
Keesokan harinya mereka berdua segera meninggalkan penginapan tersebut dan melakukan perjalanan pulang kembali ke markas tentara bayaran.
Semua yang diucapkan oleh Ed’ kemarin benar-benar terjadi banyak orang yang menggosipkan tentang seluruh keluarga Tesro yang ditangkap atas kejahatan yang telah lama mereka lakukan, kejahatannya dilaporkan oleh kusirnya sendiri serta banyak anak-anak ditemukan di gudang bawah tanah mereka yang sengaja dikurung di sana.
“Wah, Ed’ kamu benar-benar membuat si sampah itu ditangkap beserta seluruh keluarganya.”
“Kau mendengarnya?”
“Iya, semua orang membicarakannya pagi ini. Termaksud si pemilik penginapan, katanya Keluarga Tesro itu baik dan sering menyumbangkan separuh hartanya ke rumah-rumah ibadah dan ternyata dibalik itu dia tidak sebaik yang kelihatan.”
“Makanya jangan menilai orang dari luarnya saja.” Jawab Ed’ singkat kemudian memacu kudanya dengan cepat.
“Ed’ apa kau tidak berniat membawaku kembali? Kau tahu imbalan untuk menemukanku sangat besar loh, ini bisa jadi kesempatanmu memeras keluarga Yarnell.” Tanya Leathina tiba-tiba membuat Ed’ sedikit terkejut mendengar perkataan Leathina.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu Lea?”
“Tidak, hanya saja aku taku jika tiba-tiba kau nanti akankah menghianatiku. Kau tahu kan selama ini belum pernah ada orang yang memihak padaku.” Leathina berbicara dengan tatapan kosong.
“Aku tidak akan menghianati mu, dan aku akan menjadi orang pertama yang selalu memihak padamu apapun yang terjadi aku berjanji akan melindungi mu.”
“Hahah.” Tawa Leathina tiba-tiba meledak membuat Ed dan Adam yang berada di belakang mereka juga mendengarnya ikut kebingungan.
“Kenapa kau tertawa, apa yang lucu Lea?” Tanya Ed’ sambil terus fokus memacu kudanya.
“Tidak, hanya saja mendengar ucapanmu itu. Kau seperti sedang melamar wanita saja hanya kurang kata “Menikalah denganku.” Jawab Leathina sambil cekikikan menahan tawanya sendiri.
“Lea, aku tidak bercanda.” Ucap Ed’ kemudian dengan sedikit kesal karena Leathina tidak menganggap apapun yang dia ucapkan dengan serius.
“Iya aku tahu, janji yang telah kau keluarkan dari mulutmu tidak akan pernah kau ingkari bahkan sampai matipun kau kau pasti akan menepatinya, Ed’.” Leathina kemudian berbicara dengan serius menanggapi perkataan Ed’ padanya.
“Terimakasih Edward.” Lanjut Leathina menyelesaikan ucapannya sementara Ed’ hanya tersenyum mendengar ucapan Leathina.
Setelah percakapan mereka, tidak adalagi yang memulai percakapan di antara mereka Ed’ fokus mengendalikan kudanya sementara Leathina hanya terdiam hanya suara derapan kaki kuda mereka yang terdengar di sepanjang jalan memecah kesunyian.
“Sudah hampir sampai.” Seru Adam ketika melihat atap mansion tua yang berdiri tegap di depan mereka.
Adam melompat turun dari kudanya membuka sedikit gerbang untu dilewati mereka kemudian meneruskan kembali perjalanan mereka memasuki halaman mansion.
Setelah samai di pintu utama Ed’ segera melompat turun dari kudanya kemudian setelah itu segera membantu Leathina turun. Adam segera memegangi tali milik kuda yang ditunggangi Ed’ dan menggiringnya bersamaan dengan kudanya memasuki kandang kuda. Sementara Leathina dan Ed’ memasuki mansion tua itu, di dalam mansion orang-orang menyambutnya termaksud Troy yang sudah menunggu kepulangan mereka dari semalam.
“Lea, kau kembali.” Sapa Troy saat melihat Leathina memasuki mansion.
“Troy! Bagaimana dengan anak-anak?” tanya Leathina kemudian sambil berjalan ke arah Troy sementara Ed’ pergi ke ruangannya di dampingi oleh Fiona yang juga telah menunggunya.
“Anak-anak aman, hanya saja mereka tidak bisa tinggal disini. Terlalu berbahaya bagi anak-anak seperti mereka mengetahui tempat seperti ini.” Troy berbicara sambil menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Leathina duduk.
“Jadi kemana kau membawa mereka?”
“Mereka tinggal di pedesaan sekitar sini, sebentar lagi kami akan membawanya ke mansion milik Tesro yang telah disumbangkan untuk menjadi tempat tinggal anak-anak terlantar ini.”
“Benarkah aku turut senang mendengarnya karena mereka mendapat tempat tinggal yang layak. Kapan tepatnya kalian akan membawa mereka ke kota?”
“Kita baru akan membawanya sekarang, karena mereka adalah bukti sekaligus saksi atas kejahatan Tesro jadi kehadiran mereka sangat penting di pengadilan.
“Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian.” Leathina kemudian segera berdiri ingin ikut dengan Troy dan yang lainnya untuk mengantar anak-anak yang telah diselamatkannya kemarin.
“Tapi Lea tidakkah kamu kelelahan, kau baru saja kembali beristirahatlah.”
“Benar kata Adam, Lea. Kau harus beristirahat.”
Ucap adam yang baru saja memasuki mansion setelah membawa kuda ke kandangnya, kemudian dibenarkan oleh Troy.
“Tidak apa-apa Adam, Troy, aku tidak akan ikut kalian ke kota. Aku hanya ingin melepas kepergian mereka.”
“Tapi Troy.” Ucap Leathina kemudian membuat Troy menoleh padanya.
“Aku boleh menumpang di kudamu? Kudaku tertinggal di kota.” Leathina berbicara melanjutkan ucapannya.
“Boleh, tentu saja boleh ayo ikut denganku.”
“Wah terimakasih.”
“Leathina kau akan pergi bersamaku.”
Mengetahui bahwa Troy memperbolehkannya ikut dengannya membuat Leathina kegirangan dan segera mengikuti Troy. Tapi Adam tiba-tiba menarik tangannya menghentikannya ikut bersama Troy dan meminta Leathina ikut bersamanya.
“Eh? Tapi adam tidak kah kau juga butuh istirahat.”
“Aku hanya ingin ikut intuk melihat anak-anak kemarin.”
“Oh, baiklah, tidak penting bersama siapa jika aku bisa bertemu dengan anak-anak.” Leathina berbicara sambil mengikuti Adam dari belakang.
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam akhirnya mereka sampai di sebuah rumah dari kejauhan terlihat beberapa anak-anak sedang mengantri ingin memasuki kereta kuda yang akan membawa mereka ke kota.
“Nona Bangsawan!” Teriak Toni menyambut kedatangan Leathina kemudian Toni dan adiknya segera berlari dan memeluk Leathina sementara anak – anak yang telah terlanjur naik ke atas kereta segera mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Leathina.
“Sepertinya anak-anak ini sudah jatuh hati padamu Lea.” Ucap Troy setelah turun dari kudanya nya dan menyusul Leathina dan Adam yang lebih dulu sampai.
“Tentu saja.” Jawab Leathina dengan candaan.
“Nona apa kami berdua tidak boleh ikut denganmu saja.” Toni berbicara sambil menundukkan kepalanya.
“Iya Nona, aku dan Toni bisa jadi pelayanmu. Kami tidak perlu di beri bayaran asalkan di beri makanan.” Messy juga ikut-ikutan merengek pada Leathina.
“Maafkan aku, tapi berbahaya bagi anak-anak seperti kalian jika ikut bersamaku.” Leathina berjongkok di depan mereka berdua dan mengusap kepala dua bersaudara itu.
“Bagaimana kami akan membalas kebaikanmu nona?” Toni dengan sedih bertanya pada Leathina.
“Tenang saja, aku baru ingin meminta tolong pada kalian. Tapi, ini seperti misi rahasia hanya kalian berdua dan aku yang tahu. Apa kalian bersedia?”
“Tentu saja kami bersedia.” Mendengar perkataan Leathina membuat Toni dan messy kembali bersemangat.
“Baiklah cari alamat ini dan temui wanita bernama Denisa, dan sampaikan suratku ini.” Leathina berbisik pada Toni dan Messy kemudian menyelipkan sebuah surat ke dalam saku baju Toni.
“Tapi kami tidak tau membaca Nona.” Bisik Messy pada Leathina.
“Saat di kota nanti minta tolonglah pada orang lain untuk membacakan alamat ini, dan jika mereka bertanya untuk apa katakan bahwa kalian ingin mencari alam ibu kalian, apa kalian paham.”
“Iya Nona.” Ucap Toni dan Messy hampir bersamaan.
“Naiklah kita akan segera berangkat!” teriak seorang kusir memperingati Toni dan Messy yang belum naik.
Mendengar teriakan itu membuat Toni dan Messy segera berlari menaiki kereta kuda bersama anak-anak lainnya kemudian mengeluarkan kepalanya di jendela dan terus melambai ke arah leathina.
“Nah sepertinya aku juga akan pergi.” Troy berbicara dan berjalan menaiki kudanya hendak mengikuti kereta kuda yang telah berjalan lebih dulu meninggalkan Leathina dan Adam.
“Apa yang kau bisikkan pada dua anak tadi.” Adam bertanya pada Leathina, penasaran apa yang membuat anak-anak tadi begitu bersemangat.
“Itu rahasia, ayo kembali.”
Leathina hanya tersenyum simpul, kemudian berjalan lebih dulu ke kuda yang mereka gunakan tadi untuk kembali ke markas tentara bayangan.
...***...