
"Woah! Aku tertolong, sekarang aku sudah kenyang, terimakasih Adam kamu pria baik."
Setelah meminum air Leathina menyandarkan punggungnya pada kursi kemudian melihat keadaan disekelilingnya.
"Aku tidak bilang menolong mu secara cuma - cuma loh."
"Baiklah, aku tahu tidak ada yang gratis. Berapa yang kamu minta?" Setelah mendengar ucapan Adam, Leathina segera paham kemudian membuka tas kainnya ingin memberikan Adam sejumlah uang sebagai ucapan terimakasih untuknya.
"Aku tidak bilang ingin menerima uang sebagai bayaran jasaku menolong mu." Adam tersenyum licik dan terus memandangi Leathina.
"Maksudmu?" Leathina bergidik seram, kemudian memeluk dirinya sendiri dan menjauhkan dirinya dari Adam yang masih terus melihatnya.
"Hahaha Apa yang kamu pikirkan, Lea." Melihat tingkah Leathina, membuat Adam tertawa.
"Apa yang kamu pikirkan?" Leathina malah mengajukan. pertanyaan yang sama.
"Aku ingin meminta mu besok menemaniku ke suatu tempat."
"Aku tidak bisa, aku harus segera pergi keluar kota malam ini." Leathina menolak permintaan Adam.
"Sekarang?"
"Iya, kalau bisa sekarang aku akan pergi sekarang, jadi minta lah hal yang lain. Aku tidak bisa menemanimu."
"Sekarang setiap perbatasan dijaga oleh prajurit kerajaan. Kamu akan sulit untuk Lewat, Lea."
"Kenapa? apa ada penjahat yang kabur sampai setiap perbatasan di jaga dengan ketat?"
"Iya, kabarnya ada anak salah satu bangsawan yang hilang mereka sedang mencarinya sekarang."
Leathina menelan Salivanya, ia tahu bahwa anak bangsawan yang Adam maksud adalah dirinya Dan jika ia tertangkap tamatlah sudah riwayatnya, usahanya untuk kabur akan berakhir sia - sia.
Aku tidak boleh tertangkap sekarang, aku harus pergi dari kerajaan ini untuk menyelamatkannya hidupku.
"Lea... Lea... Lea..!" Adam terus memanggil nama Leathina yang tidak merespon panggilannya.
"Ah, iya? ada apa?"
"Kau melamun?"
"Ah, tidak pendengaran ku rusak barusan."
"Kau kaget sampai pendengara mu rusak ya?"
"Kalau kamu mau menemaniku besok aku akan menunjukkan pada mu jalan keluar dari kerajaan tanpa melewati perbatasan." Adam kembali melanjutkan ucapannya karena melihat Leathina masih tidak memperdulikan nya.
"Benarkah? kalau begitu aku akan menemanimu, kita akan kemana?" Mendengar ucapan Adam Leathina kembali bersemangat dan langsung menyetujui permintaan Adam yang memintanya menemaninya ke suatu tempat.
"Kau, akan lihat besok. Tunggu disini." Dengan sedikit berlari Adam menaiki tangga menuju lantai dua dan beberapa saat kemudian Adam turun kembali dengan membawa sebuah kunci dan memberikan nya pada Leathina.
"Apa ini?"
"Ini adalah kunci kamar tempat mu menginap malam ini."
"Ayo aku antar."
Tanpa menunggu jawaban dari Leathina, Adam sudah menarik Leathina menaiki anak tangga, mau tidak mau Leathina terpaksa mengikutinya.
"Nah aku sudah memesankan khusus kamar untuk mu, masuklah."
Adam membuka sebuah pintu mempersilahkan Leathina masuk terlebih dahulu.
"Terimakasih."
Di dalam kamar itu terdapat sebuah tempat tidur berukuran sedang dan sebuah lemari kecil yang diletakan tepat di samping kanan tempat tidur, serta sebuah meja dan kursi yang diletakan di tengah - tengah ruangan.
"Kalau begitu aku akan menjemputmu besok, ingat ya."
Setelah mengantar Leathina, Adam kembali menutup pintu ruangan tersebut dan pergi meninggalkan Leathina.
Setelah Adam pergi Leathina segera menyimpan tas kainnya dan merebahkan badannya diatasi tempat tidur.
"Kakiku sakit!"
Setelah berdiam diri cukup lama sambil menatap langit - langit ruangan kamarnya Leathina mulai merasakan sakit pada kakinya karena keletihan akibat berjalan cukup jauh kemudian tertidur.
...
Keesokan paginya sesuai janjinya Adam segera kembali ke penginapan yang Leathina tempati menginap.
"Eh, bukannya ini Lea? ini sangat mirip dengan Lea!"
"Tok.. tok.. tok..!"
"Lea! Lea!"
Adam terus mengetuk pintu kamar Leathina dan memanggil nya tapi tidak ada sautan dari dalam.
Karena tidak ada jawaban akhirnya Adam memaksa untuk membuka kamar Leathina.
"Eh, tidak di kunci?"
"Trakk."
Derit pintu kamar Leathina berbunyi saat Adam membukanya.
Dilihatnya Leathina masih pulas tertidur, mata Adam langsung tertuju pada rambut merah milik Leathina yang menutupi separuh wajahnya.
"Lea! Lea?"
"Anne biarkan aku tidur sebentar lagi." Leathina menggeliat kemudian menutup wajahnya dengan bantal dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Anne? Lea! ini aku Adam."
Adam kembali mencoba membangunkan Leathina yang kembali tertidur.
"Ah, Adam?"
"Oh! Astaga aku lupa, maafkan aku Adam. aku belum siap - siap."
Leathina segera membuka matanya mengingat - ingat kembali nama Adam di kepalanya dan setelah menyadari bahwa ia sekarang tidak di mansion lagi Leathina segera duduk.
Leathina cepat - cepat bangun dan berdiri memakan kembali penutup kepala jubahnya yang belum sempat ia lepaskan semalam.
"Hey, hey, tenang."
Melihat Leathina yang kebingungan Adam segera menenangkannya dan mendudukkan nya kembali ke pinggiran tempat tidurnya.
"Oh, kita belum berangkat sekarang?"
"Sekarang itu tidak penting lagi, ada sesuatu yang lebih penting untuk dibahas."
"Apa? ada apa?"
"Lea, bukankah ini kamu." Adam menunjukkan sebuah lukisan seorang gadis berambut merah yang tadi di ambilnya saat dalam perjalanan ke penginapan.
"Tunggu.. dari mana kamu mendapatkan gambar ini?" Leathina memperhatikan gambar yang di perlihatkan oleh Adam.
"Ini banyak tersebar di setiap jalan, jadi aku mengambilnya. apa ini kamu? kamu ternyata dari keluarga bangsawan yang cukup terpandang."
"Bu.. bukan, ini bukan aku, aku bukan anak seorang bangsawan."
Leathina mengelak, dan segera menutup lagi kepalanya dengan jubah miliknya.
"Tidak usah kau tutupi, aku sudah melihat rambut mu tadi."
"Benarkah?"
"Iya, wajahmu bahkan sangat mirip dengan gambar yang ada di sini." Adam berbicara sambil terus memperhatikan kertas yang berisi gambar dan pengumuman.
"Oh, ternyata ada uang hadiahnya juga jika aku menemukan gadis yang ada di dalam gambar ini, hadiahnya cukup untuk bertahan hidup sampai tahun depan tanpa bekerja."
"Kau akan melaporkan aku?"
"Entahlah, mungkin akan aku pertimbankan."
"Adam, Adam, aku mohon jangan laporkan aku. aku hanya ingin hidup bebas saja. aku bahkan tidak pernah berniat membunuhnya, mereka yang langsung menuduh tanpa bukti." Mendengar ucapan Adam membuat Leathina menjadi sedikit takut dan meminta Adam agar tidak melapor nya.
"Membunuh?" Alis Adam mengkerut kemudian matanya kembali pada kertas yang dipegangnya dan membacanya baik - baik.
"Aneh, di lembar kertas pengumuman ini tidak ada yang menginformasikan bahwa dia melakukan kejahatan tapi kenapa dia menjadi sangat takut." Adam membatin mempertanyakan perihal perilaku Leathina yang aneh.
"Ada apa Adam? apa masih ada yang tertulis di sana? apa aku akan ditangkap?"
"Tidak, tidak apa - apa. Aku akan menyimpan ini."
Leathina melihat sikap Adam yang tiba - tiba termenung dan mencoba melihat kertas yang dipegang Adam, tapi Adam cepat - cepat melipatnya dan menyimpannya dalam saku celananya.
......***......