
Setelah mengumpulkan keberaniannya akhirnya dengan malu – malu Anne memasuki ruangan Leathina, namun hanya berdiri di depan pintu yang sedikit dia buka sebelumnya.
“Ada apa? masuklah, Anne.”
“Maafkan aku Nona, tapi aku merasa tidak nyaman karena sama saja jika aku menyamakan derajatku sendiri dengan nona jika berpakaian bagus seperti ini.”
“Itu tidak benar, malahan orang – orang akan mengira bahwa aku adalah majikan yang buruk jika membiarkan pelayannya mengenakan pakaian seperti itu ke pesta besar, apa kamu mau mempermalukan aku Anne?’
Anne menggeleng dengan cepat menjawab perkataan Leathina.
“Baiklah kalau begitu ikuti saja perintahku.”
Lagi – lagi Anne hanya membalas perkataan Leathina dengan anggukan serta gerakan isyarat.
“Gadis pintar.”
“Duduklah, wajahmu yang cantik hanya perlu dipoles sedikit saja, Anne.”
Pipi Anne memerah saat mendengar pujian Leathina untuknya. Dengan takut – taku Anne membiarkan Leathina yang mendandaninya walaupun sebenarnya ada perasaan bersalah karena membiarkan majikannya yang melayaninya seperti itu.
Leathina mendudukkan Anne di kursi kemudian dengan cekatan tangannya mulai mendandani Anne, beberapa kali Leathina bahkan tidak segan – segan mengotori tangannya hanya untuk mempercantik Anne.
“Nah sudah selesai, buka matamu.”
“Hik.. hik..
Pelan – pelan Anne membuka matanya dan melihat pantulan wajahnya di dalam cermin dan sesat setelah ia melihat bayangan dirinya sendiri dia malah menangis membuat Leathina panik dan berusaha menenangkannya.
“Kenapa? Ada apa Anne apa kamu tidak menyukainya? Baiklah, baiklah, akan aku hapus. Maafkan aku karena memutuskannya secara sepihak.”
Anne menggeleng dengan cepat kemudian memegang pergelangan tangan Leathina yang sudah mengambil kain untuk menghapus dandanan nya.
“Bu.. bukan be.. gitu Nona, tapi.. hik.” Anne berbicara sambil sesenggukan karena berusaha menahan tangisannya agar tidak pecah.
“Tapi apa?”
“Aku.. aku.. hanya tidak menyangka kalau aku bisa terlihat sebagus ini. belum pernah ada orang yang memperlakukanku sebaik Nona Leathina, Huaa... “
Leathina hanya tersenyum melihat tingkah Anne, kemudian menyuruhnya untuk tidak mengeluarkan air matanya agar dandanannya tidak luntur akibat terkena air matanya sendiri.
“Jangan menangis, usahaku membuatmu cantik akan sia – sia jika kamu dandananmu malah luntur karena tangisanmu itu.”
“Um baiklah nona.”
Mereka berdua kemudian keluar menuju pintu utama, dari kejauhan sudah terlihat Duke Leonard, Nora, Nicholas dan bahkan ibu tiri Leathina telah berdiri menunggu di depan kereta.
“Maafkan aku karena membuat kalian semua menuggu.”
Leathina berjalan mendekati keluarganya kemudian meminta maaf atas keterlambatannya sehingga membuat yang lainnya menunggunya.
“Kakak Leathina.” Nora dengan kegirangan menghampiri Leathina kemudian meraih tangannya dan terus menggandengnya.
“Hari ini kamu terlihat cantik.”
“Benarkah terimakasih, Nicholas.”
Leathina tampak tertegun sejenak ketika mendengar Nicholas memujinya sebelum sadar kembali dan segera menjawab perkataan Nicholas, Leathina tampak bingung ingin mempercayai pendengarannya atau tidak karena melihat sikap Nicholas yang berubah drastis dan mau memujinya dengan sukarela seperti itu.
“Jangan salah paham, aku memujimu karena dandananmu tidak semenor biasanya jika menghadiri pesta.”
“Ah iya aku seperti itu dulu.” Leathina hanya menanggapinya singkat saat Nicholas mengomentari gaya berpakaian dan cara berdandannya dulu.
Duke Leonard berjalan menuju kereta kuda yang sudah dipersiapkan untuk mengantar mereka menuju Istana kemudian berhenti sejenak mempersilahkan Duchess Nice untuk masuk terlebih dahulu, kemudian barulah ia masuk ke dalam kereta disusul oleh Nora dan Nicholas.
Sementara Leathina juga berjalan menuju kereta tapi kereta yang ia tujuh adalah kereta kuda yang sedang terparkir di belakang kereta kuda yang dinaiki oleh Duke Leonard. Kereta kuda itu ukurannya lebih kecil dan tidak semewah kereta yang ada di depannya itu.
“Leathina, kamu mau ke mana?” Nicholas yang melihat Leathina berjalan pergi segera memanggilnya kembali.
“Aku akan naik kereta yang dibelakang saja.” Leathina berbicara sambil menunjuk kereta kuda yang ada di belakang.
“Ada apa Nicholas, kenapa belum naik.”
“Ayah, aku memanggil Leathina yang berjalan menuju kereta kuda yang ada di belakang.”
Mendengar ucapan Nicholas, Duke Leonard kemudian turun kembali dan berjalan menuju Leathina karena ingin berbicara dengannya.
“Leathina, apa yang sedang kamu lakukan?”
“Ayah, aku akan menaiki kereta yang di belakang saja kalian pasti merasa tidak nyaman jika aku bersama kalian bukan?”
“Kapan kami bilang begitu? Naiklah bersama kami.”
“Tidak usah, aku naik di kereta yang di belakang saja.”
“Kamu ingin mempermalukan dirimu sendiri? Orang – orang akan berfikir bahwa kami mengabaikanmu dan bahkan setelah nanti pengumuman pembatalan pertunanganmu di umumkan mereka yang gila urusan akan terus menganggumu nanti.”
Tiba – tiba Nicolas berbicara mendahuli ayahnya dan membuat semua orang yang ada di tempat itu terdiam karena ucapannya.
“Bukankah selama ini memang benar kalian mengabaikan aku dan semua orang tahu itu, jadi apa yang perlu ditakutkan?” Leathina terbawa emosi setelah mendengar ucapan dari Nicholas.
Mereka terlalu mengutamakan pandangan orang terhadap citra keluarganya, bukankah selama ini kalian memang mengabikan Leathina yang dulu dan semua orang sudah tahu jadi apa yang perlu ditakutkan.
“Kamu ini benar – benar keras kepala, langsung masuk ke dalam bisa kan jangan malah memancing emosi orang.”
“Kenapa jadi aku yang disalahkan, bukannya kamu yang membentak aku duluan.”
“Jangan bertengkar lagi dan masuklah Leathina.” Duke Leonard mencoba menghentikan perseteruan antara Nicholas dan Leathina.
“Tidak! Aku tidak akan masuk ke sana bersama kalian. Karena orang – orang akan berfikir bahwa aku adalah penganggu yang akan merusak keluarga bahagia kalian ini.”
“Cukup jangan bertengkar lagi, baiklah naiklah ke kereta yang kamu mau Leathina tapi ingat kita harus sama – sama memasuki area banquet sebagai keluarga besar Yarnell dan jangan membuat masalah yang menjatuhkan reputasi keluarga.”
“Akan aku ingat, kalau begitu saya akan pergi sekarang.”
Karena tidak ingin pertengkaran antara Nicholas dan Leathina terus berlanjut akhirnya Duke Leonard memutuskan untuk membiarkan Leathina setelah itu barulah ia naik kembali ke dalam kereta bersama keluarganya yang lain.
Leathina dengan kesal berjalan menuju kereta kuda yang dipilihnya untuk mengantarnya diikuti oleh Anne.
“Nona? Apa Nona Leathina tidak apa – apa?” setelah berjalan agak jauh akhirnya Anne berani mengajak Leathina berbicara karena menghkawatirkan keadaan Leathina karena setelah kejadian tadi Leathina terus menerus menghembuskan nafas panjang.
“Aku tidak apa – apa, jangan pedulika aku.”
“Baiklah Nona.” Setelah membicaraan singkat mereka berdua, Anne tidak lagi menanyai Leathina dan hanya melihat – lihat pemandangan kota dari jendela.
Leathina duduk dengan tenang di dalam kereta kuda yang dipilihnya sendiri yang akan mengantarnya menuju Istana kerajaan untuk menghadiri pembukaan festival yang akan diadakan. Ia berusaha melupakan kekesalannya karena kejadian tadi.
Hampir saja aku kelepasan tadi dan mengumpat tepat di wajah bocah sialan itu, mungkin Nicholas punya penyakit mental sifatnya dapat berubah – ubah secara drastis. Harusnya aku tetap tenang tadi ini karena aku bukan Leathina yang asli jadi aku tidak bisa mengontrol emosiku. Untuk sementara aku harus mengontrol diriku sendiri agar mereka tidak merasa aneh denganku, aku harus bertahan sampai waktunya tiba.
......***......