I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 92



“Tak”


Terdengar suara gemuruh karena seorang pengangkut barang tidak sengaja menabrak seseorang.


“Ada apa disana?” Tanya winter pada ajudannya yang juga ikut berjalan disampingnya sambil sekilas menoleh kebelakang kemudian kembali lagi fokus berjalan tanpa terlalu memperdulikan keributan yang barusan ia dengar.


“Seorang pengangkut barang tidak sengaja menabrak pejalan kaki lainnya Komandan.” Kata si ajudan pada winter dan setelah ikut kembali fokus berjalan ke depan mengikuti langkah kaki Winter yang merupakan kaki tangan keluarga Duke Yarnell sekaligus pimpinan unit mereka.


“Kau tidak apa-apa Lea?” Terdengar Suara seorang pria dengan nada panik menghampiri orang yang ditabrak si pengangkut barang dan segera membantunya kembali berdiri.


 “Aku tidak apa-apa Adam.” Balas orang yang tadi ditabrak.


“Leathina?” Winter bergumam pelan ragu-ragu dengan suara orang yang tadi didengarnya berbicara, ia takut jika hasratnya yang sangat ingin menemukan Leathina membuatnya berhalusinasi hingga mendengar suaranya.


“Ah, maafkan aku.” Orang yang menabrak cepat-cepat membungkuk untuk meminta maaf atas ketidak sengajaanya menabrak.


“Tidak apa-apa.” Balas si wanita singkat kemudian segera berlalu tanpa memperpanjang masalah yang menimpanya.


“Leathina! Itu benar suara Nona Leathina.” Winter cepat-cepat menoleh tapi kerumunan tadi sudah bubar orang yang menabrak tadi juga sudah pergi dan hanya melihat orang-orang yang kini dengan tenaga berlalu lalang.


Winter lalu melihat kesemua penjuru mencari sumber suara yang didengarnya tadi kemudian ia melihat seorang laki-laki dan seorang lagi mengenakan jubah hingga menutup kepalanya pergi menjauhi mereka reflek Winter segera mengejarnya.


“Ada apa komandan?” Ajudan winter segera bertanya ketika melihat komandannya bertingkah tidak seperti biasanya tapi tidak ada jawaban Winter malah pergi meninggalkannya.


“Komandan! Komandan, ada apa?” Ia juga segera mengejar Winter yang kini dengan terburu-buru seperti mencari seseorang.


“Apa yang sebenarnya terjadi dan tidak aku sadari?” Melihat komandannya tersebut yang kini memeriksa setiap orang yang dilewatinya membuatnya kebingungan dan juga segera mengikutinya.


“Permisi... Nona.. Nona Permisi?” Teriak Winter mencoba menghentikan wanita berjuba yang sedang ia kejar, tapi mereka malah mempercepat langkahnya meninggalkan Winter dan segera memasuki kerumunan membuat Winter kesulitan mencarinya.


“Apa aku salah? Tapi tidak mungkin aku salah mendengarnya, aku sangat mengingat suaranya itu. Leathina sebenarnya apa yang terjadi denganmu.” Gumam winter lirih sambil terus memeriksa orang yang ia lewati satu persatu.


“Itu dia!” Winter akhirnya melihat seorang wanita yang mengenakan jubah, wanita yang ia lihat itu berjalan beberapa meter didepanya cepat-cepat Winter mengejarnya dengan penuh harap.


Aku Mohon, Aku mohon, semoga kamu benar adalah Leathina. Aku tidak tau kenapa aku menjadi seperti ini tapi aku sangat berharap bisa segera menemukanmu Leathina. Winter terus berdoa dalam hatinya ia sangat berharap bahwa suara wanita yang ia dengar tadi memang benar adalah orang yang dicarinya.


Orang yang Winter kejar kini hanya berjarak semeter saja tangannya yang panjang segera meraih pundaknya untuk menghentikan orang tersebut.


“Leathina?” Ucap winter menunggu wanita berjubah yang sedari tadi dikejarnya dengan penuh harap berbalik untuk meresponnya.


“Maaf Tuan, apa anda mengenalku?” ucap si wanita yang dengan kebingungan melihat Winter yang tiba-tiba saja menghentikannya.


Melihat bahwa ia bukanlah orang yang sedang ia cari membuaat harapan Winter untuk menemukan Leathina kandas cepat-cepat ia meminta maaf atas kekeliruannya itu.


“Maafkan aku Nona. aku salah mengenal orang saya pikir anda orang yang sedang saya cari.” Winter dengan sopan meminta maaf.


“Ah, begitu rupanya. Kalau begitu saya permisi tuan.” Wanita tersebut kemudian segera pergi meninggalkan Winter.


“Apa yang terjadi komandan?” Ucap si ajudan pada Winter yang akhirnya berhasil menyusul Pimpinannya itu.


...


“Permisi... Nona.. Nona Permisi?”


Seorang pria tiba-tiba memanggil Leathina dan mulai mengikutinya.


“Lea, kau mengenalnya?” Adam berjalan berdampingan dengan Leathina dan berbisik padanya.


“Jangan menoleh, Adam pokonya jangan sampai dia melihat wajahmu.”


Winter? Itu suara Winter aku yakin itu suaranya. Duh waktunya buruk sekali aku terlalu banyak berlari hari ini tapi pokoknya aku tidak boleh tertangkap. Leathina mempercepat langkah kakinya kini gantian Leathina yang menuntun Adam ia menarik tangan Adam dan membawanya pergi bersamanya.


“Tunggu dulu! Nona.. Nona!” laki-laki tadi masih terus mengejar dan membuntuti Leathina dan Adam yang juga semakin cepat di depannya.


Leathina semakin mempercepat langkahnya dan memasuki kerumunan berusaha menghindari kejaran Winter dibelakangnya.


“Apa laki-laki tadi masih mengejarku adam?”


Adam menoleh kebelakang memeriksa orang yang tadi meneriaki mereka berdua kemudian berpaling kembali ke depan.


“Tidak, sepertinya tadi pria itu bukan mengejar kita.”


“Benarkah?” ucap Leathina tidak percaya.


“Iya, sepertinya sekarang dia sedang berbicar dengan seseorang.”


“Syukurlah kalau itu benar.” Leathina bernafas lega dan mulai memperlambat langkah kakinya.


Apa aku salah mengenali suara Winter tadi? Yah semoga saja lagi pula apa yang dilakukan orang berjabatan tinggi sepertinya datang ke kota pinggiran seharusnya mereka hanya perlu mengirimkan bawahan mereka.


“Jadi Lea, apa kita akan tetap mencari tempat tinggal untuk mu?” Tanya Adam saat melihat matahari kini mulai tenggelam memperlihatkan cahaya kuning keemasan terbentang dilangit.


“Sepertinya aku masih harus tinggal di markas tentara bayangan Adam.” Ucap Leathina lirih sambil membuang nafasnya pasrah.


“Nah, akhirnya kamu telah memutuskan. Seperti yang aku katakan kamu akan lebih aman tinggal bersama kami.”


Iya benar kata Adam, akan lebih aman jika aku tinggal bersama mereka dan terus bersembunyi sementara waktu kejadian yang aku alami tadi membuatku sedikit ketakutan dan aku juga merasa lebih nyaman tinggal bersama mereka tanpa ada yang memandangku dengan pikiran aneh seperti sebelumnya, yah itu tidak mungkin terjadi jika aku berada dimarkas para tentara bayaran karena kami terkenal sama-sama jahat yah setidaknya seperti itu yang dirumorkan tentang diriku.


“Iya benar apa yang kamu katakan Adam, sepertinya kali ini aku akan tinggal lebih lama di sana karena aku merasa aman.” Leathina tersenyum ia merasa lega karena setidaknya masih ada tempat untuknya yang bisa ia gunakan sebagai persembunyian.


“Oh, Lea cepat ada kereta pengangkut barang yang bisa kita tumpangi.” Adam berlari menyusul sebuah kereta kuda yang baru saja melewati mereka dan menghentikannya ia berbicara meminta izin diberi tumpangan setelah itu cepat-cepat melompat naik ke atas gerobak yang ditarik dibelakangnya.


“Ayo naik Lea, ini kendaraan kita pulang kali ini.”


Adam menjulurkan tangannya agar Leathina bisa naik dengan bantuannya sementara Leathina tanpa ragu segera meraihnya dan ikut melompat naik kekereta seperti yang dilakukan adam tadi, setelah Leathina naik kereta tersebut segera berjalan kembali membawa mereka pulang ke markas dimana para tentara bayagan berada.


...***...