I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 217



Dengan langkah terburu-buru Adam meninggalkan si pemilik penginapan setelah menguncinya dari luar kemudian pergi ke ruangan yang Leathina tempati serta menyusul Nina dan Troy yang sudah pergi lebih dahulu.


“Trak!”


Adam membuka pintu dilihatnya dua orang berjubah telah diikat  dan tergeletak begitu saja di lantai.


“Ah! Sudah dibereskan ya, aku sepertinya agak terlambat.” Gumamnya kemudian ikut masuk.


“Bagaimana dengan si pemilik penginapan?” tanya Nina setelah Adam datang.


“Dia sudah aku amankan.” Jawabnya sambil berjongkok melihat dengan teliti dua wajah orang yang mereka tangkap.


“Kalau anak itu?” tanya Troy.


“Sudah aku atur juga, nanti kita hanya perlu pergi dari sini selebihnya anak itu yang akan mengurus sisanya.” Jawab Adam, “Bos, semuanya sudah di atur sesuai perintah anda.” Ucap Adam kemudian kembali berdiri setelah melihat wajah dua orang yang mengincar Leathina.


“Baiklah kalau begitu kita tinggal mengurus dua orang ini.” Ucap Edward.


“Tapi Bos, melihat penampilannya sepertinya mereka bukan orang dari kerajaan coniferland.” Gumam Adam setelah tadi sekilas mengamati.


“Benar katamu Adam, dia bukan orang dari kerajaan kita.” Jawab Edward.


“Katakan kalian dari mana?” tanya Adam mulai mengintrogasi sementara Edward hanya duduk mengamati kegiatan yang sedang dilakukan Adam.


“Cuih!” orang yang ditanya malah meludahi Adam untungnya Adam mempunyai refleks yang bagus hingga berhasil menghindar, “Jangan harap orang seperti kalian mendapatkan informasi dari kami.” Ucapnya memilih untuk menutup mulut tidak ingin menjawab pertanyaan dari Adam.


“Ah!” Adam melongos melihat kelakuan keduanya yang sama-sama keras kepala, “Hahahahah.” Kemudian disusul dengan suara tawanya yang pecah. “Kau sepertinya salah paham jika kami akan melepaskanmu begitu saja.” Ucapnya menyeringai kemudian ditatapnya Troy yang memang sudah mengepalkan tinjunya sedari tadi hingga memperlihatkan gembulan otot-otot di seluruh lengannya. “Giliranmu untuk mengeksekusi.” Ucap Adam kemudian Troy mengangguk dan langsung mendekat.


“Terimakasih.” Ucap Troy setelah itu Adam mundur sedikit menjauh memberi ruang pada Troy.


“Pak!”


“Arg!”


“Brak.”


“Akh!


“Tak!”


Troy membabat habis keduanya hingga seluruh wajah orang yang dipukulinya itu tidak lagi berbentuk.


“Kamu tidak ingin mengoleksi salah satu bagian tubuh mereka untuk dibawa pulang ke kerajaan? mereka orang asing loh.” Bisik Adam pada Nina, mengingat hobi aneh rekannya itu.


“Tidak, aku tidak punya waktu mengawetkannya. lagi pula mereka bukan orang yang perlu aku ingat. Seluruh koleksiku hanya berisikan orang-orang yang layak untuk diingat.” Balas Nina acuh tak acuh pada Adam.


“Aku kira kau tertarik, sayang sekali.” Gumam Adam kemudian segera menghentikan Troy yang semakin lama semakin menikmati pekerjaannya memukuli orang.


“Cukup Troy, kamu bisa membunuhnya jika terus memukulnya tanpa jeda seperti itu. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika sumber informasinya mati kan?”


Troy menurut ia berhenti memukul kemudian mundur ke belakang Adam sambil membersihkan tinjunya yang kini berlumuran darah.


“Baiklah sekarang apa kalian telah berubah pikiran? Katakan darimana kalian berasal?” tanya Adam lagi masih mengulangi pertanyaan yang sama.


Yang diintrogasi masih menutup mulutnya, mereka masih setia menjaga misinya.


“Hah! Sebenarnya aku tidak suka kekerasan tapi apa boleh buat.” Gumam Adam kemudian mengisyaratkan pada Troy untuk memukulnya lagi.


Troy dengan senang hati melakukannya ia kembali menyiksa keduanya tanpa ampun.


“Astaga! mengerikan sekali.” Batin Leathina merinding karena seluruh ruangan hanya terdengar suara bedebak bedebuk. “Tidak suka kekerasaan apanya? kalian sepertinya malam sangat menikmatinya. Kalian berdua benar-benar akan mati malam ini, kenapa juga kalian salah memilih target dan bersinggungan dengan orang-orang gila seperti mereka berempat.” Batinnya sambil menutup telinganya tidak tahan mendengar erangan menahan sakit terlalu lama.


“Adam.” Panggil Edward.


Edward yang melihat reaksi Leathina yang tidak terlalu menyukai kegiatan yang sedang berlangsung kemudian memanggil Adam memberikan isyarat, Adam langsung mengangguk paham dan kembali mendekati Troy untuk menghentikannya kemudian membisikkan sesuatu di telinga Troy.


Troy mengangguk paham kemudian berhenti dan mundur.


“Sekarang katakan dari mana kalian berasal jika tidak ingin merasakan sakit lagi?” tanya Adam mengintimidasi keduanya.


“Kalian masih tidak mau berbicara?” Ucap Adam melihat keduanya masih bertahan, “Baiklah kalau kalian kembali meminta untuk dipukul lagi tapi kali ini kalian akan dipukuli sampai mati disini.” Adam kembali memanggil Troy.


“Arkh! A- akan aku katakan, jangan pukuli lagi.” Mereka akhirnya menyerah, Adam yang mendengarnya langsung tersenyum sumringah.


“Baiklah akan aku kabulkan.”


Adam membawa salah satunya keluar dan yang satunya lagi dibawa oleh Troy, mereka mengintrogasi keduanya secara terpisah jika ada yang menjawab berbeda maka salah satunya pastilah berbohong atau keduanya bisa saja berbohong hingga membuat mereka harus selektif memilih informasi yang benar dan yang salah.


Setengah jam kemudian Troy dan Adam secara bersamaan kembali menghadap Edward.


“Bagaimana?” tanya Nina menyambut keduanya.


“Dia bilang datang dari timur.” Jawab Adam.


"Sama, orang yang aku tanya juga bilang mereka orang dari Timur." Ucap Troy juga memberitahu.


Leathina yang mendengarnya kini ikut bergabung karena dua orang yang tadi sudah di bawa ke tempat lain.


“Untuk apa mereka mencariku?” tanya Leathina penasaran.


“Salah satu bangsawan yang memiliki status tinggi di kerajaan timur sakit jadi mereka diperintahkan untuk mencari anda Nona Leathina." Troy menjawab pertanyaan Leathina dari hasil interogasinya pada orang yang tadi dibawanya keluar.


“Mereka bukan dari kerajaan timur, mereka masih berbohong pada kita dan sepertinya tidak akan mau mengatakan yang sebenarnya bagaimanapun kalian menyiksanya.” Ucap Edward ketika mendengar laporan dari Adam dan Troy.


“Tapi Tuan Ed, pernyataan yang diberikan pada Adam dan saya sama tidak berbeda dari mana anda tahu mereka berbohong?” tanya Troy yang tidak paham.


“Jika mereka memang dari kerajaan Timur maka seharusnya mereka berdua memiliki kulit hitam atau kecoklatan karena disana memiliki suhu panas dan cenderung berpakaian tipis karena suhu yang panas, tapi jika dilihat mereka berdua malah memiliki kulit putih dan pucat, serta dengan stelan pakaian yang tebal dapat dipastikan bahwa mereka dari kerajaan barat, mengenai pernyataan yang mereka berdua sampaikan sama persis seharusnya kalian curiga bahwa mereka telah mengaturnya jika memang menghadapi situasi seperti ini.” Ucap Edward menjelaskan.


Troy mengangguk paham setelah mendengar penjelasan panjang dari Edward.


“Berarti semua informasi yang mereka katakan bohong dan tidak berguna?” tanya Adam.


Tidak semuanya tidak berguna, melihat bagaimana mereka sangat ingin menemukan Leathina secepatnya sepertinya informasi tentang ada orang yang perlu segera diobati sepertinya benar.”


“Jadi seperti itu, kalau begitu kita tidak perlu lagi melakukan interogasi lebih lanjut pada mereka berdua.”


“Iya, kita harus segera pergi dari sini. Teman-temannya sebentar lagi akan datang untuk mencari mereka berdua karena belum kembali.” Ucap Edward.


“Baiklah tuan, silahkan pergi ke depan terlebih dahulu bersama Nona Leathina, kau juga nina pergilah bersama Tuan Ed dan Nona Lea aku sudah meminta Ban menyiapkan kereta di depan penginapan beberapa kuda yang bisa kita gunakan. Aku dan Troy akan menyusul setelah membersihkan penginapan ini.”


Setelah mereka bertiga pergi Troy dan Adam segera menyiramkan minyak ke seluruh penginapan setelah itu ikut menyusul keluar.


“Adam cepat naik ke kudamu” Ucap Troy yang kini sudah duduk di kursi kusir dan sudah ingin memecut kuda agar segera menarik kereta membawa mereka pergi.


“Iya, kau pergilah dulu aku akan menyusul dengan kudaku.” Seru Adam dari luar.


“Tuan.” Panggil Ban pada Adam.


“Hei nak! Pekerjaanmu bagus ambil ini.” Ucap Adam sambil melemparkan kantung uang yang pernah direbutnya bersama dengan Troy dari si pemilik penginapan.


“Jika kau ingin menyelamatkan si gendut itu urusanmu tapi kau pikir-pikir dulu jangan sampai dia merebut semua uangmu itu, dan ingat tugasmu bakar tempat ini setelah kami pergi,” ucap Adam sebelum benar-benar naik ke atas kudanya.


“Ah! ambil ini juga berikan pada keluarga si gendut jika ada yang berduka karena kepergiannya itupun jika kau tidak menyelamatkannya setelah aku pergi.” Ucap Adam sebelum benar-benar pergi. “Aku yakin dia pasti akan menyelamatkan tuannya yang bodoh itu sebelum membakar penginapannya.” Batin Adam sambil menunggangi kudanya secepat mungkin menyusul Troy yang telah pergi lebih dulu.


“Kita akan kemana?” tanya Leathina pada Edward.


“Kita akan ke kota terdekat untuk melarikan diri terlebih dahulu.” Jawab Edward.


“Kau akan membawaku ke kerajaan?” tanya Leathina lagi.


“Tergantung dengan keputusan ayahmu, kami berdua membuat kesepakatan jika nanti Duke Leonard mengikuti keputusanmu dan merelakan mu tidak kembali ke kerajaan maka aku tidak akan membawamu kembali sebaliknya aku yang akan ikut denganmu, tapi jika Duke Leonard yang sudah membuat kesepakatan meminta kami untuk membawamu kembali maka terpaksa kami akan membawamu kembali.” Ucap Edward menjelaskan pada Leathina.


Leathina terdiam tidak lagi bertanya dan kemudian membuang pandangannya ke luar kereta.


“Maafkan aku Leathina, aku tidak bisa menyalahi aturan yang aku buat dalam organisasi ku.” Ucap Edward meminta maaf pada Leathina karena merasa bersalah.


“Tidak apa-apa lagi pula itu memang pekerjaanmu bukan.” Jawab Leathina bersikap tenang walaupun sekarang pikirannya kacau.


“Kau akan melarikan diri lagi?” tanya Edward curiga yang melihat Leathina begitu tenang dan patuh.


“Tidak akan.” Leathina menggeleng, “Lagi pula aku akan tertangkap lagi.” Ucapnya lirih kemudian menunduk melihat ujung kakinya.


Edward yang melihat Leathina tidak bisa lagi berkata-kata ia akhirnya hanya ikut terdiam.


“Boomm!!”


Tidak lama setelah mereka pergi meninggalkan desa terdengar bunyi ledakan disusul dengan api besar yang mencuat ke langit, masih dapat mereka dengar teriakan penduduk desa yang panik mencari air untuk memadamkan api yang tiba-tiba membesar memakan seluruh bangunan kayu.


“Anak itu melakukan pekerjaannya dengan baik.” gumam Adam yang melihat kobaran api di belakangnya kemudian setelah itu langsung mempercepat laju kudanya untuk menyusul Troy yang sedikit lagi dapat ia susul.


“Hei! kau menyelesaikannya dengan baik.” tegur Troy saat melihat Adam telah ada di samping kereta.


“Tentu saja, karena aku hebat.” Balasnya membanggakan dirinya.


Edward kemudian memanggil Nina yang juga sedang menunggangi kudanya di luar kereta, Nina langung mendekatkan kudanya ke jendela kemudian menunggu dengan tenang apa yang akan dikatakan Edward.


Adam juga sama ia memperlambat pacuan kudanya agar bisa mendengar apa yang akan dikatakan Edward.


“Membutuhkan waktu sehari penuh untuk sampai ke kota menggunakan kereta, tapi jika menggunakan kuda mungkin hanya membutuhkan setengah hari kalian berdua pergilah lebih dulu cari penginapan yang aman untuk digunakan nanti saat di kota, disana akan lebih banyak orang yang bukan hanya mencari Lea tapi juga mengincar ku juga karena sepertinya banyak yang tahu bahwa pimpinan guild tentara bayangan akan ada disana, saat aku ke sana beberapa hari yang lalu ada beberapa dari guild lain yang datang untuk membunuhku, kalian berhati-hatilah dan periksalah dengan teliti terlebih dahulu sebelum kalian memilih penginapannya.”  


“Baik tuan.” Ucap Nina paham sementara Adam langsung mengangguk mengerti.


“Ah! dan kalian berdua juga harus hati-hati di kota yang akan kita kunjungi memiliki kebiasaan aneh, bangsawan disana suka membeli orang yang mereka suka secara sepihak, kalian berdua berhati-hatilah terutama kamu Adam sembunyikan wajahmu sebisa mungkin wanita disana lebih berbahaya.” Ucap Edward lagi memperingati Nina dan Adam sebelum berpisah.


Adam dan nina tidak mengerti apa yang dimaksud oleh tuannya itu, mereka berdua hanya saling bersitatap tapi akhirnya hanya mengangguk berpura-pura paham kemudian langsung memacu kudanya meninggalkan kereta yang berjalan lebih lambat dari kuda biasa.


“Hati-hati Adam, jangan samapi dijual di rumah bordir hahah.” Seru Troy memperingati Adam sebelum berpisah setelah itu tertawa terbahak-bahak.


“Kau yang harus hati-hati jangan sampai salah dimasukkan ke ternak hewan buas. Dasar beruang!” balas Adam tanpa menoleh lagi dan hanya fokus memacu kudanya.


“Brengsek!” umpat Troy setelah mendengar Adam pergi dan kesal karena tidak sempat membalas ejekan Adam.


Suasana mendadak menjadi hening di kegelapan malam, hanya tapak kaki kuda yang terdengar dan suara dari kereta yang terus berderit saat ditarik.


“Kau tidak tidur?” tanya Edward pada Leathina yang masih duduk dengan tegap dan tidak menanggapi pertanyaan Edward. “Kau bisa menggunakan bahuku sebagai sandaran.” Ucapnya lagi memberi tawaran pada Leathina.


Leathina menatap Edward kemudian menggelengkan kepalanya menolak tawaran yang Edward berikan. “Tidak perlu Edward, terimakasih. Aku suah terlalu banyak tidur.” Ucapnya kemudian kembali melihat keluar jendela.


“Kalau begitu Leathina bisakah kau mebitahuka ku apa alasanmu hingga tidak ingin kembali ke kerajaan, setidaknya agar aku bisa sedikit mengerti keadaanmu atau kesulitan seperti apa yang sebenarnya yang sedang kamu alami? aku tentu saja akan senang hati membantumu keluar dari kesulitan,” tanya Edward serius yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kembali berharap Leathina mau mempercayainya dan memberitahukan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


“Ah! Edward, bagaimana kamu tahu bahwa perjalanan ke kota akan memakan waktu selama seharian penuh jika menggunakan kereta kuda dan hanya memakan waktu setengah hati jika menggunakan kuda?” tanya Leathina tiba-tiba.


“Tadi kau bilang beberapa hari yang lalu kamu pernah kesana, Apa kamu pernah ke sana sebelumnya? Bagaimana kau tahu bahwa kebiasaan para bangsawan disana aneh?” tanya Leathina lagi.


“Hah!” Edward menghela nafas berat, “Leathina.” Panggilnya pada Leathina agar Leathina berhenti bertanya padanya, “Aku tahu kau sedang mengalihkan pembicaraan sekarang, tapi aku harap sekarang kau benar-benar memberitahukan padaku apa yang sedang terjadi padamu sekarang?” ucapnya dengan serius ditatapnya Leathina dalam, membuat Leathina tidak bisa lagi mengelak.


“Aku akan memberitahu mu tapi tidak akan banyak, dan kau tidak boleh bertanya lagi setelahnya, sepakat?!” ucap Leathina pada akhirnya.


Walaupun sedikit kecewa karena Leathina masih belum mau bercerita dan mempercayainya Edward tetap mengangguk sepakat dengan aturan yang Leathina buat, setidaknya dia akan mengetahui kenapa Leathina terus lari dari orang-orang.


“Dalam waktu dekat aku ditakdirkan untuk mati di kerajaan, itulah kenapa aku berusaha lari dari jadwal kematian ku itu.” Ucap Leathina memberitahu Edward.


Edward yang mendengarnya langsung tertegun kaget mendengar pernyataan Leathina.


“Jadwal?” tanya Edward tidak paham, “itu berarti kamu sudah tahu bahwa kamu akan mati di sana dan hal itu pasti terjadi jika kamu ada di kerajaan?” tanya Edward kemudian dibalas dengan anggukan oleh Leathina.


“Pembunuhan?” Tanya Edward lagi dan leathina kembali mengangguk.


“Bisa dibilang seperti itu tapi juga bukan pembunuhan hal ini tidak bisa di prediksi.” Ucap Leathina sambil berfikir.


“Siapa?” Tanya Edward lagi.


“Tidak akan aku beritahu tapi kau mengenal mereka semua.” Jawab Leathina.


“Itu berarti ada beberapa orang yang menginginkanmu mati?” Leathina kembali mengangguk mengiyakan.


“Mungkin bisa juga tidak.” Ucap Leathina lagi


“Bagaimana jika ak ...”


“Cukup!” ucap Leathina, “Kamu sudah terlalu banyak bertanya dan aku sudah banyak menjawab, aku tidak bisa memberitahukan padamu lebih dari ini.” Leathina melarang lagi Edward untuk bertanya padanya.


“Maafkan aku Leathina.” Ucapnya kemudian tidak lagi bertanya pada Leathina.


Edward paham kemudian tidak lagi bertanya dan keduanya kembali terdiam selama perjalanan dan selama di perjalanan itu Edward terus mengepalkan tangannya menahan emosi karena bagaimanapun ia ingin membantu Leathina, Leathina malah selalu menolaknya dan mendorongnya menjauh.


...***...