
“Yarnell?” panggil Duchess pada duke Leonard yang berjalan pergi meninggalkan Duchess Nice.”
“Aku akan memeriksa keadaan Leathina, Nice.” Jawab Duke.
“Baiklah, jangan menganggu apalagi membuatnya terbangun.”
Duke Leonard mengangguk pelan, kemudian segera pergi menuju ke ruangan Leathina.
“Salam tuan duke?” sambut para penjaga saat melihat duke Leonard datang.
Duke leonard mengangguk pelan kemudian para penjaga langsung membukakan pintu untuknya.
“Trakk.” Suara pintu yang di buka berderit pelan.
“Dia benar-benar tidur sangat cepat, bahkan melewatkan makan malamnya. mungkin Leathina kelelahan, aku dengar tadi siang dia menghabiskan waktunya berjalan-jalan mengelilingi mansion. Tapi untuk apa dia ke area pencucian.” Gumam Duke sambil memperbaiki selimut Leathina yang sedikit merosot.
Setelah memeriksa keadaan Leathina duke pun kembali keluar meninggalkan ruangan Leathina.
“Ayah?” secara tidak sengaja duke Leonard berpapasan dengan Nicholas yang sepertinya akan ke ruangan Leathina.
“Kakak mu sedang tidur sepertinya sangat kelelahan, kau tidak usah mengganggunya. Kembalilah ke kamarmu, kunjungi dia lagi besok.”
“Baik ayah.” Jawab Nicholas patuh kemudian segera kembali ke ruangannya.
Setelah mendengar duke berjalan keluar dan pintu ruangannya di tutup kembali Leathina membuka matanya.
“Wah hampir saja.” Gumam Leathina kemudian menghela nafas berat karena merasa lega.
"Apa dia masih mengawasi ku? kenapa Duke bisa tahu aku dari area pencucian." Gumam Leathina.
"Ah, mungkin Winter yang memberitahukan padanya. aku tadi kan berpapasan dengannya aku bahkan meninju wajahnya sampai hidungnya berdarah."
“Untuk aku belum pergi tadi, jika aku tidak ada disini dan seseorang datang sementara aku menghilang mungkin akan ada masalah besar yang akan terjadi lagi.” Gumam Leathina kemudian melompat turun dari atas tempat tidurnya.
Leathina menyusun beberapa bantal membuat duplikat dirinya yang seperti sedang tertidur kemudian menutupinya dengan selimut agar orang-orang mengira bahwa ia masih tertidur di kasurnya.
“Waktu jaga habis!” ucap seorang penjaga yang suaranya samar terdengar dari dalam ruangan.
“Wah waktunya tepat sekali.” Gumam Leathina.
“Clak!”
Leathina langsung mengunci pintu ruangannya dari dalam setelah itu mengambil jubahnya yang sudah ia sembunyikan di bawah tempat tidurnya.
Leathina langsung mengenakannya dan berlari ke jendela kamarnya. Leathina mengintip keluar untuk memastikan keadaan dan dilihatnya para penjaga sedang berganti posisi, dengan gesit Leathina melompat keluar jendela kemudian berpegangan di dinding dan pelan-pelan memanjat turun ke bawah.
“Ada jeda sebelum penjaga selanjutnya datang berjaga, dalam waktu singkat itu aku harus bergegas keluar dari sini.” Gumam Leathina setelah berhasil turun tanpa ketahuan dan langsung bersembunyi di balik semak-semak menunggu situasi aman setelah itu bergerak kembali.
“Hap!”
Leathina kembali memanjat di dinding pembatas mansion kemudian melompat turun dan akhirnya ia berhasil keluar tanpa ketahuan oleh para penjaga.
“Woah! Kemampuanku tidak terlalu buruk, terimakasih atas tubuh atletik Leathina!” seru Leathina memuji dirinya sendiri.
“Ah, aku tidak seharunya berlama-lama disini. Aku harus segera pergi ke kota, waktu menjadi lebih singkat dari yang aku pikirkan.” Leathina bergegas berlari menuju jalan umum dan saat melihat kereta yang lewat Leathina berlari menuju kereta tersebut.
“Srak!”
“Tuan antar aku ke kota sekarang!”
Leathina melemparkan sebuah kantung pada pemilik kereta, dan dengan sigap si pemilik kereta menangkap kantongan yang di lemparkan padanya dan langsung membuka untuk memeriksa isinya.
“Tentu saja Nona, silahkan naik!” ucap si pemilik kereta dengan senyuman lebar saat melihat beberapa kepingan uang di dalam kantung yang di lemparkan Leathina tadi.
“Oh, kamu yang terbaik tuan! Terimakasih.” Ucap Leathina kemudian langsung melompat naik ke atas kereta.
“Baru kali ini aku melihat wanita muda keluar sendiri di tengah malam seperti ini tanpa pengawalan, kau cukup liar nona muda.” Si pemilik kereta memulai percakapan setelah lama berdiam diri.
“Anda sepertinya bukan dari keluarga biasa melihat betapa mewahnya kantung uang yang anda berikan begitu saja pada saya Nona muda, anda ingin kemana? Akhir-akhir ini banyak nona-nona muda dari keluarga bangsawan yang keluar secara diam-diam tenang saja saya tidak akan memberitahu orang lain.”
“Oh, mata anda cukup jeli juga pak kusir!” balas Leathina sambil tersenyum ramah dan si kusir pun ikut tersenyum.
“Tapi bukankah lebih baik jika anda tidak penasaran dengan urusan orang asing seperti saya, tidak kah anda juga mendengar bahwa akhir-akhir ini banyak orang yang menghilang secara tiba-tiba."
Leathina berbicara dengan memukul-mukul kan ujung belatinya pada bahu si kusir yang sekarang tengah fokus memacu kudanya.
“Hek! Ma- maafkan saya nona, ampunilah nyawa saya, saya punya keluarga istri dan berapa anak yang menunggu saya pulang ke rumah. Saya tidak akan macam-macam lagi.” Si pemilik kereta ketakutan hingga dapat terlihat dengan jelas bahwa tangannya yang memegang tali pecut gemetaran.
“Wah, keluarga mu sepertinya cukup harmonis pak kusir!”
“Se- sepeti itu lah Nona muda!”
“Baiklah aku tidak akan membunuhmu, jika kau bisa menjawab pertanyaan ku dengan benar.”
“Ba- baik Nona.” Jawab si kusir yang ketakutan.
“Hari ini apa yang kau lihat?” tanya Leathina dan masih memegangi belatinya di sekitar leher si pemilik kereta kuda.
“Ti- tidak ada, saya tidak melihat apa-apa.”
“Apa ada orang yang menumpang di kereta mu malam ini?” tanya Leathina lagi.
“Tidak ada! Saya mengendarai kereta saya sendiri dan tidak ada orang lain selain saya yang ada di atas kereta.”
“Apa kau menerima sesuatu?”
“Tidak ada, saya tidak melihat ataupun menerima apapun dari seseorang.”
“Kerja bagus tuan, semoga selamat sampai di rumah mu!” puji Leathina kemudian segera melompat turun dari atas kereta dan membiarkan kereta yang ditumpanginya pergi begitu saja.
“Jadi disini lah aku sekarang berada.” Gumam Leathina setalah berhasil sampai di kota tanpa ketahuan.
“Sudah lama aku tidak berjalan bebas seperti ini, sebaiknya aku menikmati waktu sendiriku.”
Leathina berjalan-jalan berkeliling sendiri, kadang-kadang ia hanya duduk di pinggiran untuk mengamati orang-orang yang berlalu lalang dan jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya Leathina hanya memperhatikan dan mencari tahu dari kejauhan karena takut seseorang akan mengenalinya.
“Ini tidak terlalu buruk! Sudah lama aku tidak sebebas ini. Sekarang aku harus pergi mencari informasi, aku akan pergi ke rumah judi dulu terus ke rumah malam biasanya para bangsawan senang menghabiskan waktunya dan menghamburkan uangnya di tempat-tempat seperti itu."
“Ah, ini buruk! Aku harus menemukan informasi secepat mungkin.” Gumam Leathina yang baru saja keluar dari rumah judi dan berakhir di usir karena tidak memiliki uang yang cukup untuk masuk ke ruangan khusus para bangsawan.
“Ini aneh! kenapa mereka semua tidak aku temukan di beberapa rumah malam dan rumah judi padahal hampir seluruhnya aku telah mengunjungi tempat-tempa itu.”
“Growwwll...”
Leathina mendengar suara perutnya sendiri yang berbunyi karena kelaparan, Leathina tertunduk melihat perutnya sendiri.
“Ah, aku kelaparan. Aku lupa bahwa tadi aku melewatkan waktu makan malam sebaiknya aku harus mencari sesuatu untuk aku makan sekarang.” Gumam Leathina pelan kemudian segera berjalan menyusuri jalan untuk menemukan sesuatu yang bisa ia beli untuk mengganjal perutnya yang terus berbunyi.
“Kenapa hanya penjual topeng di sepanjang jalan ini, kemana semua pedagang camilan pinggir jalan pergi? aku kan tidak bisa makan topeng.” Leathina terus berjalan tapi yang di dapati hanya penjual barang dan topeng dan tidak menemukan satu penjual pun yang menjajakan makanan untuknya.
“Tuan kenapa semua pedagang hanya menjual topeng di sepanjang jalan ini?” tanya Leathina pada seorang pedagan yang juga sedang menjual berbagai topeng di tokonya.
“Nona, anda tidak tahu topeng kahir-akhir ini sangat laku keras di sini.”
“Kenapa? Apa ada pesta sepanjang bulan ini yang harus mengenakan topeng?”
“Aduh Nona, selama ini anda kemana saja sih. Di ujung jalan sana ada sebuah restoran yang mensyaratkan para pengunjungnya untuk menggunakan topeng jika masuk ke sana dan pengunjung disana tidak sedikit dan pasti akan ada saja orang yang membeli topeng.”
“Benarkah seterkenal itu?” gumam Leathina sambil melihat ke arah yang di tunjuk pedagang tadi.
“Nona belilah topeng dan cobalah untuk berkunjung ke sana, siapa tahu nona mendapat keberuntungan malam ini.” Si pedagang menawari Leathina beberapa topeng yang ia jejerkan di depan etelase toko nya.
“Apa aku harus berkunjung ke sana ya?” batin Leathina yang menimbang-nimbang keputusannya.
“Apa di sana mereka menyediakan makanan?” tanya Leathina.
“Aku belum pernah pergi ke sana, tapi orang-orang yang membeli topeng ku mengatakan bahwa di sana selalu ada makanan enak yang disediakan jadi aku pikir di sana pasti menjual makanan juga.”
“Baiklah, aku beli satu topeng.”
“Aku hanya akan makan dan mengamati keadaan di sekitar sana.” Batin Leathina kemudian mengambil topeng rubah secara acak dan langsung membayarnya kemudian ia segera pegi ke ujung jalan tempat restoran yang sedang terkenal berada.
“Terimakasih Nona, silahkan datang lagi di kunjungan anda yang berikutnya. Ingat beli saja topeng di toko ku.” Ucap si pedagang melepas kepergian Leathina.
Leathina berjalan dengan santai menuju ke restotan yang di maksud pedagang tadi dan menemukan banyak wanita dan pria yang juga sedang berjalan ke arah yang sama.
“Humm... jadi disini.” Gumam Leathina yang sedang memperhatikan tampilan restoran dari depan.
Leathina melipat tangannya di depan dadanya kemudian mulai meneliti keadaan sekitarnya dengan cermat.
“Bagaiaman pun aku melihatnya, ini bukanlah sebuah restoran, ini adalah rumah malam.” Gumam Leathina setelah selesai mengamati sekitarnya.
Dilihatnya lampu besar berukiran ‘Secret Cafe’ dengan sebuah topeng besar yang bergantung menjadi aksesorisnya. Banyak wanita dan pria yang keluar masuk dengan menggunakan topeng hingga tidak bisa saling melihat wajah dan saling mengenal identitas masing-masing.
“Sebaiknya aku harus masuk untuk melihat apa isinya.”
Leathina mengenakan topeng miliknya, kemudian menutup kepalanya dengan tudung jubahnya dan berjalan dengan santai masuk ke dalam restoran.
“Woah! Lihatlah, mereka mengemas rumah malam dengan baik hingga menarik pelanggan sebanyak ini.” Gumam Leathina saat berada di ambang pintu tapi harus mengantri untuk masuk ke dalam.
“Brak!”
Seoran pria pendek dengan topeng motif anjing tiba-tiba menabrak Leathina.
“Ah, sepertinya orang ini adalah bangsawan dilihat dari pakaiannya dan caranya bersikap, aku malas berurusan dengan orang arogan seperti ini sebaiknya aku langsung meminta maaf duluan agar tidak memancing emosinya dan memperpanjang masalah ini.” Batin Leathina setelah melihat siapa yang menabraknya.
“Ma- maafkan saya tuan, saya tidak sengaja. Sekali lagi maafkan saya tuan.” Leathina membungkuk dengan sopan untuk meminta maaf, walaupun ia tahu bahwa sebenarnya orang itulah yang menabraknya duluan.
“Haiss! Ini jadi kotor.” Gumamnya kesal kemudian melepaskan sarung tangannya dan melemparkannya secara kasar pada Leathina yang kini masih membungkuk meminta maaf di depannya.
“Menjengkelkan sekali!” gumam Leathina pelan kemudian berusaha untuk menahan emosinya agar tidak meledak dan memancing perhatian orang-orang yang ada di dalam restoran.
“Menjijikkan! Kau pasti sengaja menabrakkan tubuh kotor mu untuk merayuku bukan!" Ucapnya sarkas pada Leathina.
Leathina yang mulai kesal dengan perkataan laki-laki yang menabraknya tadi kemudian memegang erat gagang belatinya, ia masih berusaha menahan diri untuk tidak menariknya dan menggunakannya untuk merobek mulut orang yang tadi menabraknya.
“Kau searusnya memperhatikan jalanmu dasar miskin!” Ucap si penabrak kemudian hendak melayangkan tamparan pada Leathina.
“Tap!”
“Tuan kau tidak seharusnya bersikap kasar pada seorang wanita.” Seorang pria dengan motif topeng serigala tiba-tia menghalangi dan menepis tangan nya yang hendak melayangkan tamparan pada Leathina.
“Siapa lagi makhluk rendahan ini, mau main pahlawan dan penjahat!” ucapnya ketus kemudian menarik tangannya kasar.
“Kau ingin menyelesaikannya disini sekarang juga? Tapi bukan dengan wanita ini, denganku ayo tampar!” ucap pria yang satunya kemudian berdiri tegap menantang si pria kasar.
Si pria kasar mendongak karena pria yang menghalanginya tadi ternyata jauh lebih tinggi darinya, hingga membuat nyalinya menciut.
“Ini lah kenapa aku tidak suka mengadakan pertemuan di daerah kumuh milik rakyat jelata seperti ini, ini membuat tubuhku alergi. Minggir jangan berada di jalanku dasar sampah!” ia pun pergi setelah puas menghina Leathina yang tadi ditabraknya dan sengaja menabrak si pria yang menghalanginya tadi.
“Apa-apaan sikap arogannya itu.” Gumam Leathina pelan kemudian segera memperbaiki tudungnya agar menutupi kepalanya dengan baik setelah itu lagsung bergegas pergi.
“Hei nona!” si pria yang menolong tadi tiba-tiba menarik tangannya dan menghentikan Leathina yang baru saja akan pergi.
“Bukankah kau berhutang sesuatu padaku?” tanya si pria mendekatkan wajahnya mencoba memeriksa wajah Leathina dari dekat.
“Ah, aku lupa dengan pria ini. Aku seharunya berterimakasih karena dia telah menolongku tapi, apa-apa pria ini kenapa seenaknya menatap wajah orang lain aku tidak suka?” Batin Leathina saat si pria bertopeng serigala menatapinya dari jarak dekat.
“Aku belum pernah melihatnya sebelumnya postur tubuhnya bagus dan warna matanya unik. Dia pasti berasal dari keluarga bangsawan dan di besarkan dengan baik. sebaiknya aku harus berterimakasih dan segera pergi, aku tidak boleh menunjukkan sisi respek ku padanya agar dia membenciku dan tidak menempel padaku.”
“Aku tidak memintamu untuk menolongku tuan,biar aku beritahu aku bukan wanita kaya jadi carilah wanita lain yang bisa kau poroti hartanya.” Ucap Leathina tanpa ia sadari dan melepaskan tangannya secara paksa dari genggaman si pria.
“Nona bukankah kau searunya berterimakasih setelah mendapat bantuan?” ucap si pria yang tidak terima perlakukan Leathina yang terdengar cukup kasar untuknya.
“Haiss, ini menjengkelkan aku benar-benar lapar sekarang.” Gumam Leathina pelan.
“Dia pasti sangat tersinggung karena perkataanku! Aku jadi tidak bisa mengontrol ucapan dan pikiranku karena lapar.” Batin Leathina setelah menyadari bahwa perkataanya memanglah cukup kasar pada orang yang telah menolongnya.
“Baiklah, terimakasih telah membantu saya tuan yang baik hati, kalau begitu saya permisi sekarang semoga kita tidak bertemu lagi!” Ucap Leathina kemudian membungkuk sopan untuk berterimakasih setelah itu langsung lari meninggalkan si pria bertopeng yang menolongnya tadi.
“Eh! Tunggu dulu... ah sudahlah. Wanita yang aneh.” Seru si pria kemudian bergumam pelan saat Leathina telah lari meninggalkannya.
...***...