I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 124



Sudah hampir empat jam Leathina memacu kudanya setelah meninggalkan sarang para bandit dan setiap sejam sekali Leathina berhenti untuk beristirahat, sebentar lagi dia akhirnya akan tiba di kerajaan sesuai dengan rencananya. Namun sebelum itu Leathina menyempatkan diri menuliskan surat dan mengirimkannya pada Adam di markas tentara bayangan salah satu serikat pembunuh bayaran yang cukup tersohor di bidangnya.


“Semoga Adam dan yang lainnya belum melakukan perjalanan ke kerajaan karena undangan yang mereka terima dan bisa segera membaca suratku.” Gumamnya sambil menenggak segelas air yang sebelumnya ia pesan di salah satu kedai makanan yang ia singgahi untuk beristirahat.


“Aku harus segera melanjutkan perjalananku dan memeriksa apakah Emely telah mengirimkan surat laporan untukku.”


Setelah menghabiskan sepotong roti isi daging dan segelas air,  serta kuda miliknya juga telah beristirahat dan diberi makan dan minum oleh si pemilik kedai Leathina kembali melakukan perjalanannya kembali sebelum itu ia memberikan beberapa keping emas sebagai bayaran telah merawat kuda miliknya dan kemudian segera melanjutkan perjalanannya.


Leathina telah melihat gerbang kerajaan dari kejauhan tidak ada yang berubah dan penjagaannya masih sama pada saat ia berangkat. Leathina memacu kudanya lebih cepat setelah agak dekat barulah ia kembali memperlambat jalanannya dan ikut mengantri untuk di periksa sebelum masuk kembali ke kerajaan.


Saat gilirannya tiba Leathina menunjukkan tanda pengenalnya yang menandakan bahwa dirinya salah satu rakyat dari kerajaan Coniferland dan setelah selesai melakukan pemeriksaa nanti barulah Leathina akan melanjutkan perjalanannya kembali.


“Grak”


“Tak”


“Awwpp”


Terdengar suara kereta yang berhenti tepat di belakang Leathina dan melakukan pemeriksaa sebelum masuk ke kerajaan. Suara benturan terdengar cukup kencang berasal dari dalam kotak kayu yang di tarik kereta karena kereta berhenti secara mendadak.


Pada awalnya tidak ada yang aneh dari kereta kuda yang membawa kotak besar di belakangnya itu, suara benturan yang terdengar bisa saja terjadi karena barang yang ada di dalamnya bergerak atau terjatuh tapi yang menarik perhatian Leathina adalah ia sempat mendengar suara teriakan yang kemudian langsung terdiam kembali.


Karena berhasil membuat Leathina penasaran Leathina akhirnya menajamkan indera pendengarannya dan mencoba kembali mendengar suara dari dalam kotak kayu itu.


“Silahkan melanjutkan perjalanan anda Nona!” teriak salah satu prajurit pada Leathina karena menghalangi antrian.


“Astaga.” Pekiknya karena terkejut mendengar suara teriakan tiba-tiba dari prajurit karena terlalu fokus pada kotak kayu yang ada di belakangnya.


Sebelum pergi Leathina menoleh sebentar meminta maaf pada orang-orang yang mengantri di belakangnya karena dirinya menghalangi pemeriksaan ia juga meminta maaf pada kusir yang menarik kereta kuda di belakangnya kesempatan itu ia gunakan untuk melihat wajah orang yang membawa kotak kayu itu.


“Hiap”


Leathina menendang pelan belakang kudanya agar segera berjalan kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.


“Klotak”


“Klotak”


"Tak”


Leathina akhirnya sampai di alun-alun kota dan berniat untuk beristirahat sebentar tapi saat akan memasuki bar di pinggir jalan Leathina melihat kereta kuda yang dilihatnya tadi saat di perbatasan melintas di hadapannya dengan terburu-buru hingga kembali berbunyi saat tidak sengaja menginjak batu dan kotak kayu yang ada dibelakangnya ikut terguncang. Kali ini Leathina tidak mendengar suara manusia dan hanya mendengar suara benturan barang.


“Tunggu itu...”


Saat kotak kayu yang di tarik kuda tadi lewat tepan di hadapannya, Leathina melihat sebuah bola mata hijau yang mengkilat dari cela yang ada di kotak kayu.


“Elves?” Ucap Leathina melanjutkan perkataanya yang terputus.


Leathina membatalkan niatnya beristirahat kemudian segera berlari ke arah tempatnya menyimpan kuda miliknya dan segera melompat menaikinya kemudian mengikuti kereta kuda yang hampir hilang dari pengelihatannya. Ia mengikuti kemana kereta tadi membawa makhluk langkah itu pergi.


“Kenapa ada ras Elf yang di selundupkan bukankah itu ilegal?” Batin Leathina sambil terus mengikuti kereta kuda yang ada di depannya itu.


Membutuhkan waktu sejam lebih untuk kereta yang diikuti oleh Leathina sampai ditujuannya. Kereta kuda itu memasuki pekarangang sebuah pondok yang di sekelilingnya dipenuhi pepohonan rimbun hingga sulit terlihat dan tidak ada rumah di sekiranya pondok yang sepertinya cukup terpencil dan jauh dari kediaman warga sekitar.


Leathina berbelok memasuki hutan dan menyembunyikan kudanya di sana setelah itu mengendap-endap mendekati rumah yang terbuat dari kayu itu.


“Trek”


“Tak”


“Aww”


Suara deritan terdengar saat kotak kayu di angkat dan di pindahkan ke dalam pondok dan di susul dengan suara benturan saat kotak kayu itu di letakan dengan tidak hati-hati dan terdengar kembali suara jeritan seseorang yang sepertinya kesakitan dari dalam kotak kayu itu.


“Manusia bodoh! Kau akan dihukum atas perbuatanmu ini..”                             


“PLAK!”


Terdengar lagi suara seseorang memberontak tapi berakhir dengan suara tamparan dan kemudian hening kembali. Hanya terdengar suara derapan kaki si kusir dan dua orang lainnya yang memindahkan barang-barang yang lainnya.


“Sudah dipindakan semunya?” tanya seseorang pada si kusir.


“Sudah Tuan.”


“Baiklah terimakasih pak kusir.” Jawab laki-laki yang datang menyambutnya tadi dan membantunya memindahkan barang yang datang ke dalam.


“Kali ini pekerjaanmu juga bagus, aku akan mengirimkan bayaranmu ke keluargamu tercinta.” Ucap si pria tadi sambil menyeringan dan mengeluarkan pedangnya.


“Tu - Tuan Apa maksunya i-ini? Ak-aku bisa langsung mengambil bayaranku dan segera pergi Tuan.” Tanya si kusir ketakutan saat laki-laki tadi menarik pedangnya dan terus mendekat ke arahnya si kusir pun terus mundur menjauhinya tapi sayangnya tidak ada tempat lagi baginya untuk menjauh jarena dinding yang menghalanginya.


“Sayangnya barang yang kamu bawa kali ini sangat rahasia dan kamu telah mengetahunya, berbahaya jika orang yang mengetahui bahwa kami menyelundukpan ras elf terus hidup dan berkeliaran.” Ucap si laki-laki sambil menutup mata si kusir dengan tangan kirinya dan tangan kanannya melayangkan tusukan tepat di dada si kusir.


“Srek.”


“Hekk” Pekik si kusir menahan sakit kemudian perlahan-lahan melemah dan lunglai jatuh ke bawah, darah segera mengalir dari lubang yang ada di dadanya.


“Bereskan mayatnya dan bantu aku mengeluarkan makhluk ini.” Ucap salah satu orang yang sedari tadi sibuk dengan barang-barang yang di bawa oleh si kusir.


Mayat si kusir dimasukkan dalam karung kemudian diikat dan diletakkan ke dalam kotak kayu kosong bekas tempat menyimpan barang kiriman.


“Bantu aku mengeluarkanya.”


“Kau memukulnya terlalu keras hingga membuatnya pingsan.” Jawab laki-laki yang tadi setelah membereskan mayat si kusir.


“Kau jangan berakting memiliki belas kasih padahal taganmu sendiri masih dipenuhi darah setelah membunuh.” Balasnya dengan mendengus.


Mereka berdua mengankat tubuh seseorang keluar dari dalam kotak dan merantai kedua kaki dan tangannya dan di ikatkan di tiang agar tidak bisa lepas.


“Wah, kebetulan sekali.” Gumam Leathina saat melihat dua orang tadi mengeluarka seseorang dari dalam kotak kayu yang sebelumya tutup kotak nya telah di buka.


Leathina melihat kedua orang tadi mengeluarkan semua isi dari kotak-kotak yang di bawa si kusir tadi selain ras elf ada juga beberapa makhluk langka lainnya yang ternyata di selundupkan serta beberapa orang yang sepertinya akan di jadikan budak.


“Pegang mereka aku akan memberi tanda kepemilikan.” Ucap laki-laki yang kini berdiri di depan perapian sabil memegan besi yang ujungnya berbentuk silang dan kini terlihat kemerahan karena sedikit memui akibat panas api.


“ARGHHH!” Pekik orang-orang saat besi panas berbentuk menyilang menyentuh kulit mereka hingga meninggalkan belas luka bakar. Mereka semua di beri tanda pada bagian perut agar tidak kelihatan.


“Pegangi dia.” Ucap pria yang tadi membawa besi panas sambil menunjuk ras elf yang masih tidak sadarkan diri.


Elf tadi merasakan diriya di sentuh oleh seseorang kemudian perlahan-lahan membuka matanya dan melihat seorang pria yang sedang memegang nya kuat-kuat hingga tidak bisa bergerak dan seorang lagi berdiri di depannya dengan membawa besi yang ujungnya telah di panasi dengan api hingga terlihat kemerahan.


“Lepaskan, jangan menyentuku! Manusia kotor!” Pekiknya dan mencoba memberontak pada dua pria yang mengekangnya.


“Aww! Sialan, dia, elf bodoh ini menggigitku.”


“Pengang dia kuat-kuat aku akan menandainya.”


“Tapi dia tersu memberontak, aku akan membuatnya pingsan lagi.”


“Jangan, biarkan dia merasakan sakitanya terkena besi panas. Pegang dia kuat-kuat.”


“ARGGHHH!” Teriakan elf yang perutnya diberi tanda silang dengan besi panas memenuhi seluruh ruangan hingga akhirnya kembali tidak sadarkan diri karena tidak tahan dengan rasa panas dan sakit yang dirasakan di perutnya.


“Sudah selesai, ini yang terakhir.”


“Ayo kembali, Master memerintahkan agar menyimpan semua barang-barang ini setelah urusannya selesai.”


“Baiklah, ayo pergi.”


“Brak”


“Clek”


Setelah suara deritan pintu dan bunyi pintu dikunci suasana di dalam ruangan kembali hening hanya rintihan kesakitan yang sesekali terdengar menahan rasa sakit dan perih akibat tanda yang diberikan oleh dua orang tadi.


“Tidak ada cela dan semua jendela terkunci.” Gumam Leathina yang sedari tadi melihat cela dan meraba-raba jendela tapi tidak ada yang bisa ia lewati untuk masuk ke dalam.


“Ah, terserah.” Gumamnya lagi sambil mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan mencongkel jendela yang berada di paling belakang agar tidak di curigai bahwa seseorang telah membukanya.


“Clak”


“Trek”


Setelah berhasil mencongkel jendela terdengar suara deritan saat Leathina membukanya, sepertinya karena jendela yang ia pilih telah cukup lama tidak dibuka hingga menimbulkan suara deritan saat dibuka.


“Hap”


Leathina melompat masuk dan pelan-pelan mengelilingi semua barang untuk mengamatinya dan melihat orang-orang yang tadi di beri tanda.


Mata Leathina tertarik mengamati ras elf yang masih tidak sadarkan diri ia kemudian berjongkok di depannya dan membuka pakaiannya untuk melihat perutnya yang terluka.


Bau daging hangus menyeruak dan tercium oleh Leathina dan karena tidak tahan Leathina cepat-cepat menutupnya kembali.


“Perempuan itu! Sepertinya ini juga ulahnya.” Gumam Leathina kemudian memeriksa bagian tubuh ras elf karena penasaran.


“Ini pertama kalinya bagiku melihat bangsa peri secara langsung sayangnya yang aku lihat tidak seelegan yang di film-film, yang ini agak sedikit menyedihkan.”


Leathina memegang rambut panjang ras elf yang masih tidak sadarkan diri, rambutnya berwarna hijau dan sedikit mengeluarkan cahaya setelah pusa Leathina kemudian kembali menyentuh telinganya yang berbentuk lancip berbeda denga telingan manusia biasa.


Merasakan seseorang menyentuh tubuhnya elf tersebut mengerjapkan matanya dan perlahan-lahan membukanya dilihatnya seorang perempuan muda tengah berjongkok di depannya.


“Tapi tetap cantik.” Gumam Leathina lagi setelah melihat wajah elf dari dekat serta matanya yang berwarna hijau yang juga mengeluarkan sedikit cahaya.


“Si-siapa kau!” Tanya elf terbata-bata sambil berusaha menahan rasa pedih di perutnya.


“Oh, Hai!” Sapa Leathina ramah sambil membuka tudung kepalanya dan tersenyum agar tidak menakutinya.


“Plak”


“Si-singkiran tangan kotormu dari tubuhku! Atau kau akan aku bunuh!” ia menepis tangan Leathina yang masih menyentuh telinganya yang lancip kemudian mengancamnya dan menjauhi Leathina.


“Oh Astaga jadi betul bangsa elf itu temperamen.” Gumam Leathina sambil memegang dagunya dan berfikir dengan keras.


“Baiklah, tenangkan dirimu dulu aku akan melihat yang lainnya.” Ucap Leathina meninggalkan Elf dan berjalan ke orang-orag yang juga sedang merintih menahan rasa sakit di perutnya.


“Tenang, tenang, aku hanya akan melihat lukamu.” Leathina mendekati orang-orang yang terluka secara pelan-pelan dan tidak memaksa untuk membangun kepercayaan terlebih dahulu karena mereka masih terlihat sangat ketakutan dan setelah mereka mau disentuh oleh Leathina barulah Leathina mencoba mengobatinya.


“Nah sudah selesai.” Ucap Leathina setelah mengobati mereka.


“Te-terimakasih Nona.” Mereka berterimakasih tapi terlihat masih ketakutan.


“Maafkan aku karena aku tidak menyembuhkan kalian sepenuhnya, aku membutuhkan tanda silang yang ada di tubuh kalian sebagai bukti.” Leathina tidak menyembuhkan mereka sepenuhnya tanda silang bekas stempel dari besi panas masih terlihat kemerahan tapi rasa sakitnya sudah tidak sesakit tadi.


“Apa Nona akan membebaskan kami?” Tanya mereka lagi dengan penuh harapan.


“Tentu saja aku akan membebaskan kalian, aku bahkan akan membalaskan dendam kalian pada orang yang telah berbuat hal seperti ini pada kalian semua.” Jawab Leathina menyeringai dan kemudian berakhir dengan terseyum sedih.


“Untuk sekarang jika orang-orang jahat tadi datang lagi untuk mengecek keadaan kalian berpura-puralah untuk kesakitan dan jangan membiarkan mereka melihat luka kalian jika tidak ingin dicurigai dan rencanaku akan gagal.”


“Baik Nona.”


“Oh, astaga aku hampir lupa.” Leathina menepuk jidatnya melepukan elf yang tadi belum ia sembuhkan. “Hey, kenapa kau jadi pendiam?” Tanya Leathina pada Elf yang kini hanya diam dan menutup matanya saja.


“Oh, badanmu panas. Ini pasti karena luka yang ada di pertumu.” Leathina menyentuh jidat si elf dan merasakan panas.


Cepat-cepat Leathina mengobatinya sampai demamnya surut dan lukanya membaik tapi tidak ia sembuhkan sepenuhnya.


Kini Elf yang ada di depan Leathina berangsur-angsur membaik dan telah membuka matanya kembali.


“Jadi Nona Elf bukankah kamu memiliki kekuatan kenapa tidak kau gunakan untuk melawan? Kau malah berakhir di tangan orang-orag lemah tadi." Tanya Leathina saat elf sudah bisa duduk dengan sendirinya.


“Mereka menipuku, dan aku tidak bisa menggunakan kekuatanku karena rantai ini. Rantai ini dibuat khusus agar mengekang kekuatan para elf.” Jawab elf yang sudah sedikit tenang.


“Jadi seperti itu ya, maafkan kekeliruanku Nona elf.”


“Makanya jangan membuat kesimpulan sebelum mengetahui kebenarannya.” Jawab elf sarkas.


“Oh ya Nona elf...


“BERHENTI MEMANGGILKU NONA! AKU BUKAN NONA, AKU LAKI-LAKI!” Bentak elf pada Leathina karena merasa kesal terus dipanggil Nona.


“Maafkan aku, aku pasti salah karena wajahmu sangat cantik.” Leathina meminta maaf dengan berusha menahan tawanya agar tidak meledak karena salah mengenali jenis kelaminnya.


“Jadi tuan elf aku ak...”


“AELFRIC!” Bentaknya lagi membuat Leathina trauma untuk berbicara.


“Astaga dia sungguh pemarah.” Batin Leathina dan berakhir dengan menutup mulutnya sendiri.


“Maaf?” Tanya Leathina setelah lama terdiam.


“Aelfric! Namaku Aelfric, bukan elf dan Nona Elf atau tuan elf. Ingat namaku baik-baik A.E.L.F.R.I.C. artinya sang penguasa peri kau harus merasa terhormat mengetahui namaku.”


“Ba-baiklah A-e-lfri-c.” Ucap Leathina terbata-bata tidak percaya mendengar Aelfric memperkenalkan dirinya sendiri dengan narsis di depannya.


“Kalau begitu aku akan kembali sekarang jaga diri kalian baik-baik, aku akn menepati janjiku maka untuk sekarang berjuanglah untuk diri kalian sendiri.” Leathina segera berdiri dan berniat ingin segera kembali.


“Tunggu dulu!” Teriak Aelfric mencegat Leathina.


“Ada apa?”


“Bisakah kau membawaku bersamamu?” Tanya Aelfric dengan memelas pada Leathina.


“Maafkan aku Aelfric, untuk sekarang aku tidak bisa membawamu tapi aku akan menepati janjiku. Kalian tunggulah aku akan mengirimkan seseorang untuk menyelamatkan kalian. Ucap Leathina sambil menyentuh kedua pipi Aelfric untuk meminta kepercayaan dan memberitahu agar bersabar lebih lama lagi.


“Eh! Kenapa wajahmu memerah? Apa kau demam lagi.” Tanya Leathina tiba-tiba saat menyadari kedua pipi Aelfric bersemu merah.


“Aku, aku baik-baik saja. Lepaskan tangan kotormu dari wajahku manusia!” Teriaknya lagi sambil menjauhi Leathina.


“Baiklah kalau begitu aku akan benar-benar pergi sampai jumpa dan semoga kalian baik-baik saja saat kita bertemu lagi.” Ucap Leathina sambil berjalan pergi dan setengah badannya telah keluar dari jendela.


“Tunggu! Tunggu dulu!” Panggil Aelfric lagi menghentikan Leathina.


“Ada apa lagi Aelfric?” Tanya Leathina kesal karena terus di hentikan oleh Aelfric sedangkan dirinya harus segera kembali sebelum dua orang tadi menyadari keberadaanya.


“Si-siapa namau? Maksudku beritahukan padaku siapa namamu? Ini perintah!” Tanya Aelfric.


“Astaga lihatlah cara bicaranya itu, seperti seorang pengusa saja. Tidak mengetahui tempat dan keadaan untuk memerintah. Batin Leathina dan menggelengkan kepalanya beberapa kali kemudian tersenyum karena Aelfric terdengar konyol.


“Aku Leathina.” Jawab Leathina singkat. “Leathina Yarnell.” Ucap Leathina lagi memberitahu Aelfric nama lengkapnya kemudian mengenakan tudung kepalanya dan segera keluar serta menutup kembali jendela yang tadi di bukanya rapat-rapat.


Leathina mengamati sekitarnya terlebih dahulu sebelum bergerak kemudian segera berjalan menuju tempatnya menyimpan kuda miliknya.


Dari kejauhan dilihatnya kudanya masih berada di tempat yang sama dengan terburu-buru Leathina berjalan ke arahnya melompat naik kemudian memacunya meninggalkan pondok berisi barang selundupan.


 “Hiap” Leathina memacu kudanya lebih cepat lagi.


Saat telah berada di wilayah yang telah terlihat banyak perumahan Leathina berpapasan dengan dua penjahat tadi yang kini berjalan kembali ke pondok. Leathina memacu kudanya agar dua orang tadi tidak melihat wajahnya.


“Baru kali ini aku melihat petualang melewati daerah ini.” Gumam laki-laki yang berjalan kembali ke pondok.


“Biarkan saja, lagi pula wajarkan jika seseorang melewati jalanan ini. Inikan satu-satunya jalan menuju ke kota.” Jawab rekannya yang mendengar ucapan temannya.


Mereka berdua kemudian kembali meneruskan perjalanannya kembali ke pondok tanpa memikirkan petualang yang berpapasan dengan mereka tadi.


...***...