
Pangeran Edward duduk termenung di balkon kamarnya, dari kejauhan nampak sekelompok rombongan para menteri, bangsawan dan tetamu kerajaan berjalan dengan langkah panjang menuju ruangan pertemuan.
“Pangeran, pertemuan sudah akan dimulai anda perlu bersiap-siap.” Ucap kepala pelayan meminta pangeran Edward bersiap dengan hati-hati sebab salah sedikit saja pangeran Edward pasti akan malas dan tidak ingin ikut rapat yang rutin di adakan bersama raja dan yang lainnya, Pangeran Edward dan putra mahkota harus adil untuk memantau langsung pertemuan yang berlangsung sebagai penerus kerajaan.
“Apa aku harus ikut?” Tanya Pangeran Edward memutar bola matanya saat melihat orang-orang yang sedang terburu-buru menuju ruangan pertemuan yang sebentar lagi akan berlangsung.
“Tentu saja anda harus ikut, anda juga harus menarik minat para bangsawan lain agar mendapat dukungan dari mereka untuk memperkuat posisi anda sebagai seorang pangeran.”
“Begitukah?”
“Sebaiknya anda segera bersiap, mereka semua sudah sampai anda harus datang sebelum ayah pangeran memasuki rungan pertemuan.”
Dengan cekatan kepala pelayan membenahi pakaian Pangeran Edward,dari seluruh pelayan yang di tempatkan di kastilnya kepala pelayan inilah yang selalu membantu Edward mati-matian agar pangeran Edward bisa terlihat baik dimata semua orang.
“Anda benar-benar mirip seperti ibu anda Pangeran, ibu ada dulu adalah yang paling cantik.” Ucap kepala pelayan dengan puas setelah mendandani Pangeran Edwar sedemikian rupa.
“Kau tahu ibuku?” Tanya Pangeran Edward tanpa terlalu memperlihatkan emosinya.
“Sebagian besar pelayan yang sudah tua dan lama bekerja di istana tentu tahu dengan ibu pangeran Edward, dia terkenal dengan kecantikan dan kelembutannya.”
“Aku tidak tahu itu, aku tidak mengingat ibuku semenjak aku di asingkan di negara lain.”
“Ah! Maafkan pelayan yang tidak tahu sopan santun ini tuan.” Ucap kepala pelayan menyesal karena mengira pangeran Edward sedih akan perkataannya.
“Saya aka mengawal anda sampai ke ruangan pertemuan.” Ucapnya sopan sambil menunjukkan jalan.
“Tidak perlu, aku akan kesana sendiri kau beristirahatlah.” Ucapnya dingin kemudian berlalu begitu saja.
“Terimakasih Pangeran.”
Kepala pelayan menatap punggung lebar nan tegap Pangeran Edward sampai menghilang kemudian mulai membersihkan ruangan pangeran Edward.
“Hei!” Panggil seseorang membuat kepala pelayan yang sibuk membersihkan menghentikan aktivitasnya.
“Kakek.” Panggil suara itu lagi, lama kepala pelayan mencari dan terkejut melihat orang di jendela sedang melambai padanya.
“Oh astaga! Tuan Aelfric, bagaimana bisa bergelantungan di jendela sedangkan ini bukan lantai dasar.” Segera ia membuka jendela dan menarik Aelfric masuk ke dalam.
“Apa dia sudah pergi?” maksudku pangeran kedua tuanmu yang gila itu, kemana dia?” tanya Aelfric hati-hati takut jika tiba-tiba Pangeran Edward muncul secara mendadak seperti sebelumnya.
“Ah, Pangeran Edward baru saja pergi ke pertemuan rutin kerajaan bersama para tetinggi bangsawan dan menteri-menteri.”
“Begitukah?!” Tanya Aelfrci girang. “Apa dia akan lama disana?” Tanya nya lagi.
“Saya kurang tahu, tapi kalau lancar biasanya berlangsung selama dua sampai tiga jam.”
“Benarkah.” Aelfric kegirangan, “Kakek, aku akan keluar jika orang itu eh… maksudku pangeran Edward datang dan mencari ku bilang saja dia sudah pulang ke rumahnya.” Tanpa menunggu jawaban Aelfric sudah melompat keluar jendela.
Kepala pelayan yang terkejut refleks ingin menariknya kembali ke dalam tapi Aelfric terlalu lincah untuk dihentikan oleh orang tua sepertinya, akhirnya kepala pelayan hanya pasrah dan menutup kembali jendela kemudian melanjutkan pekerjaannya.
…
Dalam ruangan pertemuannya semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing sesuai urutan gelar dan kebangsawanan yang mereka miliki namun ada dua kursi kosong membuat orang-orang langsung tahu siapa dua orang yang tidak hadir itu.
“Duduklah.” Perintah Raja Daylen saat semua orang berdiri menyambut kedatangannya.
“Salam yang mulia.” Ucap mereka semua secara serentak kemudian duduk dengan tertib.
“Benar, yang mulia bahkan pangeran Edward pun kali ini tidak hadir, kapan beliau belajar dari adiknya yang mulia putra mahkota.” Ucap yang lainnya meninggikan pangeran yardley.
“Benar, beliau sungguh tidak pantas menyandang gelar pangeran di depan namanya.”
“Husst! Seseorang menegur karena ucapannya sudah kelewatan, namun melihat raja Daylen yang terlihat tidak peduli dia malah semakin menjadi-jadi.
“Apa yang aku katakan benar, tidak ada kebohongan bukan tuan-tuan sekalian juga menyaksikan sendiri dan mendengar semua rumor tentang pangeran Edward di luar sana.”
“Yang mulia mohon beri tindakan tegas pada pangeran Edwar, begitu juga dengan Duke Leonard semenjak putrinya dikabarkan kembali dia jadi malas menghadiri pertemuan penting yang bahkan di hadiri oleh yang mulia sendiri.”
TRAKKK!
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan seseorang mengumumkan kedatangan pangeran kedua, membuat semua orang tercengang pasalnya tidak ada orang yang berpihak padanya saat pangeran kedua diejek di depan raja dan petinggi lainnya.
“Wah-wah, tuan-tuan ini benar-benar suka bergosip suara anda sampai nyaring terdengar sampai gerbang kerajaan.” Ucap Pangeran Edward dan dengan santai duduk di kursinya di samping kiri raja Daylen sementara di samping kanannya duduk pangeran Yardley.
“S-salam pangeran kedua.” Ucap semuanya serentak namun tergagap, tidak ada yang berani menatap secara langsung pangeran Edward.
“Oh, dan jika aku tidak pantas menjadi pangeran maka kalian sama saja mengatakan bahwa ayahku ini tidak layak menjadi raja kalian. Ini sudah termaksud dalam penghinaan keluarga kerajaan, kalian bahkan berani melontarkan hinaan di depan raja langsung nyali kalian benar-benar kuat ya.”
“Ekh! T-tidak seperti itu.”
“Be-benar, kami hana ….”
“Diamlah.” Ucap Raja Daylen. “Leonard sudah memberikan laporannya padaku jauh sebelum rapat, dan aku yang mengizinkan. “Dan walaupun perilaku Pangeran Edward tidak dapat dibenarkan, tapi kalian juga melanggar aturan dengan menghina keluarga kerajaan terlebih di hadapanku secara langsung, apa kalian meremehkan ku?”
“TIDAK YANG MULIA, MAAFKAN KAMI YANG LANCANG.” Ucap mereka semua serentak.
“Kalian yang tadi menjelekkan keluarga kerajaan akan dihukum, sesuai aturan kerajaan namun hukuman kalian silahkan patuhi peraturan.” Ucap Raja daylen, tegas membuat semua orang gugup dan tidak lagi berani membuka mulut.
Pertemuan lancar diadakan sampai saat semua selesai dilaporkan seseorang kembali gatal mengungkit perihal putri Duke Leonard yang dikabarkan telah kembali ke kerajaan.
“Yang mulia, saya sebagai perwakilan bangsawan lainnya ingin bertanya mengenai putri Duke Leonard.” Tanya seorang bangsawan.
“Ada apa lagi dengan Duke Leonard?” Raja kembali melemparkan pertanyaan.
“Bagaimana dengan anaknya yang memiliki kekuatan penyembuh itu, bukannya dia harusnya berkewajiban mengabdikan diri pada kerajaan dia juga salah satu bangsawan yang bertanggung jawab atas kerajaan bukan.”
Raja Daylen mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan yang barusan diajukan padanya, sementara Pangeran Edward yang mendengar perkataan barusan membuatnya sedikit naik pitam.
“Marquis anda ini sungguh gila urusan ya!” Celetuk Pangeran Edward dengan sengaja merendahkan Marquis Barnum, salah satu petinggi bangsawan yang dihormati di kerajaan keluarganya terkenal kaya raya karena memiliki bisnis besar sampai bekerja sama dengan wilayah luar termaksud kekaisaran membuat dirinya merasa tinggi dibandingkan dengan bangsawan lainnya.
“Edward tenanglah.” Tegur Raja Daylen pada pangeran Edward.
“Marquis Barnum, saya rasa otak anda sudah mulai mundur.” Ucap Raja Daylen membuat Marquis Barnum memerah karena malu dipermalukan di depan bangsawan dan menteri lainnya.
“Sudah sering saya katakan bahwa urusan dari putri Duke Leonard Yarnell sepenuhnya milik ayahnya, kenapa malah kalian yang sibuk dengan urusan orang lain kembalinya atau tidak putri Duke bukan urusan kalian kecuali jika kalian berdiskusi bagaimana caranya membalas budi pada putrinya itu mengingat dia telah berkorban pada kerajaan telah menghalau kehancuran dari monster.”
“Ayah, aku rasa orang tua ini ingin memonopoli kekuatan Leathina seperti para bangsawan memonopoli para penyihir di kerajaan ini.” Ucap Pangeran Edward.
“Edward! Kau harus memperhatikan ucapanmu, jangan panggil ayah di acara resmi seperti ini tapi raja.” Bisik Pangeran Yardley menegur pangeran Edward.
Sayangnya Edward sama sekali tidak mendengarkannya, membuat Pangeran Yardley jengkel.
...***...