
Mereka berempat kini telah menghabiskan makan masing-masing dan bersiap untuk benar-benar melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju hutan timur.
Sebelum pergi Duke Leonard pamit terlebih dahulu, mengucapkan rasa terimakasihnya karena telah diperbolehkan tinggal dengan mereka dan telah merawat kuda miliknya dengan baik.
“Terimakasih, kami akan segera berangkat.” Ucap Duke Leonard melambaikan tangannya untuk berpamitan.
Pada saat mereka berempat telah berjalan agak jauh didepan tiba-tiba mereka mendengar derap langkah kaki kuda yang mengikuti mereka, membuat mereka berempat segera menoleh untuk mencari tahu siapa yang mengikutinya. Dilihatnya orang-orang yang tadi ia tinggalkan ternyata juga yang mengikuti mereka.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Edward kepada orang-orang yang mengikutinya.
“Kami ingin ikut ke hutan timur, setidaknya inilah yang bisa kami lakukan untuk membantu Nona Lea,” Ucap Damian membuka suara mewakili teman-temannya yang lain.
Edward memperhatikan mereka dengan seksama dan dilihatnya hanya beberapa saja yang masih tinggal di pemukiman mereka dan yang tinggal adalah para lelaki tua yang memang sudah tidak mampu berpergian jauh sedangkan yang muda-muda semuanya sedang mengikutinya.
“Tidak bisa, kalian tidak bisa ikut dengan kami!” ucap Edward tegas melarang mereka untuk ikut bersamanya.
“Kenapa? Kami tidak akan menyulitkan kalian, kami janji,” Damian bersikeras untuk tetap ikut.
“Kalian meninggalkan para wanita dan anak-anak di pemukiman kalian dan hanya laki-laki yang telah berusia lanjut yang masih tetap tinggal disana, hanya seorang pengecut yang tidak menjaga wanitanya kembalilah ke pemukiman kalian. Bagaimana jika nanti pemukiman kalian diserang kelompok lain atau dimasuki hewan buas sementara tidak ada orang yang melindungi mereka, Lea tidak akan suka kalian bersikap seperti itu hanya untuk dirinya jadi kembalilah!” Edward masih tetap dalam pendiriannya.
“Kami tahu maksud kalian baik, tapi untuk masalah ini kalian salah dalam mengambil keputusan. Sekarang kembalilah ke pemukiman kalian, biar kami yang melakukan perjalanan ini.” Ucap Duke Leonard yang juga meminta mereka untuk kembali.
“Mereka betul, tidak seharusnya kami meninggalkan para wanita dan anak-anak di pemukiman, bagaimana jika terjadi sesuatu dan tidak ada yang melindungi mereka,” mereka semua akhirnya paham dang menuruti ucapan Duke dan Edward hingga satu persatu dari mereka akhirnya memilih untuk kembali ke pemukiman dana hanya menyisahkan Denis dan Damian yang masih bertahan.
“Kami ingin ikut.” Ucap Denis dan Damian hampir bersamaan.
“Tidak bisa, kalian berdua merupakan pemuda tangguh di pemukiman, kekuatan kalian sama dengan dua pria dibandingkan yang lainnya jadi kembalilah dan jaga orang-orang mu,” Duke Leonard memberitahu mereka untuk kembali dan dengan cepat dapat menilai kekuatan kedua anak muda yang ada di depannya itu.
“Bagaimana jika hanya salah satu dari kami yang ikut, apa bisa kalian perbolehkan untuk ikut dalam perjalanan kalian?” tanya Damian.
Edward melihat Duke Leonard dan dilihatnya Duke menyerahkan keputusan padanya begitu juga Zeyden yang tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Edward yang memutuskan.
“Jika hanya salah satu dari kalian yang ikut maka aku akan memperbolehkan, tapi aku ingin menanyakan ini pada kalian, apa keputusan yang kalian ambil tidak akan membuat kalian berselisih?”
Damian menatap Denis begitu pula Denis yang balik menatap Damian, kemudian keduanya menghela nafas panjang karena sebenarnya mereka berdua sangat ingin ikut ke hutan timur untuk berpetualang.
“Dari pada tidak ada sama sekali yang pergi maka aku sebaiknya menyerah, pergilah Damian.” Denis akhirnya menyerah dan membiarkan adiknya itu pergi mewakilinya.
“Terimakasih,” damian mengangguk paham kemudian segera berjalan mengikuti Edward dan yang lainnya.
Denis menatap kepergian mereka yang semakin lama kian mengecil dari kejauhan kemudian akhirnya benar-benar hilang dari pandangannya karena telah memasuki hutan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke hutan timur, dan setelah ia tidak melihat punggung adiknya lagi Denis segera kembali ke pemukiman untuk memberitahu ayah dan keluarganya bahwa adiknya pergi meninggalkan pemukiman dan ikut bersama orang-orang yang akan ke hutan timur.
...
Sejauh ini perjalanan mereka berlima berjalan lancar tidak ada hambatan yang berarti yang menganggu perjalanan mereka, mereka berlima kadang-kadang hanya bertemu beberapa hewan hutan dan beberapa penjahat berkelompok yang dapat mereka atasi dengan mudah.
“Apa kalu lelah?” tanya Zeyden pada Aelfric saat melihatnya berjalan lebih lambat di belakang.
Aelfric menggelengkan kepalanya kemudian segera memacu kudanya untuk menyusul yang yang lainnya yang kini sudah agak jauh di depan.
“Hati-hati!” teriak Aelfric memberitahu semuanya untuk tetap waspada.
“Kenapa?” tanya Damian penasaran.
“Aku merasakan ada sesuatu yang aneh di depan,” Aelfric terus melihat di sekelilingnya dan merasakan hawa hutan yang mereka lewati kini berubah menjadi lembab dan pengap.
“Hutan memang kadang-kandang seperti ini, aku juga pernah beberapa kali merasakan hawa yang seperti ini sebelumnya jadi jangan terlalu khawatir,” Damian menenangkan Aelfric yang terlihat gusar.
“Selama beberapa hari melakukan perjalanan kau belum memperkenalkan namamu, kau bisa memanggilku Damian nah sekarang giliranmu siapa namamu?” Tanya Damian penasaran. “Apa kau bisa memberitahukan aku siapa nama yang lainnya juga agar aku bisa memanggilnya dengan nyaman?” bisik Damian lagi karena dia juga tidak tau nama-nama yang lainnya karena dari awal mereka memang hanya memperkenalkan diri sebagai teman Leathina.
“Karena aku orang baik maka aku akan meberitahumu, Damian. Aku Aelfric, laki-laki berambut putih yang ada di depan itu kau bisa memanggilnya dengan Zey, dan yang berambut pirang yang berjalan di sampingnya itu kau bisa memanggilnya si pemarah atau Ed’ dan orang yang berjalan di paling depan itu kau hanya perlu memaggilnya tuan saja.” Aelfric memberitahukan nama sesuka hatinya pada Damian sementara Damian menganguk paham dan mengingat-ingat nama yang diberitahukan Aelfric padanya.
“Aku akan berjalan menyusul untuk menyapa mereka, selama beberapa hari ini aku kehabisan kata-kata karena kalian semua lebih banyak diam dari pad berbicara, aku pergi Aelfric,”
“Eh, tunggu ...” Aelfric mencoba menghentikan Damian tapi Damian telah terlanjur memacu kudanya menuju tiga orang yang berjalan di depan. “Duh, sibodoh itu.” Gumam Aelfric kemudian dengan sengaja memperlambat laju kudanya.
“Zey!” Seru Damian untuk menyapa Zeyden, sementara Zeyden memiringkan kepalanya kebingungan karena panggilan aneh yang dipanggilakan Damian untuknya, “Tuan!” seru Damiam lagi melambaikan tangannya ke arah Duke Leonard saat Duke menoleh ke arahnya, “Oh, dan Tuan Ed’.” serunya saat menoleh ke arah Edward untuk menyapa.
“Kau tahu baru saja Ae.. Hek!” Ucapn Damian terhenti dan terpekik ketakutan saat tiba-tiba sebuah pedang telah mengarah tepat di lehernya.
“Dari mana kau tau nama itu?!” tanya Edward pada Damian yang memanggilnya dengan nama Ed’.
“I-itu, itu barusan Aelfric membaritahuku nama kalian semua, jadi aku berusaha mengingatnya dan mulai menyapa kalian.” Ucapnya terbata-bata karena takut pedang Edward menggorok lehernya.
Serentak mereka bertiga menoleh ke arah Aelfric yang memberikan nama seenaknya untuk mereka bertiga, sementara Aelfric menoleh ke arah lain berpura-pura untuk tidak mengetahui apa-apa dengan masalah itu.
“Hek ..” Pekik Aelfric saat tiba-tiba pedang Edward kini telah bepindah mengancam lehernya.
“Dari mana nama-nama itu?!” tanyanya pada Aelfric.
“I-itu, itu aku mengambilnya dari nama kalian sendiri. Kalian melarangku memberitahu identitas asli kalian jadi aku mebuat nama samaran untuk kalian samua.”
“Jangan panggil aku Ed’ aku tidak suka.” Ucap Edward memperingati Aelfric dan Damian.
“Terus aku harus memanggilmu apa?” tanya Damian lagi pada Edward.
“Kau tidak perlu menaggilku, bukankah kau bilang tidak akan menjadi beban jadi diam saja selama di perjalanan.”
Damian menurut, dan kembali diam mengunci mulutnya rapat-rapat takut memancing emosi Edward lagi.
“Aku tidak masalah di panggil dengan nama Zey,” Ucap Zeyden menenangkan keadaan dan tersenyum ramah pada Damian yang terlihat masih terkejut sementara Duke leonard tidak masalah dengan nama panggilannya ia tidak terlalu memperdulikannya.
“Kenapa dia marah?” bisik Damian pada Aelfric setelah mereka melanjutkan perjalanan kembali.
Aelfric mengankat bahunya, “Jika dia tidak mau di panggil dengan nama Ed’ kau hanya perlu memanggilnya dengan nama si pemarah saja,” bisik Aelfric membuat Damian sedikit kebingungan.
“Kalian berhati-hatilah dan tetap waspada, situasinya terasa semakin aneh.” Duke Leonard memperingati yang lainnya.
Untuk berjaga-jaga mereka lalu membuat formasi, Duke Leonard yang mengetahui jalan berjalan memimpin mereka dan Edward yang lebih kuat dari yang lainnya berjalan paling belakang untuk berjaga sementara Zeyden, Aelfric dan Damian berada di tengah.
“Srek.”
“Srek.”
Terdengar suara gemersik dari balik semak-semak membuat mereka semua terdiam untuk mendengarkan.
“Arrw!”
“Arrw!”
“Arrw!”
Tiba-tiba sekelompok makhluk kecil berwarna hijau dan bertelinga lancip, setinggi tiga puluh sentimeter menyerbu mereka dengan kapak dan gada.
“Goblin!” Seru Edward saat melihat makhluk-mahluk berkulit hijau itu menyerbu mereka secara berkelompok.
“Hati-hati!” seru Duke Leonard memperingati yang lainnya dan mulai melakukan pembantaian.
“Srek”
“tak”
“Srek”
Edward dan Duke Leonard menebas mereka satu persatu dan pedang mereka pun beradu dengan senjata para goblin yang mencoba menangkis serangan, begitu pula dengan Damian yang juga ikut bertarung sementara Zeyden menggunakan sihirnya untuk membakar mereka serta Aelfric juga bertarung dengan menebas mereka dengan sihir anginnya.
“Menjijikan!” seru Aelfric ketika percikan-percikan darah goblin yang mereka bunuh mengenainya dan berusaha membersihan percikan darah itu dari pakaiannya.
“Apa ada yang terluka?” tanya Duke Leonard memastikan kondisi yang lainnya setelah selesai membunuh semua goblin yang tadi menyerang mereka.
“Aku tidak apa-apa.” Jawab Damian sambil membersihkan darah goblin yang juga mengotori pakiannya.
“Aku juga baik-baik saja.” Ucap Zeyden menjawab pertanyaan Duke leonard sementara Edward hanya mengangguk dan Aelfric masih sibuk membersihkan darah goblin yang menempel di pakaiannya.
“Tunggu sebentar, aku akan menyiram kalian.” Ucap Zeyden lagi memberitahu yang lainnya agar segera bersiap.
“Tak”
Tiba-tiba mereka diguyur oleh air dan darah yang menempel di pakaian mereka menghilang karena terbilas dengan air, dan kemudian diterpa angin kencang hingga dapat mengeringkan pakaian mereka semua.
“Terimakasih Zeyden,” ucap Duke Leonard sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya.
“Wah! Tadi itu sihir?” seru Damian merasa takjub dengan apa yang barusan ia lihat.
“Aku tidak tahu jika manusia bisa menggunakan banyak elemen sihir.” Gumam Aelfric merasa sedikit tidak percaya dengan apa yang barusan ia alami.
“Tu-tunggu dulu!” seru Damian merasa ada yang aneh, "jika namanya Zeyden dan bisa menggunkan elemen api, aingin, dan bahkan air kalau begitu an-anda, anda, adalah pemilik menara sihi?!” Damian tidak percaya, tidak pernah ia bayangkan bahwa yang ada dihadapannya itu adalah Zeyden si pemilik menara sihir.
Zeyden hanya tersenyum kemudian segera memeriksa kuda mereka untuk memastikan apakah tidak ada kuda yang terluka.
“Kau ini kenapa sih, kau seharusnya merasa terhormat ikut dalam ekspedisi ini. Kau bahkan berada di tengah-tengah orang-orang penting dia itu Edward pangeran kedua dan yang satunya lagi Duke pemimpin militer kerajaan.” Gumam Aelfric yang sibuk merapikan pakaiannya dan tanpa sadar membeberikan semua informasi mengenai identitas mereka berdua.
“Eh,” Aelfric terdiam menyadari kesalahannya, “Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.” Ucapnya saat dilihatnya Edward, dan Duke Leonard kini menatapnya.
Duke Leonard dan Edward menghela nafas panjang karena sikap Aelfric yang terlalu sembrono, dan mereka pun mulai kembali merapikan pakaiannya tidak terlalu mempermasalahkan kejadian barusan karena sudah terlanjur dia katakan.
“Jika dia adalah pemimpin militer berarti kalau tidak salah namanya adalah Duke Leonard dari kediaman Yarnell dan ayah Nona Leathina, dan yang lainnya adalah pangeran kedua kerajaan serta pemiliki menara sihir. Aku tidak menyangka berada di tengah-tengah orang hebat.” Batin Damian kegirangan sekaligus takjub.
“Astaga, maafkan sata Tuan. Selama ini saya telah bertindak tidak sopan pada anda.” Teriak Damian kemudian membungkukkan punggungnya dengan sempurna di depan mereka bertiga.
“Diamlah dan rapikan barang-barangmu.” Ucap Edward yang sedikit terganggu dengan perilaku Damian yang kini berubah.
“Siap, Pangeran.” Damian menjawab dengan sangat kaku membuat Zeyden yang melihatnya hanya tersenyum karena ia terlihat lucu, berusaha bersikap formal.
“Bersikaplah sepeti biasanya.” Duke Leonard meminta Damian untuk bersikap seperti biasanya karena ia terlihat aneh.
“Baik Tuan,” jawab Damian lagi yang masih terlihat sungkan.
“Ini aneh kenapa para goblin bisa masuk ke hutan ini? Bukankah mereka hanya ada di hutan hitam?” Tanya Zeyden kebingungan sambil mengamati mayat-mayat goblin yang berserakan di sekitar mereka.
“Mereka sepertinya bertransmigrasi untuk mencari tempat tinggal baru.” Jawab Edward yang juga penasaran dengan apa yang terjadi pada hutan hitan hingga membuat monster-monster yang selama ini tidak pernah keluar melewati perbatasan hutan hitam akhirnya memilih meninggalkan hutan hitam.
“Arrw!”
“Arrw!”
“Ayo naik ke kuda kalian, yang kita bantai tadi hanya kelompok kecil yang mungikin tidak sengaja terpisah dari teman-temannya. Kali ini mereka lebih banyak, akan sangat merepotkan untuk melawan karena mereka selalu menyerang secara bergerombolan!” Seru Duke Leonard meminta mereka semua segera menaiki kuda dan meninggalkan tempat itu sebelum para goblin menemukan mereka.
Tiba-tiba terdengar lagi gemuruh dari suara goblin yang terdengar lebih banyak dari sebelumnya, mereka berlima segera bergegas meninggalkan tempat tersebut yang merupakan jalur yang dipilih para goblin sebagai jalanan mereka untuk mencari tempat tinggal baru.
Mereka berlima bergegas memacu kuda mereka meninggalkan area tersbut dan kembali melanjutkan perjalanan, setelah hampir sejam melanjutkan perjalanan, mereka akhirnya tidak lagi mendengar suara gemuruh yang ditimbulkan akibat teriakan para goblin.
Mereka menoleh untuk memastikan keadaan dibelakang mereka dan dilihatnya dari kejauhan area yang dipenuhi goblin membuat semua hewan-hean kecil berlarian bahkan burung-burung pun dengan panik berterbangan meninggalkan area tersebut.
“Ini aneh, kenap tiba-tiba mereka meninggalkan hutan hitam dan bertransmigrasi kemudian masuk ke hutan tenang seperti ini, apa ada sesuatu yang telah terjadi di hutan hitam?” gumam Duke Leonard ketika menyadari ada sesuatu yang aneh. “Itu tidak penting sekarang, yang harus aku lakukan adalah sampai ke hutan timur dan meminta bantuaun untuk menyembuhkan Leathina, tapi semoga saja para monstrer tidak menembus perbatasan dan masuk ke dalam kerajaan.” Batin Duke Leonard yang merasa sedikit kahwatir tapi kemudian ia tepis dan memfokuskan tujuannya agar segera sampai ke hutan timur.
...***...