
“Adam, Adam? ADAM! Apa yang membuatmu melamun?”
“Ah, aku tidak melamun kok Nona Lea pasti salah hahah.”
“Adam sebaiknya aku harus segera mencari rumah untuk....”
“Brakk”
Belum sempat Leathina menyelesaikan ucapannya tiba-tiba pintu utama dibuka secara paksa kemudian masuk seseorang dengan memapah temannya yang sepertinya sedang terluka.
Darah orang yang dipapah merembes dan mengotori lantai darahnya mengikuti kemana orang tadi memapahnya.
“Dia akan mati jika darahnya tidak segera dihentikan.” Leathina bergumam pelan saat melihat orang-orang yang barusan masuk.
“Tolong! Tolong! temanku dia terluka saat perjalanan pulang.”
Orang yang mendobrak pintu tadi segera memohon agar temannya diselamatkan sambil masih terus menggendong temannya yang terluka.
“Apa ada diantara kalian yang bisa menggunakan sihir penyembuh?”
Orang – orang yang melihat kejadian tersebut juga ikut membantu mencari orang yang dapat menggunakan sihir penyembuh tapi belum juga ada diantara mereka yang mengaku bisa menggunakan sihir penyembuh.
“Azka yang bisa menggunakan sihir penyembuh sedang keluar sekarang.”
“Apa tidak ada lagi yang bisa menggunakan sihir penyembuh?”
“Pengguna sihir penyembuh sangat langkah dan untuk sekarang hanya Azka satu-satunya yang bisa menggunakan sihir penyembuh selebihnya pengguna sihir seperti itu hanya bekerja pada kerajaan.”
“Betul katanya sejauh ini hanya tinggal sedikit pengguna sihir yang tidak terdaftar namanya dalam list kerajaan.”
“Satu-satunya cara sekarang adalah menunggu Azka kembali dari misinya.”
“Dia bisa mati jika menuggu terlalu lama.”
“Tidak ada yang bisa kita lakukan.”
Orang-orang hanya terdiam karena tidak bisa ikut membantu, karena mereka memang benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa melihat temannya yang sedang terluka parah itu.
“Husttt.. Nona Lea apa kamu tidak berniat menolongnya.” Adam yang mengetahui kemampuan Leathina berbisik pada Lea.
“Uum, sekarang aku orang jahat aku tidak berniat menolongnya.”
“Tapi, bukankah kamu bilang dia akan mati jika dia dibiarkan seperti itu.”
“Hais! Kenapa aku harus selalu meras terbebani melihat orang terluka.”
Mendengar perkataan Adam membuat Leathina tidak sampai hati membiarkan orang tadi mati karena pendarahan dengan langkah malas Leathina berjalan ke arah orang yang terluka tadi kemudian menggaruk kepalanya kasar karena ia melakukannya dengan terpaksa sementara Adam yang melihat tingkah Leathina hanya tersenyum sambil mengikutinya dari belakang.
“Hey Letakkan dia di atas meja, Nona ini bisa mengobatinya.” Adam berteriak memberikan instruksi.
“Benarkah gadis ini bisa menyembuhkannya, terimakasih Tuhan.”
Orang yang masih menggendong temannya yang terluka cepat-cepat meletakkan tubuh temannya di atas meja agar Leathina bisa dengan mudah mengobatinya.
“Leathina segera memeriksa tubuh orang yang sedang berbaring tidak sadarkan diri itu, ia menemukan beberapa luka tebasan di sekujur tubuhnya Lea perlahan menutup matanya dan dari telapak tangannya keluar aura hijau menutupi orang yang sedang ia obati kemudian perlahan – lahan lukanya menutup dan beberapa saat kemudian seluruh lukanya telah disembuhkan oleh Leathina.
“Temanmu akan segera sadar tapi mungkin keadaanya akan sangat lemah karena telah kehilangan banyak darah tadi.”
“Terimakasih Nona, sekali lagi terimakasih banyak.”
“Woah, aku belum pernah melihat sihir penyembuh sekuat itu kau lihat tadi auranya sangat terlihat.”
“Iya kau benar, kita sangat beruntung dia ada disini dan menolong kita.”
“Nona sekali lagi saya ucapkan terimakasih karena telah menolong temanku.”
“Iya sama-sama, lain kali hati-hati jangan sampai terluka karena aku tidak akan bisa membantumu setiap saat.”
“Baiklah Nona..?”
“Lea, panggil saja aku Lea.”
“Baiklah Nona Lea, sebagai ucapan terimakasih apa ada yang Nona inginkan?”
“Tidak bisa begitu Nona.”
Leathina hendak berjalan pergi dan kembali ke mejanya semula tapi teman dari orang yang telah ia selamatkan bersikeras ingin membalasnya membuat Leathina berfikir sejenak apa yang ingin ia minta sebagai imbalan karena sudah membantunya tadi.
“Baiklah, baiklah, karena kamu bersikeras aku akan meminta sesuatu darimu.”
“Katakan saja Nona pasti akan aku berikan.”
“Berikan aku satu kantung uang emas.”
“Eh, itu.. itu.. maafkan aku Nona Lea tapi jujur saja aku hanya punya beberapa koin emas saja.” Orang yang bersikeras meminta Leathina mengatakan keinginannya tadi hanya bisa memamerkan senyumannya yang ia paksakan sambil memperlihatkan Leathina beberapa keping uang emas yang ia keluarkan dari kantung uangnya.
“Jadi kau miskin yah. Kalau begitu sebagai gantinya kau atau temanmu itu harus mengantarkan makanan untukku setiap pagi selama seminggu.”
“Eh, hanya itu saja Nona?’ orang tadi tertegun mendengar permintaan Leathina sebagai bayaran.
“Iya, kenapa? Apa kamu masih tidak bisa melakukannya?”
“Tidak.. tidak Nona Lea, bukan seperti itu. Akan aku lakukan dengan baik.”
“Bagus kalau begitu rawatlah temanmu itu dengan baik dan jangan lupakan bayaran ku karena sudah mengobatinya tadi.”
“Baik Nona Lea, aku tidak akan lupa.”
Leathina kemudian kembali kemejanya bersama Adam dan sejak itu orang-orang yang ada di markas tentara bayangan memandangnya dengan pandangan yang berbeda tidak ada lagi yang berani mengganggunya atau berkata kasar padanya mereka semua sangat berterimakasih pada Leathina yang mau membantu mereka mengobati luka yang didapatkan dari menjalankan tugasnya atau karena kejadian yang lainnya.
...
“Lea?”
“Ah iya.. iya adam.”
“Kenapa kau malah berdiri disana sambil melamun cepat kesini dan makan sarapanmu sebelum dingin.”
“Baiklah, aku akan segera kesana.”
Leathina berjalan menuju meja tempat Adam duduk dan di atas meja sudah tersedia dua mangkuk makanan yan sengaja Adam pesangkan untuk Leathina dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.”
“Oh, kamu sudah memesankanku makanan terlebih dahulu. Terimakasih Adam berkatmu aku tidak perlu menuggu lama untuk mengisi perutku.”
“Bukan apa-apa aku hanya lapar tadi jadi sekalian aku pesankan utukmu juga.”
“Tetap saja aku harus berterimakasi padamu.”
“Iya, iya. Tapi Lea, apa yang membuatmu melamun tadi?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya berfikir sebaiknya aku harus segera pindah dari sini.”
“Tapi orang-orag diluar sana masih tetap mencarimu Lea. Kamu akan lebih aman jika tinggal disini.”
“Adam, aku tahu kau hanya ingin menahanku lebih lama disini bukan?” Leathina berbicara sambil menatap Adam serius karena Adam masih terus berusaha membuatnya tinggal ditempat itu.
“Eh, bukan seperti itu kok.” Adam yang melihat Leathina segara mengarahkan pandangannya ke arah lain karena Leathina terus melihatanya dengan tatapan introgasi.
“Kalau kamu tidak mau menemaniku juga tidak apa-apa kok, aku bisa pergi sendiri, sebelum ada kamu juga aku terbiasa kemana-mana sendiri kok jadi jangan berani-berani mencoba untuk menghentikan aku atau menahanku kali ini Adam.”
"Iya, iya, baiklah kalau kamu bersikeras aku akan ikut untuk menemanimu juga, walaupun sebenarnya aku sangat ingin kamu tinggal disini saja.”
“Tenag saja, aku masih mengizinkanmu mengunjungiku jika aku pindah nanti.”
“Benarkah?”
“Iya tentu saja bukankah sekarang kita adalah teman. Teman macam apa yang melarang temannya untuk mengunjunginya.”
“Hahaha teman yah.” Adam tertawa pelan kemudian mengulangi salah satu perkataan Leathina.”
“Iya teman, kau tidak menyukainya jika aku mengatakah hal-hal seperti itu?”
“Baiklah, sepertinya menjadi teman seseorang tidak terdengar buruk.”
...***...