I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 165



“Leathina?” Panggil Pangeran Edward saat memasuki ruangan Leathina.


“Oh, Edward?” Papa Leathina yang menyambut kedatangan Pangeran Edward. “Ada urusan apa kau datang ke sini?” tanyanya lagi.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Pangeran Edward sambil berjalan menghampiri Leathina.


“Oh, aku sedang latihan berjalan.” Jawabnya sambil pelan-pelan melangkah mendatangi pangeran Edward di bantu oleh Anne yang menjadi pegangannya.


“Biarkan aku yang membantunya berlatih.” Ucap pangeran Edward kemudian mengambil tangan Leathina yang dipegang oleh Anne.


Anne mengangguk paham, “Mohon hati-hati Pangeran, kaki nona Leathina masih lemah.” Ucap Anne yang khawatir Leathina akan terjatuh.


“Tidak akan, Edward tidak mungkin membiarkan aku terjatuh.” Ucap Leathina dengan nada bercanda agar Anne tidak terlalu khawatir.


“Kalau begitu saya permisi.” Anne membungkuk setelah itu berjalan meninggalkan ruangan Leathina, membiarkan Leathina bersama dengan Pangeran Edward.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku, apa yang membawamu kemari?” tanya Leathina lagi.


“Tentu saja untuk mengunjungimu, jadi bagaimana keadaanmu?”


“Ah, seperti yang kau lihat aku sudah sehat hanya perlu sering-sering berolahraga supaya tidak kaku. Tapi Edward kau datang kesini tidak hanya untuk melihatku bukan?”


“Kenapa kau bertanya lagi, tentu saja untuk melihatmu.”


“Kau bohong!”


“Kenapa kau selalu saja bisa membuat orang menyerah Leathina.” Edward menghela nafas berat kemudian tersenyum dan dengan hati-hati mendudukkan Leathina yang sepertinya sudah kelelahan berjalan mengelilingi kamarnya untuk berlatih. “Aku datang karena ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Duke Leonard.”


“Dengan ayahku?”


“Iya, aliansi bangsawan menuduh duke leonard melakukan pemberontakan dan ingin menggulingkan kerajaan.”


“Omong kosong macam apa itu, untuk apa ayahku menggulingkan kerajaan? satu-satunya yang melakukan pemberontakan adalah orang-orang yang melaporkan ayahku sebagai pemberontak."


“Entahlah, mungkin karena ingin menjadi raja?”


“Pak”


Leathina langsung meninju Edward tapi Edward hanya tersenyum tidak menanggapi karena pukulan Leathina sangatlah lemah.


“Kau sakit tapi masih saja bisa memukul orang.” Ucapnya sambil tertawa.


“Kau menuduh ayahku sebagai pemberontak!”


“Aku hanya menjawab pertanyaanmu saja.”


“Tapi aku tidak suka, duke Leonard itu orang yang jujur jadi dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”


“Leathina, kenapa kau berbicara seolah-olah duke adalah orang lain dan tidak punya hubungan apa-apa denganmu.”


“Ah, kau pasti salah dengan aku tidak pernah berbicara seperti itu kok.” Leathina mengelak berusaha mengalihkan pembicaraannya.


“Setelah mengingat ingatanku kembali, aku jadi sedikit merasa bersalah dengan ayahku di bumi yang aku tinggalkan dan juga merasa bersalah pada duke Leonard karena aku bukan putri kandungnya rasanya aku sedang menipu semua orang disini, aku krisis identitas sekarang.” Batin Leathina yang terus-menerus kepikiran dengan kehidupannya yang dulu dan yang sekarang.


“Lea?” panggil pangeran Edward saat melihat Leathina menatapnya tapi dengan tatapan kosong.


“Lea, apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi tapi masih belum ada respon dari Leathina.


“Leathina Yarnell!! Serunya dengan sedikit mengguncang bahu Leathina karena khawatir dengan Leathina dengan tatapan kosong seperti itu.


“Ah, Edward.” Ucap Leathina yang akhirnya tersadar kembali.


“Apa kau baik-baik saja Lea?” tanyanya lagi yang masih khawatir dengan kondisi Leathina yang sepertinya masih belum dalam kondisi yang baik.


“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu merasa khawatir seperti sekarang kau terlihat seperti seseorang yang akan kehilangan sesuatu itu buruk untukku jadi jangan mengeluarkan ekspresi bodoh seperti itu Edward.” Ucap Leathina kemudian disusul dengan tawanya yang sepertinya ia paksakan untuk tertawa.


“Itu karena kau satu-satunya orang yang terlihat akan pergi kapan saja tanpa mengucapkan perpisahan.” Jawab Edward kemudian menggenggam erat tangan Leathina.


“Jadi apa yang kau pikirkan sampai melamun seperti itu?”


“Setelah mendengar ucapanmu aku menjadi kepikiran tentang bagaimana jika suatu saat nanti aku benar-benar menghilang, kau tahu semua orang kapan pun bisa menghilang kan?” tanya Leathina yang berbicara sambil menatap ke luar jendela.


“Oh, Astaga! kenapa wajahmu tambah menyeramkan seperti itu Edward!” seru Leathina panik ketika kembali melihat ke arah Edward dilihatnya Edward kini terlihat sangat muram dan menatapnya dengan tatapan dingin.


“Kau tahu ini hanya perumpamaan tidak nyata, jadi perkataan ku yang tadi jangan kau masukkan dalam hati, lagi pula semua orang pasti akan mati bukan? Aku tahu kau dan yang lainnya pasti akan sedih jika aku menghilang  aku juga tidak berniat untuk kabur lagi dari ayahku karena sekarang dia sudah menyukaiku jadi, jadi, jangan salah paham  aku hanya ...”


“Kenapa aku harus menjelaskan segala sesuatunya pada orang ini, terlebih yang paling membingungkan kenapa aku jadi merasa bersalah membahas tentang masalah kematian atau menghilang dengannya. Lagi pula aku dan orang ini tidak punya hubungan yang spesial.” Batin Leathina yang merasa bahwa dirinya sepertinya tidak bersalah hingga membuatnya bingung dengan tingkah lakunya sendiri.


“Huh! Edward?” Leathina yang berusaha menjelaskan apa yang sedang dia pikirkan  pada edward kemudian termenung saat tiba-tiba edward memeluknya.


“Leathina, kenapa kau harus membahas kematian setelah baru saja terbangun?” gumamnya pelan kemudian menghela nafas panjang.


“Tunggu! Tunggu! Ini tidak benar jangan seperti ini, orang mungkin akan salah paham.” Leathina refleks langsung mendorong edward.


“Ah, maafkan aku, aku pasti sudah kehilangan pikiran sehatku.” Ucap Edward kemudian kembali duduk dengan benar.


“Nah, kau memang sudah gila Edward.”


“Benarkah? Jadi kau menganggap ku gila, bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau yang telah membuatku menjadi gila seper ....”


“Hentikan omong kosong ini kau membuatku merinding!” Ucap Leathina menghentikan Edward tidak memberikan kesempatan untuk Edward menyesuaikan kalimatnya. "Jadi katakan kenapa ayahku yang setia pada raja bisa dituduh sebagai pemberontak?!” tanya Leathina segera mengalihkan pembicaraan.


“Apa kau harus mengetahuinya? Kondisimu buruk sekarang, bagaimana jika kau kepikiran dan jatuh sakit?”


“Ah, kau terlalu protektif edward. Sejak kapan aku sakit-sakitan.” Ucap Leathina mengabaikan perkataan Edward.


“Kenapa kau berbicara seolah-olah kau sehat?” ucapnya sambil menunjukkan leathina cermin yang ada di ruangan dan memperlihatkan Leathina pantulan wajahnya sendiri.


Terlihat wajah Leathina yang pucat pasih, terlebih keadaannya sekarang yang jika berdiri harus ditopang atau di bantu oleh orang lain dan jika duduk harus bersandar, bergerak sedikit saja akan membuatnya merasa kesakitan.


“Ah, ini, ini tentu saja karena aku lama tertidur. Ini bukan penyakit tapi kelemahan otot jika aku makan banyak dan sering berlatih aku pasti akan sehat kembali seperti sebelumnya, ini hanya masalah waktu!” Leathina membela diri walaupun yang dikatakan Edward tidak sepenuhnya salah yang ia lakukan pun sama.


Edward tidak menjawab dan hanya mendengarkan celoteh Leathina yang terus mengelak dengan kondisi tubuhnya sendiri.


“Ah, kau pulanglah jika tidak ingin memberitahu. Aku yang akan mencari tahu sendiri!” ucap Leathina yang akhirnya tidak tahan karena merasa risi dengan cara Edward yang melihatnya.


Edward menghela nafas panjang kemudian berpindah tempat duduk di samping Leathina mempersempit jarak nya hingga Leathina pun segera memalingkan wajahnya lagi tidak ingin melihat Edward.


“Hutan hitam sedang kacau, dan kebetulan kekacauan terjadi setelah Winter masuk ke dalam hutan hitam untuk mencari Yasmine. hal itu digunakan oleh orang-orang yang ingin menjatuhkan keluarga Yarnell sebagai kesempatan untuk memukul mundur ayahmu dan mengajukan tuduhan bahwa duke Leonard melakukan pemberontakan karena sengaja mengacau di hutan hitam hingga seluruh penghuninya mengamuk dan masuk ke kerajaan.”


Pada akhirnya Edward memberitahukan pada Leathina apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang.


“Bukannya Farkas berasal dari sana, apa ayah tidak memikirkan dampaknya jika seseorang mengetahui identitasnya yang asli? Dia mungkin akan lebih mudah di hancurkan jika menyangkut fakta bahwa ia memasukkan binatang buas ke kerajaan secara diam-diam.”


 “Kau ini sebenarnya berpihak dengan siapa ayahmu atau para bangsawan yang masuk dalam aliansi? Dan darimana kau tahu siapa Farkas padahal kau baru sadar dalam beberapa hari ini dan belum pernah bertemu dengannya.”


“Ah, itu karena aku bisa tahu semuanya hahah.” Jawab Leathina dengan tertawa canggung karena merasa Edward sepertinya sedang mengawasinya juga.


“Apa kau pernah bertemu dengannya?” tanya Edward lagi.


“Kemarin  Damian datang menjengukku seorang pria ikut bersamanya dan memperkenalkan dirinya sebagai farkas, Damian memperkenalkan kami dan mengatakan yang sebenarnya tapi dengan syarat aku tidak boleh memberitahu sapa-siapa mengenai identitasnya.”


“Kau barusan memberitahukan ku siapa dia sebenarnya.”


“Itu karena kau memang sudah mengetahui siapa dia yang sebenarnya!”


“Dan kau tahu dia terlihat masih sangat muda kira-kira berapa umurnya, dia bahkan langsung menyatakan perasaannya padaku apa itu mungkin cinta pandangan pertama? Kau tahu aku masih cukup populer ternyata hahha.” Leathina berbicara sambil mengingat-ingat kejadian saat ia baru pertama kali bertemu dengan Farkas, Leathina tidak menganggapnya serius tapi itu membuatnya merasa terhibur jika mengingat betapa lugunya Farkas yang langsung menyatakan rasa sukanya pada orang yang baru pertama kali ia temui.


“Jadi Damian yang membawanya masuk ke ruangan mu? Dia juga bahkan mengatakan hal aneh seperti itu?” ucap duke tanpa berekspresi membuat Leathina langsung mengetahui bahwa ia sekarang sedang dalam kondisi buruk.


“Ah, mungkin Damian atau Farkas akan menjadi bulan-bulanan Edward menggantikan posisi Aelfric, apa yang harus aku lakukan untuk mereka berdua aku merasa buruk untuk mereka.” Batin Leathina yang mengetahui nasib kedua orang itu untuk kedepannya.


“E- Edward, kau tahu ini hanya bualan, hanya bualan saja jadi jangan terlalu kau masukkan dalam pikiranmu yang sepertinya sedang kacau sekarang.” Ucap Leathina mencoba meluruskan maksud pembicaraannya sebelumnya karena Edward kini berubah menjadi dingin.


“Benarkah?” tanya Edward memastikan.


“Te- tentu saja, tapi bukankah kau seharunya kembali sekarang? Kau sudah terlalu lama disini, kau pasti sibukkan Edward jadi kembalilah sekarang.”


“Aku punya banyak waktu sekarang, lagi pula janji pertemuanku dengan duke setengah jam lagi.”


“Jadi kau belum bertemu dengan ayahku dan malah berkahir menemui ku!” seru Leathina yang terkejut dengan perkataan Edward.


“Jika aku meladeninya sedikit lebih lama lagi aku mungkin akan pingsang, duh bagaimana aku harus mengusir orang ini. Aku takut membuatnya marah karena sifatnya yang temperamental dan selalu berubah-ubah terlebih lagi pekerjaan sampingannya adalah pembunuh bayaran bagaimana jika aku terlepas dari takdirku yang harus mati dieksekusi berubah menjadi mati dibunuh olehnya.” Batin Leathina kemudian merinding ketakutan karena pikirannya sendiri.


“Kau mengusirku?” Tanya Edward membuat Leathina terkejut karena Edward sepertinya bisa membaca pikirannya.


“Kau takut denganku?” tanyanya lagi pada Leathina.


“Ah, ak- aku, aku tentu saja tidak mengusirmu Edward dan kenapa aku harus ta- takut denganmu?” jawab Leathina dengan terbata-bata takut salah bicara dan berakhir membuat Edward marah.


“Ah, jadi begitu. Dari caramu berbicara sepertinya kau memang takut denganku.” Ucap Edward kemudian terdiam, “Tapi kenapa baru sekarang kau takut denganku Lea?” tanyanya lagi setelah terdiam beberapa lama.


“Ak- aku bilang kau tidak takut denganmu Edward, se- sebaiknya kau kembalilah sekarang.” Ucap Leathina yang kemudian panik karena Edward terlalu yakin dengan ucapannya hingga membuat Leathina gugup.


Hingga tanpa sadar Leathina yang gugup malah berdiri dan berjalan ke arah edward dan memaksanya untuk keluar.


“Ah, bodoh. Kakiku belum cukup kuat untuk berjalan.” Batin Leathina yang setelah berdiri langsung terhuyung ke belakang karena tidak punya kekuatan untuk berdiri dengan kokoh.


“Hati-hati.” Edward dengan gesit langsung menangkap Leathina yang akan terjatuh kemudian dengan hati-hati mendudukkan Leathina lagi di tempat duduk.


“Te- terimakasih.” Ucap Leathina sambil menunduk karena tidak berani melihat ke arah Edward.


“Aku tidak tahu apa yang membuatmu takut padaku Lea, tapi sebaiknya aku harus pergi sekarang.”


“Aku, aku, tidak takut padamu, hanya saja melihatmu aku jadi gugup bagaimana jika suatu saat nanti para pemeran utama laki-laki berbalik membenciku dan berakhir membunuhku. Kau tahu di setiap novel yang aku baca jika alur ceritanya berubah maka dunia yang ia tempati akan berakhir hancur atau berantakan...,” “Duh, itu yang ingin aku katakan padanya, tapi dia mungkin akan salah sangka dan menganggapku memiliki gangguan mental jika mengatakannya.” Batin Leathian.


“Aku tidak takut padamu! Aku hanya gugup bagaiman jika nanti ka- kamu ...” ucap Leathina saat melihat Edward akan benar-benar pegi tapi tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.


“Apa kau takut aku mungkin menargetkanmu dan membunuhmu?” Tanya Edward yang mulai paham kenapa Leathina tiba-tiba bertingkah aneh.


“Tidak! Aku, bukan itu, jadi sebenarnya ...” Leathina melihat perubahan ekspresi Edward yang tadi dingin kini terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit membuat Leathina merasa bersalah padanya karena terlalu berpikir berlebihan terhadap Edward dan mencoba untuk menjelaskan pada Edward tapi tidak tahu apa yang harus ia katakan hingga akhirya Leathina hanya terdiam.


“Aku takut jika tiba-tiba kau berubah dan aku berakhir menjadi target pembunuhan yang kau lakukan.” Leathina akhirnya jujur memberitahu Edward kenapa ia bisa menjadi setakut itu padanya.


“Jadi begitu, kau benar-benar takut aku akan membunuhmu?” gumam edward kemudian kembali berjalan ke arah Leathina.


“Maafkan aku.” Ucap Leathina yang ketakutan dan lengsung menutup matanya karena Edward datang kembali ke arahnya, takut jika Edward melakukan sesutu yang buruk padanya karena sakit hati dengan ucapannya barusan.


“Kau setakut itu padaku ya?” Ucap Edward kemudian tersenyum dengan wajah yang terlihat dipaksakan, “Aku hanya ingin membantumu untuk pindah ke tempat tidurmu karena sepertinya kau terlihat sangat kelelahan Lathina.” Ucapnya kemudian dengan hati-hati mengangkat Leathina dan memindahakan Leathina ke tempat tidurnya agar bisa beristirahat dengan nyaman.


“Ah, terimaksih.” Ucap Leathina yang masih menunduk karena merasa tidak enak dengan Edward yang ternyata hanya mencoba untuk membantunya.


“Bagaiaman mungkin aku bisa membunuhmu Leathina jika ... Ah seperinya aku harus benar-benar pergi sekarang beristiraatlah dengan baik dan jangan memaksakan dirimu Lea.” Ucapnya tapi kemudian langsung pergi setelah memindahkan Leathina dan tidak melanjutkan kalimatnya lagi.


“Kenapa aku merasa kesal karena Edward tidak menyelesaikan kalimatnya, apa mungkin itu artinya dia bisa saja berubah pikiran dan datang membunuhku?” gumam Leathina setelah Edward benar-benar meninggalkan ruangannya.


...***...