I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 122



Leathina tidak bisa tinggal lebih lama lagi di tempat Denisa, ia harus segera kembali ke kerajaan sebelum pesta dimulai untuk menjalankan rencananya membalas perbuatan Yasmine. Ia memacu kudanya keluar dari desa dan melewati perbatasan kemudian melanjutkan perjalanannya sampai matahari mulai terbenam kemudian berubah menjadi gelap seluruhnya.


“Sepertinya aku harus mencari penginapan di desa selanjutnya sebelum kabut menutupi jalanan.” Gumam Leathina setelah merasakan hawa dingin dan samar-samar melihat kabut di udara.


Saat telah melihat dari kejauhan lampu-lampu desa yang akan ia lewati berikutnya, Leathina memperlambat jalannya ia merasakan beberapa kehadiran orang yang sepertinya sedang mengamatinya dari jarak yang cukup dekat.


Leathina mempersiapkan dirinya, di balik jubahnya ia telah kokoh menggenggam gagang pedangnya siap menariknya kapanpun jika seseorang menyerangnya. Kewaspadaannya ia tingkatkan untuk memprediksi dari mana mereka akan menyerang.


“Syutt!”


“Clang.”


Sebuah anak panah terbang ke arah kepala Leathina dan dengan gesit Leathina menarik pedangnya kemudian memotong anak panah yang melesat kearahnya itu.


“Bandit!” gumam Leathina ketika melihat kurang lebih lima orang keluar dari persembunyiannya untuk menunjukkan dirinya.


Masing-masing dari mereka membawa berbagai jenis senjata seperti celurit, pedang, tombak, kapak dan tidak terkecuali panah yang tadi di tembakkan ke arahnya.


“Padahal sebelum berangkat aku berharap perjalananku akan lancar.” Gumam Leathina sambil menghela nafas panjang dan melompat turun dari kudanya.


“Kau cukup terampil dalam menghindar Nona.” Salah satu dari mereka berbicara sambil menunjukkan senjatanya pada Leathina.


“Akan lebih bagus jika aku tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk bertarung melawan mereka semua.”


“Jadi kenapa kalian mencegat ku?” Tanya Leathina pada para bandit yang menghalangi jalannya.


“Tentu saja untuk merampok mu.” Jawab mereka hampir bersamaan kemudian tertawa mengejek Leathina.


“Aku sebenarnya tidak berniat bertarung dengan kali...”


“Srek.”


Belum sempat Leathina menyelesaikan ucapannya sebuah serangan mendarat dan merobek ujung jubahnya karena menghindar tepat waktu jika saja Leathina tidak menghindar di waktu yang tepat kaki kanannya sudah terputus.


“Hahahah.” Tawa mereka memenuhi telinga Leathina yang masih melihat robekan jubahnya yang terpotong, dan mereka semua semakin meremehkan Leathina.


“Astaga, lucu sekali. Berani sekali seorang wanita berpetualang sendiri tanpa penjaga harusnya kau di rumah saja dan menggosok punggung periuk Nona.”


“Keterlaluan!” gumam Leathina saat robekan jubahnya ternyata cukup parah.


“Apa sekarang kau ketak..


“Srek”


“Serk”


“ARGHHH!”


Leathina menebas kaki salah satu bandit yang berdiri di depannya dengan pedang miliknya kemudian dengan cepat mengambil celurit yang dijatuhkan karena menahan sakit akibat tebasan Leathina kemudian melepar celurit yang di pungutnya mengenai satu bandit lagi hingga hanya tersisi tiga bandit yang masih berdirih kokoh.


“Kurang ajar!” teriak salah seorang bandit yang masih berdiri kemudian melemparkan tombaknya ke arah Leathina.


“Srek”


“ARGHH”


Sebelum ia melemparkan tombaknya Leathina telah lebih dulu melemparkan pedangnya ke arah si pemegang tombak hingga menusuk perut kirinya.


“Argh!”


salah satu anak panah melesat dan menancap di punggung Leathina entah sejak kapan salah satu bandit telah berada di belakang Leathina.


“Kena kau!” serunya sambil tersenyum kegirangan karena salah satu anak panahnya akhirnya berhasil mengenai Leathina.


Leathina segera mengambil kembali pedangnya serta tombak yang tadi hampir dilemparkan ke arahnya kemudian menargetkan nya pada si pemegang panah dan langsung melemparkannya hingga menancaap pada punggunggung tangan si pemanah.


“Arghh! Sialan, tanganku!” Teriaknya sambil berusaha menahan rasa sakit di tangannya dan mencoba melepaskan tombak yang masih tertancap di punggung tangannya hingga menembus telapak tangannya.


“Leathina mengayunkan pedangnya pada bandit ke lima yang masih tersisah tapi bandit kelima yang dilihatnya itu kini sudah mengigil ketakutan dan dengan sukarela membuang sendiri senjatanya jauh-jauh dan kemudian berlutut di depan Leathina memohon agar lehernya tidak digorok dengan pedang miliknya.


Leathina tidak menyerang orang yang telah menyerah kalah ia kemudian melihat keadaan para bandit yang kini meringis kesakitan menahan sakit akibat serangan Leathina. Ia sendiri baru merasakan rasa nyeri yang menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuhnya karena anak panah yang masih menancap di punggungnya.


“Ahk! Walau tidak dalam tapi tetap saja sakit.” Leathina merintih kesakitan saat mencabut anak panah yang masih menancap di punggungnya kemudian segera menyembuhkan dirinya sendiri dengan sihirnya.


“Sihir penyembuh!” teriak salah satu bandit ketika melihat Leathina menyembuhkan dirinya sendiri.


“Sembuhkan aku juga Nona, ini benar-benar sakit!” salah satu bandit merangkak ke arah Leathina.


“Aku juga, aku mohon Nona pengembara!”


“Aku minta maaf Nona, aku mohon obati aku juga!” Seru mereka yang terluka sambil menahan rasi sakit karena luka yang ada di tubuhnya.


“Kau tidak akan mati paling kakimu saja yang akan putus.” Leathina berjongkok sambil mengawati luka di kaki yang disebabkan olehnya.


“Kau juga tidak akan mati, tapi kau tidak akan bisa menggunakan tanganmu dalam beberapa waktu.” Gumam Leathina lagi berpura-pura serius saat melihat tangan yang tadi di lemparnya dengan tombak.


“Nah, ini yang mungkin akan mati dalam beberapa jam lagi karena perutnya mengalami pendarahan.” Gumam Leathina sambil beralih melihat keadaan bandit berikutnya.


“Astaga aku lupa.” Ucap Leathina seakan-akan melupakan sesuatu yang penting dan menepuk jidatnya.


“Aku harus segera ke desa untuk mencari penginapan, apa mungkin aku bisa mendapat penginapan ya ini sudah tengah malam. Padahal aku harus beristirahat karena akan melakukan perjalanan jauh.” Gumam Leathina sambil berbalik dan berjalan menuju kudanya mengabaikan para bandit yang masih mengerang kesakitan karena terluka.


“No-Nona.” Ucap lirih salah satu bandit yang terlihat paling muda di antara bandit lainnya sekaligus bandit terakhir yang tadi langsung berlutut menyerah pada Leathina.


Ia menarik ujung jubah Leathina saat Leatina akan menaiki kudanya dan membuat Leathina terhenti.


“Apa? Kau masih ingin merampok!” tanya Leathina sarkas padanya.


Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat menjawab pertanyaan Leathina.


“Nona aku mohon maafkan kami.” Ia berbicara sambil kembali berlutut di depan Leathina.


“Orang yang kakinya putus itu adalah ayahku, orang yang tangannya tertancap tombak adalah kakakku, orang yang perutnya terluka karena terkena celurit adalah pama...”


“Tunggu, tunggu dulu! Jadi maksudmu kalian ini sekeluarga?” Tanya Leathina tidak percaya tapi orang yang berlutut di depannnya itu malah mengangguk membenarkan pertanyaan Leathina.


“Nona aku mohon sembuhkan mereka dengan kemampuanmu, sa-saya tahu bahwa yang kami lakukan pada nona adalah salah dan tidak dapat dibenarkan.”


“Nah itu kau tahu, jadi aku tidak punya alasan untuk menyembuhkan mereka walaupun mereka adalah keluargamu.”


“Ta-tapi Nona, di rumah hanya tersisa para perempuan saja jika, jika kami tidak kembali maka mereka tidak akan ada yang menjaga.” Ucapnya ragu-ragu.


“Aku juga punya keluarga di rumah jika mereka menemukan bahwa aku mati dirampok kalian mereka juga akan sedih.”


“Nona memang benar bahwa kami adalah bandit hutan dan pekerjaan kami adalah merampok tapi kami benar-benar tidak punya niat untuk melukai nona di awal. Kami hanya ingin menakut-nakuti Nona dan merampas benda berharga yang nona bawa saja sejauh ini kamu belum pernah membunuh orang.” Teriak bandit yang tangannya terluka menjelaskan pada Leathina keadaan yang sebenarnya.


"Tidak membunuh apanya! Jelas-jelas tadi kalian berniat membunuhku. Ucapan Leathina acuh tak acuh dan berniat segera pergi.


“Argh!” jerit bandit yang kakinya terluka yang juga merupakan ayah mereka.


“Paman! Paman! Sadarlah!” teriak bandit yang tangannya terluka saat melihat pamannya yang perutnya terluka kini telah mengeluarkan banyak darah dan mulai kehilangan kesadarannya.


“Aku tidak punya alasana untuk menaruh simpati pada mereka, walau bagaimanapun pekerjaan mereka tetaplah perampok. Eh, tapi bukankah dulu aku seorang pencuri?” Batin Leathina mempertimbangkan aksinya ia takut jika telah menyebuhkan mereka nanti malah akan diserang kembali.


“Kami akan menunjukan penginapan yang aman! Bukankah tadi nona mengatakan sedang mencari tepat penginapan?” tanya bandit yang kini tidak lagi bersujud tapi masih berlutut di depan Leathina. Jidatnya terlihat kemerahan akibat tadi membenturkan kepalanya ke tanah saat bersujud.


Leathina tidak menggubrisinya dan melah menatapnya dengan alis berkerut karena menaruh kecurigaan pada mereka.


“Kami, kami, akan menjamin keselamatan Nona jika Nona masih tidak percaya.” Ucapnya kemudian takut-takut karena melihat tatapan tidak percaya dari Leathina.


“Kami juga akan menyediakan makanan dan tempat tidur yang layak untuk nona.” Ucapnya lagi dan masih berharap pada Leathina.


“Argh!


“Tanganku, tanganku!” teriak salah satu bandit sambil mencengkram tangannya yang terluka rasa nyeri mulai menjalar ke lengannya dan ke seluruh tubuhnya karena menahan sakit.


“AKU MOHON NONA! AKU MOHON SEMBUHKAN KELUARGAKU! JIKA, JIKA NONA BERKANAN SEBAGAI GANTINYA NONA BISA MEMBAWAKU SEBAGA BUDAK!!!


Ia melihat kakak dan keluarganya yang lain dan semakin menjerit kesakitan dan berakhir memohon dan menawarkan dirinya sendiri.


“DAMIAN!”  teriak ayahnya menghentikan anaknya yang menawarkan dirinya sebagai budak.


“Aku mohon Nona!” ucapnya lagi sambil memohon dan tidak mempedulikan ayahnya lagi yang mencoba menghentikanya.


“Ah, drama keluarga ini merepotkan!” celetuk Leathina tiba-tiba karena telinganya sakit mendengar semua orang saling berteriak ke arahnya.


“Nona.” Ucap si bandit memelas pada Leathina dan masih berlutut di depan Leathina.


“Baiklah! Baiklah!” Jawab Leathina yang akhirnya pasrah karena tidak tega melihat bandit yang terus berlutut di depannya itu perasaanya luluh saat melihatnya memelas dan mulai merasa kasian padanya.


“Tapi kau harus mempertanggungjawabkan ucapanmu itu!” Ucap Leathina dengan memberi peringatan sebelum mengobati para bandit yang terluka.


Leathina meminta bandit yang namanya di sebutkan dengan Demian untuk memegangi kudanya sementara ia sendiri segera mendatangi bandit yang kehilangan banyak darah terlebih dahulu karena keadaannya lah yang paling parah dan kini tengah setengah sadar pelan-pelan aura hijau sihir penyembuh milik Leathina menutupi lukanya dan perlahan-lahan kulit yang rusak kembali beregenerasi dan menutup kembali.


Selanjutnya ayahnya yang terluka pada bagian kakinya, selanjutnya kakakya yang tadi ia tusuk dengan tombak dan masih menancap di tangannya.


“Argh!” Pekiknya saat Leathina mencabut tombak yang menancap di tangannya kemudian segera menyembuhkan tangannya kembali.


Setelah selesai Leathina kemudian beralih ke bandit lainnya yang juga terluka.


“Pamanku, apa dia akan baik-baik saja?” tanya bandit yang tadi tangannya terluka saat melihat pamannya kini tidak sadarkan diri.


“Tenang, dia baik-baik saja. Pamanmu itu hanya tertidur karena kehilangan banyak darah.” Jawab Leathina kemudian kembali ke kudanya yang masih di dijaga oleh Demian.


“Jadi sekarang tunjukkan padaku penginapan yang kau maksud tadi?” Tanya Leathina pada Demina.


“No-Nona.” Panggil seseorang.


Saat Leathina berbalik dilihatnya para bandit yang tadi ia sembuhkan kini berdiri kecuali yang tadi tidak sadarkan diri ia digendong di punggung temannya.


“Ada apa? Apa kalian akan ikut kami? Tenang saja anak kalian tidak akan aku bawa lari dan ku jadikan budak aku hanya memintanya menunjukkan penginapan padaku.”


“Kami ingin meminta maaf dan berterimakasih.” Ucap orang yang tadi ditunjuk oleh Demian dan mengaku bahwa dia adalah ayahnya mewakili bandit yang lainnya berbicara.


“Baiklah.” Jawab Leathina singkat karena terburu-buru ingin segera beristirahat karena akan melanjutkan perjalanannya lagi besok.


“Ayo Demian, tunjukkan jalannya.”


“Tunggu sebentar Nona, kami akan mengambil kuda kami yang di sembunyikan di dalam hutan.” Jawab Demian kemudian segera berlari memasuki hutan di ikuti oleh bandit yang lainnya.


“Kami? Apa mereka semua akan mengantarku atau mereka semua meninggalkanku sendiri disini.” Gumam Leathina tidak mengerti saat melihat semua bandit memasuki hutan.


“Sepertinya aku memang ditinggalkan disini, aku yang bodoh pecaya pada mereka.” Gumam Leathina lagi setelah hampir setengah jam menunggu tapi para bandit tidak kunjung kembali.


Leathina akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali ke desa selanjutnya dan mencari penginapan di sana.


“Nona! Nona!” Teriak Demian mengejar Leathina dan mencoba menghentikan laju Leathina yang menunggangi kudanya dengan sangat cepat.


“Demina, dia menyusulku?” Batin Leathina saat mendengar suara Demian meneriakinya dari belakang dan segera memperlambat lajunya agar Demian bisa menyusulnya.


“Nona, Tunggu sebentar.” Panggil Demian lagi setelah berhasil menyusul Leathina dan dengan bersusah payah berusaha mengatur nafasnya kembali karena kelelahan menyeimbangkan laju kudanya dengan Leathina.


“Ada apa Demian?” Tanya Laeathina saat Demian berada di sampingnya.


“Nona maafkan aku karena terlambat silahkan ikuti saya.” Ucap Demian kemudian langsung mendahului Leathina untuk menunjukkan jalan.


“Lea, panggil aku Lea.” Ucap Leathina tiba-tiba karena merasa tidak nyaman terus dipanggi dengan Nona di perjalanannya.


“Maaf?” Tanya Demian tidak mengerti.


“Panggil aku Lea. Lea adalah namaku kau bisa memanggilku dengan itu.” Jawab Leathina memberi penjelasan pada Demian.


“Oh, maafkan aku Nona Lea. Aku juga belum memperkenalkan namaku.” Ucap Demian dengan sopan.


“Perkenalkan nama saya adalah Demian. Saya keturunan dari bandit yang bersembunyi dan tinggal di hutan dan pekerjaan kami hanya mermpok semenjak dari leluhur kami.”


“Jadi ini adalah pekerjaan turun temurun?” Tanya Leathina kemudian.


“Iya Nona Lea, kami tidak bisa mencari pekerjaan lain karena status keluarga kami sangat rendah.”


“Jadi Kemana yang lainnya Demian?” Tanya Leathina setelah menyadari bahwa hanya Demian lah yang menyusulnya sementara yang lainnya tidak kelihatan.


“Mereka kembali lebih dulu untuk mempersiapkan segalanya  Nona.” Jawab Demian dan fokus menunjukkan jalan pada Leathina.


“Mempersiapkan segalanya? apa kalian sedang mempersiapkan jebakan untukku Demian?” Tanya Leathina lagi tidak mengerti dan mencurigai Demian tapi tetap mengikutinya karena Demian berjalan ke arah desa.


“Tentu saja tidak Nona bagaimana mungkin kami menjebak orang yang telah telah berbaik hati memaafkan kami dan bahkan mengobati kami yang telah berbuat jahat pada Nona.”


“Baiklah aku lega mendengarnya.” “Ini sudah tengah malam, akan sulit mencari penginapan di jam segini sebaiknya aku harus percaya saja dengan anak ini.” Leathina akhirnya memilih untuk tetap mengikuti Demian.


Demian berjalan ke arah desa dan berbelok memasuki hutan saat akan mendekati pedesaan dan terus berjalan di kegelapan malam. Walaupun tidak ada cahaya sama sekali yang menerangi jalannya Demian tampaknya tidak kesulitan memasuki hutan dan menghapal jalan dengan baik. beberapa menit kemudian mereka berdua melihat sebuah perumahan dengan lampu-lampu yang bersinar dari dalam rumah-rumah yang dilihatnya itu.


Demian memperlamat kudanya melewati pagar yang terbuat dari kayu yang ujungnya sengaja diruncingkan sepertinya untuk menghalau hewan buas melewati pagar, kemudian di tutup kembali oleh kakak Demian setelah mereka berdua memasukinya.


Beberapa orang wanita dan anak perempuan serta para lelaki yang tadi mencoba merampok Leathina berdiri di luar rumah menyambut kedatangannya bahkan paman mereka yang sekarang sudah sadar ikut berdiri di luar menyambut Leathina walaupun dengan wajah pucat dan di papah oleh seorang wanita karena kehilangan banyak darah.


“Selamat datang Nona, terimakasih telah menyelamatkan suamiku.” sambut seorang wanita setelah Leathina turun dari kudanya.


Leathina melirik Demian yang berdiri di sampingnya karena bingung dengan situasi yang di hadapannya.


“Jadi penginapan yang kau maksud adalah rumahmu sendiri.” Bisik Leathina pada Demian.


“Ah, ini adalah tempat yang muncul di otakku saat mendengar Nona mencari pengnapan.” Jawab Demian sambil cengegesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Dan siapa perempuan yang ada di depanku ini?” Tanya Leathina lagi saat melihat seorang perempuan berdiri di depannya dengan senyuman lebar untuknya.


“Oh, itu ibuku dan anak perempuan yang ada di dekatnya itu adik perempuanku. Perempuan yang memapah pamanku adalah istrinya mereka berdua baru menikah jadi belum punya anak.” Jawab Demina dan menjelaskan struktur keluarganya pada Leathina.


...***...