I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 157



“Eh, ada apa Leathina?” tanya Aelfric yang sangat kebingungan saat Isabella ternyata tidak mengikutinya.


“Kembalilah terlebih dahulu aelfric, aku pasti akan menyusul mu. Aku harus tinggal disini lebih lama lagi.” Ucap Isabella kemudian segera melepaskan secara paksa genggaman tangan aelfric yang sedari tadi menggenggam tangannya kemudian mendorong aelfric dengan keras ke belakang hingga membuat aelfric mundur beberapa langkah.


“Tunggu! Tunggu dulu Leathina, jika begitu aku juga akan tinggal dan menemanimu.” Teriak aelfric menolak kembali sendirian. Aelfric segera kembali dan ingin masuk melewati pintu tapi ditolak oleh Leathina.


Leathina melihat tubuh aelfric yang telah melewati pintu tersebut perlahan lahan memudar, dan agar aelfric tidak lagi bisa kembali la segera menutup pintu menghalangi aelfric yang bersikeras untuk tinggal bersamanya.


“Katakan pada mereka yang sekarang sedang menungguku bahwa aku pasti akan kembali,” seru Leathina memberitahu aelfric sebelum pintu benar-benar ia tutup.


“Leathina!” jerit Aelfric kemudian membuka kedua matanya.


Aelfric kini telah terbangun kembali ia kemudian menatap langit-langit ruangan dan mengedipkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya, setelah itu mulai meraba-raba wajahnya kemudian tubuhnya.


“Aku benar-benar terbangun.” Ucapnya setelah memastikan bahwa ia tidak lagi berada di demensi tak berujung yang seluruhnya berwarna putih dan menyilaukan mata.


“Aelfric!” teriak Nicholas mengagetkan semua orang ada di dalam ruangan.


“Dia sudah bagun!” teriaknya lagi memberitahu pada yang lainnya walau sebenarnya tidak diberitahu pun mereka pasti akan tahu karena semua orang masih berada di ruangan Leathina untuk menunggu mereka berdua terbangun.


Dengan sangat berharap duke leonard segera kembali ke sisi Leathina kemudian menggenggamnya tangan Leathina erat karena tidak sabar melihat Leathina untuk segera membuka matanya.


“Leathina!” seru Aelfric ketika mengingat bahwa Leathina tadi tidak ikut bersamanya.


“Tidak! Tidak! Leathina bangunlah, kenapa kau memilih tetap tinggal disana dari pada ikut denganku!” Jeri Aelfric setelah terduduk kemudian segera menggoyang-goyangkan tubuh Leathina yang juga terbaring di sampingnya dan hanya dibatasi oleh beberapa bantal.


“Bangun kataku!” teriaknya lagi membuat semua orang merasa heran karena tingkah Aelfric.


“Apa yang kau lakukan padanya?” Tanya Winter yang menghentikan Aelfric tapi Aelfric menepis tangan Winter.


“Tidak-tidak, lepaskan aku. Aku masih bisa melakukannya sekali lagi, kali ini aku akan benar-benar membawanya kembali.”


Edward tidak tahan melihat Aelfric yang mengguncang tubuh Leathina ia pun segera menghampiri Aelfric dan mengunci pergerakannya kemudian menariknya menjauhi tubuh Leathina. Edward takut jika tubuh Leathina yang memang sudah sangat lemah akan menjadi syok hingga menambah luka baru pada tubuh Leathina.


“Aelfric tenangkan lah dirimu.” Edward pun ikut menangkan Aelfric yang sepertinya sangat kecewa karena tidak bisa membawa Leathina kembali bersamanya.


“Leathina! Dia ..., dia ..., lebih memilih tetap tinggal di dimensi tak berpenghuni itu. Biarkan aku masuk sekali lagi, aku moho ....”


“PLAK!”


Sebuah tamparan melayan di pipi kanan Aelfric hingga membuatnya otomatis terdiam karena menahan rasa sakit akibat tamparan yang diberikan Winter padanya.


“Tenangkan dirimu Aelfric!” bentak Winter untuk memperingati Aelfric, “Tidak akan ada yang berjalan baik jika kau mengamuk seperti itu, yang ada kau hanya akan melukai tubuh Leathina.”


“Ma- maafkan aku.” Ucap Aelfric setelah terdiam dan berfikir.


Aelfric pun kini telah tenang dan tidak lagi seagresif sebelumnya, Edward yang menyadari bahwa Aelfric tidak akan merbuat ulah lagi dengan mengamuk seperti tadi lalu melepaskan cengkramannya dan membiarkan Aelfric bebas, sedangkan aelfric yang sudah tidak memiliki tenaga lagi perlahan-lahan terduduk di lantai.


“A-apa maksudmu?” tanya duke leonard ketika aelfric telah berhasil menenangkan dirinya.


“Duke .., dia ...,” ucap Aelfric kemudian menunduk lesu dan tidak berani menatap mata duke leonard.


“Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya duke leonard lagi pada aelfric meminta penjelasan, Yang lainnya pun sama. Mereka tidak kalah khwatirnya dengan keadaan Leathina sekarang.


“Kenapa hanya kau yang terbangun dan kenapa putriku masih menutup matanya?” tanya duke leonard lagi tajam menatap ke arah aelfric, ia diliputi kemarahan hingga membuat urat-urat nadinya menonjol karena menahan emosinya.


“Leathina, dia, belum ingin kembali. Saat kami akan kembali dia mendorongku keluar terlebih dahulu dan mengatakan akan tinggal disana lebih lama lagi, maafkan aku duke. Aku seharunya memaksanya untuk kembali bersamaku.”


“A- apa katamu?” ucap duke leonard dengan suara yang bergetar.


Kemarahan duke leonard yang tadi meluap-luap kini menguap entah kemana perginya, urat-urat nadinya akibat menahan emosi kini tidak terlihat lagi dan digantikan dengan wajah lesu dan prihatin.


Kedua tangan duke leonard gemetar menggenggam tangan Leathina yang masih tidak sadarkan diri, duke leonard kini terperosok masuk ke dalam penyesalan.


“Apa karena selama ini aku tidak menunjukkan kasih sayang ku padanya hingga membuta putriku satu-satunya lebih memilih berdiam diri disana daripada kembali dan hidup bersamaku.” Batin duke leonard dengan perasaan hancur memikirkan bagaimana selama ini ia memperlakukan putri satu-satunya itu.


“Tidak, kau bilang kau bisa membawanya kembali, kau bilang bisa melakukannya sekali lagi. Cepat lakukan lagi dan paksa Leathina kembali.” Teriak Nicholas kemudian menarik kerah baju Aelfric dan memaksanya untuk kembali masuk ke dalam Leathina seperti yang ia lakukan sebelumnya.


“Nicholas! Nicholas tenang lah!” Zeyden yang memiliki jarak terdekat dari Nicholas segera menghentikan tindakan Nicholas yang sembrono karena amarahnya.


“Dia bilang dia bisa melakukannya, jadi biarkan dia melakukannya.” Nicholas memberontak dan dengan terpaksa zeyden harus menggunakan kekuatannya lagi untuk membekuk Nicholas agar tidak menyerang Aelfric.


“Apa kau tidak lihat Aelfric telah kehilangan banyak energinya sekarang, tidak mungkin ia melakukan hal serupa. Untuk masuk kedalam seseorang harus mempunyai energi yang banyak.” Ucap Zeyden memberitahukan pada Nicholas agar ia bisa paham.


Aelfric hanya bisa menghela nafas dengan berat, yang dikatakan Zeyden semuanya benar. Jika ia tetap memaksa maka ia mungkin akan kehilangan dirinya untuk selamanya dan tidak akan bisa membantu Leathina untuk kembali.


“Ibu?” Nora yang tidak tahu harus melakukan sesuatu untuk membantu keadaan yang sekarang tengah kacau diantara mereka hanya bisa menggenggam tangan ibunya erat karena merasa sangat ketakutan.


Duchess Nice menepuk-nepuk lembut punggungung tangan Nora untuk menenangkan putra bungsunya itu, kali ini ia tidak mengatakan apapun untuk menenangkannya karena melihat situasi semakin memburuk, Duchess nice tidak mau memberikan harapan kosong pada nora menurutnya lebih baik nora mengetahui kenyataan daripada harus terus mengharapkan sesuatu yang tidak akan pasti untuk terjadi.


“Aelfric telah berusaha sangat keras untuk membantu Leathina, Jadi untuk sekarang biarkan Aelfric beristirahat terlebih dahulu.” Ucap Winter untuk menenangkan situasi yang semakin kacau.


“Huh? Bekerja dengan baik? aku yakin dia tidak melakukan apa-apa disana hingga tidak bisa membawa Leathina kembali.” Celetuk Nicholas yang masih tidak terima karena Aelfric gagal membawa Leathina kembali.


“Br*engsek!” Teriak Aelfric tidak terima dan tiba-tiba bangkit kemudian meninjuh wajah Nicholas dengan keras.


Nicholas yang tidak sempat menghindar karena sihir Zeyden masih mengekang tubuhnya pun menerima begitu saja pukulan dari Aelfric, hingga di sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar.


“Sialan!” Nicholas mendengus kesal tidak terima dipukuli begitu saja oleh Aelfric.


Nicholas yang tidak kehabisan akal kemudian menggunakan kakinya yang masih bisa bergerak, ia menendang Zeyden sampai terjatuh hingga membuat sihir yang zeyden gunakan untuk mengekangnya melemah dan Nicholas pun segera menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan serangan balik terhadap Aelfric yang telah meninju wajahnya.


Perkelahian diantara Aelfric dan Nicholas tidak bisa lagi dihentikan, mereka berdua saling memukul dan menerima pukulan dari lawan masing-masing.


Nicholas tidak menjawab dan kemudian kembali melayangkan pukulan ke wajah Aelfric.


“Tidak ada yang bisa kau lakukan selain menyiksanya, bukan?” ucap Aelfric memancing emosi Nicholas, dan berhasil membuat Nicholas sedikit terguncang kemudian segera membalas pukulan Nicholas yang tadi meninju wajahnya.


“Memangnya apa yang kau ketahuai, dasar elf tidak beguna.” Ucap Nicholas tidak terima.


“Aku mengetahui segalanya, aku melihatnya. Kau bahkan selalu mencoba untuk menjauhinya walau pun kau tahu bahwa Leathina tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi kenapa baru sekarang kau bersikan seperti ini, seolah-olah kau benar-benar menyayanginya.”


“Bere*ngsek!” Nicholas yang emosi menarik kerah baju Aelfric, emosinya semakin tersulut saat melihat Aelfric tersenyum sinis dan menatapnya dengan tatapan tidak berguna.


Edward yang melihat tingkah laku keduanya menjadi geram. Tidak tahan lagi dengan pertengkaran konyol yang dilakukan oleh Nicholas dan Aelfric.


“Apa yang kalian lakukan di situasi seperi ini!” ucap Edward memperingati keduanya dan langsung menghentikan pertengkaran diantara Aelfric dan Nicholas dengan menggenggam masing-masing dari pergelangan tangan keduanya.


Nicholas dan Aelfric yang masih diliputi amarah kemudian kembali memberontak ingin melepaskan diri dari cengkraman Edward.


“Krrek”


Edwrad yang tidak kalah geramnya mengencangkan cengkramannya hingga terdengar bunyi retakan dari kedua pergelangan tangan Nicholas dan Aelfric yang dicengkramnya.


“Arggh!”


“Argggh!”


Jerit Nicholas dan Aelfric kemudian jatuh tersungkur menahan sakit saat Edward melepaskan cengkramannya.


“Kau menghancurkan pergelangan tangannku!” jerit Aelfric yang berusaha menahan rasa sakit di pergelangan tangannya dimana tadi Edward mencengkramnya dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi retakan, hal yang sama pun dilakukan oleh Nicholas ia kini meringkuk menahan sakit yang sama dirasakan oleh Aelfric.


Melihat Nicholas dan Aelfric yang kini menahan sakit membuat Winter segera memanggil kembali Andy yang tadi keluar karena memilih untuk menunggu diluar.


Setelah beberapa saat Winter pun datang membawa Andy bersamanya dan langsung meminta Andy untuk menyembuhkan Nicholas dan Aelfric.


Andy pun dengan sigap langsung memeriksa tangan mereka berdua dan menemukan bahwa tulang di pergelangan tangan kanan Aelfric dan pergelangan tangan kiri Nicholas kini telah retak.


“Apa yang terjadi sampai kalian berdua bisa mengalami kerusakan tulang di pergelangan kalian seperi ini?” tanya Andy yang kebingungan dengan apa yang membuat tangan mereka berdua bisa rusak.


Nicholas dan Aelfric tidak menjawab, Aelfric malah membuang muka ke arah lain karena tidak ingin melihat wajah Nicholas. Nicholas pun melakukan hal yang sama ia mendengus kesal saat melihat Aelfric kemudian segera membuang wajahnya ke arah lain tidak ingin melihat wajah Aelfric.


Sementara Andy hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah keduanya yang sama-sama keras kepala, dan segera kembali fokus pada pekerjaanya untuk menyembuhkan pergelangan tangan Aelfric dan Nicholas.


“Nah sudah selesai, sebaiknya kalian berdua harus hati-hati jangan bermain secara berlebihan hingga melukai diri kalian sendiri.” Ucap Andy dan menasehati keduanya walau pun sebenarnya tidak tahu apa yang telah terjadi dianatara mereka berdua hingga mengalami luka seperti itu. Setelah Andy menyelesaikan pekerjaanya ia pun kembali keluar.


“Kau!” ucap Nicholas dan Aelfric hampir bersamaan saat saling berhadapan. Tentu saja keduanya masih menyimpan dendam pribadi masing-masing.


Mereka berdua kini terlihat akan memulai pertengkaran yang baru lagi setelah tangan keduanya disembuhkan oleh Andy.


“Jika kalian tidak ingin leher kalian retak maka jadi lah anak baik dan duduk dengan tenang,” Ucap Edward memperingati mereka berdua.


Aelfric dan Nicholas pun segera memalingkan wajah masing-masing setelah mendengar ucapan Edward kemudian segera duduk di kursi kosong.


Mata Aelfric kemudian tertuju pada Leathina yang masih tidak sadarkan diri, dan dilihatnya juga duke leonard yang terus mengenggami tangan Leathina dengan tangan gemetar. Tampak mata duke leonard memerah karena menahan air matanya agar tidak keluar. Duke leonard terus memandangi wajah Leathina sesekali ia bahkan mengusap wajah putrinya dan menyingkirkan helaian-helaian rambut Leathina yang menutupi wajah Leathina.


Melihat hal itu membuat Aelfric tidak tega melihat Leathina yang masih tertidur, ia pun prihatin melihat keadaan duke leonard yang masih sangat berharap dan setia menunggu Leathina untuk membuka matanya kembali.


“Leathina mengatakan sesuatu padaku saat ia mendorongku kembali.” Ucap Aelfric tiba-tiba memecah kesunyian dan tentu saja dapat membuat semuanya fokus mendengarkannya karena membahas tentang Leathina.


“Dia memintaku menyampaikan ini “Katakan pada orang-orang yang menungguku kembali agar tidak terlalu mengkawatirkan aku, aku pasti akan pulang.” Itu yang Leathina katakan padaku saat berpisah dengan ku." Ucap Aelfric menyampaikan apa yang dikatan Leathina padanya saat menutup pintu.


“Jika itu yang Leathina katakan maka dia pasti akan menepati janjinya dan kembali bersama kita, kita hanya perlu menunggu nya saja. Jadi, duke jangan terlalu bersedih untuk Leathina.” Ucap Edward yang sedang mencoba untuk menghibur duke leonard.


Duke leonard hanya terdiam, dan masih berada diposisi yang sama. Ia masih mengengam tangan Leathina dan menunggunya kembali.


“Kau berhasil bertemu dengan Leathina?” tanya Winter penasaran dan ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai apa yang sebenarnya yang terjadi pada Leathina.


“Iya aku berhasil menemukannya, aku mendapati Leathina meringkuk di kegelapan.” Aelfric kembali mengingat pertama kali ia melihat Leathina tadi.


“Apa yang Leathina katakan saat kalian berdua bertemu?”


“Dia bilang dia takut, takut jika tidak ada orang yang menginginkannya kembali.”


“Jadi karena itu Leathina tidak kembali bersamamu?”


“Tidak, dia sangat ingin kembali sampai takut tidak ada orang yang menjemputnya. Itu yang dikatakan Leathina padaku. Kami berdua sebenarnya telah dalam perjalanan mencari jalan kembali tapi saat jalan kembali telah ditemukan Leathina tiba-tiba berubah pikiran.”


“Apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Edward penasaran dan kini gantian Edward yang menanyai Aelfric.


“Aku juga tidak tahu pasti apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran, tapi menurutku ia berubah pikiran karena melihat gambaran-gambaran ingatan masa lalunya,” jawab Aelfric memberitahukan Edward.


“Apa yang dia lihat?” tanya Edward lagi pada Aelfric.


“Entahlah, mungkin karena mengingat masa lalunya yang menuh dengan siksaan. Aku bahkan melihat potongan ingatan Leathina saa ia berumur delapan tahun dan seorang pelayan yang dengan sengaja menyiramkan teh panas di punggung tangannya. Setelah kejadian itu Leathina bahkan tidak diberi obat dan malah lari ketaman untuk merendam tangannya yang terkena air panas di dalam kolam dan mencoba menahan sakit sendirian.” Celetuk Aelfric mengingat kembali ingatan Leathina yang sebelumnya ia lihat dan ia pun kembali merasa sangat kesal karena kejadian itu.


“Siapa sih, yang membiarkan anak kecil dengan luka serius seperti itu tanpa pengobatan sendirian seperti itu. Leathina mungkin akan terbangun jika ada yang meminta maaf padanya karena telah membiarkannya tubuh seperti itu.” Celetuk Aelfric lagi yang sengaja memperdengarkan hal itu pada Nicholas yang selama ini selau bersikap kasar pada Leathina.


Aelfric yang menyadari situasi di dalam ruagan kini menjadi suram karena ucapannya cepat-cepat menutup mulutnya dan tidak lagi berbicara.


Tampaknya Aelfric yang salah paham dengan Leathina karena tidak ingin kembali bersama nya membuat yang lainnya pun ikut salah paham, mengira bahwa Leathina mungkin tidak akan kembali lagi karena ucap Aelfric barusan.


...***...