
“Huaapp”
Leathina menguap karena menahan kantuknya sementara matanya masih tertutup. Kesadarannya kemudian perlahan-lahan kembali dan pelan-pelan membuka matanya.
“Ukh!” Leathina kembali menutup matanya saat wajahnya tepat terkena sinar matahari pagi dan menyilaukan. Matanya yang baru saja terbuka masih sulit beradaptasi dengan cahaya terang cepat-cepat Leathina berbalik ke sisi lainnya untuk menghindari cahaya yang menyilaukan matanya.
“Eh siapa?”
Saat berbalik ke sisi lainnya mata Leathina menangkap sosok siluet pria yang kini berdiri di depannya dan terlihat sedang memperhatikan dirinya.
Leathina menggosok kasar matanya untuk memperjelas pengelihatannya kemudian dilihatnya sosok laki-laki berambut pirang dan bermata hijau dengan garis wajah tegas menatapnya.
“Ed’? EDWARD!” Jerit Leathina saat mengenali sosok laki-laki yang kini mengembangkan senyumannya karena Leathina berhasil mengenalinya.
“Apa.. apa? Yang kau lakukan di ruangan seorang wanita pagi-pagi sekali?” Pekik Leathina kemudian segera menutupi dirinya dengan selimut karena masih mengenakan baju piyama.
“Aku menunggumu bangun, memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan pada orang yang sedang tidur jika tidak menunggunya bangun.”
Edward berbicara sambil duduk di sisi tempat tidur Leathina.
“Keluar sekarang! Aku akan segera bersiap dan menemuimu lagi.”
“Aku hanya datang untuk melihat keadaanmu apakah kau baik-baik saja Leathina?”
“Kau lihat kan aku baik-baik saja. Terimakasih pada mu dan Adam yang telah menjagaku.”
“Tapi tetap saja, Adam gagal menjagamu karena membiarkanmu di bawa kembali ke sini.”
“Ini bukan salah Adam jangan terlalu menyalahkannya, dia sudah berusaha untuk melindungi ku sampai akhir.”
“Jadi apa rencana mu Leathina?”
“Kenapa aku harus memberitahumu, apa rencanaku Edward.” Leathina melihat Edward dengan curiga kemudian menghembuskan nafas panjang dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa kesal di ganggu oleh Edward.
“Aku sudah berjanji bukan, bahwa aku akan menjagamu.”
“Iya.. iya.. aku tahu.” Leathina hanya mengiyakan perkataan Edward dan tidak menganggapnya serius karena Leathina tahu pada akhirnya Edward pasti akan menyukai Yasmine seperti yang lainnya.
“Leathina? Aku serius.”
“Leathina, apa kau ingin pergi dari sini?”
“Untuk apa, mereka pasti akan mati-matian mencariku dan membawaku kembali.”
“Aku bisa membawamu pergi dari sini, aku bisa membawamu kemana saja sampai mereka tidak bisa mengejarmu lagi.”
“Edward! Jangan bercanda kau seorang pangaren, bukan orang biasa yang bisa pergi kemana saja.”
“Aku bisa menyamar dan ikut kemana kau pergi Leathina.”
“Terus kau akan meninggalkan posisimu sebagai pangeran dan meninggalkan para bawahanmu dan selamanya hidup dalam penyamaran kamu mau hidup seperti itu Edward? Ah sudahlah Edward sekarang pikiranku kacau kau kembalilah.”
“Maafkan aku karena telah menganggumu Leathina, kalau begitu aku akan kembali dan akan mengunjungimu lagi nanti.” Edward kemudian kembali dan meninggalkan Leathina sendiri di ruangannya dan berjanji akan menemui Leathina lagi.
“Akh! Apa yang sebenarnya aku lakukan disini.” Leathina mengusap kasar wajahnya kemudian menjatuhkan dirinya begitu saja dan kembali berbaring.
...
Leathina kini telah rapi dan duduk di sebuah kursi yang letaknya tidak jauh dari jendela kamarnya. Leathina memengangi sebuah buku dan membuka lembar demi lembar buku yang dipenganggnya tapi tidak fokus membacaya matanya sesekali mencuri-curi padang pada orang-orang yang sekarang selalu berkunjung ke kamarnya dalam beberapa hari ini setelah ia kembali.
“Nona, apa mau aku bawakan kue? Atau Nona membutuhkan sesuatu? Katakan saja padaku.” Seru Anne bersemangat berharap nona yang ia layani itu meminta sesuatu darinya.
“Terimakasih Anne, tapi aku tidak membutuhkan apa-apa. Hari ini kau sudah berkali-kali menanyakan padaku tentang itu kenapa kau tidak kembali dan beristirahat di ruanganmu saja.”
“Aku harus dua puluh empat jam di sisimu Nona, tenang saja.” Anne berbicara dengan senyuman lebarnya membuat Leathina tidak tega mengusirnya.
“Leathina! Aku dengar hari ini pangeran Edward menemuimu apa dia mengatakan sesuatu padamu? Apa dia menganggumu? Katakan saja padaku aku akan mengurusnya untukmu.” Ucap Ncholas yang sedari tadi telah berada di kamar Leathina bersama Nora.
“Iya kakak katakan saja, aku juga pasti akan membantumu?” Seru Nora mendukung perkataan Nicholas.
Sudah beberapa hari ini mereka berdua selalu datang mengunjungi Leathina dan tetap berada di sekitar Leathina walaupun Leathina menolak.
“Aku baik-baik saja. Kalian berdua tidak usah khawatir.”
“Tapi, Nhicolas bukankah kau seharunya sibuk kenapa kau tidak kembali ke ruanganmu dan belajar dan kau juga Nora bukankah pembelajaranmu ketat kenapa tidak keperpustakaan untuk membaca banyak buku. Kalian berdua menyia-nyiakan waktu berharga kalian.” Setiap kali mereka datang ke ruangan milik Leathina, Leathina terus mencoba mengusir mereka berdua secara halus tapi sayangnya selalu tidak berhasil.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan pelajaranku Leathina, aku sudah cukup pintar dan menguasai semua pelajaran.” Nicholas dengan santai menjawab pertanyaan Leathina dan kembali menikmati teh nya yang di sediakan oleh Anne.
“Aku juga kakak Leathina, tenang saja aku membawa buku-buku pelajaranku ke sini aku bisa membaca semuanya sambil terus berada di dekatmu, ayah juga telah mengizinkanku tidak mengikuti kelas asalkan aku menyelesaikan tugas-tugasku.” Nora berbicara sambil memperlihatkan Leathina sebuah tumpukan buku-buku yang bertumpuk di depannya, buku-buku yang ia bawa dari ruangannya dan harus ia baca.
“Uhg! Astaga apa yang harus aku lakukan dengan orang-orang ini.” Gumam Leathina pelan kemudian kembali fokus pada buku yang di pengangnya dan membolak-balikkan lembaran sambil memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjauh dari kedua adiknya itu.
Sehari setelah Leathina kembai dan terus terjadi secara berulang hingga menjadi rutinitas bagi Nicholas dan Nora untuk selalu berkunjung ke ruangan Leathina.
“Brak”
“Kakak Leathina.” Seru Nora saat melihat Leathina berdiri di tepi jendela.
Suara deritan pintu kamar Leathina dibuka secara sembarangan dan masuklah sosok anak laki-laki berhamburan memeluk Leathina.
“Nora?” gumam Leathina pelan sambil membalas pelukan Nora.
“Umm Nora, apa yang membawamu ke mari?” Tanya Leathina ragu-ragu pada Nora.
“Apa maksudmu, apakah harus butuh alasan jika seorang adik ingin mengunjungi kakaknya.” Tiba-tiba terdengar suara yang memotong pembicaraan Nora dan Leathina.
Leathina segera mencari si pemilik suara yang sudah tidak asing didengarnya dan dilihatnya Nicholas telah berdiri di ambang pintu dan memperhatikan mereka berdua kemudian langsung memasuki kamar Leathina dan mengambil tempat duduknya sendiri tanpa di persilahkan oleh Leathina.
“Nicholas kau juga datang ternyata.” Seru Leathina menyambut Nicholas.
“Jangan salah paham, aku datang karena khawatir terjadi sesuatu dengan Nora jika dia bersamamu.” Jawab Nicholas acuh tak acuh pada Leathina.
“Ah, jadi seperti itu ya.” Ucap Leathina menanggapi perkataan Nicholas dan memilih tidak memperdulikannya kemudian hanya fokus pada Nora.
Keesokan harinya lagi di waktu yang sama.
“Kakak Leathina!” Seru Nora saat melihat Leathina duduk di sebuah kursi sambil menikmati camilannya yang dibawakan oleh Anne.
“Oh, kau datang lagi Nora.” Leathina menyambut Nora dan tersenyum.
“Aku juga datang, tidak kah kau keterlaluan Leathina kau hanya tersenyum saat melihat Nora saja padahal aku masih adikmu." Ucap”Nicholas ketus tapi tetap masuk dan duduk di dekat Leathina.
“Oh, astaga kau juga datang Nicholas.” Sambut Leathina kemudian memaksakan senyumannya pada Nicholas.
Keesokan harinya dan hari berikutnya lagi mereka masih selalu berkunjung ke ruangan Leathina hingga menjadi kebiasaan bagi mereka berdua.
“Kau datang lagi Nora ada apa? padahal baru beberapa saat yang lalu kau meninggalkan ruanganku.” Leathina bertanya tanpa menoleh dan hanya fokus membaca buku yang sedang di penganngnya.
“Nora?” Leathina kembali bertanya karena tidak mendengar suara sama sekali.
Leathina masih belum menoleh dan hanya memfokuskan pendegarannya pada suara derapan langkah kaki yang berjalan semakin mendekatinya kemudian berhenti kemudian saat berada beberapa langkah di belakang nya.
“Nona bukan tuan muda yang datang tapi Duke.” Bisik Anne pada Leathina yang masih belum menoleh untuk melihat siapa yang datang.
“Oh Astaga, Salama Duke.”Sapa Leathina kemudian sedikit membungkuk menghormatinya dan masih tidak berani melihat wajah Duke Leonard yang kini berdiri tepat di depannya.
“Aku.. aku akan keluar menyelesaikan pekerjaanku, permisi tuan duke.” Melihat situasi yang sangat canggung antara Duke Leonard dan Leathina membuat Anne berfikir bahwa dirinya harus segera pergi untuk memberikan waktu berdua pada Leathina dan Duke Leonard.
“Tak” suara deritan pintu saat Anne menutupnya dari luar ruangan.
“Jadi Apa yang membawa anda kemari Duke Leonard.” Walau merasa sangat canggug karena pertengkaran mereka saat pertemuan sebelumnya tapi Leathina tetap mencoba tenang dan memulai percakapan karena Duke Leonard masih saja terdiam.
“Leathina?”
“I..iya Duke?” Jawab Leathina ragu-ragu.
“Kau tidak ingin memanggilku dengan sebutan ayah.”
“Mungkin tidak lagi, Duke.” Jawab Leathina datar.
Leathina akhirnya paham apa yang membuat Duke Leonard datang menemuinya kemudian ingatannya kembali pada malam pertengkaran mereka dan mengigat beberapa kalimat bahwa Duke menyesal memilikinya bahkan menyebutnya jahat seperti yang lainnya dan melayangkan tamparan di pipinya.
“Apa kau membenciku, Leathina?” tanya Duke Leonard lagi pada Leathina yang masih belum mau melihatnya.
“Iya aku tidak menyukaimu Duke.” Jawab Leathina lagi dan masih dengan ekspresi yang sama.
“Leathina tidak bisa kah hubungan ayah dan anak ini di perbaiki?”
“Sayangnya mungkin sudah sangat terlambat jika anda menginginkan hubungan harmonis dengan anak ini, Leathina yang dulu sudah terlanjur menghilang.”
“Leathina aku tahu aku sudah sangat keterlaluan padamu, tidak bisahkah kau memberiku kesempatan?”
“Bukannya aku tidak ingin memberimu kesempatan tapi anak ini, Leathia benar-benar telah menghilang.” Jawab Leathina seadaanya karena tidak tahu lagi ingin mengatakan apa.
“Tak.”
Duke Leonard terduduk di lantai dan lututnya membentur ke lantai dan mulai mengeluarkan air mata tanpa bersuara.
“Oh, astaga apa yang telah aku lakukan pada orang tua yang selalu menjunjung tinggi kepalanya ini sampai mau berlutut seperti ini di hadapanku. Bukannya aku tidak ingin memafkaanya tapi yang sebenarnya terjadi adalah aku bukan Leathina dan Leathina yang asli memang telah lama hilang dan seharusnya yang pantas menerima permintaan maaf ini adalah Leathina yang asli.”
“Duke Leonard.” Seru Leathina dan segera berjongkok di depan Duke Leonard dan mencoba membantunya kembali berdiri.
“Oh, astaga maafkan aku Duke.”
Saat Leathina mencoba membantu Duke Leonard berdiri kekuatan nya tidak cukup kuat untuk membantu Duke Leonard berdiri dan malah Leathina yang terjatuh dan di tangkap oleh Duke Leonard hingga Leathina berakhir terjatuh dalam pelukan Duke Leonard.
“Duke?” Leathina berusaha melepaskan pelukan ayahnya yang semakin lama semakin kencang.
“Leathina maafkan aku. Aku mohon maafkan ayahmu ini.” Ucap Duke Leonard lirih sambil membenamkan wajahnya di pundak Leathina dan air matanya masih mengeluarkan air mata tanpa mengeluarka suara.
“Huh?” Leathina termenung dan beberapa saat kemudian air matanya mulai mengalir dengan sendirinya.
"Apa ini Perasaan Leathina yang asli? Ah, sial padahal aku tidak ingin menangis sekarang tapi air mataku keluar sendiri."
“Ayah, aku membencimu!” Pekik Leathina kemudian dan berusaha melepaskan pelukannya tapi Duke Leonard masih menahannya.
“Aku tahu maka dari itu aku minta maaf.”
“Aku benar-benar membencimu.” Pekik Leathina lagi di sela-sela tangisannya.
“Kau tahu, selama ini aku tersiksa.. Aku selalu Iri dengan Nicholas yang bisa memanggilmu ayah setiap saat. Aku selalu iri dengan Nora yang bisa leluasa berlarian memelukmu.” Tangisan Leathina semakin pecah sementara Duke Leonard berusaha menenagkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya.
“Maafkan aku Leathina.”
“Asal kau tahu sampai kapan pun aku tidak akan bisa memaafkanmu, selama dua puluh tahun kau tidak pernah memberiku perhatian. Kematian ibuku karena melahirkanku itu bukan salahku tapi kenapa kau melampiaskan kemarahan dan kesedihanmu padaku. Seorang anak tidak bisa memilih kelahirannya tapi orang tua bias memilih kesempatan untuk membuang anaknya jika mau.”
“Kau tidak perlu memaafkan aku Leathina, tapi biarkan aku meminta maaf.”
“Aku tidak membutuhkan semua uang dan jabatan yang akan kau berikan padaku, yang aku butuhkan hanyalah sosok seorang ayah tapi kau.. kau...” Tangisan Leathina kemudian pecah dan tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.
Duke Leonard masih menepuk-nepuk punggung Leathina dengan lembut bak menidurkan seorang bayi yang rewel.
Beberapa saat kemudian tidak ada lagi suara tangisan Leathina yang ada hanya sesenggukan yang beberapa kali terdengar.
“Leathina?” panggil Duke Leonard tapi tidak mendapat jawaban dari Leathina.
Duke Leonard melepaskan pelukannya dan melihat Leathina kini tengah pulas tertidur, dengan hati-hati Duke Leonard mengangkat tubuh Leathina dan meletakkannya di atas tempat tidurnya.
...
“Anne, Kenapa kau menagis?” Tanya Nora saat melihat Anne kini sesenggukan menangis di depan kamar Leathina.
“Dia pasti ditendang keluar oleh Leathina, apa sifat kejamnya telah kembali lagi?” Sambung Nicholas menjawab pertanyaan Nora dan berjalan melewati Nora yang masih berdiri di depan Anne hendak membuka pintu tapi tiba-tiba Nicholas berhenti dan mematung di depan pintu.
“Ada apa kakak Nicholas kau tidak jadi masuk?” Tanya Nora tapi kemudian juga ikut mematung di samping Nicholas.
Mereka mendengar dua suara yang sangat mereka kenali sedang berbicara di dalam ruangan Leathina. Nicholas dan Nora tidak berani menganggu dan hanya fokus mendengarkan.
...
“Aku benar-benar membencimu.”
“Kau tahu, selama ini aku tersiksa.. Aku selalu Iri dengan Nicholas yang bisa memanggilmu ayah setiap saat. Aku selalu iri dengan Nora yang bisa leluasa berlarian memelukmu.” Tangisan Leathina semakin pecah sementara Duke Leonard berusaha menenagkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya.
“Maafkan aku Leathina.”
“Kau tahu aku sampai kapan pun aku tidak akan bisa memaafkanmu, selama dua puluh tahun kau tidak pernah memberiku perhatian. Kematian ibuku karena melahirkanku itu bukan salahku tapi kenapa kau melampiaskan kemarahan dan kesedihanmu padaku. Seorang anak tidak bisa memilih kelahirannya tapi orang tua bias memilik kesempatan untuk membuang anaknya jika mau.”
...
“Kenapa kau menangis?” Nicholas menegur adiknya yang kini menangis di sampingnya.
“karena aku mendengar kakak Leathina menangis, tapi kau juga menangis?” Nora berbicara sekecil mungkin agar mereka tidak ketahuan sedang menguping di depan pintu dan menunjuk pada sudut mata Nicolas yang sedikit ber air.
“Aku tidak menangis.” Nicholas berbicara sambil mengusap sudut matanya dengan lengannya.
“Kita seharusnya tidak disini, ayo pergi kita bisa datang lagi besok.” Nicholas kemudian mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam dan segera kembali ke ruangannya diikuti oleh Nora dibelakangnya.
...***...