I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 127



Leathina memasuki ruangan ayahnya dilihatnya pangeran pertama dan pangeran kedua yang juga berada di dalam ruangan itu. Leathina kebingungan memilih tempat duduknya karena satu-satunya tempat duduk yang kosong hanyalah kursi yang ada di samping pangeran Yardley.


“Silahkan duduklah Leathina.” Winter berdiri menyambut Leathina dan mengantarnya menuju tempat duduk  miliknya karena tidak ingin Leathina duduk bersebelahan dengan pangeran Yardley atau pangeran Edward.


“Terimakasih Winter.” Ucap Leathina tersenyum karena merasa lega dirinya tidak harus duduk di samping Pangeran Yardley.


“Jadi semuanya telah berkumpul.” Ucap Duke Leonard kemudian memimpin pertemuan yang mereka lakukan.


“Jadi Apa benar yang Leathina katakan, apa anda telah mengkonfirmasinya Duke?” Tanya pangeran Yardley memulai percakapan.


“Putriku Leathina telah memberikan kami lokasi penyimpanan barang-barang selundupan yang ia temukan tapi kami belum memeriksanya karena Leathina ingin kalian sebagai perwakilan kerajaan juga ikut serta melihatnya secara langsung.”


“Kau yakin Leathina? Apa kau tidak salah bagaimana jika ternyata yang kamu laporkan salah dan kita tidak menemukan apa-apa disana?” Tanya Pangeran Yardley tidak percaya dengan apa yang Leathina laporkan.


“Maafkan aku Pangeran Yardley tapi sebaiknya anda menyebutkan namaku dengan sopan, aku tidak pernah mengizinkan anda menyebut namaku secara langsung apakah anda belum menyelesaikan pelajaran dalam sopan santun?” Ucap Leathina tiba-tiba membuat pangeran Yardley sedikit terkejut.


“Jadi apa yang sekarang kamu rencanakan Leathina, apa yang akan kita lakukan?” Tanya Pangeran Edward dengan santai pada Leathina menunjukkan pada Pangeran pertama bahwa mereka berdua sangat akrab.


“Sejak kapan mereka semua sangat akrab dengan perempuan ini, apa sekarang hanya aku satu-satunya yang harus berbicara dengan sopan padanya seperti rekan bisnis. Ini sangat menjengkelkan karena biasanya aku berbicara dengan santai padanya.”


“Kita akan pergi ke sana sekarang, aku akan bersiap-siap.”


Leathina beranjak dari tempat duduknya meminta izin untuk segera kembali dan bersiap. Leathina  kembali ke ruanganya meminta Anne untuk menyiapkan jubah dan peralatannya dan setelah selesai bersiap Leathina segera keluar menyusul lainnya yang telah menunggunya di luar.


“Baiklah kita berangkat.” Ucap Winter saat melihat Leathina telah selesai bersiap.


“Hati-hati Leathina.” Ucap Duke Leonard melepas kepergian putrinya.


Duke Leonard tidak bisa ikut ke lokasi penyimpanan barang-barang selundupan karena dokumen-dokumen penting yang harus segera ia selesaikan hingga hanya Leathina, Winter, Edward dan Yardley yang pergi kelokasi untuk memeriksa secara langsung.


Mereka semua menggunakan pakaian biasa untuk penyamaran dan menggunkan kereta biasa agar tidak menarik perhatian orang-orang.


Leathina mengusulkan untuk menggunakan kereta kuda dibanding mengendari kuda karena kedatangan mereka ke desa kecil dengan rombongan berkuda akan sangat menarik perhatian dan akan membuat para penjahat waspada.


“Apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Leathina ketika menyadari Winter dan Edward menghimpitnya dan dia berada di tegah-tengah mereka berdua sementara Yardley dengan sinis menatapnya yang duduk sendiri di depan mereka.


“Kami sedang duduk.” Jawab Edward dan Winter bersamaan.


“Ada kursi kosong di samping pangeran Yardley, kenapa tidak duduk disana?”


“Aku suka duduk disini.” Jawab Edwar dan Winter yang juga hampir bersamaan.


“Tapi aku tidak nyaman dengan kalian, tempatku jadi sempit. Salah satu dari kalian duduklah di semping pangeran Yardley.


Tidak ada yang bergerak Edward dan Winter masih bersikukuh ingin duduk bersebelahan dengan Leathina. Mereka berdua kini saling bersitatap Edward meminta Winter untuk segera pindah sementara Winter juga melakukan yang sama hingga terjadi persaingan yang cukup sengit di antara keduanya.


“Oh, Astaga berapa umur kalian sekarang sampai berebut tempat duduk seperti anak kecil.” Ucap Leathina kesal kepada keduanya dan akhirnya memilih mengalah dan pindah tempat duduk di samping Pangeran Yardley.


“Leathina” Panggil Edward dan Winter hampir bersamaan saat Leathina kini berpindah tempat duduk di samping Pangeran Yardley.


“Aku tidak suka tempat sempit jika kalian sangat menyukai duduk di sana maka ambillah aku yang akan mengalah, aku akan duduk disini jadi jangan berani-berani mengangguku.” Leathina memberi peringatan pada Winter dan Edward.


Yardley tiba-tiba tersenyum mengejek Winter dan Edward yang terlihat sedikit kecewa tapi senyuman di bibirnya tiba-tiba berubah ketika Winter dan Edward mentapnya degan intens kemudian mereka berdua hampir bersamaan meminta Yardley agar seger pindah dan tidak duduk di samping Leathina tapi jika Leathina melihat mereka berdua mereka kembali tersenyum seakan-akan tidak ada yang terjadi dan ketika Leathina mengalihkan pandangannya mereka menunjuk Yardley kemudian menunjuk tempat kosong yang ada di tengah-tengah mereka setelah itu menunjuk ke leherya mengancamnya agar segera pindah.


Karena Edward dan Winter terus-menerus memaksanya untuk pindah dan duduk bersama mereka akhirnya Yardley tidak punya pilihan lain selain pindah tempat duduk bersma mereka berdua.


“Kenapa anda pindah Pangeran yardley?” tanya Leathina ketika menyadari bahwa Yardley telah berpindah tempat duduk.


“Saya merasa nyama duduk berhimpitan dengan mereka berdua, Nona Leathina.” Jawab Yardley beralasan dan melirik ke arah Edward dan Winter saling bergantin tapi yang dilirik malah memalingkan wajahnya berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.


“Mungkin Pangeran Yardley sangat membenciku hingga tidak sudi duduk bersebelahan denganku. Tapi apa mereka saling menyukai? Sampai rela duduk berhimpitan seperti itu membayangkan tiga pria tampan yan.. ah apa yang sedang aku pikirkan mungkin imajinasi ini muncul karena aku pernah membaca komik bertema duh Lupakan, lupakan.” Leathina menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan imajinasi liarnya yang aneh.


“Leathina ada apa denganmu?” Tanya Winter dan Edward hampir bersamaan.


“Memangnya ada apa denganku?” Tanya Leathina tidak mengerti.


“Semenjak Pangeran Yardley pindah tempat duduk bersama kami kamu terus tersenyum aneh seperi itu.” Jawab Winter menyelidiki Leathina yang tiba-tiba membulatkan matanya.


“Ah,” Leathina segera menghentikan senyuman anehnya “A-aku tidak apa-apa.” Jawab Leathina lagi kemudian melirik mereka yang duduk berhimpitan dan segera memalingkan wajahnya ke luar jendela. “Apa aku ketahuan memikirkan sesuatu yang aneh?” Tanyanya dalam batin mencoba menjernihkan pikirannya.


Mereka bertiga melihat ke arah mana Leathina meliat sebelum melihat keluar jendela, kemudian menyadari posisi mereka sendiri yang memang terlihat aneh saling berhimpitan dan bahkan Yardley meletakkan tangannya di atas paha Winter karena berusaha mencari tempat yang lebih longgar.


“Eh tunggu” Ucap Edward menyadari sesuatu.


“Jangan-jangan kamu..” sambung Yardley Lagi tapi tidak melanjutkan ucapatnya dan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kemudian segera mengangkat tangannya.


“Le-leathina sebenarnya...” Ucap Winter kebingungan dengan situasinya sendiri.


“LEATHINA APA YANG KAU PIKIRKAN SAMPAI TERSENYUM ANEH SEPERTI ITU!!!” Teriak mereka bertiga hampir bersamaan.


Leathina tidak ingin menoleh melihat ekspresi mereka bertiga dengan susah payah ia menahan dirinya sendiri yang sangat ingin melihat wajah aneh ketiganya tapi dia tahan karena tidak ingin tertawa di depan mereka.


“Tunggu Leathina...”


“Leathina dengarkan aku...”


“Leathina jangan berani berfikir yang aneh-aneh...”


“Katakan apa yang ada dipikiranmu...”


“Tidak, tidak jangan katakan...”


Mereka bertiga saling bersautan dan saling menghalangi ingin menjadi yang pertama di dengar oleh Leathina meminta agar Leathina memberi penjelasan pada mereka bertiga dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya ada dipikira Leathina hingga tersenyum aneh seperti tadi.


“Husst! Diam, Pttfff.” Leathina berusaha membuat mereka bertiga diam kembali tapi kembali terkejut dan menutup mulutnya mencoba menahan tawanya sendiri agar tidak meledak.


“Leathina?” tanya mereka bertiga hampir bersamaan dan diam seketika kebingungan kenapa Leathina tiba-tiba bertingkah seperti itu.


“Puahahah!!! ada apa dengan posisi kalian itu.” Leathina tidak bisa menahan tawanya lagi melihat bagaimana posisi ketiga laki-laki yang duduk di depannya itu tawanya meledak hingga mengeluarkan sedikit cairan bening di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.


Leathina kembali melihat ke arah mereka dilihatnya tangan Edward menahan dada Yardley dan kaki Yardley menahan salah satu kaki Winter dan tangan Winter memegan mulut Yardley untuk membuatnya diam tapi posisi mereka bertiga terlihat aneh di mata Leathina.


Seketika mereka bertiga memisahkan diri Winter mencoba duduk sejauh mungkin di samping kiri, Yardley mengecilkan dirinya sendiri dengan meringkuk di tengah-tengah karena menahan malu, dan Edward juga mendudukan dirinya sejauh mungkin di samping kanan seperti yang dilakukan Winter. Tapi tindakan mereka bertiga sia-sia, mereka tetap duduk berdekatan karena memang tempat duduk yang mereka tempat hanya cukup untuk dua orang saja.


“Aku lega akhirnya bisa melihatmu tertawa selepas itu Leathina.” Ucap Edward tiba-tiba membuat Leathina secara spontan menutup mulutnya, sementara Winter hanya tersenyum ketika Leathina melihatnya sedangkan Yardley hanya diam saja kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak bersitatap dengan Leathina.


“Kita turun di sini.” Ekspresi Leathina tiba-tiba berubah menjadi serius ketika menyadari bahwa kereta mereka ternyata telah melewati perkotaan dan desa serta mulai memasuki area hutan sebelum sampai di pondok penyimpanan barang selundupan.


Leathina mengenakan tudung kepalanya dan melompat turun lebih dulu diikuti yang lainnya yang juga segera mengenakan jubahnya dan menutupi kepalanya.


Mereka berempat berjalan menyusuri hutan dengan langkah panjang dan terburu-buru, dan setelah hampir lima belas menit berjalan kaki mereka akhirnya melihat sebuah pondok yang berada sekitar dua puluh meter berada di depan mereka.


“Kita sampai.” Gumam Leathina sambil mengamati keadaan sekitar dan tidak melihat seorangpun yang berjaga di sekitar pondok penyimpanan.


Dengan hati-hati Leathina mendekati pondak di ikuti Winter, Edward dan Yardley di belakangnya dengan was-was.


Mereka mengikuti Leathina yang berjalan ke area belakang dan berhenti pada jendela yang berada di paling belakang.


Brak


Terdengar suara deritan jendela yang Leathina buka.


“Pegang ini.” Leathina meminta Edward memegang pintu jendela untuknya agar tidak tertutup kembali kemudian segera melompat naik berusaha untuk masuk ke dalam.


“Hati-hati.”


“Ah, astaga maafkan aku.”


Saat melompat naik genggaman Leathina terlepas karena licin dan dengan sigap Edward, Winter, dan bahkan Yardley menahannya agar tidak terjatuh ke depan.


Leathina akhirnya berhasil masuk kemudian berdiri di depan jendela dan bergantian menahan pintu jendela dari dalam agar tidak tertutup.


“Terimakasih terlahah menolongku, nah silahkan masuk.” Ucap Leathina sambil memengangi pintu jendela dari dalam.


Leathina segera menncari sumber suara yang di dengarnya ketika ketiga rekannya telah masuk ia berjalan mengitari pondok yang di dalamnya hanya ruangan tanpa sekat jadi Leathina bisa melihat semua isinya tanpa kesusahan.


“Aelfric !!!” Pekik Leathina ketika berhasli menemukan sumber usara yang tadi memanggilnya.


“Apa yang terjadi padamu?!” Tanya Leathina pada Aelfric salah satu ras elf yang ia temuai beberapa waktu lalu.


Dilihatnya kondisi Aelfric cukup mengenaskan kedua tangannya diikat dan kaki nya dipasung sementara seluruh tubuhnya di penuhi luka lebam bahkan wajahnya bonyok krena di pukuli satu-satunya alasan kenapa Leathina bisa mengenalinya adalah karena warna rambutnya dan telinganya yang lancip.


“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Leathina pada tawanan yang lainnya.


“Di-dia terus me-membuat para penjaga marah.” Jawab mereka dengan terbata-bata karena kondisiya juga tidak kalah mengenaskan dengan Aelfric.


Berbeda dengan kondisi Aelfric yang di penuhi luka kondisi tawanan yang lain juga lemah karena tidak diberi makan dan minum oleh para penjaga selama beberapa hari.


“Aku paham kenapa para penjaga memukul dan memasung Aelfric itu karena sifatnya yang suka memberontak, arogan dan temperamen beberapa kali aku sendiri juga kesal menghadapinya tapi bagaimana dengan tawanan yang lain, kenapa tidak di beri makan?”


“Kejam sekali.” Gumam Leathina pelan.


“Srek”


“Trak”


Winter menarik pedangnya dan segera memotong tali yang mengikat kedua tangan Aelfric dan menghancurkan pasung yang menahan pergerakan kakinya.


“Ini benar-benar seorang elf.” Gumam Yardley dan memfokuskan perhatiannya pada Elf yayng ada di depannya itu. “Apa-apan ini semua.” Sambungnya lagi ketika mengedarkan pandangannya dan melihat kondisi tahanan yang lain tidak jauh lebih baik nasibnya.


“Kalian tinggallah disini untuk menjaga mereka, aku akan kembali untuk memanggil bala bantuan dan mengirimkan beberapa kereta untuk membawa mereka semua.” Ucap Leathina sambil memapah Aelfric dan meletakkan salah satu tangan Aelfric di pundaknya sementara ia menahan pinggang Aelfric agar tidak terjatuh.


“Leathina kau akhirnya datang, kau tahu aku terus menunggumu.” Ucap Aelfric lirih karena luka yang ada pada tubuhnya tapi masih dapat tersenyum melihat Leathina.


“Eh?” Leathina kebingungan saat tiba-tiba Winter dan Edward secara bersamaan mendatanginya dan memisahkan Aelfric yang ada bersamanya.


“Biar Edward yang membantunya Leathina.” Ucap Winter sambil menarik dan kemudian mendorong tubuh Aelfric dengan kasar ke arah Edward.


“Hei! Hei! Jangan menyentuh tubuhku sembarangan.” Bentak Aelfric yang lebih seperti seekor kucing yang hanya mengeong untuk menggertak tapi tidak dapat maju welawan itu karena kondisi tubuhnya yang lemah dan sekeras apapun Aelfric memberontak ia tetap tidak bisa melepaskan cengkraman Edward.


“Ba-baiklah, kalau begitu aku akan kembali dengan Edward.” Leathina berusaha menenangkan situasi karena pandangan Edward dan Winter terus mengarah pada Aelfric sementara Aelfric malah menggeretak mereka.


“Ayo Edward kita harus segera kembali.” Leathina mendorng tubuh Edward sementara Edward menyeret Aelfric.


“Jangan seret aku! Aku bilang jangan seret aku! Aku ingin Leathina yang memapahku! Berani sekali manusia se Argh!” Aelfric kembali memberontak saat Edward menyeretnya semaunya membuat Edward geram hingga sebuah pukulan mendarat pada leher belakangnya hingga pingsan.


“Ayo Leathina, dia tidak akan menyusahkan lagi.” Edward mengambil tubuh Aelfric yang sekarang tidak sadarkin diri kemudian mengankatnya seperti karung beras di punggungnya.


“I-iya ayo kita pergi sekarang, ta-tapi Edward bukan kah seharusnya kau memperlakukannya dengan baik maksudku dia kan dari bangsa elf.”


"Aku sudah sangat baik padanya, ayo pergi!"


Mereka berdua kemudian keluar kembali dari dalam pondok dan segera berjalan menuju ke arah kereta kuda mereka berada dan setelah lama berjalan akhirnya mereka sampai Edward naik lebih dulu dan meletakkan tubuh Aelfric secara sembarangan kemudian segera membantu Leathina naik ke atas kereta.


“Leathina aku membaca suratmu yang kau kirimkan ke markas, kenapa kau tidak meminta langsung padaku?” Tanya Edward yang duduk bersebelahan dengan Leathina sementara bangku di depannya di tempati Aelfric yang tidak sadarkan diri.


“Ah, itu karena aku tidak mau orang-orang mengetahui identitasmu jadi aku mengirimkannya ke markas.”


“Tapi tetap saja bukankah sudah aku katakan bahwa aku...”


“Jadi bagaimana?” tanya Leathina mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apa kau menemukan seorang pembunuh bayaran bernama Roland.”


“Ya, aku menemukannya.”


“Benarkah? Apa kau berhasil menagkapnya untukku?”


“Dia salah satu anggotaku tapi membelok dan bekerja sendiri tanpa melaporkannya pada Fiona.”


“Oh, astaga kebetulan sekali jadi di mana dia sekarang?”


“Dia telah mati tertangkap oleh Winter saat melakukan misi pembunuhan.”


“Ah, sayang sekali” ucap Leathina kecewa setelah mendengar penjelasan Edward, “Padahal aku ingin menggunakannya untuk mengungkap seekor serigala yang bersikap seperti domba.” Sambungnya lagi kemudian memikirkan sesuatu.


“Edward, apa kau bisa melakukan sesuatu untukku?” Tanya Leathina ketika mengingat sesuatu yang penting.


“Katakan, aku akan melakukan apa-pun untukkmu.”


“Pesta penyambutan kedatanganku yang akan diadakan beberapa hari lagi kau tahu kan?”


“Iya aku telah menerima undangan daru Duchess dan akan berlangsung dua hari lagi.”


“Seseorang akan mengirimkan seorang pembunuh bayaran di sana, kau tangkap mereka untukku akan ada sekitar lima orang pembunuh nantinya.”


“Bukan lima orang, tapi Enam orang.”


“Dari mana kau tahu?” tanya Leathina terkejut, “ ah aku lupa bahwa kau menguasai dunia gelap kau pasti tahu segalanya jadi siapa orang ke enam?”


“Yasmine.”


“Kau tahu? Maksudku dari mana kau tahu tentang dirinya aku pikir semua orang melihatnya sebagai malaikat jadi aku tidak bisa menangkapnya tanpa bukti jadi aku berfikir akan membuka kedoknya sendiri.”


“Aku tahu bahwa dia hanya berpura-pura baik untuk menarik simpati, dia sering datang untuk meminta kami membunuh seseorang untuknya.”


“Astaga, jadi bukan hanya aku yang menjadi targetnya?”


“sepertinya begitu, dia akan membunuh semua orang yang menjadi batu kerikil di jalannya.”


“Jadi seperti itu.”


“Aku akan menagkap mereka untukmu dan membawakannya besok, tidak akan aku bawakan nanti malam.” Ucap Edward tiba-tiba membuat Leathina hanya tersenyum karena memang seperti itulah sifat Edward jika telah memutuskan sesuatu.


“Tidak, jangan sekarang.”


“Jadi kapan?”


"Lakukan itu di hari pesta di adakan dan bawa mereka di banquet saat semua orang berkumpul."


“Baiklah, aku paham.”


“Alur ceritanya berubah, apa karena aku yang mengubahnya? Ini seperti para pemeran utama beralih menyukaiku seorang Villains yang ada di novel dan sebaliknya membenci Yasmine si protagonis. Ini mudah di tebak apa yang akan terjadi selanjutnya yang membuatku penasaran adalah apa yang akan terjadi pada Yasmine nanti jika semua pemeran utama pria membencinya?”


“Leathina?” Panggil Edward membuyarkan lamunan  Leathina, apa yang kau pikirkan?”


“Ah, aku sedang berfikir Edward.”


“Apa itu?”


“Edward haruskah kau menahan Aelfrac seperti itu?” Tanya Leathina sambil menunjuk ke arah kaki Edward yang menahan tubuh Aelfric dengan salah satu kakinya  agar tidak terguling dan jatuh.


...***...


 


Hai para readers 🥰


Author paham bahwa author masih banyak kekurangan dalam tulisan ini baik itu penentuan alur maupun banyaknya typo bertebaran disana sini tapi apa boleh buat author hobi nulis dan menghayal jadi author tetap senang tapi akan lebih senang lagi jika ada dukungan dari kalian 😁


Terimakasih pada para pembaca yang masih setia sampai sekarang dan telah memberikan dukungan pada author kaleng-kaleng ini 😆


Stay healthy and happy reading 💙


Love you all 💙💙