I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 74



Malam penutupan festival akhirnya telah tiba, masih seperti pada awal pembukaan, festival masih sangat ramai bahkan lebih ramai dari sebelumnya karena malam ini akan ada pertunjukan sihir di langit yang akan diadakan di istana kerajaan oleh orang – orang dari menara sihir sebagai persembahan serta bisa disaksikan langsung oleh semua orang yang ada di penjuru kerajaan tanpa harus datang ke istana.


Kereta kuda Leathina melaju perlahan menembus keramaian, sesekali Leathina melirik ke luar jendela kereta melihat orang – orang yang sedang menikmati malam terakhir festival perayaan hari ulang tahun raja Daylen.


“Nona Leathina, anda terlihat tidak nyaman.”


“Ah, Anne. Aku baik – baik saja, hanya saja malam ini terlihat cerah tapi aku merasa aneh.” Leathina kembali melihat ke luar jendela setelah menjawab pertanyaan dari pelayannya Anne.


“Apa jangan – jangan anda sedang sakit? Apa aku perlu memberitahu kusirnya untuk kembali ke mansion.”


“Tidak perlu, kita sudah hampir sampai dan tidak mungkin kita memutar arah, disini sangat ramai nanti orang – orang akan terganggu.”


“Baiklah kalau begitu Nona.”


Langit malam tampak sangat cerah bahkan bintang – bintang dapat terlihat dengan jelas. Tapi Leathina merasa ada yang aneh perasaanya campur aduk tanpa ia ketahui alasannya membuatnya jadi lebih banyak melamun.


“Nona.. Nona?”


“Ah, iya ada apa Anne?”


“Nona, kita sudah sampai silahkan turun.”


“Baiklah.”


Malam ini aku merasa tidak aneh, sepeti ada sesuatu yang mengganjal dibenak tapi aku tidak tahu alasannya. Apa aku terlalu memikirkan insiden kemarin? Semoga saja orang – orang menghindari ku dan tidak mencari masalah denganku.


"Nona.. Nona?”


“Iya.. iya aku akan segera turun.”


Aneh sekali sudah beberapa kali aku menegurnya karena terus melamun. Apa ada orang yang menganggu Nona Leathina lagi? Anne menghawatirkan Nonanya yang terlihat tidak sehat.


“Kamu sudah sampai?”


“Kenapa lama sekali.”


“Kenapa menunggumu, harusnya kalian bisa masuk tanpa aku.”


“Kita harus masuk bersama sebagai keluarga Yarnell.”


Duke Leonard menyambut Leathina saat melihatnya datang sementara Nicholas dengan sikapnya yang seperti biasa dengan santai memaki Leathina, dan yang terakhir adalah Nora ia masih seperti terakhir kali, Nora masih menghindari Leathina.


“Ayah? Ah iya baiklah. Kalau begitu maafkan aku karena telah membuat kalian menuggu.”


“Eh? Kenapa minta maaf. Aku tidak marah loh yah, aku hanya lelah menunggumu.”


Dasar bocah labil. Sama saja kan? Kamu tetap mengumpat dan menyalahkan ku dan kenapa sikapnya selalu berubah – ubah.


“Kalau begitu Nona, saya pamit dulu. Saya akan masuk melalu pintu lain.”


“Ah, iya Anne hati – hati jangan sampai terlibat perkelahian lagi.”


“Sejak kapan kamu sangat memperhatikan pelayanmu.” Nicholas melihat Leathina dengan memiringkan kepalanya bersikap bahwa ia sedang melihat hal yang luar biasa.


“Tutup mulutmu dan urus saja masalahmu sendiri.” Leathina berbicara sambil membuang mukanya ke arah lain karena tidak ingin terlibat perdebatan yang panjang dengan Nicholas.


“Bersiaplah, pintu akan dibuka dan kehadiran keluarga kita akan diumumkan.” Duchess Nice memperingati Nicholas dan Leathina agar menjaga sikapnya.


“Duke Leonard dari keluarga Yarnell memasuki ruangan!”


Setelah kehadiran keluarga Yarnell diumumkan, Leathina dan seluruh keluarganya memasuki ruangan ayah dan ibunya langsung berkeliling dan menyapa kepala keluarga yang lain, Nicholas juga melakukan hal yang sama ia pergi menyapa calon penerus keluarga bangsawan lain agar relasinya lebih luas, sementara Nora telah pergi bermain memisahkan diri sejak awal memasuki ruangan.


Leathina menyusuri seluruh ruangan dengan matanya mencari tempat yang tidak diperhatikan oleh orang – orang, setelah menemukannya cepat – cepat Leathina ketempat yang sudah dia targetkan. Sebisa mungkin Leathina menghindari perhatian agar tidak terlibat masalah.


“Nona.”


“Oh, Anne? Kali ini kamu datang mencariku?”


“Nona Leathina terlalu jauh dari hidangan yang disediakan aku datang untuk membawakan beberapa makanan untuk Nona.”


“Terimakasih Anne.”


“Dan Nona, ini ada surat dari Tuan Muda Nora.”


“Nora? Kenapa tidak langsung berbicara padaku dan malah repot – repot menukiskan surat untukku.”


Leathina mengambil surat yang diberikan Anne  pelan – pelan membuka dan membaca isi surat yang dikirimkan Nora untuknya.


...Untuk Kakak Leathina....


Dalam beberapa hari ini kakak pasti menyadari bahwa aku menghindari kakak Leathina. Tapi itu bukan karena aku takut padamu, aku hanya takut jika kakak Leathina benar – benar dihukum karena insiden berburu. Ketakutanku bukan karena aku berfikir kakak benar – benar melakukan kejahatan aku hanya takut bahwa tidak ada orang yang akan membela kakak Leathina dan mengucapkan kebenarannya sehingga kakak dijatuhi hukuman.


Maka dari itu aku dengan tulus ingin meminta maaf pada Kakak Leathian. Datanglah ke taman bunga kerajaan lima belas menit setelah kakak membaca surat ini.


...Nora Yarnell...


"Uh? Padahal aku tidak terlalu mempermasalahkan tingkah lakuknya yang menghindari ku itu.” Gumam Leathina setelah membaca surat dari Nora.


“Ada apa Nona Leathina?”


“Tidak apa – apa Anne, kamu pergi dan nikmatilah festival sendiri, pasti ada yang ing kamu lakukan bukan.”


Setelah Anne pergi, Leathina hanya disibukkan dengan makanan yang dibawakan Anne untuknya sambil sesekali memperhatikan sekitarnya melihat orang – orang yang sedang menari dan mengobrol bersama.


“Sial! Itu pangeran Edward, aku tidak suka jika dia terus mengekoriku.”


Leathina melihat Pangeran Edward mengelilingi ruangan banquet secara spontan Leathina menunduk dan bersembunyi di bawa meja agar Pageran Edward tidak melihatnya. Leathina kemudian mengendap – pendap pindah ke tempat lain untuk menghindari Pangeran Edward.


“Aiss! Winter? Kenapa dia juga ada di sini, aku juga tidak ingin berurusan dengannya, sebaiknya aku pergi ke taman saja sekarang dan menuggu Nora di sana.”


Leathina pergi secara diam – diam sesekali ia bersembunyi menghindari Pangeran Edward dan Winter.


“Brakk”


Seorang pelayan tidak sengaja menabrak saat Leathina berjalan dikoridor istana menuju taman, nampan yang berisi gelas serta botol minuman yang dibawanya terjatuh dan pecah karena membentur lantai, percikan minuman juga mengenai gaun Leathina dan terlihat beberap percikan berwarna merah di gaunnya.


“Ma.. maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja, maaafkan saya Nona. Saya akan memebr ..... Rambut merah?”


Cepat – cepat pelayan tadi membungkuk dan meminta maaf dan saat mengangkat kepalanya kembali barulah pelayan tersebut melihat wajah yang ditabraknya seketika matanya terbelalak dan mulutnya berubah warna menjadi pucat pasih.


“NONA LEATHINA! MAAFKAN SAYA NONA, AMPUNI HIDUP SAYA. SAYA BENAR – BENAR TIDAK SENGAJA.”


Saat melihat rambut merah milik Leathina barulah pelayan tadi sadar bahwa orang yang telah ia tabrak adal putri tertua dari keluarga Yarnell, Leathina Yarnell. Seketika pelayan tersebut berlutut dan memohon pengampunan karena telah menabrak Leathina.


“Eh? Hey, hey tidak apa – apa bangunlah.” Leathina tidak kalah terkejutnya karena pelayan yang menabraknya itu tiba – tiba berlutut dikakinya.


“Ta.. tapi, gaun Nona Leathina ru.. r.. rusak.”


“Ini hanya perlu dicuci saja dan nodanya akan hilang.”


Leathina menjulurkan tangannya untuk mambantu pelayan yang menabraknya tadi berdiri, awalnya palayan tersebut takut dan tidak berani memegang tangan Leathina tapi karena Leathina bersikeras membantunya akhirnya ia pasrah dan mau menerima uluran tangan Leathina.


“Oh! Kamu terluka, ini karena kamu bodoh dan malah berlutut diatas pecahan kaca.”


Kaki pelayan tadi berdarah karena terkena pecahan kaca yang ia jatuhkan tadi.


“Ini.. ini tidak apa – apa, Nona aku akan baik – baik saja, saya benar – benar minta maaf, kalau begitu saya permisi ingin melanjutkan pekerjaan saya Nona.”


“Eh, mana bisa bekerja dengan kaki terluka seperti itu, sini duduklah dulu, aku akan mengobatimu.”


"Tapi, nona? Aku benar – bear baik – baik saja. Akan aku obati sendiri Nona tidak usah merepotkan diri merawat pelayan rendahan seperti saya.”


“Huss, sudah cepat duduk dan diam saja.”


Leathina tidak mendengarkan perkataan dari pelayan tadi dan malah memaksanya untuk segera duduk agar ia bisa mengobatinya.


Aura hijau perlahan – lahan muncul dari telapak tangan Leathina kemudian aura tersebut menutupi dan menyembuhkan luka si pelayan.


“Ini? Ini? Ini sihi..”


“Huss! Diam jangan berisik. Apa masih sakit?”


Pelayan tadi menggelengkan kepalanyanya menjawab pertanyaan Leathina karena masih menutup mulutnya sendiri dengan tangannya karena Leathina memerintahkannya untuk diam.


“Syukurlah, lain kali hati – hati. Kalau begitu aku pegi dulu... eh, dan rahasiakan ini dari orang – orang.”


Pelayan tersebut mengangguk dengan cepat tanda bahwa dia aka merahasiakannya. Leathina tersenyum kerena pelayan tersebut mau bekerja sama kemudian segera pergi meninggalkannya dan menuju taman untuk menemui Nora.


......***......


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai para Readers!


Maaf yah, akhir-akhir ini author tidak rutin update setiap hari.


itu karena Author ada praktek lapangan jadi tidak punya waktu untuk nulis.


Ohiya jangan bilang Author sombong yah karena tidak membalas komentar, bukanya Author tidak mau tapi karena tidak sempat, tapi Author baca kok.


Semoga terhibur dengan ceritanya.


Terimakasih telah membaca.