I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 75



Di dalam ruangan banquet Janneth melihat Leathina meninggalkan ruangan dan diam - diam mengikutinya.


“Aku harus memberinya pelajaran karena telah mempermalukan aku dan keluargaku di depan orang -orang saat kompetisi berburu!” Dengan ekspresi masam Janneth mengikuti Leathina yang keluar dan menunggu sampai jalan yang dilalui sepi tidak ada orang yang melihat mereka barulah Janneth berencana menegurnya.


“Dia itu makhluk apa sih! Kenapa jalannya cepat sekali. Apa dia tidak sesak nafas berjalan secepat itu dengan menggunakan korset ketat dan sepatu sempit?”  Janneth bersandar pada pilar untuk mengatur nafasnya yang mulai berantakan.


“Sial! Dimana perempuan itu?” Setelah nafasnya kembali normal Janneth kembali mengikuti Leathina tapi saat melihat ke lorong koridor yang tadi dilewati Leathina Janneth sudah tidak melihat siapa – siap di sana.


Janneth mempercepat langkahnya melewati koridor untuk mencari Leathina dan berjalan menelusuri seluruh area hanya untuk menemukan target pelampiasan amarahnya.


“Eh, Nona Yasmine? Dan seorang anak kecil, lebih baik aku bertanya padanya saja.” Saat melewati koridor yang menghubungkan ke taman kerajaan Janneth tidak sengaja melihat Yasmine dan seorang anak laki – laki bersamanya, dan karena ingin bertanya mengenai keberadaan Leathina akhirnya Janneth menghampiri Yasmine yang masih berdiri di ujung koridor.


“Terimakasih Nona Yasmine, kalau begitu aku pergi sekarang!” belum sempat Janneth sampai pada ujung koridor tempat Yasmine berada, Janneth mendengar suara anak kecil berpamitan dan pergi meninggalkan Yasmine.


“Salan Nona Yasmine.”


“Oh, kebetulan sekali salam Nona Janneth. Apa yang membawa anda kesini?”


“Aku ingin menanyakan apakah Nona Yasmine pernah melihat Nona Leathina melewati koridor ini.”


“Nona Leathina?”


“Iya, saya ada urusan yang harus dibicarakan dengannya.”


“Aku tidak melihatnya tapi tadi adiknya bilang dia akan bertemu kakaknya Leathina di taman.”


“Adiknya?”


“Um, iya anak laki – laki yang anda lihat tadi itu adalah adiknya, Nora Yarnell.”


“Benarkah? Kalau boleh tahu ada urusan apa anda dengan tuan muda dari kediaman Yarnell?” Mendengar nama keluarga Yarnell disebutkan, Janneth dengan hati – hati bertanya pada Yasmine agar Yasmine tidak mencurigainya bahwa dia sedang diam – diam menggali informaji jika saja ada yang penting diantara mereka berdua.


“Tenang saja Nona Janneth, aku tidak punya urusan apa – apa aku hanya kebetulan berpapasan dengannya saat melewati koridor kemudian dia melihatku dan bertanya apa hadiah yang cocok saat ingin meminta maaf pada seorang wanita.”


“Apa hadiah yang cocok Nona Yasmine?”


Mendengar jawaban dari Yasmine, Janneth berbicara lebih santai karena menganggap tidak ada yang penting dari pertemuan mereka berdua.


“Aku menyarankannya untuk membawa bunga, dan kalau bisa akan lebih bermakna jika warna bunga yang ia bawa identik dengan si penerima.”


“Ah, jadi seperti itu.”


“Nona Janneth, bukankah anda punya urusan penting yang harus anda diskusikan dengan Nona Leathina, aku sarankan anda cepat menyusulnya di taman sebelum beliau pergi.”


“Astaga, iya aku hampir lupa. Kalau begitu aku permisi Nona Yasmine dan terimakasih.”


Janneth cepat – cepat berjalan menyusuri koridor menuju taman kerajaan untuk menemui Leathina meninggalkan Yasmine yang masih berdiri ditempatnya menatap kepergian Janneth, karena meras tidak enak Janneth sesekali berbalik dan melambai padanya sebelum berbelok ke arah taman.


Setelah Janneth pergi meninggalkanya Yasmine hanya mentapnya senyuman yang tadinya mengembang diwajahnya tiba – tiba saja berubah menjadi datar kemudian seger pergi meninggalkan koridor saat Janneth menghilang dari jangkauan matanya.


...


Leathina akhirnya sampi pada taman kerajaan yang dimaksudkan oleh Nora kemudian segera mendatangi gazebo dan mengambil tempat duduk untuk menguggu Nora datang menemuinya.


“Sudah hampir sejam aku menunggu tapi Nora belum datang juga.” Gumam leathina saat dilanda kebosaan menuggu sendirin.


“Apa dia melupakan janjinya denganku? Tapi tidak mungkin dia bisa lupa.”


“Huuf”


“Baiklah, akan aku tunggu sebentar lagi dan jika dia tidak datang aku yang akan mencarinya.”


Leathina menghela nafas panjang kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sedang didudukinya.


“Ayo kita kembali ke banquet sekarang.”


“Sayang, aku masih ingin disini bersamamu tanpa digangu oleh orang – orang.”


“Kita harus segera kembali, pertunjukan sebentar lagi akan dimulai keluarga kita akan curiga jika kita tidak ada disana dan berbahaya jika kita berada di sekitar danau di malam hari.”


“Ah, iya malam ini langitnya sangat cerah dan cahaya bulan juga sangat terang bunga sihir yang ada di danau akan agresif.”


“Nah, ternyata kamu tahu. Ayo kita harus segera kembali.


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan taman kerajaan dan kembali berkumpul di banquet bersama orang – orang yang lainnya.


“Tunggu, tunggu, apa maksudnya? Danau? Bunga sihir? Cahaya bulan? Apa mereka sendang bermain permainan  kata tapi ini sedikit familiar di telingaku.”


Leathina terus memikirkan perkataan dari kedua orang yang tadi tidak segaja di dengarnya, mengingat – ingat sesuatu yang menurutnya sangat penting.


“Danau dan bunga sihir? ASTAGA YANG MEREKA MAKSUD BUNGA TERATAI SIHIR!”


Saat berhasil mengingat kembali Leathina terlonjak karena terkejut.


“Nora, aku harus mencarinya sekarang. Semoga tidak terjadi seperti yang aku pikirkan, tapi seharusnya tragedi itu terjadi saat ulang tahun Nicholas. Tunggu apa aku salah mengingat alur kejadian. Di Mansion tidak ada danau atau kolam besar dan sekrang... oh tidak aku harus segera mencari Nora.”


Leathina segera berjalan mengelilingi taman kerajaan untuk mencari Nora sambil mengingat – ingat alur cerita yang pernah ia baca dan mencocok – cocokannya dengan situasinya sekarang.


“Argh! Sial! Kenapa aku belum menemukan danaunya.” Leathina marah kepada dirinya sendiri karena sudah beberapa kali ia mengelilingi taman kerajaan tapi sepanjang pengelihatannya yang ia lihat hanyalah bunga di seluruh taman.


Keringat dingin mulai bercucuran di wajah Leathina, sesekali ia menyekanya untuk mengurangi kekhawatiannya, bibirnya telah memerah karena terus digigitnya matanya sibuk melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Nora.


“Oh, ada orang.” Leathina melihat seorang pria tua yang sedang duduk sambil menghisap pipa rokoknya, tanpa pikir panjang Leathina langsung menghampirinya.


“Permisi, Pak Tua.”


“Oh, hiik.. Nona Leathina hiik...”  Alis mata Leathia terangat karena mendegar nada bicara orang yang ditanyainya aneh, setiap di akhir kalimat pria tua tersebut selalu mengik kesulitan untuk berbicara karena kesulitan bernafas.


“Anda mengenaliku?”


“Iya tentu saja hiik..  aku mengenalimu hiik.”


“Ah, iya, iya aku tau aku terkenal, kalau begitu tolong jawab pertanyaanku sesingkat mungkin anda tidak perlu banyak berbica karena kesulitan benafas.”


“Apakah anda melihat jalan menuju danau, tolong tunjukkan padaku.”


“Hiik.., jalan menuju danau?”


“Iya, iya, apa kamu tahu pak tua?”


“Jalan dan lurus saja nanti hiik.. kamu akan menemukan jalan setapak hiik dan, tunggu sebentar hiik..” Lelaki tua berhenti berbicara sejenak untuk mengumpulkan nafasnya yang sepertinya hanya tinggal sedikit.


Astaga, butuh waktu yang lama jika aku harus menuggu kakek tua ini selesai berbicara menunjukkan jalan.


“Maafkan aku karena tidak sopan pak tua dan tolong rahasiakan ini.”


Karena tidak tahan menunggu pria tua menyelesaikan perkataanya akhirnya Leathina memilih untuk membantunya dengan cara mengobatinya.


Leathina meminta meminta maaf terlebih dahulu karena lancang meletakkan telapak tangannya di dada pria tua itu kemudian mengobatinya dengan sihir penyembuh miliknya.


“Seharusnya ini cukup untuk anda bisa berbicara dengan baik sekarang, tapi aku tidak bisah menyembuhkanmu sepenuhnya pak tua penyakitmu cukup parah aku hanya bisa mengurangi sedikit, nah cobalah berbicara sekarang.”


“Oh, astaga aku sekarang tidak merasa sangat sesak lagi, bagaimana kamu melakukannya hiik.. padahal aku telah berobat ke semua tempat tap..”


“Iya, iya aku tahu, sekarang pak tua cepat jelaskan dimana letak danaunya.”


“Ikuti saja jalan ini saat kamu sampai pada jalan setapak yang tidak dilapisi bebatuan beloklah ke kiri di sana adalah hiik.. pinggiran danau. Disana berbahaya jika kamu melihat cahaya dari danau segeralah menjauh itu adalah bunga teratai sihir yang memikat mata manusia.”


“Baiklah, terimakasih pak tua. Oh iya usahakan untuk berhenti menghisap benda berasap itu jika ingin bernafas lebih lama.”


Setelah mengetahui jalan menuju ke arah danau Leathina segera pergi meninggalkan lelaki tua yang ditanyainya tadi, dengan terburu – buru ia berjalan menuju danau untuk mencari keberadaan Nora.


......***......