I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 202



“Kau sudah siap, Nicholas?” tanya Winter.


Nicolas mengangguk mengiyakan, “Iya aku sudah siap, mari berangkat sekarang.” Ucapnya kemudian keluar dari kamarnya melewati jendela.


Duke sudah mengatur semua penjaga mansion untuk beristirahat di waktu-waktu mereka akan berangkat dan diwaktu mereka akan kembali nantinya, agar tidak ada penjaga yang melihatnya pergi Duke Leonard yakin bahwa di kediamannya itu pasti ada beberapa penyusup yang sengaja masuk ke kediamannya untuk mengamati segala aktivitas mereka itulah mengapa Duke tidak mau ada penjaga atau pelayan yang melihat Winter dan Nicholas pergi bersama.


Mereka berdua diam-diam keluar dari Mansion kemudian disambut oleh dua orang lainnya yang membawakan mereka kereta kuda setelah berhasil keluar dari mansion.


Di kerajaan ada satu tempat yang bisa dikunjungi jika ingin meminta bantuan para tentara bayangan, yaitu restoran kecil yang ada di sudut kota.


Dari luar restoran tersebut tampak seperti tempat makan biasannya tapi sebenarnya restoran itu adalah salah satu tempat dari sekian banyak tempat yang biasa digunakan orang-orang bertransaksi untuk melakukan pekerjaan kotor dan berbahaya.


“Tring!”


Suara deringan bel yang tergantung di pintu berbunyi dengan nyaring saat Winter membukanya, dilihatnya aktivitas disana sama seperti tempat makan pada umumnya ada beberapa orang yang sedang menikmati makanan yang mereka pesan dan juga asik berbincang dengan lawan bicaranya mungkin tidak akan ada yang percaya bahwa tempat tersebut di penuhi oleh orang-orang yang pandai membunuh  jika melihat suasana tentram itu.


“Ayo.” Ajak Winter pada Nicholas yang secara tidak sadar langsung mengamati tempat yang di kunjungi nya itu memperhatikan setiap sudutnya untuk mencari-cari sesuatu yang aneh dan dapat mengancam nyawa orang namun sayangnya ia tidak  menemukan apapun.


“Selamat datang tuan!” sambut si pelayan ramah.


Winter hanya tersenyum membalas sapaannya itu.


“Silahkan lihat menunya dan beri tahu kami jika ada yang ingin anda pesan.” Ucapnya lagi kemudian memberikan sebuah buku menu pada halaman awal terlihat buku menu itu tampak seperti buku menu pada umumnya berisikan daftar makanan dan minuman yang ingin di pesan namun pada lembaran terakhir berisi daftar warna yang disusun rapi jika dilihat daftar warna yang ada di lembaran terakhir itu mungkin hanya sebua dekorasi yang membuat buku menu nya jadi tampak menarik.


“Saya ingin pesan yang ini saja.” Ucap Winter kemudian menunjuk warna  biru yang ada di daftar menu halaman belakang.


“Ah! Seorang pelanggan.” Ucap si pelayan sengaja ia besarkan, “Silahkan masuk ke sana,” ucapnya lagi kemudian menunjukkan sebuah pintu kayu yang ada di samping meja kasir.


Beberapa organisasi gelap seperti tentara bayangan memiliki caranya sendiri untuk membuat transaksi begitu juga dengan tentara bayangan mereka memiliki cara lain, daftar warna yang ada di dalam daftar menu makanan itu memiliki maknanya masing-masing merah berarti permintaan untuk membunuh, hitam berarti permintaan untuk menculik seseorang, biru yang di pilih Winter bermakna permintaan untuk mencari seseorang, abu-abu untuk membeli informasi dan putih, warna putih lebih banyak di minati yakni untuk memberikan jasa bantu misalnya pengawalan, mengirimkan pesan, menjaga, atau bahkan membantu menyelesaikan pekerjaan orang lain yang bersedia dibayar untuk dibantu.


Winter dan Nicholas mengangguk kemudian melakukan apa yang di minta oleh si pelayan tadi kemudian langsung memasuki pintu yang ditunjuk tadi, setelah melewati pintu tadi keduanya menemukan bagian lain dari restoran tersebut di dalamnya hanya ruangan kosong tidak ada apa-apa di dalam selain sebuah lubang kecil berbentuk kotak yang menyambungkan ke ruangan lainnnya.


“Apa yang ada inginkan tuan?” dari lubang berbentuk kotak yang dilihat Winter dan Nicholas tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan, wajahnya tidak dapat dilihat hanya matanya yang sesekali mengintip keluar melalu kotak kecil tadi menunggu Winter dan Nicholas menjawab pertanyaannya.


“Kami ingin bertemu dengan pimpinan kalian.” Ucap Winter.


“Ah! Maafkan kami tuan, pimpinan kami tidak pernah bertemu dengan klien.”


“Tidak bisakah membuat pengecualian?” ucap Nicholas kemudian menunjukkan tanda pengenal dari keluarga Yarnell.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Ucapannya kemudian terdengar suara langkah kaki berjalan kemudian menghilang setelah perempuan tadi membuka pintu.


Beberapa saat kemudian perempuan tadi datang kembali bersama seorang pria bertubuh tegap.


“Silahkan masuk ke pintu yang ada di sana.” Ucap perempuan tadi menunjukkan sebuah pintu yang ada di samping lubang.


Nicholas dan Winter kembali menurut memasuki pintu yang ditunjukkan perempuan itu kemudian mereka berdua kembali memasuki ruangan lainnya.


Di dalam ruangan yang dimasukin nya itu sudah ada pria dengan tubuh tegap dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topengnya yang sengaja pria itu gunakan untuk menutupi wajahnya.


“Jadi ini pimpinan tentara bayangan yang terkenal sadis ini, tapi rasanya hawa keberadaanya sangat familiar.” Batin Winter kemudian memperhatikan pria bertopeng yang ada di hadapannya itu.


“Tersambung ke ruangan lain ya, berapa banyak ruangan rahasia yang mereka miliki, tidak mudah keluar dari sini jika terjadi perselisihan dengan mereka, dan kami dapat dengan mudah terbunuh jika itu memang terjadi karena sudah pasti banyak penjaga yang mungkin berpura-pura jadi pelayan disini.” Batin Nicholas ketika melihat pintu lagi yang ada di dalam ruangan yang dimasuki nya itu.


“Jadi tuan-tuan, untuk apa orang-orang dari keluarga terhormat yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran mencari ku yang melakukan pekerjaan kotor ini?” ucap si pria bertopeng membuka pembicaraan.


“Kami ingin mencari seseorang.” Ucap Nicholas memberitahu.


“Hanya itu?”


“iya.” Jawab Nichola lagi.


“Kalian terlalu menyepelekan ku, memanggilku hanya untuk mencari seseorang.” Ucapnya lagi.


“Tidak seperti itu tuan, orang yang kami cari bukan lah sebarang orang.” Ucap Winter menenangkan.


“Baiklah katakan!”


“Kami ingin anda mencari Leathina Yarnell putri Duke Leonard sekaligus pahlawan kerajaan.”


“Bukankah kalian juga masih tetap mencarinya Samapi sekarang? lagi pula mungkin dia sudah mati kami tidak ingin menerima permintaan yang hasilnya sudah dapat diketahui dengan jelas.” Ucapannya dingin.


Nicholas yang mendengarnya mengatakan dengan dingin bahwa Leathina telah mati tersinggung namun cepat-cepat menenangkan dirinya, Nicholas sadar bahwa membuat masalah dengan pria berbahaya yang ada di hadapannya itu bukanlah keputusan yang bagus.


“Tidak, dia belum mati!” Ucap Nicholas yakin.


“Baiklah jika kalian bersikeras, katakan apa yang memuat kalian yakin bahwa orang yang kalian cari itu masih hidup.”


“Akan kami katakan tapi dengan syarat kau karus menerima permintaan ini dan merahasiakannya setelah mendengarkannya, kami tidak ingin membagi rahasia secara percuma jika pada akhirnya kalian tidak menerima permintaan kami. Karena informasi yang akan kami berikan sangat mahal harganya dan dapat kalian gunakan untuk dijual pada orang lain agar mendapatkan keuntungan, aku yakin pasti banyak orang yang telah datang ke tempat ini hanya untuk membeli informasi tentang Leathina Yarnell bukan?” Ucap Winter tegas.


“Kalian cukup pintar.” Gumam si pria bertopeng hitam.


“Baiklah aku setuju.” Ucapnya setelah berfikir sejenak, “Ambilkan kontraknya.” Sambungnya lagi kemudian si wanita yang tadi di temui Nicholas dan Winter segera mengambilkan selembar kertas bertuliskan kontrak persetujuan antara organisasi dan klien.


Kedua belah pihak kemudian melukai cari mereka dan menempelkan di kertas kontrak tadi setelah itu permintaan si klien telah resmi di terima dan akan dilaksanakan oleh organisasi.


“Sekarang katakan.” Ucap si pria bertopeng kemudian memberikan kontrak tadi pada temannya dan selembar lagi intuk di berikan pada Nicholas dan Winter.


“Putri Duke mengirimkan surat siang tadi.” Ucap Winter memberitahu alasan mereka yakin jika Leathina masih hidup.


“Apa!” sekilas wajah di balik topeng si pria bertopeng tampak terkejut dilihat dari matanya yang dapat menggambarkan ekpresinya itu.


“Maksudku itu tidak mungkin semua orang tahu bahwa naga yang membawanya itu sudah pasti memangsanya.” Ucapannya lagi kembali tenang.


“Tidak, semua kabar itu tidak benar.”


“Jadi jika putri duke telah mengirimkan surat kenapa tidak langsung kembali, dan kenapa kalian harus meminta bantuan kami sementara kalian bisa langsung menanyakan dimana keberadaannya dan menjemputnya.”


“Benar apa yang anda katakan tuan tapi masalahnya putri duke tidak ingin kembali dan anda pasti tahu bagaimana putri duke sekarang sangat dicari-cari, itulah kenapa duke khawatir dan terpaksa meminta bantuan organisasi anda agar tidak dicurigai orang-orang duke memerlukan orang yang mencarinya secara diam-diam.”


“Alasannya dia tidak ingin kembali?”


“Kami tidak tahu hanya itu yang dituliskannya dalam surat yang ia kirimkan.” Jawab Winter.


“Bisakah kalian menunjukkan suratnya?”


Mendengar permintaan pemimpin organisasi pembunuh itu membuat Nicholas dan Winter merasa was-was tatapan mereka berdua secara otomatis memberikan tatapan curiga.


“Jangan salah paham tuan-tuan tapi ini harus kami lakukan sebagai salah satu petunjuk mencari orang yang kalian cari, saya yakin kalian pasti tidak mempunyai petunjuk lain selain surat itu.”


Winter menghela nafas panjang kemudian dengan ragu-ragu mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya, sebenarnya Winter sudah tahu bahwa jika meminta bantuan dari organisasi mereka maka mereka berdua mau tidak mau harus berbagi informasi Duke pun sudah mengetahui dari awal bahwa mereka harus menunjukkan surat yang dikirimkan Leathina.


“Baiklah, surat ini akan kami simpan untuk sementara waktu.”


‘Kenapa seperti itu?” tanya Nicholas tidak setuju.


“Jadi mau bagaimana?” Ucap si pria bertopeng yang kembali bertanya. “Tentu kami harus memeriksa surat ini dengan teliti, mencari tahu dari mana surat ini berasal dan siapa yang mengirimkannya untuk mencari petunjuk keberadaan putri duke.”


“Untuk sekarang kalian berdua kembalilah, kami akan mengirimkan kabar jika menemukan informasi baru.”


Nicholas dan Winter mengangguk kemudian segera kembali ke kediaman duke Leonard, kembali diam-diam melewati jalan jarang di lewati orang-orang agar tidak mengundang rasa curiga.


...


Beberapa hari setelah permintaan mereka diterima sebuah surat dari organisasi tentara bayangan datang ke kediaman duke Leonard.


“Ada apa duke?” tanya Winter penasaran penasaran ketika melihat ekspresi duke Leonard setelah selesai membaca surat yang dikirimkan dari organisasi tentara bayangan.


“Mereka berhasil menemukan orang yang mengantarkan surat Leathina.” Jawab duke Leonard.


“Bukankah itu kabar bagus, mereka sungguh sangat cepat dalam mencari informasi jadi dari mana mereka mendapatkan surat itu?”


“Mereka tidak memberitahu karena belum yakin dari mana surat itu berasal, mereka akan pergi ke sana tempat surat ini berasal dan sepertinya sangat jauh butuh waktu lama jadi mereka menawarkan apakah ingin mengutus seseorang dari kami untuk ikut dengan mereka.”


“Kalau begitu biar saya saja yan ....”


“Tok ... tok ... tok!”


Belum sempat Winter menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba pintu ruangan di ketuk.


‘Bukankah sudah aku katakan jangan menganggu selagi aku berdiskusi dengan Winter.” Balas duke yang merasa terganggu.


“Ma-maafkan saya tuan, ada tamu yang datang berkunjung.”


“Suruh dia menunggu sebentar lagi kami selesai.” Teriak Winter memberitahu pelayan.


“Maafkan saya tuan sepertinya tidak bisa,”


“Kenapa? Memangnya siapa yang datang?”


“Orang dari Istana tuan.”


“Siapa?”


“Pangeran kedua datang ingin bertemu secara langsung dengan anda tuan duke.”


Duke menghela nafas kemudian mengusap wajahnya kasar, “Kenapa harus sekarang.” Gumamnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.


“Baiklah antar pangeran kedua kemari.” Ucapannya lagi.


“Selamat datang pangeran.” Sambut Duke Leonard ketika melihat Pangeran Edward datang ke ruangannya.


“Lamat tidak bertemu Duke Leonard, Winter.” Sapa Pangeran Edward ramah.


“Untuk apa anda kemari?” tanya Duke Leonard.


“Ah! Aku datang untuk melaporkan perkembangan pencarian Leathina yang aku lakukan, bukankah sudah aku katakan aku akan membantu untuk mencari Leathina.”


“Terimakasih atas bantuan anda pangeran, jadi apa ada perkembangan?” tanya Duke.


“Sayangnya saya masih belum mendapatkan informasi  yang berarti, tapi salah satu orangku mengatakan bahwa pernah berpapasan dengan seseorang dan tidak sengaja mendengar percakapan bahwa orang itu mengantarkan surat ke kediaman duke dan pengirimnya adalah Leathina, bukankah itu rumor palsu jika memang Leathina yang mengirimkan surat kenapa dia tidak langsung kembali.” Ucap Pangeran Edward serius kemudian di akhiri candaan pada akhir kalimatnya.


“Hufft...” duke menghela nafas berat. “Sebenarnya memang ada surat yang...”


“Duke?!” cegat Winter tidak ingin Duke membagikan informasi tentang Leathina.


“Ada apa?” tanya Pangeran Edward penasaran melihat reaksi keduanya yang terlihat sangat serius menghadapi candaannya tentang surat.


“Tidak apa-apa Winter.” Ucap Duke Leonard menenangkan Winter.


“Tapi paman.” Winter kembali menolak agar Duke tidak memberitahu Pangeran Edward.


“Tidak masalah bukankah pangeran Edward salah satu orang yang membantu kita ketika Leathina kritis, jadi akan lebih baik untuk memberitahunya juga.” Ucap Duke.


Mendengar ucapan Duke Leonard membuat Winter tidak bisa berbuat apa-apa kemudian menuruti Duke dan akhirnya memberitahukan semuanya pada Pangeran Edward.


“Jadi organisasi tentara bayangan ingin kalian mengutus seseorang ikut dengan mereka untuk melakukan pencarian.” Ucap Pangeran Edward yang langsung paham duduk permasalahan yang sedang terjadi.


Duke mengangguk mengiyakan sementara Winter hanya menatapnya dengan serius.


“Duke, saya bersedia ikut dengan mereka.” Ucap Winter yakin.


“Tidak, saya rasa Winter tidak bisa pergi.” Tolak Pangeran Edward tidak setuju.


“Kenapa?!” tanya Winter.


“Karena jika kau tiba-tiba pergi dari kerajaan walaupun dengan alasan memiliki pekerjaan orang-orang akan tetap curiga bahwa kalian telah menemukan Leathina, karena selama ini pekerjaan yang selalu Duke berikan padamu adalah mencari keberadaan Leathina dan orang-orang di seluruh kerajaan sudah pasti tahu.” Pangeran Edward menjelaskan alasan kenapa Winter tidak bisa pergi.


“Betul apa yang di katakan Pangeran Edward, kau tidak bisa pergi Winter.” Ucap Duke membenarkan.


“Jadi siapa yang akan pergi?” tanya Winter.


“Aku akan mengusul Nicholas walaupun bukan keputusan yang bagus.”


“Ah! Duke sebaiknya jangan Nicholas itu bukan pilihan yang bagus. Nicholas masih terlalu muda untuk di utus ikut bersama orang-orang licik dari organisasi tentara bayangan.”


“Aku tahu, tapi tidak ada pilihan lain.”


“Kalau begitu saya ayang akan pergi.” Pangeran Edward mengusulkan dirinya sendiri menawarkan diri untuk ikut membantu.”


“Hah!”


Duke Leonard dan Winter sedikit terkejut mendengar ucapan pangeran Edward yang menawarkan dirinya sendiri untuk ikut membantu.


“Tapi anda adalah seorang pangeran, itu tidak mungkin.” Tolak Winter.


“Betul, anda punya kewajiban di istana yang harus anda lakukan. Anda sebaiknya tetap berada di kerajaan jika tidak ingin kesempatan mejadi penerus raja menghilang.”


“Tidak masalah saudara dan ibu tiri ku dapat mengurus kerajaan dengan baik mungkin akan lebih baik jika aku tidak ada,”


“Tapi Pangeran ...”


“Tida apa-apa, jika aku yang pergi maka tidak akan ada yang curiga walaupun  orang- orang tahu aku dekat dengan Leathina tapi tidak sampai mengorbankan diri untuk pergi mencarinya, dan orang-orang sudah terbiasa jika aku tiba-tiba menghilang karena aku sering menjadi utusan kerajaan jika ada keperluan di luar kerajaan.”


“Jika pangeran Edward memaksa, maka aku tidak akan menolak. Ini adalah jadwal keberangkatan mereka dan dimana kalian akan bertemu.” Ucap Duke Leonard kemudian memberikan sebuah kertas kecil pada Duke Leonard.


‘Ah! Ini sungguh mendadak.” Ucap Pangeran Edward setelah membaca tulisan yang ada di kertas. “Kalau begitu aku akan kembali ke istana dan mempersiapkan keberangkatan ku.” Pangeran Edward langsung pamit untuk segera kembali.


“Terimakasih Pangeran Edward dan hati-hati dalam perjalanan anda tolong kirimkan kabar tentang apapun yang anda dapatkan.” Ucap Duke Leonard sebelum Pangeran Edward kembali.


...***...