I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 220



Setelah meninggalkan penginapan dan pergi dari kelompoknya tanpa memberitahukan untuk apa ia pergi dan kemana ia akan pergi Edward berjalan kembali menuju jalan utama kemudian berbaur dengan pengguna jalan lainnya.


Edward berjalan menuju alun-alun kota kemudian berdiam di pinggir jalan menunggu seseorang sembari mengamati sekitarnya memeriksa serta berjaga-jaga jika seseorang mungkin sedang mengikutinya, tidak beberapa lama setelah itu seorang perempuan diam-diam datang mendekatinya kemudian tanpa saling sapa keduanya langsung berjalan beriringan menuju sebuah kedai minuman yang terdapat di dekat alun-alun kota.


“Satu teh hangat dan ....” ucapannya terhenti sambil melihat Edward yang baru saja duduk di depannya.


“Apa saja.” Jawab Edward singkat, tidak perduli dengan apapun yang akan di pesan oleh perempuan yang kini duduk sambil mengobrol dengan pelayan di depannya itu


“Baiklah, dua gelas teh hangat.” Ucapannya ramah, pelayan yang menghampirinya kemudian mengangguk paham dan segera pergi kembali.


“Bagaimana?” Tanya Edward langsung pada intinya.


“Nah, ini surat yang dikirimkan dari kediaman duke Leonard khusus untuk anda tuan sebagai mata-matanya dan satu lagi surat khusus untuk ketua tentara pembunuh bayangan.” Ucapnya sembari mengeluarkan dua buah surat dan meletakkannya di hadapan  Edward.


Edward langsung menyambar kedua surat yang ada di depannya itu, memperhatikan surat itu sejenak dari jarak dekat untuk memeriksa apakah ada sesuatu di luarnya tapi ia tidak menemukan sesuatu yang aneh dari kedua surat itu.


“Baiklah tugasku sebagai kurir surat sudah selesai, saya harus segera kembali ke kerajaan sekarang, Tuan. Anda harus tahu bahwa saya mengalami banyak kesulitan karena harus sampai di tempat terpencil ini dalam waktu yang cepat.”  Ucapnya berbasa-basi pada Edward tapi pandangan Edward hanya fokus pada kedua surat yang tadi ia berikan.


Tanpa memperdulikan lawan bicaranya lagi Edward membuka salah satu surat yang dikirimkan duke untuk ketua tentara bayangan kemudian membacanya baris demi baris sampai surat itu habis dibacanya. Sementara orang yang telah mengantarkan surat itu kini telah berjalan keluar dari kedai minuman sebelum minuman yang ia pesan sampai serta meninggalkan Edward sendiri.


Tidak ada informasi yang berarti dalam surat yang dikirimkan duke untuk tentara bayangan melainkan ketidaktahuan mengenai penyebab tidak maunya Leathina kembali, dan meminta agar Leathina dibawah kembali karena Duke khawatir mengenai keselamatan Leathina.


“Jadi mereka juga tidak tahu ya, tapi tetap memaksa untuk membawa pulang Leathina.” Gumamnya pasrah kemudian menghela nafas berat setelah itu  langsung membakar surat yang telah ia baca hingga menjadi abu.


Seakan sudah tahu apa isi dalam surat kedua yang dikirimkan duke Leonard khusus untuknya  ia berfikir isi suratnya pastilah sama dengan surat sebelumnya dan dengan ekspresi datar  Edward kembali membacanya namun baru saja ia membaca pada baris pertama membuatnya bagai dihantam batu besar dan kembali mengulang-ulang kembali untuk membaca surat yang dikirimkan Duke Leonard untuknya setelah itu tertegun karena saking terkejutnya, tatapannya menjadi kosong hingga tanpa sadar diremasnya surat yang baru selesai ia baca itu.


Di dalam surat yang dikirimkan Duke Leonard terdapat penjelasan panjang duke yang menuliskan alasan kenapa Leathina tidak ingin kembali dan diantara tulisan yang berisikan alasan dan penyebab sebagai alasan kuat Leathina tersebut terdapat namannya yang menjadi salah satu alasan kenapa Leathina tidak ingin kembali ke kerajaan.


“Kenapa bisa sampai jadi seperti ini?!” Gumam Edward .


Setelah termenung lama dan kembali ke pikiran rasionalnya Edward langsung bergegas meninggalkan kedai kopi dan kembali ke penginapan  ingin segera bertemu dengan Leathina untuk meminta penjelasan secepatnya. Namun dalam perjalanannya ia melihat Adam yang terlihat gelisah sembari berjalan kesana kemari.


Merasakan ada yang tidak beres membuat Edward bergegas menghampiri Adam yang sepertinya sedang panik.


“Adam!”


“Ah! Tuan Ed!” Pekiknya panik tidak berani menatap Edward yang kini serius menatapnya.


“Apa yang terjadi?” tanyanya pada Adam.


“Tuan, No- nona Le- lea ...” ucapnya tergagap tidak berani mengatakan yang sebenarnya.


“Ada apa dengan Leathina? Katakan!” bentak Edward yang kini sudah bisa menebak bahwa sesuatu yang tidak baik telah terjadi.


“Seseorang menculik Nona Leathina saat saya sedang lengah.” Ucapnya memberitahu Edward.


“Sial!” umpatnya emosi, “Dimana terakhir kalian bersama?” tanyanya menjadi semakin panik.


“Disana, dan waktu hilangnya belum lama Tuan, mereka masih belum jauh jika kita mengejarnya sekarang maka kita akan bisa menemukan Nona Leathina kembali.” Ucapnya Adam optimis dan segera kembali mencari.


“Apa kau yakin dia diculik? Bukan melarikan diri seperti yang terakhir kali?” tanya Edward ragu-ragu dengan Leathina yang tiba-tiba menghilang begitu saja.


“Tidak tuan, Nona Leathina benar-benar diculik. Seorang anak kecil mengecoh dan memisahkan kami dengan berpura-pura terluka dan minta diantar kembali pada orang tuannya tapi belum jauh saya mengantarnya anak itu tiba-tiba lari dan saat saya kembali Nona Leathina tidak lagi di tempatnya.” Ucap Adam berusaha menjelaskan sebaik yang ia bisa.


“Bukankah sudah jelas-jelas itu jebakan! Kenapa kau ikuti?!” bentar Edward emosi.


“Nona Leathina yang memintanya Tuan, walaupun dia tahu dia tetap meminta saya untuk mengantar anak kecil itu dan Nona Leathina tidak ingin ikut dengan kami, itulah kenapa kami berpisah dan setelah saya kembali dia sudah hilang.”


“Akh! Kalau saja terjadi apa-apa padanya kamu yang akan menanggungnya, Adam.” Ancamnya.


Edward langsung bergegas mencari Leathina dan berpencar dengan Adam berharap dapat menemukan Leathina dengan mudah, beberapa kali mereka berdua menarik orang yang salah karena mengira bahwa mereka adalah Leathina.


“Leathina, diaman kamu?” gumamnya panik sembari masih mencari di setiap jalan-jalan yang kemungkinan adanya Leathina disana.


...


Duke Leonard masih berada di ruangan kerjanya dapat ditebak bahwa ia telah berjam-jam duduk di depan tumpukan-tumpukan dokumen yang harus ia kerjakan, wajahnya lesu dan terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya.


“Permisi Tuan!” seru seseorang dari arah balik pintu ruangan kerjanya.


Duke Leonard langsung menghela nafas berat menghentikan kegiatannya kemudian menatap ke pintu ruangannya. “Masuk!” Serunya dan sesaat kemudian seorang pelayan membuka pintu, membungkuk memberi hormat lalu datang mendekat kemudian menyerahkan dua surat pada Duke Leonard.


“Tuan, pagi ini ada dua surat yang datang dan tidak memiliki nama pengirim lagi.”


“Baiklah, letakkan suratnya di atas meja dan silahkan keluar.”


Setelah mengantarkan surat si pelayan langsung keluar meninggalkan duke dan langsung menutup pintu kembali.


Duke yang sudah tahu siapa yang mengirimkannya surat padanya walau surat yang ada ditangannya sekarang itu tidak memiliki nama pengirim atau dari mana asalnya cepat-cepat membuka dan membacanya.


 “Ah! ini surat dari tentara bayangan.” Gumamnya kemudian fokus membaca surat yang diterimanya itu.


Dengan serius ia membaca setiap baris dan informasi yang disampaikan ekspresinya berubah seakan ikut mengekspresikan apa yang dibacanya.


“Syukurlah Leathina baik-baik saja. Tapi apa Leathina benar-benar tidak ingin kembali?” tanyanya pada dirinya sendiri bingung.


Surat dari tentara bayangan menjalankan bahwa Leathina memang benar-benar tidak ingin kembali ke kerajaan, dalam surat menjelaskan secara singkat bahwa Leathina benar-benar menentang untuk dibawa kembali. Dan dalam surat itu juga meminta perintah selanjutnya apakah Leathina dibiarkan sesuai dengan kemauannya atau harus dibawa kembali walaupun dengan paksaan.


Duke Leonard kembali menghela nafas melipat dengan hati-hati surat yang dibacanya dan kembali membuka surat kedua yang belum ia baca.


“Ini dari pangeran Edward.” Gumamnya saat nama pangeran Edward tertulis dalam surat sebagai penutup.


.........


Kami telah berhasil menemukan Nona Leathina, dan putrimu ini benar-benar berada ditempat yang sangat jauh dari kerajaan. Alasan kenapa Nona Leathina tidak bisa ditemukan karena ia disekap oleh monster yang membawanya malam itu, dan baru berhasil lepas darinya sekarang. Untuk sekarang putrimu Leathina dalam kondisi baik-baik saja, sayangnya dia benar-benar tidak ingin kembali ke kerajaan dan yang paling saya tidak mengerti adalah dia tidak ingin memberitahukan alasannya dan sekarang ia berencana untuk berpetualang sendiri tanpa tujuan yang jelas. Duke saya tahu bahwa pertanyaan saya ini sedikit lancang karena ikut campur dalam urusan internal keluarga anda tapi untuk keselamatannya apakah anda tahu apa penyebab Nona Leathina sampai tidak ingin kembali ke kerajaan? Jika tidak bisakah anda mencari tahu penyebabnya sepertinya ada yang Leathina takutkan hingga memilih untuk tidak kembali. Saya akan menuggu balasan dari anda silahkan letakkan surat balasan anda di meja kerja anda, seorang utusan dari tentara bayangan akan datang tepat pada tengah malam untuk mengambilnya. Berhati-hatilah pada orang-orang disekitar anda beberapa orang sedang mengikuti kami dan mencari Leathina secara intens.


...Edward....


.........


Duke tertegun tatapannya kosong dan pikirannya tertuju pada Leathina, mencoba mengingat kembali dan mencari tahu apa kemungkinan yang dapat menyebabkan Leathina tidak ingin kembali ke kerajaan.


Duke mengusap kasar wajahnya tidak dapat menemukan pertunjukan apa-apa.


“Aku ...” gumamnya sambil menatap kembali isi surat yang dikirimkan Pangeran Edward untuknya. “ Benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Leathina.” Ucapnya lirih dan meremas surat yang telah dibacanya itu.


Setelah lama termenung meratapi seluruh kesalahannya selama ini terhadap Leathina, Duke kemudian bergegas menyimpan semua surat-surat yan tadi ia baca setelah itu menyimpan dengan rapi dokumen-dokumen penting yang telah ia selesaikan kemudian bergegas keluar dari ruangan kerjanya setelah terkurung disana selama berjam-jam lamanya.


“Duke?”


Adrian sekertaris Duke Leonard berpapasan di depan pintu di tangannya terdapat tumpukan berkas baru yang harus Duke Leonard kerjakan.


“Ah! Adrian, letakkan saja di mejaku aku akan menyelesaikannya nanti.” Ucap Duke Leonard kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


“Tapi Duke?!” seru Adrian namun Duke telah terlanjur pergi meninggalkannya, karena tidak ada pilihan lain ia akhirnya melakukan apa yang diminta Duke ia meletakkan dokumen-dokumen yang dibawanya itu di atas meja kerja duke kemudian mengorganisir dokumen lainnya yang sudah diselesaikan dan juga ikut mengerjakan yang lainnya. “Bari kali ini pandangannya tidak tegas  dan malah terlihat sayu, semoga saja dia baik-baik saja.” Gumam Adrian dan kembali melakukan pekerjaannya.


Duke berjalan dengan sedikit tergesa-gesa kemudian berakhir di depan ruangan Leathina, setelah masuk ke dalam duke kembali tertegun baru ia sadari bahwa di dalam ruangan Leathina tidak terdapat apa-apa yang berarti bahkan sangat kosong.


Duke berkeliling berharap menemukan sesuatu namun semakin ia mencari tagu tentang Leathina semakin ia tidak dapat menemukan apa-apa tentang putri perempuannya itu. Saat membuka lemari pakaian milik Leathina tidak banyak gaun disana namun saat ia membongkar di bagian bawahnya terdapat beberapa kantung uang yang sepertinya dengan sengaja disembunyikan disana.


Saat beralih ke sisi ruangan lainnya Duke melihat pedang kesayangan Leathina yang selalu ia bawa-bawa kemana-mana, terlihat seperti dirawat dengan baik padahal pemiliknya sudah lama tidak menggunakannya.


“Ah! Maaf tuan.” Anne yang melihat ruangan Leathina terbuka segera memeriksa siapa yang masuk khawatir jika ada orang yang mengacak-acak ruangan Nona Nya itu. Namun yang ia temukan adalah Duke Leonard.


Duke hanya menatap Anne sebentar kemudian kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan seakan sedang mencari sesuatu di sana.


“Maaf Tuan, tapi apa yang anda lakukan di ruangan Nona Leathina?” Tanya Anne pada Duke.


Pertanyaan Anne membuat Duke kembali terdiam dan melihat ke arah Anne yang masih berdiri di ambang pintu.


“Anne kamu yang merawat pedang dan ruangan Leathina?” ucap Duke yang bertanya pada Anne.


Anne mengangguk pelan sembari terus melirik ke arah lemari yang pintunya sedikit terbuka, “Iya, Tuan.” Jawabnya kemudian pelan-pelan berjalan menuju Lemari berusaha agar Duke Leonard tidak menyadari pergerakannya dan langsung menutup pintu Lemari.


“Anne?”


“Ah! Iya Tuan?!” jawab Anne spontan karena terkejut setelah menutup lemari.


“Sepertinya banyak dari gaun-gaun Leathina yang hilang, walaupun aku tidak tahu pasti tapi aku yakin dengan pasti bahwa gaun-gaunnya tidak hanya sebanyak itu saja. kemana semua gaun-gaun milik Leathina pergi?” tanyanya curiga membuat Anne panik tidak berani menjawab karena takut.


“Anne?!” tanya Duke lagi. “Kamu tidak melaporkan seluruhnya padaku bukan?” Anne terhenyak karena Duke mulai mencurigainya karena takut Anne langsung duduk berlutut.


“Jadi, benar kamu selama ini tidak melaporkan semuanya padaku dan bahkan menyembunyikannya dariku.”


“Maafkan saya tuan, saya salah! Saya memang tidak melaporkan seluruhnya pada anda dan menyembunyikan beberapa informasi dari anda.” seru Anne langsung mengaku dan meminta maaf karena takut dijatuhi hukuman yang lebih berat jika tidak langsung mengaku pada duke Leonard yang sekarang ekspresi wajahnya tidaklah terlihat baik. “Tapi, saya menyembunyikan beberapa informasi dan tidak melaporkannya pada anda karena semua itu adalah permintaan Nona Leathina, tuan.” Ucapnya dengan suara bergetar.


“Baiklah, aku paham.” Gumam Duke, “Tapi pertama-tama jelaskan kenapa banyak gaun dan perhiasan Leathina yang hilang serta dari mana seluruh kantung-kantung uang itu, Anne?” tanyanya dengan serius. “Dan pastikan jangan ada yang kamu sembunyikan dariku lagi atau kau tutup-tutupi jika tidak mau menerima hukuman dariku.” Ucapnya serius memperingati  Anne.


“B- baik tuan, saya paham, saya akan menjawab seluruh pertanyaan anda tanpa ada yang saya sembunyikan.” Jawabnya pasrah.


“Jadi katakan!” pinta Duke agar segera menceritakan apa yang tidak ia ketahui.


“Separuh gaun-gaun milik nona Leathina telah dijual, begitu pula dengan perhiasannya juga hilang karena telah dijual Nona Leathina Tuan, Nona meminta saya untuk menjual beberapa gaun dan perhiasan miliknya secara diam-diam agar bisa mendapatkan uang Tuan.”


“Jadi maksudmu, seluruh kantung uang yang ada di dalam lemarinya itu adalah hasil penjualan gaun dan perhiasannya?” tanya Duke yang tidak habis pikir dan tidak mengerti kenapa Leathina memilih untuk menjual barang-barang miliknya dibandingkan meminta langsung uang darinya.


“Be- betul Tuan, semua uang yang ada di dalam lemari itu adalah hasil dari Nona Leathina menjual gaun-gaun dan perhiasan miliknya.


“Untuk apa? Dan kenapa tidak langsung meminta uang dariku saja jika memang sangat membutuhkan uang?!”


“Saya juga tidak tahu tuan, suatu hari tiba-tiba saja Nona Leathina memintaku untuk menjual beberapa gaun dan perhiasannya secara diam-diam dan menukarnya dengan uang, nona Leathina bahkan memintaku agar jangan sampai ketahuan jadi Tuan aku mohon jangan menghukum Nona Leathina karena hal ini jika suatu saat nanti Nona Leathina berhasil kembali.”


“Huh?! Memangnya untu apa aku menghukumnya hanya karena hal ini, aku hanya bertanya kenapa Leathina tidak meminta langsung padaku jika butuh?” Tanya Duke kecewa karena merasa Leathina belum sepenuhnya menerimanya sebagai ayahnya walaupun hubungannya sebelum menghilang mulai membaik Leathina sepertinya tetap menjaga jarak dengan semua orang termaksud dirinya.


“Maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak tahu kenapa nona Leathina tiba-tiba meminta saya untuk menjual gaun dan perhiasannya untuk ditukarkan dengan uang.”


“Apa ada lagi yang Leathina lakukan yang belum kamu laporkan padaku? Dan apakah kamu tahu kenapa Leathina memilih untuk menjauh dari semua orang?” tanya Duke lagi mencoba mencari tahu apapun informasi tentang Leathina.


“Tidak ada Tuna, selain menjual gaun dan beberapa perhiasannya Nona Leathina tidak lagi meminta saya untuk melakukan hal lainnya, tapi ...”


“Ada apa? Katakan!”


“Mengenai pertanyaan anda yang terakhir tadi mengenai Nona Leathina sepertinya Nona Leathina menghawatirkan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan pada orang lain dan hanya memendamnya sendiri tuan.”


“Apa kamu tahu apa yang membuatnya seperti itu?”


“Saya tidak betul-betul yakin tuan, tapi sepertinya ada yang mencoba untuk menyingkirkan Nona Leathina.”


“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas Anne!”


“Maksud saya sepertinya ada orang lain yang menginginkan kematian Nona Leathina, Tuan. Saya beberapa kali secara tidak sengaja mendapati Nona Leathina berbicara sendiri dan mengatakan beberapa kalimat seperti sebentar lagi dia akan menghilang atau jika dia tidak menghilang mungkin akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi dan yang lebih parah mungkin orang-orang yang dekatnya lah yang sedang memburunya sekarang dan menginginkan kematiannya.”


“Huh?! Apa lagi ini?’ gumam duke Leonard. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang, dan aku sama sekali tidak tahu apa-apa.” Duke menatap ke sekelilingnya selain nuansa putih yang menyelimuti seluruh isi ruangan tersebut hanya ada beberapa perabotan disana.


“Baiklah, jaga ruangan Leathina baik-baik.”


“Baik tuan.”


Duke akhirnya menyerah kemudian bergegas kembali ke ruangan kerjanya meninggalkan Anne yang masih berada di ruangan Leathina.


“Duke anda sudah kembali?” tanya asistennya Adrian ketika Duke Leonard memasuki ruangan.


Duke tidak menjawab ia hanya masuk kemudian langsung berjalan menuju tempatnya dan langsung mendudukkan dirinya dengan wajah cemas.


“Duke?” panggil Adrian lagi. “Apa ada masalah, Leonard?” tanya Adrian lagi yang bertanya sebagai teman bukan sebagai sekertaris karena khawatir melihat Duke Leonard yang kini terlihat sangat kelelahan.


“Ah! Adrian, maafkan aku tapi hari ini kembalilah lebih cepat ada sesuatu yang harus aku kerjakan sendiri.” Ucap Duke pada kahirnya memberi respon pada Adrian.


Melihat Duke sepertinya tidak ingin memberitahukan padanya tentang masalah yang sedang dialaminya sekaran, Adrian memilih untuk diam tidak lagi bertanya karena tidak ingin memaksa tuan sekaligus teman lamanya itu.


 “Hah?! Benar-benar memprihatinkan, tapi apa lagi yang bisa aku perbuat untuk membantunya jika yang membuatnya menjadi seperti sekarang adalah rasa bersalahnya yang menggunung pada putrinya yang ia abaikan sendiri.” Adrian kembali melirik Duke Leonard saat berada di ambang pintu.


“Baiklah, saya pergi Tuan Duke.” Ucap Adrian pamit dan kembali berbicara sopan pada duke setelah itu segera keluar dari ruangan dan meninggalkan Duke Leonard sendiri.


Setelah Adrian pergi dan tinggal Duke Leonard sendiri di dalam ruangan kerjanya, Duke mengambil beberapa kertas dan pena dan mulai menuliskan surat balasan untuk segera ia kirimkan pada tentara bayangan yang ia sewa untuk mencari Leathina dan juga untuk Pangeran Edward yang ia utus untuk ikut dalam pencarian Leathina bersama para tentara bayangan.


...***...