I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 111



“Huff”


Leathina menghela nafas panjang saat dari kejauhan ia melihat ke arah kediaman keluarga Yarnell dari balik jendela kereta yang ia gunakan.


“Apa kau baik-baik saja Leathina?” Winter bertanya pada Leathina ketika melihatnya selalu menghembuskan nafas panjang.


Selama perjalanan Winter tidak pernah menjauh dan selalu mengusahakan berjalan di dekat kereta yang digunakan oleh Leathina dengan kudanya untuk berjaga jika tiba-tiba nanti ada yang menyerang mereka maka Winter akan segera melindungi Leathina.


Leathina sama-sekali tidak menjawab pertanyaan Winter dan hanya diam dan menjauh dari jendela keringat dingin mulai menjalari kedua telapak tangannya karena gugup sekaligus takut jika ternyata yang dikatakan Adam salah dan mereka menangkapnya untuk di hukum karena tuduhan percobaan pembunuhan pada adiknya sendiri.


Walaupun Adam mengatakan bahwa mereka mencari ku untuk membawaku kembali tapi aku takut jika ternyata mereka mencari ku untuk di adili dan aku tidak yakin bahwa mereka akan percaya pembelaan seorang anak kecil kebencian mereka selalu lebih besar daripada rasa keadilan.


Jadi bagaimana pun Nora membela ku ada kemungkinan mereka tidak akan percaya.


“Apa yang harus aku lakukan?” Gumam Leathina pelan.


Kereta yang digunakan Leathina kini telah melewati gerbang utama dan memasuki pekarangan mansion keluarga Yarnell dan berhenti tepat di depan pintu utama Mansion.


“Apa yang sedang mereka lakukan disana?” gumam Leathina ketika kembali melihat keluar jendela kereta.


Dilihatnya para pelayan berjejeran dengan rapi di dua sisi pintu sampai di depan pintu keretanya.


“Tak” Terdengar suara pintu di buka saat Winter membuka pintu kereta dari luar.


“Kita sudah sampai, silahkan turun Nona Leathina.”


Winter membuka pintu kereta dan mempersilahkan Leathina untuk keluar, Winter juga mengulurkan tangan untuk membantu Leathina turun.


“Nona? dia kembali memanggilku Nona sifatnya kembali seperti semula. Astaga sebenarnya ada apa sih dengan orang ini.”


“Nona? Nona Leathina?”


“Oh Astaga aku akan segera turun.”


“Anda menghayal lagi Nona Leathina.”


Suara Winter mengembalikan kesadaran Leathina kemudian ragu-ragu turun dari kereta tapi pada akhirnya dia paksakan untuk turun di bantu oleh Winter.


Dilihatnya semua tatapan tertuju padanya mulai dari para pelayan, Nora, Nicholas, ibu tirinya dan Duke Leonard yang berdiri paling belakang di banding yang lainnya.


“KAKAK LEATHINA!” Teriak Nora kemudian berlari ke arah Leathina dan memeluknya erat-erat membuat Leathina segera menunduk untuk balas memeluknya.


Leathina masih takut melihat ke arah ayahnya duke Leonard sebisa mungkin Leathina mencoba menghindari bersitatap dengan Duke Leonard.


“Selamat datang ka..kak Leathina.” Sambut Nicholas ragu-ragu dan ucapannya terbata-bata saat melihat Leathina turun dari kereta.


“Huh? Kakak?” Leathina sedikit terkejut mendengar Nicholas memanggilnya kakak karena baru kali pertama ia mendengar Nicholas dengan sopan memanggilnya.


“Anak ini banyak berubah, biasanya jika melihatku bawaannya akan selalu marah. Apa yang membuatnya menjadi seperti ini apa kepalanya pernah terbentur.”


“A..aku.. aku memanggilmu kakak hanya untuk menyambut mu, jadi jangan salah paham.” Astaga apa yang sedang aku lakukan sekarang.” Karena Leathina terus melihatnya Nicholas mejadi malu kemudian kembali ke sifat semulanya karena merasa aneh sendiri dengan ucapannnya.


“Memangnya aku berharap apa dari berandal ini, baru beberapa saat yang lalu dia menyambutku sekarang malah memulai perdebatan denganku.” “Huff” Leathina menghembusakan nafas panjang kemudian kembali fokus pada Nora yang masih memeluknya.


“Kakak Leathina? Oh Astaga! kakak terluka, apa terasa sakit? Aku pasti tidak sengaja membuat kakak sakit maafkan aku.” Nora merasakan nafas berat yang dihembuskan Leathina kemudian segera melepaskan pelukannya dan melihat leher Leathina yang dililit dengan perban namun masih terlihat tembusan sedikit bercak darah di sana membuatnya panik dan khawatir.


“Anne?” Gumam Leathia saat matanya tidak sengaja melihat bayangan perempuan dari balik jendela.


Dilihatnya jendela kamarnya yang berada di lantai kedua dan gordenya sedikit terbuka kemudian sosok bayangan tiba-tiba terlihat dan kemudian gorden yang terbuka tadi segera di tutup kembali.


“Kakak Leathina?” Panggil Nora saat melihat kakak perempuannya itu masih belum meresponnya.


“Ah, aku baik-baik saja Nora. Kau seharusnya tidak perlu menyambutku seperti ini.”


“Apa maksudmu kami semua sangat..? Ah sudahlah.” Ucapan Nicholas kemudian terputus dan diam setelah itu berbalik meninggalkan Leathina dan masuk ke dalam mansion.


“Kau harus segera diobati.”  Duke Leonard akhirnya berbicara kemudian segera meninggalkan Leathina dan juga masuk ke dalam mansion seperti yang dilakukan Nicholas.


“Seperti yang diharapkan, tapi setidaknya dia tidak menghukum ku.” Leathina hanya tersenyum prihatin melihat kelakuan ayahnya yang masih memperlakukannya sama seperti sebelumnya yang terus mengabaikan nya.


“Sayang, selamat datang kembali! ayo aku antar ke kamarmu.”


“Du..duchess?”


“Apa maksudmu Duchess, terakhir kali kau memangilu ibu.”


Yang paling membuat Leathina terkejut adalah perlakuan Duchess Nice yang terlihat menyambutnya dengan baik.


“Astaga apa yang terjadi pada mereka selama aku tidak ada, Duchess Nice dari dulu memang menyukai Leathina tapi karena Lathina tidak menyukainya dan selalu menganggu serta mempermalukannya, hati Duchess Nice menjadi dingin dan memperlakukan Leathina seperti anak tiri yang tidak perlu di berikan kasih sayang. Tapi, jika perlakuannya berubah sembilan puluh derajat seperti ini yang ada malah aku yang menjadi canggung.”


“A..aku bisa pergi sediri kau tidak perlu mengantarku.” Leathina berusaha menolak Duchess yang bersikeras ingin mengantarnya kekamarnya.


“Ayolah kak, aku juga akan mengantarmu.”


Duchess Nice memengang kedua bahu Leathina dan membawanya bersamanya sementara Nora menarik tangan Leathina bersikap seolah-olah ia sedang menuntunnya hingga mau tidak mau akhirnya Leathina terpaksa mengikuti keinginan dua orang yang sekarang menuntunya kembali ke kamarnya.


“Syukurlah” gumam winter ketika melihat Leathina pergi bersama Duchess Nice dan Nora.


“Aku harus segera melapor pada paman Leonard.” Winter mengintruksikan bawahannya untuk menyimpan kuda-kuda nya di kandangnya dan memerintahkan untuk beristirahat setelah perjalanan jauh dari kota perbatasan dia sendiri segera berjalan menuju ruangan kerja Duke Leonard.


Pintu ruangan kerja Duke Leonard terbuka dan dilihatnya Duke Leonard telah menunggunya di dalam.


“Salam Paman Leonard, aku telah kembali.” Winter membungkuk sopan untuk memberi salam.


“Selamat datang Winter.” Sambut Duke Leonard singkat. “Oh, dan terimakasih telah membawa putriku pulang dengan selamat.” Duke Leonard kembali melanjutkan ucapannya yang  merasa sangat berterimakasih dan bersyukur karena putrinya telah kembali.


“Ini sudah mejadi tugasku, paman.” Balas Winter sambil meletakkan telapak tangan kirinya di dadanyaa tanda ia juga bersyukur karena berhasil kembali bersama dengan Leathina.


“Sekarang laporkan apa yang kau dapatkan selama di sana.”


Winter kemudian menceritakan semua kejadian yang ia alami selama di kota perbatasan kecuali satu hal yang tidak ia katakan, yaitu bahwa Leathina tinggal secara sukarela dengan para penculik. Yang Winter katakan adalah bahwa Leathina memang benar diculik dan meminta tebusan untuk membebaskan Leathina.


“Jadi itulak kenapa sampai Leathina bisa terluka.” Gumama Duke Leonard sambil menyandarkan pungunggunya di sandaran kursi.


“Winter apa yang harus aku lakukan, Leathina sepertinya tidak ingin melihatku.” Duke Leonard dengan wajah sedih menatap dokumen yang ada di hadapannya tidak mengerjakannya tapi hanya membolak-balikkan dokumen yang ada dihadapannya itu.


“Paman, sepertinya Leathina masih belum mempercayai kita sepenuhnya. Ia bahkan lebih takut untuk kembali kekerajaan dibandingan saat pedang di todongkan di tenggorokannya.”


“Aku tahu.. aku tahu itu dengan pasti Adam bahwa Leathina selalu merasa tidak nyaman denganku dan karena itu aku tidak tahu bagaimana aku harus menemuinya.” Duke Leonard meletakkan dokumen yang di pengangnya kemudian mengusap kasar wajahnya.


“Maafkan aku Paman Leanorad.”  Yang bisa Winter ucapkan hanyalah permintaan maaf karena sebenarnya Winter juga masih belum tahu apa yang harus ia lakukan untuk memperbaki hubungan ayah dan anak yang telah lama pecah di antara keduanya.


“Baiklah bukan salahmu Winter. Kau sudah bekerja keras."


“Winter aku hampir lupa menanyankannya padamu, apa kau menemukan sesuatu mengenai organisasi pembunuh bayaran dari organisasi tentara bayangan?”


“Soal itu aku belum menemukan informasi yang berarti, yang aku lihat tempat yang dikatakan sebagai markas mereka hanyalah sebuah mansion tua yang digunakan sebagai bar dan penginapan.”


“Baiklah, kita harus tetap melakukan penyelidikan. Oh, kau pasti lelah setelah kembali dari kota perbatasan kembali dan beristirahatlah Winter.”


“Terimakasih Paman Leonard.”


Setelah melaporkan hasil penyelidikannya Winter segera keluar dari ruangan kerja meninggalkan Duke Leonard sendiri bersama tumpukan-tumpukan dokumen yang harus segera Duke Leonard selesaikan.


 


“Selamat datang kembali Nona Leathina.” Anne dan pelayan yang lainnya membungkuk hormat pada Leathina saat akan memasuki kamarnya, mereka semua berjejer di sepanjang koridor untuk menyambut kedatangan Leathina.


“Oh, Ann...?” Leathina sangat gembira saat melihat pelayan pribadinya kembali setelah sekian lama dan dengan senang menyapanya tapi terhenti ketika Anne tidak ingin menatapnya sama sekali dan terus menundukkan pandangannya ke bawah.


“Kakak Leathina! Kau menghayal lagi.” Seru Nora ketika melihat Leathina kembali tidak fokus dan hanya berdiam diri di depan pintu kamarnya.


“Ayo masuk Lewat, kau pasti lelah dan lukamu harus segera di obat. Anne panggil dokter yang datang dari kerajaan.”


“Baik Madam Duchess.”


Anne keudian segera perge memanggil kan dokter yang sebelumnya telah mereka panggil dari kerajaan sementara Leathina memasuki kamarnya.


“Oh, Astaga pakaiamu sudah rusak Leathina. Aku akan membantumu melepaskannya dan segeralah membersihkan dirimu air mandi di bathup sudah di sediaka pelayan.”


“Du.. Duchess maafkan aku, tapi biarkan pelayan saja yang membantuku.”


“Ah.. Astaga maafkan aku Leathina, kau pasti merasa tidak nyaman. Aku dan Nora akan keluar dulu dan kembali lagi bersama dokter untuk mengobatimu.”


Leathina masih merasa tidak nyaman dengan sikap semua orang yang tiba-tiba berubah itulah kenapa ketika Duchess Nice mencoba membantunya tangannya reflek menepisnya dan sedikit menjauh.


“Trak.”


Pintu kamar Leathina di buka kemudian masuklah Anne dan segera menutupnya kembali dan sambil menunduk ia berjalan mendekati Leathina.


“Ma..maafka aku Nona. Madam Duchess meminta saya untuk membantu anda mengganti pakaian dan membersihkan diri.” Anne berbicara masih dalam keadaan menunduk tidak berani melihat wajah Leathina.


“Anne?” Leathina memanggil Anne agar Anne memperlihatkan wajahnya tapi Anne masih saja menunduk sambil membantu Leathina melepaskan pakaiannya.


“Anne!” Leathina kembali memanggil Anne tapi kali ini suaranya sedikil di besarkan hingga membuat Anne jatuh terduduk di bawah kaki Leathina karena terkejut dan tangannya mulai gemetaran.


“Anne?”  Leathina sedikit membungkuk untuk meraih wajah Anne dan dengan tangannya membuat Anne mendongakkan kepalanya dan melihatnya.


“Oh, Astaga Anne. Ada apa denganmu?”


Dilihatnya wajah Anne yang kini sembab, bibir bawahnya memerah karena ia gigit untuk menahan tangisnya agar tidak pecah sementara hidung Anne mulai mengeluarkan cairan dan menghirupnya kembali ketika melorot kebawah.


“Wuaaaa No..nona L..eat..thina!!” Tangisan Anne kemudian pecah ketika matanya bersitatap dengan mata Leathina kemudian berhamburan memeluk Leathina dan menagis sekencang-kencangnya.


Leathina kemudian menepuk-nepuk punggung Anne berusaha menenangkannya agar tidak menagis lagi.


“No..na Ak..u Pik..kir aku Tidak... akan.. mellihatmu lagi. Dimana saja anda selama ini.. hik.” Anne masih menangis dan berbicara sambil sesenggukan dan sesekali mengusap air matanya yang tidak mau berhenti dengan bahunya.


“Aku sangat mengkhawatirkan anda.. hik..hik..” Anne masih menangis tapi sudah tidak sekencang sebelumnya dan masih memeluk Leathina dengan kencang.


“Terimakasih telah menghawatirkan ku dan menungguku kembali Anne, sepertinya tidak sia-sia aku mempertahankanmu bekerja sebagai pelayan pribadiku kau ternyata masih setia padaku hahaha.” Leathina membalas ucapan Anne dengan candaan agar Anne cepat berhenti menangis.


“Apa maksudmu Nona, aku akan selalu setia padamu. Oh, Astaga aku lupa anda harus segera membersihkan diri dan mengganti pakaian sebelum dokter datang.”


Anne melepaskan pelukannya dengan cekatan dan hati-hati mulai melakukan pekerjaannya, ia membantu Leathina melepaskan pakaiannya kemudian membiarkan Lethina membersihkan dirinya sendiri karena Leathina tidak suka dibantu jika mandi. Sementara Leathina mandi Anne segera mempersiapkan pakaian yang akan digunakan Leathina nantinya setelah selesai membersihkan dirinya.


“Astaga Nona, lukamu ternyata cukup dalam apa ini sakit? Kenapa Nona tidak menggunakan si..” Anne memperhatikan luka yang ada dileher Leathina saa Leathina keluar dari bathup.


“Husst.. Ini tidak terlalu sakit, aku akan baik-baik saja lagi pula dokter kerajaan akan menyembuhnkannya.” Cepat-cepat Leathina memotog perkataan Anne sebelum orang lain mendengarnya takut jika orang lain mengetahui kemampuannya karena sejauh ini hanya Anne dan Edward saja yang telah mengetahui kemampuan Leathina di tempat itu.


Aku sudah lama tiak merasakan rasa sakit nyeri seperti ini, walau lukanya tidak parah tapi masih terasa nyeri aku tidak bisa menggunakan sihir ku untuk menyembuhkannya karena aku tidak ingin mereka curiga.


Anne cepat-cepat menutup rapat mulutnya kemudian kembali melanjutkan pekerjaanya.


“Kau tahu Nona, setelah kepergianmu mansion menjadi suram.” Anne berbicara sambil membantu Leathina berpakaian setelah selesai membersihkan diri.


“Bukankah mansion ini memang suram sebelumnya Anne.” Leathina hanya tersenyum mendengar ucapan Anne.


“Tapi lebih suram ketika Nona Leathina hilang, kau tahu Duke hanya berdiam diri di ruangan kerjanya sementara Tuan muda tidak pernah lagi berkeliaran dan fokus pada pembelajarannya jika ada Nona tuan muda selalu berkeliaran dan Nona selalu membuat orang-orang ceria.”


“Kau hanya teralu membanding-bandingkan keadaan Anne, sudah teruskan pekerjaanmu sebentar lagi mereka datang.” Leathina hanya tersenyum gemas karena melihat perubahan pelayan pribadinya yag tadi menangis sesenggukan kini menjadi cerewet.


“Nah sudah selesai.” Anne dengan senang menata rambut Leathina dan telah selesai membantu Leathina berpakaian.


“Kerja bagus Anne.” Leathina menepuk-nepuk kepala Anne karena telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan Anne terlihat sangat senang karena Leathina mengharagai pekerjaanya.


“Oh, aku akan segera memberitahukan pada Duchess bahwa anda telah selesai berganti pakaian dan membawa dokter mengobati luka Nona Leathina.”


Dengan terburu-buru Anne pergi karena ingin agar luka Leathina segera diobati.


“Entah mengapa aku seperti sedang berbicara dengan hewan peliharaan, dia terlalu penurut dan senang berkeliaran di dekatku.” Gumam Leathina pelan saat melihat Anne pergi meninggalkannya dan saat berada di ambang pintu Anne kembali berbalik memastikan keadaan Leathina dan setelah itu barulah Anne benar-benar pergi.


"Trak"


Deritan pintu kamar Leathina terdengar saat Anne membukanya.


Anne mempersilahkan Duchess Nice masuk bersama dengan seorang dokter yang datang dari kerajaan dan di belakang mereka juga diikuti oleh Nora, Nicholas, serta Winter yang menyempatkan dirinya memeriksa keadaan Leathina.


"Kakak Leathina!" Seru Nora ketika baru memasuki kamar milik Leathina dan dibalas dengan senyuman oleh Leathina.


Dokter yang datang meminta Leathina duduk dengan tegak kemudian memperhatikan luka yang ada di leher Leathina setelah itu mulai mengobatinya menggunakan sihir penyembuh kemudian samar - samar aurat hijau mulai menutupi lukanya dan pelan - pelan luka yang ada di lehernya menutup kembali.


"Apa ada yang sakit lagi Nona?" Tanya si dokter pada Leathina tapi hanya dibalas gelengan kepala oleh Leathina.


"Aku baik-baik saja Tuan, aku hanya butuh istirahat. terimakasih telah datang mengobati ku."


"Kalau begitu aku akan kembali Nona." Ia membungkuk memberi hormat setelah itu keluar dari kamar.


"Aku akan mengantarkannya sampai di depan." Duchess Nice kemudian pergi mengikuti Dokter.


"Aku juga akan pergi." Nicholas juga akhirnya keluar dari kamar setelah melihat luka Leathina sembuh.


Kini hanya menyisakan Nora, dan Winter yang masih bertahan di dalam ruangan milik Leathina.


"Nora, kau juga kembalilah. Leathina membutuhkan istirahat setelah perjalanan jauh." Winter memberi tahu Nora agar membiarkan Leathina beristirahat.


"Oh, Baiklah cepat sembuh Kakak Leathina." Nora pun akhirnya ikut keluar dari ruangan Leathina karena perkataan Winter.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Leathina?" Tanya Winter kemudian saat hanya menyisakan mereka berdua.


"Aku baik-baik saja, Selamat untuk mu karena telah membawaku kembali."


"Aku senang mendengar bahwa kau baik-baik saja, kalau begitu aku juga akan pamit untuk pergi. Jaga dirimu Leathina."


Setelah memastikan keadaan Leathina Winter akhirnya pergi meninggalkan Leathina di ruangannya.


"Nona Leathina, apa ada yang anda butuhkan?"


Melihat Winter meninggalkan ruangan Leathina, Anne segera masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Leathina.


"Anne, aku tidak membutuhkan apa-apa saat ini. aku hanya ingin beristirahat."


"Baiklah Nona, jika ada yang ingin anda butuhkan silahkan membunyikan lonceng Nona."


Anne kemudian keluar membiarkan Leathina sendiri untuk beristirahat.


"Aku benar-benar telah kembali." Gumam Leathina menjatuhkan dirinya begitu saja di atas kasurnya.


Aku berharap semuanya akan baik-baik saja. semoga kepulangan ku tidak membawa bencana.


"Huff"


Leathina mengembuskan nafas panjang kemudian menutup matanya dan akhirnya benar-benar tertidur karena kelelahan.


...***...