I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 79



Semua orang kini hanya bisa diam dan seolah – olah terpaku ke tanah tidak ada yang berani berbicara.


Sementara Andy segera mengobati luka Leathina dan menghentikan pendarahannya, terlihat keringat dingin bercucuran di wajahnya karena terlalu banyak menggunakan energinya by sihir miliknya untuk menyembuhkan Leathina.


Pendarahan yang dialami oleh leathina sudah terhenti, luka – lukanya juga telah tertutup dengan sempurna sayangnya Leathina masih belum terbangun bahkan Andy juga telah menyalurkan beberapa energi tambahan untuk Leathina tapi hasilnya sama saja Leathina belum membuka matanya.


“Apa yang terjadi padanya? Kenapa belum membuka matanya?” Dengan langkah gontai Duke Leonard mulai melangkah perlahan ke arah Leathina yang masih tidak sadarkan diri.


“Maafkan aku Tuan Duke Leonard tapi sepertinya sebelum Nona Leathina pingsan dia telah banyak menggunakan energi di tambah lagi dia banyak kehilangan darah.”


“Tidak, buat dia bangun sekarang! Aku harus meminta maaf padanya.”


“Maafkan aku Tuan, saya telah berusaha yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu sampai Nona Leathina terbangun.”


Duke Leonard menahan amarahnya hingga membuat wajahnya memerah, kemudian berbalik melihat seorang gadis yang perlahan – lahan menyelinap pergi.


“Tangakap, pelapor yang tadi melaporkan kebohongan!”


Duke Leonard memberikan perintah kemudian beberapa penjaga mengejar Janneth yang berusaha melarikan diri.


“Tuan Duke! Tuan duke! Aku mohon ampuni aku, aku telah salah. Aku juga tidak tahu kalau ternyata Nona Leathina hanya menolong tuan muda Nora.” Janneth memohon pengampunan kepada Duke Leonard tapi Duke hanya diam saja tanpa mempedulikan perkataan Janneth.


“Tahan dia, sampai aku memutuskan hukuman padanya.”


“Tidak, tidak, aku mohon. Jangan penjarakan aku. Ini, ini, hanya salah paham saja. Aku mohon. AMPUNI AKU!”


Duke leonard memberikan perintah dan para penjaga membawa Janneth secara paksa ke ruang tahanan. Janneth akan dihukum jika duke telah memutuskan hukuman untuknya.


“Kakak, kakak Leathina bangunlah”. Nora menggoyangkan pelan tubuh Leathina untuk membangunkannya kemudian mencoba mengangkat tangan Leathina tapi tangan Leathina dengan cepat jatuh kembali.


“Ibu bagaimana ini?” Dengan mata berkaca – kaca Nora bertanya pada ibunya kemudian kembali berusaha membangunkan Leathina.


“Sebaiknya kita harus memindahkannya terlebih dahulu.”


Andy yang meliat keadaan Leathina sangat buruk segera meminta untuk memindahkan Leathina ke tempat yang lebih baik.


“Biar aku saja.” Saat seorang petugas kesehatan akan mengangkat Leathina dengan cepat Nicholas menghalangi dan mengambil alih tugasnya ia dengan hati – hati menggendong Leathina dan membawanya kembali ke kediaman keluarga Yarnell.


Nicholas juga yang membawa Leathina ke kamarnya dan dengan hai – hati membaringkannya di atas tempat tidur.


Duchess Nice, Nora, Winter dan Andy juga ikut masuk ke dalam kamar Letahina.


“Maafkan aku tapi sebaiknya anda keluar dulu dan berkunjung lagi besok nona Leathina harus beristirahat dan saya juga harus mengganti pakaian Nona Leathian.”


Dengan sopan Anne meminta semua orang untuk keluar dari kamar Leathina.


Walaupun mereka tidak ingin keluar karena ingin menunggu Leathina banguna, tapi tidak ada yang berani menentang Anne karena yang Anne katakan benar pakaian Leathina harus diganti dan beristirahat dengan tenang.


Anne dengan hati – hati mengganti pakaian Leathina kemudian memakaikannya pakaian yang bersih dan melap wajah nonanya dengan handuk.


“Nona, kenapa tidak ada yang membelamu walau melihat semua darah dipakaianmu ini.”


Saat akan menyimpan pakaian kotor Leathina yang dipenuh darah Anne memeluknya kemudian menagis membayangkan bagaimana nonanya menahan sakit karena lukanya sambil mendengar tuduhan orang – orang padanya.


...


Sudah tiga hari Leathina tidak sadarkan diri tubuhnya mulai melemah karena tidak makan dan minum, Anne beberapa kali mencoba untuk meminumkannya air tapi sayangnya tidak bisa tertelan oleh Leathina.


“Bagaimana keadaanya tuan Andy?” Anne dengan cemas bertanya pada Andy yang telah rutin mengecek keadaan tubuh Leathina.


“Keadaanya masih sama, sepertinya terlalu banyak energi yang telah ia gunakan apa mungkin Nona Leathina bisa menggunakan sihir?”


“Se.. sepertinya tidak.” Anne dengan terbata – bata menjawab pertanyaan Andy.


“Jika Nona Leathina bisa menggunakan sihir, maka kemungkinan yang bisa kita harapkan adalah menunggu energinya kemali pulih setelah mengeluarkan banyak energi.”


“Sebenarnya apa yang terjadi sehingga dia bisa seperti ini?” Zeyden yang datang bersama Andy untuk memeriksa keadaan tubuh Leathina bergumam sambil memperhatikan Leathina yang berbaring diatas tempat tidur.


Saat kejadian Zyden tidak menyaksikan karena sedang mempersiapkan perayaan di malam terakhir bersama penyihir lainnya.


“Ada apa, bos?” Andy menanggapi gumaman Zyden.


“Panggil aku master, bukan bos.” Zyden menepuk kepala Andy untuk menegurnya.


"Sepertinya dia bisa menggunakan sedikit sihir." Zeyden kembali berbicara setelah mengamati Leathina dari jarak dekat.


"Tidak mungkin Tian Zeyden, anda tahu sendiri kan Nona hanya mahir bermain pedang."


"Iya, tapi aku melihat ada energi yang tertampung di tubuhnya sepertinya dia berpotensi bisa menggunakan sihir jika mau belajar cara menggunakan nya nanti."


"Ah jadi seperti itu." Anne menanggapi singkat."


"Baiklah kalau begitu kami harus pergi."


Andy dan Zeyden pergi meninggalkan ruangan Leathina karena memiliki urusan yang harus segera ia selesaikan dan tidak sengaja berpapasan dengan Nicholas dan Nora di depan pintu kamar Leathina.


"Salam Tuan Zyden, Tuan Andy." Nicholas dan Nora hampir bersamaan memberi salam.


"Oh, Nicholas dan Nora, Kalian pasti datang untuk menjenguk kakak perempuan mu."


"Iya."


"Baiklah silahkan, aku baru akan pergi."


Zyden dan Andy pergi meninggalkan kamar Leathina sementara Nora dan Nicholas segera masuk ke dalam kamar Leathina.


"Bagaimana keadaannya Anne?"


"Masih sama tuan."


Nicholas berjalan menuju tempat Leathina sementara Nora segera mengambil tempat duduk di dekat Leathina agar bisa melihatnya dengan jelas.


Dalam beberapa hari terakhir Nicholas dan Nora selalu berkunjung ke ruang Leathina bahkan sampai setiap ada kesempatan mereka berdua selalu datang memeriksa apakah Leathina telah bangun atau tidak.


...


“Kau tidak ingin mengunjungi putrimu, duke?” Duchess nice bertanya pada Duke Leonard yang sibuk mengurus berkas – berkas penting di rungannya.


“Ini sudah beberapa hari semenjak Leathina pingsan, dan kamu masih belum pernah melihatnya di kamarnya.”


Duchess Nice kembali melanjutkan perkataanya.


Duke Leonard menghela nafas panjang, meletakkan pena dan kertas yang dipeganggnya kemudian berjalan ke arah jendela.


“Aku terlalu malu unntuk melihatnya, Nice.”


“Aku tahu, bagaimana perasaanmu terhadap putrimu itu, tapi caramu salah duke kamu seperti tidak membesarkan seorang anak. Dan kamu juga tahu Leathina tidak pernah terbuka pada orang lain.”


Duke leonard hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Duchess Nice.


“Walau bagaimanapu kamu seharusnya mengunjunginya, aku pergi dulu.” Setelah berbicara Duchess Nice keluar meninggalkan ruangan kerja Duke Leonard


......***......