I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 180



“Padahal kakak Leathina hanya memprediksinya, tapi prediksinya ternyata menjadi benar.” Batin Nora dan dilihatnya Leathina kini tengah serius memantau semua orang-orang yang menangkap Anne dan teman-temannya.


“Ini seperti sebuah transaksi.” Gumam Leathina setelah melihat dari kejauhan bersama Nora.


“Transaksi? Apa maksudnya kak, aku pikir mereka hanya kumpulan pria-pria mesum.” Nora berhenti menatap Leathina dan kembali ikut memantu orang-orang yang membawa Anne.


“Ini transaksi perdagangan manusia.”


“Bukankah perdagangan manusia sekarang menjadi ilegal jika tidak memiliki izin khusus dari kerajaan?”


“Kau ingat kertas yang tadi kita isi sebelum masuk ke dalam restoran?”


Nora mengangguk menjawab pertanyaan Leathina.


“Memangnya apa hubungannya?”


“Mereka menyamarkan kertasnya menjadi kertas registrasi biasa tapi sebenarnya kertas yang kita isi tadi adalah surat perjanjian seperti menyerahkan diri secara sukarela.”


“Itu buruk, bagaimana kita bisa mengambilnya kembali jika ternyata mereka memiliki surat perjanjian yang diisikan secara tidak sadar. Tapi bagaimana mereka mengoperasikannya?”


“Mereka sepertinya memiliki pelanggan khusus dan jika pelanggannya menyukai salah satu pengunjung pemilik restoran akan menandai mereka dan mengambilnya setelah keluar  dari restoran setelah itu menyerahkan pada pelanggan khusus itu.”


“Kakak Leathina?”


“Umm apa Nora?”


“Apa jangan-jangan pria yang menghampiri kakak tadi merupakan pengunjung yang menginginkan kakak Leathina?”


“Apa maksudmu, itu tidak mungkin dia tidak melihat wajahku dengan benar jadi bagaimana bisa mereka tertarik.” Ucap Leathina yang masih fokus mengintai dari kejauhan.


“Walaupun kakak menggunakan topeng dan jubah orang-orang akan tetap ...”


“Husst, jangan membuat suara Nora.” Leathina tidak terlalu menaruh perhatian pada Nora karena masih fokus mengintai ia takut jika mereka akan ketahuan nantinya.


“Walau pun kakak memakai topeng atau jubah kakak masih menarik perhatian orang-orang dengan kecantikan yang kakak miliki.” Batin Nora, menyelesaikan kalimatnya yang tidak sempat ia ucapkan karena Leathina memintanya untuk diam.


“Omong kosong, ayo pergi. Kami tidak akan ikut!” Anne memberontak kemudian mendorong orang-orang yang mengepungnya dan mengambil kesempatan menarik teman-temannya untuk kabur.


Sayangnya, salah satu temannya malah terjatuh dan tertangkap kembali. Anne yang tidak tega meninggalkan salah satu temannya yang tertinggal kembali dan menolongnya untuk segera melarikan diri dan berakhir di tangkap oleh penjahat, teman-temannya yang lain pun akhirnya ikut tertangkap.


“Sialan!” umpat Leathina. “Nora tetap bersembunyi dan jangan keluar, aku akan menghukum mu jika tidak patuh dengan ucapanku.”


Leathina keluar dari tempat persembunyiannya berlari ke tempat Anne secepat mungkin dan segera menghalangi salah satu penjahat yang akan menusuk Anne.


“Clak!”


“Aaaaakkkk!!” Pekik Anne dan teman-temannya yang terkejut sekaligus ketakutan.


“Si- siapa?” tanya Anne dengan tergagap saat melihat tiba-tiba ada seseorang yang membantunya di saat-saat kritis.


Leathian tidak menjawab, ia hanya menoleh sekilas untuk melihat apakah Anne baik-baik saja dan kemudian kembali menyerang. Hingga para penjahat mundur membuatnya menjauh dari Anne dan teman-temannya.


“Berengsek.” Upat para penjahat karena negoisasinya terganggu.


“Bunuh dia.’


Mereka pun langsung menyerang Leathina secara bersamaan, dengan niat pembunuh yang besar. Dapat dilihat dari caranya menyerang yang tidak main-main, membantai kemanapun Leathina menghindar.


Leathina semakin kewalahan karena hanya menggunakan belati kecil sebagai pertahananya.


“Srek”


“Tak”


Dalam sebuah kesempatan Leathina menyerang dan melumpuhkan beberapa orang dari penjahat yang menyerangnya dan segera merebut pedang kemudian menggunakannya untuk bertahan dari serangan yang lainnya.


“Akh! Aku tidak mau lagi, transaksi kita gagal. Aku bisa mati di sini.” Pelanggan penjahat yang tadinya ingin melakukan transakisi menjadi ketakutan kemudian langsung melarikan diri. Takut jika ia menjadi sasaran orang-orang yang kini tengah bertarung.


“Dasar sampah, apa urusanmu dengan bisnis kami. Mati kau brensek.” Umpat si penjata merasa kesal karena transaksinya digagalkan oleh Leathina.


“Clak”


“Trek!”


“Srekk!”


Pertarungan mereka masih terus berlanjut Leathina berhasil mengugurkan beberapa penjahat tapi masih ada tiga orang lagi yang sepertinya memang mahir menggunakan pedang.


“Arkh!”


“Kakak dia menusukku!”


Jerit salah satu penjahat ketika Leathina menusuk perut bagian kirinya dan jatuh tersungkur dengan banyak darah bercucuran dari luka tusukannya.


“Akh! Kau menusuk adikku.” Teriak penjahat lainnya yang masih tersisah.


“Aku bersumpah pasti akan aku bunuh kau!” teriaknya kemudian berlari dan menyerang Leathina secara membabi buta.


Dengan kemampuanya yang mahir menggunakan pedang Leathina berhasil menghindar dan balas menyerang tapi sayangnyaa pedang yang ia gunakan kini telah aus dan telah rusak.


“Jangan bergerak!” tiba-tiba salah satu penjahat menyandera Anne dan teman-temannya, menggunakannya sebagai kelemahan Leathina.


“Bergerak sedikit saja maka akan aku tebas gadis-gadis ini.” Ucapnya mengancam Leathina dan menodongkan pedangnya.


Leathina menurut, ia tahu bahwa penjahat yang mengancamnya tidak sedang bercanda. Bergerak sedikit saja ia pasti akan menebas Anne dan teman-temannya karena Leathina telah melukai separuh dari mereka semua.


“Mati kau!” teriak salah satu penjata yang tidak terduga menyerang Leathina dari arah belakang.


“Kakak!” teriak Nora memperingati Leathina.


Nora yang tidak tahan melihatnya langsung lari menerobos mengabaikan aturan yang telah Leathina buat untuknya dan menusuk orang yang akan menusuk Leathina.


Disaat bersamaan Anne juga menendang titik vital orang yang menyanderanya hingga meringkuk kesakitan.


“Apa kau terluka?” tanya Nora yang segera berlari ke arah Leathina untuk memeriksa keadaan Leathina.


“KENAPA KAU KELUAR!” Leathina menjadi marah karena Nora mengabaikan perkataannya dan tidak menurutinya seperti yang dijanjikan.


“Mati kau!”


“Awas!”


Penjahat yang tadi di tusuk oleh Nora menarik belati yang menancap di kakinya kemudian menggunakannya untuk menusuk Nora kembali, untungnya Leathina yang melihatnya segera menghalau hingga membuat telapak tangannya yang tertusuk.


Leathina yang mencoba menghindari penjahat yang akan menusuk Nora, segera memeluk erat Nora untuk melindunginya hingga terjatuh ke belakang karena melompat mundur, tudung jubahnya jadi tersingkap dan rambut merahnya terurai.


“NONA LEATHINA!” jerit Anne saat menyadari bahwa orang yang mencoba menyelamatkannya adalah Leathina.


“Aku sudah mempringatkanmu jangan pergi ke tempat yang aneh.” Gumam Leathina kemudian kembali berdiri, sambil menahan sakit di tangannya.


“Kakak tanganmu berdarah.” Teriak Nora histeris ketika melihat tangan kakaknya kini tertusuk belatinya dan belatinya bahkan masih menancap di punggung tangannya.


“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf kakak Leathina.” Gumam Nora sambil memegangi tangan Leathina mencoba untuk mengentikan pendarahan di tangan kakaknya.


“Ini tidak apa-apa Nora, apa kau ttiydak terluka?” tanya Leathina.


“Akh! Sialan!”


Leathina mencabut belati yang menancap di telapak tangannya meleparkannya peda penjahat yang mencegat Anne, dan dengan cepat merebut senjata yang dipegang si penjahat dan menebas penjahat lainnya yang masih tersisa.


“Nona Leathina!” jerit Anne dan teman-temannya mengerumuni Leathina karena khawatir setelah terbebaskan.


“Kakak tanganmu, lebih banyak mengeluarkan darah sekarang.” Ucap Nora gugup.


“Nora, kenapa wajahmu pucat! Apa kau juga terluka?”


Leathina cepat-cepat memeriksa Nora, dan dirasakan cairan hangat merembes dari punggung Nora.


“Sialan.”


Ternyata belati yang Leathina halau berhasil menusuk punggung bawah Nora hingga darahnya merebes dan membuat Nora kehilangan banyak darah.


“Clak!”


“Srek!”


Tiba-tiba salah satu penjahat yang telah terluka parah kembali menyerang Leathina yang sedang tidak fokus karena Nora yang terluka dan seorang pria yang muncul tiba-tiba memblok serangannya hingga Leathina bisa terhindar.


“Nona, kau dan adikmu sepertinya terluka parah.”


“Ah, pria kursi, eh.. maksudku pria yang sebelumnya.” Leathina yang keceplosan langsung menutup mulutnya kemudian melanjutkan kembali kalimatnya setelah menemukan kalimat yang cocok untuk dikatakan.


“Begitukah kau mengingatku Nona?” tanyanya canggung.


“Hati-hati Nona.”


Nora yang kehilangan banyak darah kehilangan kekuatannya untuk tetap berdiri dan jatuh di pelukan Leathina sementara Leathina yang menangkapnya juga jatuh terduduk ke belakang.


“Nora usahakan untuk tetap tersadar, jangan tertidur.”


Leathina dengan hati-hati membaringkan Nora membuka pakaiannya dan menemukan luka tusukan di punggungnya.


“Kakak, ini sakit.” Gumam Nora yang seperti hampir berbisik.


“Aku tahu jadi bertahan lah sebentar.”


Leathina segera mengobati Nora dengan sihir penyembuh miliknya, pelan-pelan aura hijau yang keluar dari telapak tangannya mulai menyelimuti tubuh Nora dan luka yang ada di punggung Nora pelan-pelan membaik.


“Apa masih sakit?” tanya Leathina pada Nora.


“Nora menggeleng, tapi ia tetap lemah karena kehilangan banyak darah.


“Ah, Untunglah.” Ucapnya yang merasa lega. “Tuan terimakasih telah membantu kami, tapi bisakah kau membantuku lagi?”


“Aku siap membantu apapun itu Nona.”


“Terimakasih, Aku putri tertua Duke Leonard Yarnell, Namaku Leathina Yarnell." Leathina memperkenalkan dirinya dan membuk topengnya.


“Tolong bawa adikku dan gadis-gadis ini ke mansion keluarga Yarnell. Dan minta biaya pengantarnanya pada ayahku. Aku pohon aku harus pergi ke suatu tempat.”


“Tapi Nona aku...”


“Anne pastika kau mengurus pria ini dengan baik, dan sebelum kembali ikat penjahat-penjahat ini dan beritahukan ayah untuk menangkapnya.” Seru Leathina sambil berlari meninggalkan Anne dan yang lainnya.


“Kau sebaikknya tidak banyak bergerak dulu.” Ucap si pria meminta Nora duduk dengan tenang setelah itu mengikat para penjahat seperti yang di perintahkan Leathina sebelum pergi.


“Kalian tunggulah disini, aku akan mencari kereta untuk mengantar kalian pulang.


Beberapa saat kemudian sebuah kereta datang menjemput mereka dan di dalamnya ada laki-laki yang tadi dimintai tolong oleh Leathina.


“Silahkan naik, kereta ini akan mengantar kalian pulang.”


“Anda juga, tolong berhati-hatilah.” Ucapnya yang membantu Nora naik ke atas kereta.


“Nona bisakah anda menujukkan jalan menuju ke kediaman keluarga Yarnell?” tanya si pria sopan.


“Apa kusirnya orang sini tuan?” tanya Anne.


“Ita aku menemukannya di jalan besar dan membayarnya untuk mengantar kita kembali.”


“Saya akan turun kembali untuk menjelaskannya pada kusirnya.”


“Baiklah, silahkan.”


Anne turun kembali dari kereta, menjelaskan pada kusir kemana ia harus mengantar penumpangnya dan setelah mengerti Anne naik kembali ke atas kereta dan di saat bersamaan keretapun mulai berjalan mengantarkan mereka pulang.


Butuh waktu hampir setengah jam untuk mereka sampai di kediaman keluarga Yarnell, Anne sengaja memberitahukan kusir agar berhati-hati karena takut Nora akan meras buruk karena guncangan kereta.


“Anne ada apa?” tanya Winter yang kebetul berada di pintu utama karena bersiap-siap pergi.


“Nora!” seru Nicholas saat melihat Nora di papah turun dari kereta oleh pria asing di ikuti beberapa pelayan lainnya yang wajahnya masih pucat.


“Ada apa?!” tanya Winter yang mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka.


“Nora bukankah Leathina pergi bersamamu, kemana dia sekarang?” tanya Winter karena tidak melihat Leathina dimanapun.


“Kenapa pakaianmu dipenuhi darah?” tanya Nora.


Mereka berdua terus mengajukan pertanyaan hingga Nora dan Anne kesulitan untuk menjawabnya karena pertanyaan-pertanyaan terus saja muncul.


“Ada apa? Aku melihat kalian semua berkumpul di sini?” tanya Duke Leonard yang baru saja datang.


“Kenapa bajumu berlumuran darah Nora? Dan kemana Leathina?” duke Loenard pun mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan Winter dan Nicholas pada mereka.


“Ayah maafkan saya.” Ucap Nora gugup.


“Maafkan saya tuan!” seru Anne yang kini bersujud meminta maaf diikuti temannya ynag lain.


“Ada apa?” tanya duke dengan ekspresi datar karena tahu ada suatu yang tidak beres dengan mereka.


“Pagi tadi aku meminta kakak Leathina membawakku berjalan-jalan ke kota dan saat akan kembali kakak Leathina tidak sengaja melihat pelayannya Anne dan teman-temannya masuk ke tempat aneh, karena kahwatir kakak Leathina mengikutinya dan benar saja pelayannya Anne hampir di tangkap penjahat. Sebelum itu kakak menyembunyikan aku tapi saat melawan banyak penjahat seorang diri untuk menyelamatkan pelayannya anne dan teman-temannya kakak hampir tertusuk  dan aku keluar dari persembunyianku untuk membantunya tapi bukannya membantu aku malah menghalanginya karena bertarung sambil melindungiku.”


“Jadi maksudmu Leathina terluka?” tanya Winter dan Nora mengangguk mengiyakan.


“A-ku hampir tertusuk dan kakak Leathina melindungiku dan berkahir terkena serangan para penjahat. Dan saat kami kembali dalam bahaya pria ini menyelamtakan kami.” Ucap Nora menunjuk pria yang ada di belakangnya.


“Aku tidak melihat semua kejadianya tuan, saya tidak sengaja lewat dan melihat seseorang bertarung melawan beberapa  seorang diri. Di tempat kejadi kami mengikat para penjahat yang telah dikalahkan oleh nona berambut merah, tapi sepertinya ada beberapa yang kabur jadi dia menitipkan adiknya dan gadis-gadis ini padaku untuk mengantarnya pulang itulah kenapa aku disini.” Ucap si pria menjelaskan karena Duke Leonard menatapnya dengan intens.


“Jadi maksudmu Leathina mengejar mereka seorang diri?”


“Ita tuan.”


“Dan kau nora, kamu membiarkan kakak mu yang belum pulih dalam bahaya?!”


“Maafkan aku ayah, aku mohon ayah tolong pergi ke sana secepatnya kakak juga terluka.” Nora berlutut memohon pada ayahnya untuk bergegas.


“Kunci anak ini di ruangannya dan jangan biarkan siapapun datang mengunjunginya.”


"Tidak ayah! Aku juga ingin ikut mencari kakak Leathina!”


“Bawa dia sekarang!” ucap duke dan beberapa prajurit langsung membawa Nora secara paksa.


“Anne tunjukkan di mana lokasinya.” Pinta Winter pada Anne.


“Saya juga akan ikut, mungkin saja saya bisa membantu tuan.”


“Kau siapa?” tanya Nicholas sarkas.


“Ah, aku orang yang telah menyelamatkan nona muda dan anak tadi. Dan nama ku Alex.” Ucapnya sambil cengegesan.


“Cepat kita harus bergegas!” Duke Lonard dan yang lainnya pun langsung melompat naik ke kuda masing-masing sementara Alex diberika kuda sendiri oleh duke sementara Anne di bawa oleh salah satu prajurit lainnya sebagai petunjuk jalan untuk mereka.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di lokasi kejadian, karena mereka pergi dengan terburu-buru.


Saat sampai di lokasi kejadian, Duke Lonard dan yang lainnya melihat ada lebih dari enam orang yang kini tersungkur tidak sadarkan diri dengan tali yang mengikat tangan dan kaki mereka.


Duke Leonard, Winter dan Nicholas langsung melompat turun dari kuda yang ditunggangi masing-masing dan mulai memeriksa satu persatu.


“Kemana Leathina pergi?” tanya Duke saat melihat jubah dan topeng hitam yang tergeletak begitu saja di jalanan.


“Dia pergi ke sana tuan.” Ucap Anne memberitahu.


“Winter, Nicholas kalian berdua urus mereka aku akan pergi untuk menyusul Leathina.”


“Paman aku juga ikut, bagaimana jika tenyata disana lebih banyak penjahat.”


“Baiklah, kalau begitu Nicholas urus lah mereka aku dan winter akan segera menyusul Leathina.


“Baiklah ayah, hati-hati dan tolong temukan Leathina secepat mugkin.”


Duke Leonard dan Winter segera melompat naik ke atas kuda masing-maisng dan segera menyusuri jalan yang di tunjukkaan Anne pada mereka.


...***...