I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 160



“Huh? Apa yang barusan terjadi?” Gumam Leathina setelah melihat gambaran ingatan masa lalu milik Leathina yang asli.


“Aku sepertinya harus kembali sekarang, mungkin aku sudah terlalu lama disini.” Ucap Leathina kemudian pergi tapi tiba-tiba berhenti kembali saat melihat beberapa potongan ingatan yang lainnya muncul kembali dan membuatnya penasaran.


Dalam gambaran ingatan dilihatnya Leathina sedang menghadiri sebuah pesta dan berdampingan dengan Pangeran Yardley dan disaat yang bersamaan Yasmine datang menghampiri mereka berdua dengan wajah yang terlihat sangat kecewa hingga membuat matanya memerah menahan agar tangisannya tidak pecah.


“Kau bilang akan datang bersamaku?” Yasmine menghampiri pangeran Yardley kemudian sekilas diliriknya Leathina yang kini mengacuhkannya.


“Ah, maafkan aku Yasmine. Ayahku memerintahkan aku untuk mengawal Leathina.” Jawab Pangeran Yardley gelagapan karena merasa bersalah dengan Yasmine yang datang sendirian.


“Leathina kau tidak melihatku? apa sekarang kau mengacung aku?” ucap Yasmine menatap Leathina dingin. “Kau tahu kan seharusnya pangeran datang bersamaku kenapa kau tidak menolak raja saat menawarkan pangeran menjadi pasanganmu? Kau seharusnya menolaknya!”


“Kenapa kau tidak datang sendiri saja di hadapan raja dan mengatakan itu padaya sendiri di depan wajahnya! Ingat posisimu Yasmine! sekarang kita bukanlah apa-apa tidak ada hubungannya diantara kita kau yang memutusnya jadi jangan menggunakan aku lagi demi kepentinganmu” ucap Leathina yang merasa peran mereka sudah tidak berada di tempatnya.


"Apa salahnya kau membantuku, bukankah kau memiliki segalanya? kau setidaknya harus berbagi Leathina."


"Kau yang seharusnya menyadari tempatmu!!"


Leathina yang merasa kesal dengan perkataan Yasmine yang tidak masuk akal segera meninggalkan mereka berdua.


“A- aku pergi dulu Yasmine ayahku sebentar lagi akan datang dan aku harus bertemu dengannya bersama dengan Leathina, aku akan mencarimu lagi nanti.” Ucap Pengaran Yardley kemudian segera meninggalkan Yasmine sendiri dan segera mengejar Leathina karena takut ayahnya melihatnya.


Yasmine yang telah lama mengikuti Leathina belajar menjalin relasi dan diam-diam mulai menjalin relasi dengan orang-orang yang dapat menaikkan posisinya setinggi mungkin setelah hubungannya dengan Leathina mulai longgar.


Berbeda dengan Leathina, Yasmine dengan mudah dapat bergaul dengan sangat baik, ia mampu memikat dan membuat orang-orang menyukainya namanya pun mulai muncul ke permukaan dan telah diketahui dalam lingkaran para bangsawan ditambah keakrabannya dengan pangeran membuatnya semakin diincar hal itu membuat Yasmine pun mulai bertingkah sendiri, berbuat semaunya dan egosi.


Hingga pada suatu peristiwa yang membuat Yasmine menanggung malu. Yasmine yang tidak tahan melihat pangeran Yardley terus menerus bersama Leathina dalam setiap kegiatan dan urusannya membuatnya hilang kendali karena termakan rasa cemburu.


“Menjauh darinya! Kau tidak menyukainya dan dia tidak menyukaimu mana ada kecocokan diantara kalian!” teriak Yasmine mendorong Leathina hingga terjatuh.


“Bukan urusanmu!” ucap Leathina dan segera berdiri kembali.


“Kau menyiksanya jika terus membuatnya seperti itu Leathina! Aku tahu kau sama sekali tidak tertarik soal percintaan jadi untuk apa?”


“Tentu saja untuk menaikkan statusku.” Jawab Leathina datar.


“Tapi kau sudah memiliki segalanya harta, posisi, jabatan bahkan kemampuan semuanya kau memilikinya. Jika kau tidak mau melepaskannya maka aku akan merebutnya kembali!"


"Kembali?" Leathina mengulang ucapan Yasmine kemudian tersenyum dengan sinis melihat Yasmine. "Sejak kapan Yardley jadi milikmu, bukankah kau satu-satunya orang yang ingin mengambilnya dari ku jadi kata merebut kembali bukan lah kata yang tepat. kau seorang pencuri Yasmine, ingat itu!"


“Tapi jika kau memang sangat ingin memilikinya maka rebutlah! Aku akan menunggumu dan ingin menyaksikannya sendiri di hadapanku, tapi tentu saja itu tidak akan mungkin terjadi ingat posisimu kau pikir kau bisa melakukan hal seperti itu dengan statusmu yang bukan siapa-siapa? Kau hanya akan seperti lalat penganggu yang sekali tepuk akan langsung mati. Oh, dan tentu saja ratu tidak akan menyetujui hubungan kalian berdua jadi jika tidak ingin menjadi target pembunuhan maka jagalah sikapmu dan sadari dimana tempatmu seharusnya berada.”


Leathina tidak balas mendorong Yasmine dan hanya memanggil penjaga dan secara otomatis tentu saja para penjaga langsung menyeret Yasmine keluar.


“Suatu saat aku pasti akan menjadikanmu target pembunuhan Leathina!” teriak Yasmine yang kini dibawa pergi secara paksa oleh penjaga.


Yasmine mengepalkan tangannya menahan emosi sesekali ia mencoba memberontak saat diseret keluar oleh penjaga tapi kekuatannya tidak bisa menandingi para penjaga.


“Oh, astaga! seharunya dari awal kalian tidak seharunya bertemu!” gumam Isabella menghela nafas panjang.


“Aku harus kembali sekarang!” seru Isabella saat melihat tangannya mulai memudar.


Dengan terburu-buru Leathina kembali menuju pintu keluar membukanya dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat gambaran-gambaran ingatan Leathina.


“Tidak, tidak, TIDAAKKK!” Jerit Isabella saat tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke dalam lubang hitam dan membuat pandangannya ikut menghitam.


“Aww, kepalaku sakit sekali!” batin isabella yang tidak dapat membuka kedua matanya karena merasa sangat berat dan mual.


“Apa aku terlau lama kembali dan malah berakhir terjatuh ke tempat yag lebih dalam dan gelap?” tanyanya yang mengingat tadi dia terjatuh setelah melewati pintu yang digunakan Aelfric kembali.


Leathina kembali mencoba membuka matanya tapi Yang ia rasakan kelopak matanya seperti direkatkan secara permanen dan seluruh tubuhnya pun terasa berat bahkan jari-jarinya sulit ia gerakkan.


“Bangunlah Leathina, ayah menunggumu sayang.”


Leathina terdiam karena terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara seseorang yang berbisik tepat ditelinganya, suara yang sangat akrab dan dapat ia kenali dengan cepat.


“Apa aku telah kembali ke dalam tubuh Leathina?” tanyanya yang kebingungan karena tidak bisa bergerak sama sekali.


Leathina tidak lagi mencoba untuk terbangun ia menfokuskan indera pendengarannya untuk memastikan apakah yang barusan ia dengan adalah nyata atau hanya hayalannya saja tapi tiba-tiba ia mendengar pertengkaran antara Aelfric dan adiknya Nora ia pun merasa sangat yakin bahwa ia kini telah hidup kembali.


“Aku benar-benar melihat kedua bulu matanya bergerak!” teriak Nora membela diri.


“Diam saja lah, kami baru akan percaya jika melihatnya secara langsung jadi jangan membuat keributan.” bantah Aelfric pada Nora.


“Syukurlah aku benar-benar kembali ke tubuh Leathina sekarang.” Batinnya merasa lega dan sedikit terharu ketika mendengar banyak suara yang ia kenal kini sedang menunggunya untuk membuka matanya, ia bahkan mendengar suraa Edward, Winter, dan Zeyden yang mencoba menghentikan perseteruan anata Aelfric dan Nora.


“Mungkin tubuhku sedang mengisi energi sekarang jadi belum bisa digerakkan, aku mungkin sudah tertidur sangat lama hingga semua sendinya menjadi kaku.” Batin Leathina mencoba menengkan dirinya yang masih belum bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.


Leathina pun menunggu dengan sabar, ia awalnya tenang menunggu dirinya agar bisa untuk membuka matanya tapi beberapa waktu kemudian Leathina malah panik sendiri ia tak kunjung bisa membuka matanya dan satu-satunya yang berfungsi hanyalah indera pendengarannya saja.


“Tidak! Seseorang tolong bantu aku keluar dari situasi menyedihkan ini, aku benar-benar ingin bangun sekarang, sampai kapan aku harus menunggu!” Jerit Leathina dalam hati.


tenggorokan Leathina terasa kering, perutnya pun lapar serta kepalanya yang masih pening masih.ia rasakan.


“Duh, sudah berapa lama aku tertidur hingga kondisi tubuhku menjadi seburuk ini. Aku benar-benar haus!” Batin Leathina yang merasa tersiksa dengan keadaanya.


"Rasanya aku ingin berteriak meminta diberi minum dan makan tapi mulutku terkunci rapat."


“Ayah!” teriak Nora yang sekali lagi berhasil mengejutkan semua orang.


“Kakak Leathina menangis!” ucapnya lagi saat melihat di ujung mata leathina mengeluarkan sedikit buih bening dan mengalir turun dengan sendirinya.


“Benar,” ucap Aelfric saat ikut melihat ke arah Leathina.


“Leathina?” Panggil duke leonard lembut.


Tidak ada balasan, leathina masih tidak bergeming dan tidak meberikan respon apa-apa.


“Mungkin ini hanya efek sesuatu hingga matanya berair.” Ucap duchess kembali menenangkan membuat Duke yang tadi ingin membangunkan Leathina kembali mengurungkan niatnya.


“Tidak, tidak, aku ini benar-benar bangun sekarang hanya saja tidak bisa membuka mataku. Seseorang tolonglah!” Batin Leathina yang gusar karena orang-orang salah paham dengan kondisinya.


“Ambilkan segelas air,” Ucap Edward meminta Anne mengambilkan segelas air untuknya.


“Ini airnya tuan,” Anne dengan sopan memberikan air dan memberikannya untuk pangeran Edward.


Edward mengambilnya kemudian berjalan mendekati Leathina begitu pula dengan Winter yang sepertinya mengetahui apa yang akan ia lakukan dengan air yang ia bawa.


“Aku akan membantumu.” Ucap Winter kemudian sedikit mengangkat tubuh Leathina hingga bersandar padanya.


“Baik.” Jawab Edward tidak menolak bantuan dari Edward.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Duke Leonard dan sedikit menjauh tapi masih menggenggam tangan Leathina.


“Ini hanya dugaanku, Leathina sepertinya mencoba untuk bangun tapi terlalu lemah untuk membuka matanya karena kondisi fisiknya yang lemah aku akan memberinya sedikit air.” Jawab Edward memberitahu duke leonard.


Edward dengan hati-hati mengambil sesendok air dari gelas dan membasahi bibir Leathina yang kering. “Leathina?” panggilnya saat melihat bibir Leathina sedikit bergerak.


“Tidak bisa ia terlalu lemah untuk bisa terbangun.” Gumamnya yang bercampur dengan rasa terkejut dan senang karena leathina akhirnya dapat meresponnya.


Tanpa berpikir lagi Pangeran Edward langsung menenggak habis air yang ada di gelas kemudian membantu Leathina untuk memberinya minum dengan cara tercepat.


“EDWARD!!!” Teriak semua orang yang terkejut bukan main melihat apa yang dilakukan Edward pada Leathina.


“APA YANG KAU LAKUKAN!!” Teriak Winter emosi dan langsung menjauhkan tubuh Leathina darinya.


“BREN*SEK!!” Teriak Nicholas yang tidak kalah emosi dan menarik Edward ke belakang hingga Edward terjatuh dan terbentur ke tembok.


Sementara Duchess langsung menutup mata Nora yang juga ikut terkejut melihat kejadian barusan, Aelfric hanya terdiam di tempatnya bak terpaku ke tanah tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.


Duke Leonard terpaku ditempatnya tidak bergerak beberapa saat saking terkejutnya karena Edward melakukannya tepat di depannya, tapi dari raut wajahnya dapat diketahui bahwa sekarang ia tengah berusaha mengontrol emosinya.


Wajah Duke Leonard memerah, garis-garis urat nadinya menonjol keluar sementara tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri dan mengalirkan darah segar hingga percikan darahnya menetes ke lantai.


Pangeran Edward yang tadi dibanting oleh Nicholas kembali berdiri ingin menjelaskan pada yang lainnya kenapa ia melakukannya tapi sebuah hantaman keras kini telah mendarat di wajahnya bahkan membuatnya terhuyung ke belakang hingga kembali terjatuh karena kehilangan kestabilan tubuhnya karena serangan mendadak dengan kekuatan penuh yang menghantamnya.


“BA*JING*AN!!!” Ucap duke Leonard geram dan masih mengepalkan tangannya membuta tinjunya sekeras mungkin bersiap kembali menghantam Edward kembali.


“Kesini kau!” Ucap duke dengan langkah berat berjalan ke arah Edward kemudian menarik kerah bajunya memaksanya berdiri dan kembali menghantamnya beberapa kali meluapkan semua emosinya.


Setelah menerima semua pukulan demi pukulan dari Duke leonard dengan emosi yang memuncak, Edward terduduk lemas di lantai dan bersandar di dinding. Edward merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya dan di sudut bibirnya.


“Arg! Sialan!!” Umpat Edward yang dengan kasar mengusap hidungnya dan ujung bibirnya dengan kasar kemudian terlihat cairan merah di punggung tangannya yang ia gunakan mengusap wajahnya.


Pangeran Edward meludah saat darah yang keluar dari sudut bibirnya ia rasakan di dalam mulutnya.


“Srek”


Mata duke Leonard melihat sebuah pedang yang tergantung di dinding kamar Leathina, ia pun dengan cepat menyambarnya dan mengarahkannya pada pangeran Edward.


“Tidak! Paman jangan!” teriak Winter memperingati duke leonard agar tidak bertindak gegabah terlebih pergerakan aliansi bangsawan sedang menunggu kesalahan yang dibuat duke untuk menjatuhkannya, jika duke benar-benar mengayunkan pedang dan melukai pangeran apalagi sampai membunuhnya maka keluarga Yarnell benar-benar akan dilenyapkan.


Winter dengan hati-hati meletakkan kembali tubuh Leathina di tempat tidurnya kemudian segera menahan tangan duke agar tidak mengayunkan pedang yang ia pegang.


“Lepaskan jangan halangi aku!” Duke leonard memelintir tangan winter yang mencoba menghalanginya kemudian mendorongnya ke belakang hingga terjatuh.


“Ayah jangan!!” teriak Nicholas kemudian ikut mencegah ayahnya, “Jika kau melukainya lebih banyak lagi atau membunuhnya maka para aliansi bangsawan akan mendapatkan kesempatannya untuk menghancurkan keluarga Yarnell.” Cegah Nicholas yang memohon pada ayahnya karena kekuatnnya tidak bisa menandingi ayahnya.


“Tidak, tidak, tidak, kalian jangan seperti itu. Edward benar-benar hanya berniat membantuku karena aku sangat haus tenggorokanku seperti terbakar tadi dan sudah membaik setelah Edward membantuku. Tapi caranya memang agak berlebihan.” Jerit Leathina dalam hati karena masih harus mengumpulkan kekuatannya dulu, matanya masih terasa berat dan mulutnya sangat sulit ia buka.


“Laki-laki gila ini benar-benar telah kehilangan pikirannya.” Gumam Aelfric yang akhirnya kembali pada kesadarannya setelah lama terdiam karena terkejut.


“Aku tidak takut pada mereka, dia sekarang telah menginjak-injak kehormatan keluargaku. Maka aku akan benar-benar menjadi seorang pemberontak dan pemberontakan pertama yang akan aku lakukan adalah membunuh anak ini!!” ucap duke leonard dingin dan benar-benar kehilangan pikiran sehatnya.


“Ayah aku mohon jangan!” Nicholas masih memohon pada ayahnya tapi ayahnya yang terlanjur tersulut amarah mendorongnya menjauh agar tidak menghalanginya.


“Brak!”


“Aku akan membantumu untuk menghukumnya duke!” ucap Zeyden yang tiba-tiba menyerang Edward dan untungnya Edward dapat menghindar tepat waktu dan serangan Zeyden hanya mengenai dinding hingga dinding tersebut berlubang tembus merusak ruangan di baliknya.


“Jika Edward menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya dan keahlian membunuhnya maka mereka akan benar-benar saling membunuh satu sama lain. Bangun Leathina, ayo bangun, bersuara lah aku mohon bersuara lah!!” Batin Leathina yang menjadi semakin gusar sebab sudah sejak tadi ia mencoba bersuara tapi suaranya tak kunjung keluar.


Leathina masih terus berusaha mencoba terbangun.


“Ah, aku akhirnya bisa membuka mataku walau dengan susah payah. Dengan melihatku terbangun mereka pasti akan langsung berhenti berseteru dengan Edward.” Batin Leathina kegirangan saat berhasil membuka matanya walaupun harus bersusah payah.


“Hais, sialan.” Batin Leathina yang merasa gagal.


Kenyataan berbanding terbalik dengan harapannya, kini tidak ada satu pun di antara mereka yang memperhatikannya karena terlalu fokus dengan pertikaian duke leonard bersama Zeyden dan mencoba menghentikan pertikaiannya dengan Edward.


Leathina memutar bola matanya kemudian mengedipkan matanya beberapa kali untuk menarik perhatian orang-orang tapi masih tidak berhasil.


“A”


“Aa”


“Aaa”


Leathina melatih tenggorokannya yang lama tidak ia pakai dan berusaha untuk membuat sebuah suara tapi masih belum bisa mengeluarkan suara barang sekata karena mulutnya masih terkatup rapat sulit ia buka.


“Aaa!”


Ucap Leathina yang akhirnya dapat bersuara kembali walaupun masi lemah tapi berhasil menarik perhatian semua orang dan membuat orang-orang terkejut setelah mendengar suara leathina.


“Aku berhasil!” batin Leathina dan akhirnya kembali merasa lega karena telah berhasil membuka matanya dan bersuara serta yang paling penting adalah ia dapat menghentikan pertikaian ayahnya dengan Edward.


...***...