ekspersi sedih dan ketakutan setelahnya dan berhasil menarik pehatian semua orang termaksud Pangeran Yardley yang memang sejak awal terus memperhatikannya.
“Apa yang kau takutkan Yasmine? Tenang saja perempuan itu tidak akan mengangguku lagi, pertunangan kami telah dibatalkan jadi tidak ada alasan lagi untuknya mengangguku.” Jawab Pangeran Yardley tiba-tiba dan berhasil membuat Yamine tersenyum kecut.
“Aku tidak mengkhawatirkanmu bodoh, aku mengkhawatirkan diriku sendiri seharusnya kau bereaksi seperti orang-orang yang lain “Oh, astaga nenek sihir itu kembali kau harus berhati-hati nona Yasmine” atau “ aku takut jika dia akan menganggu nona Yasmine lagi.” Batin Yasmine berkecamuk tidak terima dengan reaksi datar sang pangeran.
“Nona Yasmine? Yasmine!” Panggil pangeran Yardley saat melihat perempuan yang duduk di depannya itu tiba-tiba melamun.
“Yasmine!” panggilnya lagi dengan sedikit menaikkan intonasinya untuk menyadarkan Yasmine dari lamunannya.
“Oh, atsaga maafkan aku pangeran.” Ucapnya sambil memegang kedua pipinya dengan telapak tangannya.
“Apa perlu aku antar?” Tanya pangeran Yardley yang ikut khawatir dengan keadaan Yasmine.
“Bai...” ucapan Yasmine terputus ketika melihat pengeran kedua Edward berjalan ke arah mereka berdua kemudian pandangannya malah fokus beralih pada Pangeran Edward.
“Tidak perlu Pangeran anda tidak boleh meninggalkan istana hanya karena perempuan sepertiku, aku tahu anda sangat sibuk bertemu dangan pangeran saja merupakan sebuah pernghormatan bagiku.” Sambungnya lagi kemudian kembali melirik ke arah datangnya Edward. “Tapi jika Pangeran memaksa, mungkin pangeran Edward bisa mengantarku.” Ucap Yasmine lagi kemudian berdiri tepat di samping Edward.
“Kau bersedia mengantarnya?” Tanya Yardley pada Edward dan telah melihat Yasmine menggandeng tangan Edward dan menyandarkan kepalanya di bahu Edward.
“Tidak aku juga sibuk.” Jawab Edward sambil menepis tangan Yasmine kemudian beraih memengan kedua pundak Yasmine dari depan hingga berakhir saling bertatapan.
Yasmine tersenyum manis ketika Edward menatap matanya langsung merasa berhasil mendekat satu langkah pada Edward karena selama ini Edward terus mengabaikannya.
“ROLAND!” Ucap Edward tiba-tiba membuat mata Yamine terbelalak.
Edward yang melihat reaksi Yasmine menyeringai kemudian menepuk-nepuk pundak Yasmine pelan.
“Siapa?” tanya pangeran Yardely pada Edward karena nama yang di sebutkan Edward.
“Aku juga tidak tahu siapa tapi aku pernah mendengar nama itu dari seseorang, apa kau mengenalnya nona Yasmine?” Tanya Edward pada Yasmine kemudian segea melepaskan Yasmine dan mendorngnya agak sedikit menjauh.
“Ak-aku tidak tahu siapa itu pangeran, mana mungkin aku tahu nama seperti itu.” Jawab Yasmine gugup kemudian memaksakan senyumnya.
“Baiklah Nona Yasmine Pangeran Yardley memiliki urusan penting sekarang anda sebaiknya kembali aku telah menyediakan kereta yang akan mengantar anda kembali ke kediaman Baron.” Ucap Edward kemudian mempersilahkan Yasmine untuk segera meninggalkan mereka berdua.
Dengan terburu-buru Yasmine segera meninggalkan pangeran Edward dan pangeran Yardley kembali ke kediamannya dan seorang pelayan segera mengantarkan Yasmine menuju kereta yang telah disediakan oleh Edward untuknya.
“Jadi apa yang membuatmu datang menemuiku Edward?” Tanya Pangeran Yardely setelah Yasmine pergi.
“Kita berdua di perintahkan ayah untuk pergi ke kediaman Duke Leonard Yarnell.”
“Ah, ayah pasti ingin mempertemukanku lagi dengan Leathina kan? Perempuan itu masih saja meminta ayah untu..” Yardely mendengus kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
“Prakk” Edward dengan sengaja menyenggol vas bunga yang ada di atas meja hingga terjatuh dan pecah.
“Jangan kau selesaikan ucapanmu itu jika kau tidak ingin aku memotongnya dengan pecahan vas ini.” Emosi Edward tiba-tiba mendidih ketika mendengar ucapan Yardley yang megejek Leathina.
“Hey, hey, aku tahu kau tidak suka basa basi tapi bukankah candaanmu itu telah berlebihan untuk kakakmu sendiri?”
“Oh, aku pasti terlalu lelah.” Ucap Edward kemudian.
“Pertemuan ini karena urusan diplomatik kerajaan jadi jangan salah paham dan Nona Leathina yang akan memantu kita, jadi jangan sembarangan berbicara.”
“Dengan kerajaan yang mana?” Tanya Yardley.
“Bukan kerajaan tapi jika terjadi kesalahan maka akan ada masalah besar yang terjadi yang bisa saja kerajaan yang lain akan menyerang.”
“Baiklah aku paham.”
Mereka berdua kemudian segera pergi ke kediaman keluarga Yarnell.
...
Yasmine akhirnya sampai pada kereta yang diberikan Edward untuk mengantarnya pulang dan pelayan yang mengantarnya segera mempersilahkan untuk segera naik dan meminta kusir agar segera membawanya kembali.
“Dari mana pangeran Edward tahu tentang Roland? Tapi walaupun dia tahu tidak akan ada yang terjadi padaku kan. Roland pasti bisa menutup mulutnya dengan baik.”
Yasmine terus mencubit tangannya sendiri karena khawatir hingga membuat punggung pergelangan tangannya memerah karena ulahnya sendiri.
“Kenapa aku merasa akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi.”
“Tidak, tidak, semuaya pasti akan berjalan dengan lancar. Ratu berada di pihakku, pangeran pertama terlalu bodoh untuk mengetahui tujuanku yang sebenarnya yang membuatku khawatir hanya orang itu Pangeran Edward kenapa aku sangat ketakutan berada di dekatnya. Tenang, tenang Yasmine kamu harus tenang sebentar lagi kamu akan duduk di puncak.”
Yasmine berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskanya pelan melalui mulutnya.
“Huek!” Pekiknya ketika tiba-tiba mencium aroma bangkai.
“Dari mana asalnya aroma busuk ini.” Yasmine segera menutup mulutnya dengan sapu tangan dan membuka jendela kereta membiarkan udara masuk agar bau busuk yang diciumnya menghilang.
Tapi walau udara telah masuk seluruhnya ke dalam kereta bau busuk yang dicium Yasmine tidak kunjung menghilang, bau itu terus tercium dan malah semakin parah membuat Yasmine pusing dan mual karena terus mencium bau busuk.
“Ahrg! Dari mana asal bau busuk ini!” teriaknya kesal sambil mengeluarkan kepalanya di jendela memeriksa apakah ada bangkai yang tersangkut di kereta, tapi akhirnya masuk kembali karena tidak menemukan apa-apa.
Yasmine mecoba mencari tahu dari mana asalnya bau busuk itu dari dalam kereta kemudian menemukan bahwa bau busuk itu berasal dari tempatnya duduk dan segera berdiri memeriksa tempat duduknya dan tidak menemukan apa-apa. Ia kemudian menunduk ke bawa bangku dan memeriksa kembali.
“AAAaaaaaa!!” Jerit Yasmine tiba-tiba setelah melihat ke bawah tempat duduknya.
“Ada apa Nona?” Tanya kusir yang mengantar Yasmine dari luar setelah mendengar jeritan dari dalam kereta.
“Tidak, tidak ada apa-apa teruskan saja.” Teriak Yasmine memberitahu kusir yang membawanya.
Yasmine beringsut di sudut kereta tubuhnya gemetar melihat sebuah kepala manusia yang di letakkan begitu saja di bawa tempat duduknya. Dilihatnya sesekali untuk memastikan dan kepala manusia itu masih tetap berada di sana dan di salah satu matanya bahkan telah mengeluarkan belatung serta pipinya yang telah berlubang karena membusuk.
“Roland!” Yasmine menutup mulutnya kemudian memalingkan lagi wajahnya ke arah lain karena tidak kuat melihatnya.
“Kenapa orang ini bisa ada di sini, dia, dia, benar-benar telah mati.”
“Hekk!!” Pekik Yasmine lagi ketika melihat potongan tubuh itu menggelinding mengikuti ke mana arah kereta bergoyang.
“Tak”
Kereta berhenti, telah samai di kediamana Yasmine sebelum kusir membukakan pintu untuknya Yasmine telah membukanya dan melompat turun kemudian terbiri-birit masuk ke dalam kediamannya tanpa menoleh.
...***...