
“Nona.. Nona.. Nona Leathina.” Anne menggoyang – goyangkan tubuh Leathina untuk membangunkannya.
“Umm.” Leathina yang merasakan seseorang mengguncangnya mencoba untuk membuka matanya.
“Ada apa Anne?” Leathina berbicara tanpa membuka matanya, kedua matanya masih merasa berat dia buka akibat ingatan asli Leathina yang tadi dia ingat.
“Kita sudah sampai, silahkan Nona beristirahat di ruangan Nona.”
Leathina kemudian memaksa membuka matanya dan melihat ke arah jendela terlihat mansion kediaman Keluarga Yarnell, Leathina kemudian mengikuti Anne dan beranjak turun dari kereta dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat seperti yang dikatakan Anne.
“Kau sudah pulang kakak Leathina?”
“Nora?”
Saat sampai di kamarnya Leathina melihat sosok anak kecil yang duduk dengan tenang di kursi khusus tamu yang diletakkan di tengah – tengah ruangan milik Leathina.
“Apa yang membawamu ke sini, Nora?” Leathina masih berdiri di depan pintu bingung melihat Nora yang tiba – tiba saja berada di dalam kamar miliknya.
“Aku datang untuk mengunjungimu, kak.” Nora dengan polosnya segera berlari ke arah Leathina dan memeluknya sementara Leathina segera menjaga keseimbangannya karena Nora datang padanya seperti orang yang sedang menabrak sesuatu.
“Kakak tadi orang – orang di mansion heboh karena Anne pulang dan mengabarkan bahwa kakak hilang di kota.”
“Aku tidak hilang, aku hanya tersesat dan tidak tahu harus ke mana.”
“Orang macam apa yang tersesat di kota kelahirannya sendiri!” tiba – tiba terdengar suara laki – laki yang memotong pembicaraan antara Leathina dan Nora.”
Leathina yang mendengar suara tersebut segera menyusuri seluruh ruangan tersebut dengan matanya mencoba mencari tahu dari mana asal suara tersebut datang dan benar saja mata Leathina menangkap sosok laki – laki yang kini tengah menatapnya dingin dari arah jendela kamar.
“Nicholas? Sejak kapan kamu berdiri di sana?”
“Oh kakak Nicholas sudah berdiri di sana sebelum aku sampai tadi, dia juga menunggu kepulangan kakak Leathina.” Nora segera menjawab pertanyaan Leathina karena Nicholas tidak mau menjawab pertanyaan Leathina dan hanya memalingkan mukanya ke arah lain.
“Lain kali kalau mau keluar harusnya kamu memberitahukan kami Leathina, agar seseorang bisa mengawalmu keluar.”
“Memangnya kamu mau mengawal aku? Kalau kamu mau pasti sebentar lagi dunia akan kiamat!” Leathina dengan ketusnya menjawab pertanyaan Nicholas karena tidak mungkin dia bersedia meluangkan waktunya untuk Leathina, kemudian Leathina berjalan ke arah tempat duduk dan segera mendudukkan dirinya di atas kursi di ikuti oleh Nora yang masih mengekorinya.
“Aku mau.”
“APA! Coba ulangi lagi Nicholas apa yang barusan kamu katakan aku tidak mendengarnya dengan jelas.” Leathina terkejut mendengar jawaban tidak terduga dari Nicholas dan berusaha untuk memastikannya sekali lagi.
“Aku bilang aku mau, tapi jangan salah paham aku mau melakukannya agar aku bisa mengawasimu agar tidak mempermalukan nama keluarga.”
“Eih iya.. iya akau tahu kamu tidak akan melakukannya tanpa alasan.”
“Aku.. aku.. aku.. juga mau jadi pengawalnya kakak Leathina.” Nora berteriak dan segera mengacungkan tangannya dan berdiri di depan Leathina menawarkan dirinya sebagai pengawal pribadi Leathina.
“Terimakasih Nora, tapi jika kamu ingin melindungi seseorang seharusnya kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri terlebih dahulu.” Leathina berbicara sambil mengacak – acak rambut Nora dengan lembut.
“Aku sudah bisa melindungi diri sendiri kok.” Nora berbicara membantah perkataan Leathina karena tidak terima di perlakukan seperti anak kecil.
“Iya.. iya.. aku tahu. Kalau begitu kamu setidaknya harus lebih tinggi dariku terlebih dahulu sebelum menjadi pengawalku.”
“Kalau itu.. itu.. Aku masih dalam masa pertumbuhan.” Nora tidak tau lagi harus menjawab perkataan Leathina karena dirinya memang masih kecil dan masih lebih pendek dari Leathina.
“Aku tahu, aku tidak sabar bagaimana kamu besar nanti semoga saja kamu masih seimut ini, seandainya Nicholas juga bisa bersikap seimut kamu Nora, mungkin akan lebih menyenagkan.” Leathina kembali mengusap rambut Nora dan melirik ke arah Nicholas mencoba melihat bagaimana reaksi Nicholas mendengar perkataannya barusan tapi Nicholas hanya diam dan tidak menaggapi perkataan Leathina.
“Apa kamu terluka?” mata Nicholas tidak sengaja melihat sedikit bercak darah di pakaian Leathina dan segera berjalan ke arahnya kemudian memeriksanya secara langsung.
“Ah iya sedikit, tapi aku baik – baik saja aku sudah di obati tadi.”
“Ada apa denganmu Nicholas? Apa kamu sudah gila membentak orang tanpa alasan!”
“Kenapa kamu bisa terluka?” Nicholas tidak memperdulikan ucapan Leathina dan hanya fokus pada bercak darah yang ada di pakaian Leathina.
“Bukan urusanmu, mau aku terluka atau mati sekalipun memang apa urusannya denganmu kamu bahkan pernah hampir membunuhku dengan menusukku dengan pedan..”
“Plak!” Belum sempat Leathina menyelesaikan ucapannya Nicholas tiba – tiba saja melayangkan sebuah tamparan pada wajah Leathina dan membuat Leathina terjatuh ke lantai.
“Kakak Nicholas, kenapa kamu menampar kakak Leathina!”Nora yang melihat kejadian tersebut segera mendorong Nicholas menjauh dari Leathina.
“NONA LEATHINA!” Anne segera berlari ke arah Leathina dan melihat wajahnya yang memerah akibat tamparan Nicholas.
“Apa yang Tuan muda lakukan, apa tuan sudah benar – benar membenci nona, sampai harus menamparnya! Asal tuan tahu keadaan tubuhnya tidak baik sekarang!” Anne yang marah melihat Leathina di sakiti tanpa sadar berteriak ke arah Nicholas.
“Aku.. aku.. Maa .” Nicholas juga sangat terkejut karena tindakannya itu dan tidak tau lagi apa yang bisa dia ucapkan.
“Ada apa ini?” Saat Nicholas berusaha untuk menjelaskan apa yang telah ia lakukan tiba – tiba saja Duke Leonard datang membuat suasana yang ada di ruangan tersebut menjadi hening.
“Ayah! Kakak Nicholas menampar kakak Leathina.” Nora berteriak memberi tahu ayahnya saat melihat ayahnya datang di ambang pintu kamar.
“Nicholas?” Duke Leonar berbicara sambil melihat Leathina yang masih terduduk di lantai sambil memengang pipinya.
“Ayah itu.. aku.. aku.. tidak bermaksud menyakitinya.”
“Datang ke ruanganku sekarang!”
“Baik ayah.”
Duke Leonard kemudian pergi meninggalkan kamar Leathina diikuti oleh Nicholas.
“Nona, apa Nona tidak apa – apa?” Setelah Duke Leaonard dan Nicholas pergi meninggalkan ruangan tersebut Anne segera membantu Leathina berdiri dan membawanya penuju tempat tidur Leathina.
“Wajah kakak merah.” Nora berbicara sambil mengamati wajah Leathina yang di tampar oleh Nicholas.
“Aku tidak apa – apa.”
“aku akan segera menyediakan air panas untuk nona mandi dan menyediakan air dingin agar nona bisa mengompres wajah nona.”
“Iya aku akan membantu Anne.” Nora juga ingin merawat Leathina seperti yang dilakukan Anne.
“Aku baik – baik saja, aku butu istirahat kalian berdua keluarlah dan beristirahat juga.”
“Tapi nona, memar di wajahmu harus segera dikompres agar tidak bengkak.”
“Iya kak Lea, harus segera di obati.”
“Aku mohon, aku sangat lelah sekarang.”
“Baiklah kalau begitu saya pamit dulu kakak Leathina.”
“Saya juga Nona Leathina.”
Mendengar perkataan Leathina akhirnya Anne dan Nora menuruti perkataan Leathina dan segera keluar meninggalkan ruangan tersebut dan meninggalkan Leathina sendiri di kamarnya.
......***......