
“Kalian keluar lah kita harus mengobati Leathina dulu, aku tidak sudi kakak perempuan ku dilihat dengan mata kalian.” Ucap Nicholas sambil mendorong secara paksa Edward dan Zeyden keluar, Winter pun tidak luput menjadi sasarannya dan segera mendorongnya secara paksa keluar setelah berhasil mengeluarkan Edward dan Zeyden.
“Tentu saja kau juga harus keluar tuan elf.” Nora pun membatu Nicholas dan yang menjadi sasarannya adalah Aelfric ia pun segera mendorong Aelfric secara paksa keluar dari ruangan Leathina.
“Tidak, tidak, aku akan tetap tinggal disini. Aku juga akan membantu Leathina.” Tolak Aelfric dan karena tidak ingin keluar ia malah berpegangan di pintu, Nicholas yang melihat Nora kesulitan segera membantu Nora untuk mengeluarkan Aelfric setelah mengeluarkan Zeyden dan Edward.
“Kami akan memanggilmu lagi nanti setelah Andy selesai mengobati luka Leathina, untuk sekarang keluar lah.” Duke Leonard memberitahu Aelfric, agar mereka tidak kembali membuat keributan.
“Kalian berdua juga harus keluar,” Ucap Andy memberitahu Nicholas dan Nora yang baru akan menutup pintu dari dalam.
Mendengar ucapan Andy yang memintanya keluar Nicholas dan Nora tercengang tidak percaya bhawa mereka pun harus ikut keluar setelah bersusah payah mengeluarkan yang lainnya dan menolak untuk keluar, tapi tiba-tiba Zeyden dan Edward bahkan Winter dan Aelfric tiba-tiba masuk kembali dan mengeluarkan Nicholas dan Nora secara paksa dan segera menutup pintu dari luar.
Di dalam ruangan kini hanya tinggal Andy, Anne, Duke Leonard dan Duchess Nice yang mengawasi Leathina.
Anne segera membantu Andy untuk membalikkan tubuh Leathina kemudian pelan-pelan melepas sedikit pakaian bagian atas Leathina hingga punggungnya sedikit terlihat untuk melihat luka yang ada di bagian punggung leathina. Kemudian terlihat sebua luka yang cukup besar yang terlihat cukup dalam dan sudah mulai berbau, sebagain kulitnya bahkan telah menghitam.
“Ini tidak bisa disembuhkan dengan sihir penyembuh milikku, saya tidak bisa mengembalikan sel-sel jaringan yang telah mati dan menghitam seperti ini karena sisir saya lemah tuan duke,” ucap Andy memberitahu Duke Leonard setelah melihat dan mengamati dari dekat luka leathina.
“Apa ada solusi lain, Tuan Andy?” tanya Duchess Nice dengan cemas, sementara Anne sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain karena takut melihat luka leathina yang sekarang sedang terbuka.
“Saya akan membersihkan bagian-bagian kulit yang telah membusuk terlebih dahulu, jika anda mempersilahkan saya untuk melakukannya.” Andy meminta persetujuan terlebih dahulu pada Duchess dan duke leonard.
“Silahkan Lakukan Tuan Andy, tentu saya saya akan memperbolehkannya jika bisa menyembuhkan luka milik Leathina.” Duchess Nice yang panik dan tanpa berfikir panjang segera menyetujui tindakan yang akan dilakukan Andy pada luka Leathina.
“Tapi tindakan yang akan saya lakukan pada nona leathina mungkin akan sedikit tidak enak di lihat, karena saya akan menggunting bagian-bagian kulit yang telah mati dan menghitam agar sel baru bisa tumbuh kembali . Jadi jika anda tidak kuat melihatnya silahkan tunggu di luar madam,” ucap Andy yang memberitahukan apa yang akan ia lakukan pada luka Leathina agar mereka tidak terkejut nantinya jika melihatnya memotong jaringan kulit Leathina yang telah mati dan membusuk.
“Ba-baik silahkan lanjutkan pekerjaan anda Tuan Andy, kalau begitu sebaiknya saya keluar saja, saya takut jika nanti malah akan menganggu pekerjaan anda.” Ucap Duchess nice kemudian segera keluar dari ruangan Leathina meninggalkan Andy bersama Anne dan duke Leonard di dalam.
“Ibu?!” seru Nicholas dan Nora yang hampir bersamaan saat melihat ibunya keluar dari ruangan Leathina.
“Kenapa ibu keluar, apa sudah selesai?” tanya Nicholas yang sedang menunggu di luar ruangan dan menyambut ibunya yang juga keluar dan kini bersama mereka.
“Belum, ibu keluar karena takut menganggu pekerjaan Andy. Ibu tidak tahan melihat banyak darah atau sejenisnya.” Jawab Duchess Nice menjawab pertanyaan Nicholas.
Mereka semua akhirnya mau tidak mau harus sabar menunggu sampai mereka diizinkan untuk masuk kembali.
...
Setelah duchess nice keluar Andy mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebelum memulai pekerjaannya untuk mengobati luka tekan akibat terlalu lama berbaring yang ada di punggung Leathina.
“Baiklah, kalau begitu saya akan segera memulainya.” Ucap Andy sambil membuka kotak peralatan yang ukurannya relatif kecil tapi dapat menyimpan banyak barang di dalamnya dan selalu ia bawa-bawa kemana-mana.
Andy mengeluarkan sebuah kain kasa dan dua buah gunting, satu gunting untuk ia gunakan memotong sel kulit mati yang ada pada luka leathina dan satu gunting yang lainnya ia gunakan untuk memotong kain kasa dalam beberapa bagian, setelah menggunting banyak kasa dan dirasa telah cukup untuk luka Leathina Andy mulai memotong jaringan-jaringan kulit Leathina yang telah menghitam.
Sesekali Andy menahan aliran darah yang bercampur dengan nanah yang sedikit keluar dari luka Leathina dengan kasa yang tadi telah ia gunting, luka Leathina ternyata lebih dalam dari yang Andy perkirakan semula maka dengan hati-hati Andy menggunting sedikit demi sedikit jaringan mati pada luka Leathina agar tidak memotong jaringan yang masih bagus.
“Hampir selesai,” gumam Andy pelan sambil terus fokus pada pekerjaannya, dan sedikit demi sedikit jaringan mati pada luka leathina mulai terangkat.
Setelah beberapa saat menghilangkan jaringan mati Andy kini telah selesai menyingkirkan jaringan kulit mati pada luka Leathina dan kali ini ia harus membersihkannya agar tidak infeksi. Akibat jaringannya disingkirkan membuat punggung leathina menjadi sedikit berlubang karena jaringan mati tadi telah disingkirkan.
Setelah perawatan luka yang dilakukan oleh andy pada luka Leathina telah selesai Andy pun meminta Anne untuk segera membuang sampah medis yang tadi telah ia gunakan dan ia pun segera mencuci kedua tangannya sebelum menyentuh Leathina kembali.
Andy lalu mulai menyembuhkan luka Leathina dengan sihir penyembuh miliknya, walaupun sihir penyembuh yang Andy gunakan lemah sihir nya masih bisa menyembuhkan luka pada punggung Leathina dan perlahan-lahan kulit di sekitar lukanya mulai membaik dan tertutup sepenuhnya. Tidak ada lagi lubang, luka ataupun bau busuk yang tercium dari sana karena telah sembuh sepenuhnya.
“Pengobatan pada luka nona Leathina sudah selesai Tuan Duke,” Ucap Andy memberitahukan pada Duke Leonard, “Tolong, perbaiki pakaiannya kembali nona.” Ucap andy lagi meminta Anne yang telah kembali setelah membuang sampah medis yang tadi ia gunakan.
“Baik tuan,” jawab Anne patuh kemudian segera memperbaiki posisi Leathina di bantu dengan Duke Leonard. Setelah itu Anne segera memperbaiki pakaian Leathina dan kembali menyelimuti tubuh Leathina dengan selimut sampai menutupi dadanya.
“Tuan Duke Leonard, sebelumnya maafkan saya karena lancang mengatakan ini pada anda mengenai kondisi nona muda sekarang hal ini terpaksa harus saya katakan,” ucap Andy ragu-ragu untuk memberitahu kan duke leonard sementara Duke Leonard hanya terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Andy.
“Tubuh Nona Leathina semakin hari kian memburuk, daya tahan tubuhnya menurun hingga membuat tubuhnya menjadi seperti itu. Sebaiknya anda harus segera mencari jalan untuk menyembuhkan nona Leathina, jika terus dibiarkan seperti itu maka bukan tidak mungkin lagi seluruh tubuhnya akan membusuk dan nona leathina akan benar-benar menutup matanya untuk selamanya karena kondisinya yang tidak bagus sekarang.”
Andy terang-terangan memberitahukan kondisi leathina pada duke leonard agar segera mencari jalan untuk membuat leathina kembali seperti sebelumnya, sementara itu duke leonard hanya terdiam sambil terus memandangi putrinya yang masih belum membuka matanya. “Leathina tertidur sudah hampir sebulan lamanya” gumam duke leonard pelan dan masih terus memperhatikan Leathina.
“Baiklah aku paham,” ucap duke leonard setelah lama terdiam.
Karena luka fisik leathina telah sepenuhnya disembuhkan oleh Andy, Anne pun membuka pintu kembali dan memberitahukan pada yang lainnya bahwa Andy telah selesai mengobati Leathina kemudian mempersilahkan mereka semua masuk kembali jika mereka mau.
“Apa sudah selesai?” tanya Nora saat Anne telah membuka pintu kembali.
“Sudah tuan muda, luka Nona Leathina telah disembuhkan oleh tuan Andy,” jawabnya sambil meminggirkan dirinya agar tidak berada di depan mereka dan agar tidak menghalangi orang-orang yang akan masuk ke dalam ruangan leathina.
“Sekarang giliran mu.” Ucap Edward kemudian menatap Aelfric.
Aelfric menghela nafas panjang karena tidak habis pikir bahwa Edward masih memperlakukannya sama seperti sebelumnya bahkan ketika ia telah mengetahui bahwa ia bukanlah elf biasa seperti yang lainnya.
“Ba- baiklah akan aku coba,” Ucap Aelfric yang tergagap karena kaget saat tadi Edward tiba-tiba mendekatinya, ia takut jika nanti edward tiba-tiba mengangkat kerah bajunya lagi dari belakang seperti yang sering ia lakukan jika ia memberontak dan malah membuatnya seperti membawa tentengan kantung belanjaan.
“Tapi sebelum itu yang lainnya silahkan keluar terlebih dahulu,” ucap Aelfric meminta semua orang kembali keluar mengikuti cara Andy sebelumnya, kemudian tersenyum karena membayangkan sesuatu di kepalanya.
“Sebelum aku mengobati Leathina pertama aku harus meminta semua orang keluar terlebih dahulu agar jika leathina benar-benar terbangun orang pertama yang dilihat leathina adalah aku.” Batinnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
“Kenapa masih belum ada yang keluar?!” tanyanya ketika masih melihat semua orang berada di dalam ruangan dan tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak mereka semua tetap tinggal di dalam ruangan.
“Kau pasti memikirkan hal kotor, bukan?” ucap Edward mengintimidasi dan yang lainnya pun sama ketika melihat ekspresi aneh Aelfric saat menyuruh mereka untuk keluar.
“Tidak, tidak, aku memang memik ... eh, maksudku aku tidak memikirkan apa-apa. Aku harus memfokuskan pikiranku agar tidak tersesat saat memasuki jiwa orang lain jadi aku meminta kalian semua untuk keluar agar aku bisa fokus dan tidak terganggu.” Aelfric membantah kemudian berusaha menjelaskan pada Edward dan yang lainnya agar tidak salah paham tentang dirinya.
“Bohong!” celetuk Nicholas yang kemudian menatap Aelfric seakan-akan secara tidak langsung ia mengatakan bahwa akan menghajar Aelfric jika berani macam-macan dengan Leathina.
“Aku bukan orang seperti itu.” Aelfric mendengus kesal karena tidak ada orang yang memihak nya dan malah menghakiminya, “Kalian pasti tidak akan ambil pusing jika jiwa yang hilang adalah jiwaku tapi bagaimana dengan milik leathina? Apa kalian ingin membuat jiwanya tersesat karena aku menghilang,” ucap Aelfric yang pada akhirnya menjatuhkan ancaman yang pasti membuat mereka dapat mendengarkan apa yang ia katakan.
“Jika kalian tidak mempercayaiku maka duke Leonard akan tetap tinggal untuk mengawasi ku,” ucap aelfric yang pada akhirnya menyerah untuk membuat orang-orang percaya padanya ia harus segera fokus untuk membantu Leathina sekarang..
“Kalau begitu aku juga akan tetap tinggal untuk mengawasimu,” Nicholas tetap bersikeras untuk tetap tinggal di dalam ruangan dan tidak mau keluar.
“Aku juga,” ucap edward yang juga menolak untuk keluar.
“Aku juga akan tetap tinggal.”
“Aku juga.”
Yang lainnya pun memilihi untuk tetap tinggal di ruangan Leathina, kecuali Damian yang memilih untuk keluar menuruti permintaan Aelfric yang diikuti oleh Farkas. Mereka berdua kemudian pergi keluar sekaligus untuk beristirahat dan segera meminta pada pelayan untuk menunjukkan ruangan yang telah disediakan untuk mereka berdua.
“Huffft”
Aelfric lagi-lagi menghela nafas panjang, pasrah. Tidak lagi ia pedulikan mereka yang bersikeras untuk tetap tinggal di dalam ruangan leathina untuk mengawasinya secara langsung. Aelfric kemudian segera berjalan mendekati Leathina dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Leathina agar dapat dengan mudah menjangkau Leathina.
Sebelum membantu Leathina, Aelfric menghirup nafas dalam dan pelan-pelan mengeluarkan nafasnya melalui mulutnya untuk mengurangi rasa gugupnya karena ia baru pertama kali melakukan hal semacam ini di dalam hidupnya. Aelfric pernah sekali melihat pamannya menggunakan nya untuk membantu seseorang yang juga berada dalam situasi yang sama tapi tetap saja Aelfric masih merasa gugup, takut jika ia tidak berhasil menolong leathina untuk terbangun kembali.
Aelfric mengambil pisau kecil dari sakunya tampak gagang pisau yang Aelfric pengang memiliki warna silver dan terdapat lima batu yang memiliki warna berbeda, Hijau, cokelat, merah, biru dan warna emas di tengah-tengahnya. Hijau melambangkan angin, cokelat melambangkan tanah, merah melambangkan api, biru melambangkan air serta warna keemasan yang melambangkan cahaya, elemen-elemen yang dapat dikendalikan oleh bangsa elf dari zaman dahulu.
Aelfric mulai melakukan ritual pencampuran darahnya dengan leathina agar jiwa mereka berdua bisa terhubung antara satu dengan yang lainnya dan Aelfric dapat masuk ke alam bawah sadar Leathina untuk mencari jiwanya dan segera membawanya kembali.
“Argh” pekik Aelfric saat menggoreskan ujung pisau di telapak tangannya dengan pisaunya hingga mengeluarkan darah segar dari luka yang sengaja ia buat dengan pisaunya.
Hal yang sama Aelfric lakukan pada Leathina, ia pun menggores sedikit kulit Leathina agar mengeluarkan darah dan setelah itu menggabungkan darahnya dengan darah segar milik Leathina. Setelah darah mereka berdua bercampur Aelfric membuat lingkaran sihir di telapak tangan Leathina dan di telapak tangannya dengan gambar yang sama kemudian saling menempelkan telapak tangannya.
Setelah penggabungan dara yang dilakukan oleh Aelfric pada Leathina tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat terang muncul dari keduanya membuat semua orang menjadi silau dan segera menutup matanya karena tidak tahan melihat cahaya terang yang tiba-tiba muncul, dan bebarapa saat kemudian cahaya yang ditimbulkan oleh aelfric perlahan lahan meredup kembali kemudian menghilang dan pencahayaan kembali normal seperti sebelumnya.
“Brak”
Disaat yang bersamaan Aelfric telah kehilangan kesadarannya dan jatuh tersungkur ke lantai setelah cahaya menghilang.
“Apa yang telah terjadi?” tanya Zeyden kebingungan dan mengusap matanya yang masih terkena efek cahaya silau barusan.
Yang lainnya pun sama mereka semua masih merasa syok karena tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul secara tiba-tiba.
“Ada apa dengan nya?” tanya Nicholas saat melihat Aelfric kini tidak sadarkan diri.
Edward yang melihat Aelfric jatuh tersungkur di lantai kemudian mengangkat tubuh Aelfric dan membaringkannya di samping leathina.
“Tunggu dulu,” Ucap Nora menghentikan Edward yang baru akan meletakkan Aelfric di atas tempat tidur Leathina, “Nah sudah selesai.”Ucapnya lagi setelah ia mengambil beberapa bantal dan membuat garis pembatas dengan bantal yang diambilnya, nora menyusun bantal-bantal tersebut agar membuat jarak dengan aelfric.
“Jiwa Aelfric sepertinya meninggalkan tubuhnya sendiri sekaran, jika ia tidak kembali maka aelfric dan leathina tidak akan terbangun untuk selamanya,” duke leonard kemudian duduk di samping leathina dan menggenggam tangan leathina erat berharap bahwa mereka berdua dapat kembali dengan selamat.
“Apa tidak ada cara untuk membantu mereka berdua?” tanya Edward setelah membaringkan aelfric di samping leathina.
“Kita hanya perlu percaya sepenuhnya pada aelfric, untuk sekarang kita hanya bisa menunggunya sampai mereka berdua kembali.”
“Apa anda yakin, paman? Bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendukung aelfric agar lebih mudah di alam sana?” tanya winter yang juga ikut khawatir pada kondisi keduanya yang penuh dengan ketidakpastian.
“Tidak ada, sebelum pergi delfa memperingatik u bahwa satu-satunya cara untuk membantu keduanya adalah menjaga tubuh keduanya agar jiwa mereka dapat kembali.
“Jika begitu maka tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, selain berharap yang terbaik bagi mereka berdua.” Ucap duchess nice kemudian mengusap punggung nora dengan lembut karena putra bungsunya itu sepertinya sebentar lagi akan menangis setelah mendengar penjelasan ayahnya.
Mereka semua tidak punya pilihan lain selain sabar menunggu Aelfric dan Leathina kembali.
...***...