
“Jika saja wanita arogan itu tahu kalau aku dari kalangan bangsawan dia pasti langsung jatuh hati padaku. Aku menemukan satu wanita unik, tunggu saja kita pasti akan bertemu kembali.” Laki – laki itu berbicara sambil menyisir rambutnya dengan sisir yang ia keluarkan dari saku celananya kemudian memandang punggung Leathina yang pergi meninggalkannya.
Leathina pergi meninggalkan laki – laki aneh yang datang menghampirinya secara tiba – tiba dan mencoba untuk merayunya dan sesekali Leathina memperbaiki tudungnya agar wajah dan rambutnya tidak terlihat.
“Setelah bertemu dengan laki – laki aneh tadi aku tahu itu adalah pertanda bahwa hariku akan tidak menyenangkan, kejadian tadi bisa saja tanda awal nasib burukku untuk hari ini.” Leathina memukul – mukul kepalanya sendiri berusaha mengusir pikiran buruk yang merayap di pikirannya setelah bertemu laki – laki aneh tadi.
Leathina berjalan menyusuri jalan – jalan setapak yang menuju ke arah barat kerajaan sesekali Leathina berdiri untuk mengamati seluruh tempat Leathina menandai dan berusaha untuk mengingatnya agar tidak tersesat saat kembali dan bisa pulang dengan cepat nanti setelah selesai mengamati.
“ Apa – apaan ini?”
Leathina melewati sebuah jalan yang isinya di penuhi banyak tunawisma, saat Leathina melewati para tunawisma tersebut semua mata tertuju pada dirinya dan karena takut Leathina terburu – buru melewati jalanan itu.
“Mereka melihatku seperti akan membunuhku, ah iya aku hampir lupa tempat ini sarang para penjahat bisa saja di siang hari mereka terlihat sebagai tunawisma atau gelandangan yang tidak punya tempat tinggal tapi di malam hari mereka bekerja mencari orang – orang yang jadi pesanan para pelanggannya untuk di bunuh.” Leathina bergidik ngeri dan mempercepat langkah kakinya melewati jalan tersebut.
Aku memakan waktu limah belas menit melewati jalanan itu tapi aku merasa melewatinya selama lima belas jam.
Setelah Leathina berhasil melewati jalanan itu dengan selamat akhirnya Leathina sampai di penghujung jalan dan memasuki sebua gang kecil yang sudah tidak berbatu jalanan yang dilewatinya kini hanya terbuat dari tanah saja.
“Tapk.”
“Aww.”
“Maafkan kami Nona, maafkan kami, kami berdua tidak sengaja.”
Dua orang anak berlari kencang dan dengan segaja menabrak Leathina sampai terjatuh ke tanah sehingga tudungnya tersingkap karena takut dikenali akhirnya Leathina segera berdiri kembali dan memperbaiki tudung kepalanya untuk menutupi wajahnya dan rambutnya. Anak – anak yang menabrak Leathina kemudian segera meminta maaf seolah – olah bahwa mereka berdua memang tidak sengaja menabrak kemudian anak – anak itu pergi meninggalkan Leathina yang masih sibuk memperbaiki jubahnya dan menepuk – nepuk bagian yang kotor terkena tanah.
“ Aku tahu kantong uang yang ada di pinggangku pasti hilang, aku sudah memprediksi ini akan terjadi di daerah kumuh dan aku juga pernah menjadi gelandangan makanya aku tahu. Nah makanya aku menyimpan kantung uang lain dan mengikatnya di pahaku.” Leathina berbicara sambil tersenyum bangga karena mereka kecerdasannya masih bekerja.
“Hey kalian berdua berhenti di sana!” Setelah membersihkan jubahnya Leathina kemudian berteriak menghentikan langkah kaki kedua anak yang menabraknya tadi.
“Hekk kita ketahuan bagaimana ini? apa aku bilang jangan coba – coba mencuri dari para kesatria kita akan di tangkap dengan mudah.” salah satu dari anak yang menabrak Leathina berbisik pada temannya karena takut.
“”Tenang saja kita akan baik – baik saja jika kita tidak tertangkap.” Temannya berbicara sambil menggandeng tangan temannya yang ketakutan dan bersiap - siap untuk lari.
“Kalau kalian lari akan aku buat kalian menyesal karena telah mengangguku!” Leathina mengeraskan suaranya memperingati dua anak di depannya yang sudah siap untuk melarikan diri.
“Kembalikan saja kantung uangnya Toni.”
“Baiklah kalau kita mengembalikannya kamu harus siap menerima hukumannya nanti, mess.”
“Iya aku siap dari pada kita bedua di pukul orang – orang lagi.”
Kedua anak tesebut telah sepakat mengembalikan kantung uang milik Leathina. Mereka berdua membalikan tubuhnya ke arah Leathina yang sekarang telah berdiri tepat di belakang saat mereka berdua melihat Leathina kedua anak tersebut segera jatuh terduduk karena kaget kemudian segera meminta maaf atas kesalahannya dan menyodorkan kembali kantung uang milik Leathina.
“Maafkan kami nona! Maafkan kami.”
“Ini salahku aku yang mengajaknya mencuri jadi hukum aku saja.”
Anak bernama Toni memohon pada Leathina karena tidak ingin temannya ikut di pukuli sementara anak yang satunya juga memohon agar temannya tidak dipukuli.
Apa wajahku sangat menyeramkan di mata kedua anak ini sampai berlutut dan memohon – mohon seperti ini. Biarkan sajalah ada untungnya juga jika mereka takut padaku.
“Mana kantung uang yang kamu ambil.”
“Ini Nona.”
“Berdiri dan perkenalkan dirimu padaku.”
“Nama saya Toni dan ini adikku Messy kami berdua tidak punya nama belakang.”
Kedua anak yang mencuri kantung uang milik Leathina berdiri sambil menyerahkan kembali kantung uang dan memperkenalkan dirinya seperti yang diperintahkan oleh Leathina.
“Berapa umur kalian?”
Aku kira mereka berdua akan lebih tinggi jika ku suruh berdiri tapi ternyata mereka ini memang kecil anak bernama Toni tingginya hanya sepinggangku saja sementara anak yang satunya yang bernama Messy bahkan lebih pendek lagi.
Leathina berjongkok karena ingin menyejajarkan matanya dengan mata kedua anak itu ketika berbicara setelah itu baru Leathina mengambil kembali kantung uangnya yang di sodorkan kembali padanya.
“Aku berumur sepuluh tahun dan adikku berumur tujuh tahun.”
Leathina kemudian mengamati kedua anak yang sedang berdiri di depannya itu dengan seksama dan menyadari bahwa anak yang bernama Messy adalah perempuan tapi berpakaian seperti laki – laki.
“Kamu perempuan kenapa memakai pakaian laki – laki?”
“Jangan macam – macam dengan adikku!”
Saat Leathina menanyai Messy, Toni terlihat marah dan segera menarik Messy ke belakangnya sementara Toni melebarkan tangannya berusaha membuat tameng dengan tubuhnya untuk melindungi Messy yang sekarang telah bersembunyi di belakang Toni.
“Hey aku hanya bertanya kenapa kalian jadi marah harusnya yang marahkan aku karena kalian telah mencuri kantung uangku.”
Mendengar ucapan Leathina nyali kedua anak tersebut kembali menciut dan menunduk karena malu.
“Maafkan kami, adikku sengaja berpakaian laki – laki agar tidak di bawa pergi oleh orang – orang kaya untuk di pekerjakan sebagai pelayan laki – laki jahat. Kebanyakan anak perempuan di sini telah di bawa pergi.”
“Oh jadi seperti itu. Ambil ini dan belilah makanan yang kalian sukai.” Leathina menyerahkan kembali kantung uang miliknya pada Toni dan Messy.
“Ta.. ta.. tapi ini terlalu banyak Nona!” Suara Toni bergetar saat Leathina menyodorkan kantung uang yang isinya sekitar 50 koin uang emas di dalamnya.
“Ambil saja. Jaga dirimu dan adikmu baik – baik kalau begitu sekarang kita harus berpisah.”
Setelah memberikan kantung uang miliknya Leathina kemudian kembali berjalan meninggalkan Toni dan Messy yang saling memandang satu sama lain karena terkejut dengan uang pemberian Leathina untuk mereka.
......***......