I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 110



Saat Winter membawa Leathina pergi dari mansion Leathina sesekali melihat ke arah mansion ingin memastikan apakah semua teman-temannya akan baik-baik saja setelah kepergiannya atau sebaliknya. Terlihat jelas di wajah Leathina bahwa sekarang Leathina sedang gusar.


“Leathina?” Winter juga sesekali memperhatikan Leathina yang terlihat gusar.


“Walaupun aku berhasil menemukannya dan membawanya kembali dengan selamat, Leathina sepertinya tidak merasa lega ataupun merasa aman bersamaku. Sebaliknya Leathina terlihat ketakutan.”


Winter terus memperhatikan gerak – gerik Leathina yang terlihat gusar dan ketakutan sampai ia menyadari beberapa hal bahwa Leathina memiliki ketakutannya sendiri, bukan karena diculik ataupun diancam melainkan karena Leathina takut untuk kembali ke keluarganya.


“Disana bukan tempatmu, Leathina.” Ucap Winter tiba-tiba dan membuat Leathina terkejut.


Mendengar perkataan Winter membuat Leathina tahu bahwa Winter sedari tadi ternyata terus memperhatikannya, cepat-cepat Leathina memalingkan wajahnya dan berhenti melihat ke belakang.


“Jadi, kau tahu?” Ucap Leathina kemudian menanggapi perkataan Winter, matanya kosong menatap ke arah depan tidak berani melihat bagaimana ekspresi Winter sekarang.


“Sejak kapan kamu mengetahuinya bahwa aku bersama mereka Winter?” Tanya Leathina kemudian pada Winter.


“Semenjak aku melihatmu menunggangi kuda bersama pria yang mengancam ku tadi.” Winter kembali fokus menunggangi kudanya untuk kembali ke kota perbatasan.


“Kau akan melaporkan aku?”


“Apa yang membuatmu merasa nyaman bersama mereka Leathina? Kenapa kau merasa aman dengan orang asing seperti mereka? Kau tahu berbulan-bulan aku mencarimu, dalam waktu itu juga aku tersiksa karena ketakutan jika nantinya aku hanya menemukan mayat mu saja atau aku tidak menemukanmu sama sekali.”


Leathina membulatkan matanya karena terkejut mendengar ucapan Winter yang sulit ia pahami.


“Akan lebih baik jika aku tidak pernah kau temukan Winter dan jangan menyiksa dirimu hanya karena orang sepertiku.” Leathina menjawab perkataan Winter datar dan masih tidak berani melihat bagaimana ekspresi Winter sekarang.


“Aku tahu kau takut kembali ke keluargamu Leathina.”


“Kau ternyata juga tahu hal itu Winter, jadi kenapa kau masih terus mencari ku akan lebih mudah bagimu jika kau melaporkan pada Duke bahwa aku telah tiada dan menghentikan pencarian mu.”


“Leathina, bagaimana bisa kau membicarakan kematianmu dengan ekspresi datar seperti itu dan aku terus mencarimu karena aku ingin menemukanmu bukan karena perintah dari paman Leonard.”


“Aku tidak tahu apa maksudmu Winter, tapi jika kau ternyata selama ini kau tahu bagaimana penderitaanku dalam keluarga itu kenapa kau tidak menutup matamu saja dan berpura-pura untuk tidak melihatku sekarang dan membiarkan aku tinggal disini seperti yang selama ini kau lakukan, bukan kah kau terus mengabaikan aku.”


“Aku tidak bisa, aku tidak tahan melihatmu tinggal bersama orang-orang seperti mereka Leathina.”


“Memangnya orang seperti mereka terlihat seperti apa di matamu Winter? Di Mataku orang-orang seperti mereka adalah orang-orang baik setidaknya mereka membelaku walaupun mereka tidak mengenalku.”


Mendengar ucapan Leathina membuat hati Winter merasa pedih karena memang selama ini dia terus berpura-pura tidak mengetahui apa-apa dan tidak ingin mencampuri urusan Leathina, Winter kembali mengigat kejadian beberapa waktu yang lalu di mana malam itu saat Leathina di tuduh dia hanya berdiri dan melihat tidak melakukan apa-apa selain menenangkan kemarahan Duke Leonard.


“Maafkan aku Leathina.” Gumam Winter pelan tapi masih bisa di dengarkan oleh Leathina.


Leathina mendengar gumaman Winter yang meminta maaf padanya tapi Leathina memilih untuk berpura-pura tidak mendengar ungkapan maaf Winter karena ia tidak tahu untuk apa sebenarnya Winter meminta maaf padanya.


“Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya dan tanpa mereka sadari mereka berdua telah sampai di kota perbatasan dan di sambut oleh para prajurit yang tadi datang mengepung mansion tua.


“Tuan Winter!” Seru para prajurit menyambut pimpinannya ketika melihatnya datang.


“Anda berhasil!


“Tuan Winter telah kembali membawa Nona Leathina.”


Mereka semua dengan semangat menyambut kedatangan Winter dan Leathina kerena berhasil kembali dengan selamat.


Salah seorang prajurit segera menyambut Leathina dan mengulurkan tangannya untuk membantunya turun dari atas kuda tapi Winter tidak membiarkan bawahannya itu memegang tangan Leathina dan memilih untuk menggendong Leathina turun dari kuda.


“Winter aku bisa turun sendiri.” Ucap Leathina karena terkejut melihat perilaku Winter yang seperti itu.


“Luka yang ada di lehermu akan terbuka jika kau melompat turun, Leathina.”


“Ada apa denganmu Winter? Sebelumnya kau tidak seperti ini.” Leathina merasa aneh dengan perhatian yang diberikan Winter untuknya.


“Aku akan terus seperti ini kedepannya Leathina. Jadi biasakan dirimu.”


“Sebelumnya Winter tidak seperti ini, dia akan selalu bersikap sopan padaku seperti memanggilku dengan Nona tapi kenapa sekarang dia berubah menjadi sedikit agresif dan protektif, apa aku salah paham?”


“Leathina, kau melamun. Apa luka di lehermu terasa sakit?”


“Oh, astaga apa aku melamun? Sepertinya kau salah aku tidak melamun.” Leathina menjadi sedikit canggung dengan perilaku Winter yang sekarang.


“Bawakan seorang dokter atau orang yang bisa menggunakan sihir penyembuh, Leathina terluka ia harus segera dirawat dan bawakan pakaian wanita untuk Leathina.” Winter memberi perintah pada bawahannya kemudian seorang prajurit segera pergi untuk mencari orang yang bisa mengobati Leathina.


“Tuan Winter, kapan kita kembali?”  Tanya Lard pada Winter setelah membawa Leathina ke dalam kamar penginapan yang telah mereka tempati selama berada di kota perbatasan.


“Kita akan kembali setelah Leathina diobati, beritahu semua anggota untuk bersiap dan segera kemasi barang-barang kalian, persiapkan juga kereta untuk Leathina.”


‘Baik Tuan.” Lard kemudian segera pergi melaksanakan apa yang diperintahkan Winter.


"Aku juga harus mengirimkan kabar pada Paman Leonard bahwa aku berhasil menemukan Leathina dan akan segera membawanya kembali ke kerajaan, jika mereka tahu mereka akan mempersiapkan penyambutan kedatangan Leathina dengan baik agar Leathina merasa aman kembali ke keluarganya."


Setelah mengirimkan sebuah surat dengan pesan singkat menggunakan pengantar surat merpati untuk Duke Leonard Yarnell, Winter segera kembali ke penginapan untuk memeriksa keadaan Leathina.


“Bagaimana keadaannya Tuan?” Tanya Winter pada dokter yang telah selesai mengobati luka Leathina.


Saat samapi di dalam kamar penginapan yang digunakan Leathina dilihatnya seorang dokter telah selesai mengobati luka di leher Leathina dan melilitnya dengan perban.


“Istri anda baik-baik saja tuan, untungnya lukanya tidak terlalu dalam hingga tidak mengenai urat nadinya.” Sang dokter berbicara sambil merapikan barang-barangnya dan akan segera kembali.


“Eh dokter anda salah paham kami bukan pasangan suami istr...”


“Syukurlah kalau istriku baik-baik saja, Dokter terimakasih karena telah mengobatinya.”


Mendengar dokter yang mengobatinya salah paham dengan hubungan mereka membuat Leathina merasa tidak nyaman dengan sebutan istri atau suami, Leathina akhirnya mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman si dokter tapi belum sempat ia menjelaskan Winter sudah memotong perkataanya dan segera mengantar dokter yang mengobatinya tadi keluar.


Tidak lama setelah Winter keluar untuk mengantar kepulangan si dokter, Winter kemudian kembali lagi ke kamar penginapan Leathina untuk memeriksa keadaan Leathina sekarang.


“Bagaimana keadaanmu Leathina apa masih ada yang terluka atau sakit?” tanya Winter pada Leathina sambil duduk di samping Leathina dan memperhatikan Leher Leathina yang telah di balut.


“Aku baik-baik saja Winter, tapi kenapa kamu memotong perkataan ku yang mencoba meluruskan kesalahpahaman dokter tadi?” Tanya Leathina pada Winter dengan ekspresi kesal.


“Kenapa hanya dalam beberapa bulan sifatmu berubah Winter?” Leathina masih tidak paham dengan perlakuan-perlakuan serta perkataan Winter.


“Apa maksudmu Leathina? Ah, mungkin karena aku sudah kehilangan akal sehat karena terus mencarimu.” Winter kembali menjawab pertanyaan Leathina dengan jawaban aneh yang tidak dapat dipahami Leathina.


“Kita akan segera kembali ke kerajaan, apa kamu akan baik-baik saja melakukan perjalanan dengan keadaan terluka seperti ini Leathina?”


“Aku akan baik-baik saja.”


“Baiklah, semua orang telah bersiap kita akan segera kembali sekarang.”


Winter menuntun Leathina keluar dari penginapan yang mereka tempati kemudian berhenti di depan sebuah kereta kuda yang diparkirkan tepat di depan pintu penginapan dan menyambut mereka berdua.


“Leathina naiklah.” Winter mempersilahkan Leathina naik ke atas kereta kuda yang ada di depannya itu.


“Dari mana kau mengambil kereta kuda ini Winter? Kau seharusnya tidak perlu mempersulit diri dengan mencarikan ku sebuah kereta kuda seperti ini, kau cukup menyediakan kuda untukku aku bisa kembali dengan menunggangi kuda seperti yang lainnya.”


“Apa maksudmu Leathina? Tentu saja kau harus menggunakan kereta kuda, kau terluka dan lukamu akan terbuka jika seharian menunggangi kuda sampai ke kerajaan.”


Mau tidak mau akhirnya Leathina terpaksa mengikuti perkataan Winter dan masuk ke dalam kereta kuda yang telah mereka sediakan untuknya. Sementara Winter sendiri kembali ke kerajaan dengan menunggangi kuda dan selalu berjalan di sekita kereta kuda yang digunakan Leathina untuk berjaga. 


Setelah Leathina masuk ke dalam kereta kuda mereka semua akhirnya melakukan perjalanan kembali ke kerajaan.


...


Seorang penjaga yang bertugas menerima dan mengirim pesan mendapati seekor burung merpati yang mengirimkan pesan dari wilayah perbatasan.


Penjaga mengambil gulungan kertas berukuran kecil yang diikatkan di kaki burung pengirim pesan dan gulungan tersebut diikat dengan pita berwarna merah tanda bahwa pesan yang diantarkan si burung merupakan berita penting yang harus segera di baca Duke Leonard Yarnell.


Cepat-cepat si penjaga meminta temannya untuk menggantikannya menjaga pos kemudian segera pergi ke ruangan kerja milik Duke Leonard untuk menyampaikan gulungan pesan yang baru saja ia terima.


“Apa Duke ada di dalam?” Tanya si penjaga pos pada penjaga yang sedang bertugas di depan pintu ruangan Duke.


“Duke ada di dalam, tapi sedang berbicara dengan seorang tamu.”


“Tolong beritahukan bahwa ada kabar penting yang baru saja tiba dari wilayah perbatasan.”


“Tapi..” Penjaga yang bertugas menjaga pintu ragu-ragu karena takut menganggu pertemuan Duke dengan tamunya tapi saat melihat gulungan kertas yang diikat dengan pita merah ia segera masuk untuk melapor pada Duke.


“Permisi Tuan Duke.”


“Apa kau tidak lihat bahwa aku sedang bersama tamuku.”


“Maafkan aku tuan Duke.” Si penjaga pintu meminta maaf kemudian berjalan mendekati Duke Leonard dan memberitahu Duke dengan berbisik agar tidak didengar oleh tamunya.


“Tuan Duke, ada surat dengan pita merah yang dikirimkan Tuan Winter dari wilayah perbatasan.” Bisik si penjaga pada Duke Leonard.


Duke Leonard kaget ia kemudian mulai mengira-ngira berita apa yang Winter kirimkan dari perbatasan dengan ikatan pita merah.


“Apa Winter tidak menemukan Leathina disana, atau jagan-jagan Winter hanya menemukan mayat Leathina. Astaga apa yang harus aku lakukan jika yang aku takutkan benar-benar terjadi.”


Duke Leonard segera menepis pikiran-pikiran yang menakutkan dari kepalanya setelah itu mencoba berfikir secara positif kembali.


“Maafkan aku tuan sepertinya pertemuan kita dicukupkan sampai di sini saja.” Duke Leonard dengan sopan mengakhiri pertemuannya dengan tamunya.


“Bawa kesini suratnya!” Perintah Duke Leonard setelah tamunya meninggalkan ruangannya.


Seorang penjaga kemudian masuk dan memberikan gulungan berisi surat yang dikirimkan Winter dari kota perbatasan.


Setelah menerima surat yang dikirimkan Winter dari penjaga, Duke Leonard memerintahkan penjaga tadi untuk segera kembali hingga kini tinggal Duke Leonard yang berada di dalam ruangannya sendiri, tangannya yang gemetaran pelan-pelan membuka pita yang mengikatnya dan mulai membacanya.


.........


Salam Paman Leonard, setelah berbulan-bulan mencari Nona Leathina akhirnya aku berhasil menemukannya di kota perbatasan. Selama ini Nona Leathina di sandera oleh para penculik yang menginginkan tebusan uang, mereka dengan rapi berhasil menyembunyikan Nona Leathina hingga kita kesulitan mencarinya.


Aku berhasil menemukan Nona Leathina dan jika sekarang Paman Leonard membaca surat ini mungkin kami sudah dalam perjalanan pulang ke kerajaan. Tapi sayangnya Nona Leathina terluka, tolong sediakan seorang dokter dari kerajaan untuknya dan jika kami datang sambut Nona Leathina dengan baik karena sepertinya Nona Leathina takut kembali karena kejadian yang menimpanya pada malam penutupan festival ulang tahun raja.


...Winter la Pedro...


.........


Setelah selesai membaca surat yang dikirimkan oleh Winter, Duke Leonard seakan kehilangan seluruh kekuatannya dan jatuh terduduk di kursinya. Ingatannya kembali pada malam penutupan festival perayaan ulang tahun Raja, dimana ia tidak mempercayai dan tidak membiarkan Leathina memberikan penjelasan saat itu ia bahkan menampar Leathina dengan tangannya sendiri.


“Oh, Astaga sekarang bagaimana aku bisa menyambut kepulangan Leathina. Aku bahkan tidak sanggup memikirkan bagaimana aku muncul di hadapannya nanti, apa yang selama ini sebenarnya aku lakukan.”


“Brak!”


Suara pintu ruangan kerja Duke Leonard yang di buka secara paksa mengangetkan Duke Leonard yang masih termenung di dalam ruangannya sendiri.


“AYAH!”


Teriak Nora setelah membuka pintu secara paksa kemudian di susul oleh Nicholas dibelakangnya.


“Nora? Nicholas?”


“Aku mendengar kabar dari penjaga bahwa Winter mengirimkan surat dengan ikatan pita merah di gulungan suratnya, apa semuanya baik-baik saja ayah?” Nicholas segera memasuki ruangan kerja ayahnya dan berjalan mendekati ayahnya di meja kerjanya berharap semuanya baik-baik saja.


“Ini bacalah, Nicholas hubungi kerajaan dan minta mereka segera mengirimkan seorang dokter ke kediaman Yarnell.”


“Ayah apa yang dikatakan Winter dalam surat ini benar?” Nicholas menerima sebuah kertas dari Duke Leonard dan mulai membacanya.


Setelah membaca seluruh isi surat mata Nicholas membulat karena tidak percaya dengan apa yang dibacanya hal yang sama juga berlaku dengan Nora yang membaca surat itu setelah Nicholas.


“Ayah, kalau begitu aku permisi. Aku akan segera menghubungi kerajaan untuk mengirimkan dokter ke kediaman kita.” Nicholas meminta izin pamit pada ayahnya, kemudian dengan terburu-buru meninggalkan ruangan kerja Duke Leonard.


“Aku juga ayah akan segera pergi, aku akan memberitahukan ibu untuk menyiapkan segala keperluan dan menyambut kakak Leathina nanti.” Nora bergegas keluar dan segera menuju dimana ibunya Duchess Nice berada untuk memberitahukan berita penting yang ia dapatkan.


...***...