
“Kenapa?! Panggil orang tuamu ke sini.”
“Ah! Ayah saya Duke Leonard Yarnell sedang sibuk di kerajaan jadi tidak bisa datang dan ibu saya Duchess Nice, sepupu dekat ratu Juliette juga punya urusan penting jadi tidak bisa datang untuk bertemu dengan anda.” Ucap Nicholas sengaja menyambut nama lengkap dan titel kedua orang tuannya.
Mendengar siapa orang tua anak yang dimaki nya itu membuat Nyonya dari keluarga Baines langsung tergagap, tidak menyangka masalahnya akan menjadi runyam tidak seperti yang di pikirkan nya semula.
“Aku tidak akan membiarkan kalian berdua, tunggu saja.” Ucap Nyonya Baines geram, mengancam Nicholas dan Nora karena tidak ingin dipermalukan oleh anak-anak.
Ucapan Nyonya Baines menyiratkan bahwa diantara kedua keluarga akan terjadi perselisihan jika masalah ini tidak segera ditangani.
“Ada apa ini?!” Tuan Baines yang mendapat kabar tentang perselisihan yang melibatkan istri dan anaknya datang menyela pembicaraan.
“Suamiku,” panggil Madam Baines kemudian merengek agar suaminya mau mengambil ahli masalah itu secepatnya mengantikan dirinya.
“Ada apa?” tanya suaminya lagi, “Apa-apaan ini?!” tanyanya lagi yang terkejut melihat wajah anaknya yang babak belur dan banyak luka lebam di wajahnya.
“Dia yang melakukannya.” Tunjuk anaknya pada Nora kemudian tersenyum mengibarkan kemerdekaannya karena kedua orang tuannya menjadi tamengnya sekarang.
Tuan Baines menoleh ke arah yang ditunjukkan anaknya kemudian menghela nafas berat dan kembali tenang menghadapi Nicholas dan Nora.
“Bagaimana kalau kita diskusikan masalah ini agar tidak memperpanjang masalah dan menimbulkan dampak bagi dua keluarga besar.” Ucap Tuan Baines menawarkan jalan tengah.
“Saya cukup terkesima pada sikap Tuan Baines yang dapat tenang dala situasi seperti ini, rumor bahwa tuan Baines adalah orang yang bijak ternyata bukan hanya sekedar omongan belaka.” Jawab Nicholas yang ikut menghormati tuan Baines karena tuan Baines juga menghormatinya.
“Saya cukup tersanjung Tuan Yarnell muda.” Ucap Tuan Baines.
“Tidak!” pekik Nyonya Baines menyela pembicaraan, “Aku tidak setuju, ini bukan yang aku inginkan lihatlah wajah anak kita.” Ucapnya emosi mencengkram erat lengan suaminya.
“Perhatikan tata kramamu!” ucapnya tegas seketika membuat Nyonya Baines terdiam, ditatapnya suaminya dengan terkejut karena merasa suaminya lebih membela anak-anak dari keluarga Yarnell dari pada anaknya sendiri.
“Sebaiknya kita harus pinda ke tempat yang lebih tenang Tuan Baines, aku tidak mau perselisihan ini jadi tontonan orang-orang ini akan membuat dua citra keluarga besar menjadi buruk.” Nicholas memberi usul namun usulannya lebih terdengar memaksa dari pada meminta persetujuan terlebih dahulu.
Tuan Baines tertegun mendengar ucapan Nicholas kemudian menyetujui apa yang diusulkan Nicholas.
Mereka semua termaksud Nyonya Baines dan anaknya pun ikut berpindah tempat ke tempat yang lebih tenang dan tertutup agar pembicaraan mereka tidak dapat di dengar orang luar dan mencegah terjadinya penyebaran gosip yang tidak enak untuk didengar.
“Maafkan saya Madam Blyhte, adik ku membuat kacau pesta yang anda adakan.” Ucap Nicholas sopan saat tuan rumah menuntun mereka ke ruangan yang akan digunakan sebagai tempat berunding bagi kedua belah pihak yang berselisih.
“Saya juga minta maaf atas kekacauan ini Madam Blyhte,” ucap Tuan Baines membungkuk sopan mewakili anak dan istrinya.
“Tidak masalah, silahkan gunakan ruangan ini. Maafkan saya tidak bisa ikut dalam diskusi anda karena saya harus menyambut tamu-tamu yang datang, sebagai gantinya saya akan meminta sumi saya datang sebagai penengah dan saksi di antara kalian.”
“Tidak masalah, masalah ini akan kami selesaikan dengan cepat Madam Blyhte, terimakasih atas pengertian anda.” Ucap Nicholas sopan.
Kini hanya mereka yang berada di ruangan menunggu Tuan Blyhte datang, mereka tidak bisa melanjutkan jika tidak ada saksi formal bisa jadi salah satu dari dua keluarga akan menyebarkan rumor aneh jika tidak ada orang saksi yang melihat mereka berunding.
“Permisi tuan-tuan,” ucap seorang pria dengan seyuman ramahnya dan tanpa di persilahkan langsung ikut bergabung dengan yang lainnya.
“Jadi sekarang silahkan ceritakan duduk perkaranya terlebih dahulu.” Ucap Tuan Blyhte memulai obrolan karena kedua belah pihak belum juga ada yang mau berbicara terlebih dahulu.
“Anak itu memukul anakku yang tidak bersalah.” Seru Madam Baines tiba-tiba menunjuk ke arah Nora.
“Benarkan sayang?” tanyanya pada putranya yang kemudian dibalas dengan anggukan dengan ekpresi menahan sakit.
“Aku baru tahu bahwa pendidikan di keluarga Baines juga mengajarkan cara menjadi bermuka dua.” Gumam Nora, tatapannya tajam melihat ke arah anak yang hampir seluruh mukannya memar.
“Apa maksudmu, tentu saja putraku tidak mungkin mencari masalah terlebih dahulu dilihat bagaimana wajahnya yang penuh lebam sedangkan di wajahmu tidak ada luka sama sekali itu tandanya kamu yang duluan menyerang.” Balas Madam Baines dengan sengit tidak terima anak kesayangannya disalahkan.
“Tenanga lah, madam Baines saya minta anda untuk tetap bersikap sopan karena saya tidak ingin adik saya belajar sikap seperti itu setelah melihat anda.” Ucap Nicholas dengan tenang kemudian menyentuh bahu adiknya.
“Kamu...” ucapan Madam Nicholas tercegat wajahnya memerah karena malu.
“Sudah cukup Madam.” Cegat suaminya saat melihat istrinya akan kembali berbicara.
“Maafkan perilaku istri saya, Tuan Yarnell muda.” Ucapnya sopan, “Saya tidak tahu bahwa anak seusia kalian dapat belajar tata krama lebih baik darinya.” Sambungnya lagi dengan menghela nafas berat, sementara istrinya semakin malu karena suaminya malah menyalahkannya.
“Tidak masalah Tuan Baines, saya dapat memahaminya.” Nicholas hanya tersenyum kemudian dengan sengaja melihat ke arah Madam Baines, cepat-cepat madam Baines mengalihkan pandagannya karena tidak mau bersitatap dengan Nicholas, “Jadi sekarang giliranmu, ceritakan apa yang terjadi.” Tanya Nicholas pada anak laki-laki berwajah bintik-bintik yang duduk di tengah-tengah Madam Baines dan Tuan Baines.
“Aku, aku, ...” ucapnya gugup tidak berani menatap Nora yang sekarang menatapnya.
“Katakan, jika memang kau tidak bersalah maka kau tidak perlu takut untuk berbicara tapi jika kau bersalah kau harus segera mengakuinya dan meminta maaf.” Ucap ayahnya tegas.
“Di-dia, dia memukulku lebih dulu.” Jawabnya dengan suara kecil nyaris tidak terdengar.
“Hei, siapa tadi namau?” Tanya Tuan Blyhte.
“Nora.” Jawabnya singkat.
“Nah, sekarang Nora apa benar kau memukulnya lebih dulu?” tanyanya lagi.
“Iya aku memukul di wajahnya dan aku tidak menyesal melakukannya.”
“Sudah aku bilangkan anakku tidak bersalah.” Sela Madam Baines.
“Madam, tolong jangan menyela.” Ucap Tuan Blyhte.
“Sekarang Nora, katakan kenapa kau tiba-tiba memukul wajahnya tanpa alasan dan bahkan tidak menyesal setelah melakukannya.”
“Dia menghina kakakku.”
“Aku tidak menghinanya.” Anak Tuan Baines membela diri.
“Diam dulu nak, belum gilaranmu untuk berbicara.” Ucap Tuan Blyhte tegas.
“Apa yang teman mu ini katakan hingga membuatmu marah.”
“Dia bukan temanku!” Bentak Nora emosi tidak ingin disandingkan dengan orang yang telah menghina kakaknya.
“Nora,” Nicholas menegur adiknya yang hilang kontrol dengan emosinya.
“Nah ceriatakan.” Pinta Tuan Blyhte.
“Anak itu bilang kalau kakakku sedang mendapat karma, wajar bagi kakak ku Leathina dikorbankan karena selama ini berbuat jahat pada orang-orang ja, jad...” Nora tersendat mencoba agar tidak emosi dan menangis. “Jadi tidak masalah kalau kakakku mati, untuk menebus dosanya.” Ucapnya menahan emosi. “Memangnya salah kakakku apa! Apa pernah dia menganggu kalian!!” ucapnya lagi. “Makananya aku memukulnya.”
“Oh! Jadi seperti itu.” Nicholas pun akhirnya terbawa emosi ketika mendengar ceria adiknya dan melihat adiknya mencoba menahan tangis agar tidak pecah.
“Kalau aku yang mendengarnya aku pasti sudah memotong lidahnya itu.” Batin Nicholas.
“Nicholas diam lah dulu,” cegat Tuan Blyhte yang tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Nicholas karena keluarganya cukup akrba dengan keluarga Yarnell, membuatnya tau apa kebiasaan Nicholas.
Nicholas menurut mendengaran perkataan Tuan Blyhte.
“Nak, apa benar apa yang di katakan Nora? Jangan berbohong jika kau ketahuan berbohong maka hukamannya mungkin akan lebih berat.” Tanya Tuan Blyhte.
Anak Tuan Baines menunduk kemudian menagguk pelan. “Aku mendengar ibu dan teman-temannya bilang seperti itu di perjamuan kemarin, makannya aku tahu.” Ucapnya membuat ibunya sendiri terperanjat dan bahkan Tuan Baines tidak kalah kagetnya ditatapnya istrinya dengan tatapan tidak percaya.
“Haa ....” Tuan Baines menghela nafas berat setelah tahu apa yang menjadi masalahnya.
“Sepertinnya sudah jelas bagaimana garis besarnya.” Ucap Tuan Blyhte kemudian menatap Tuan Baines dan Nicholas bergantian.
“Saya sebagai kepala keluarga Baines sangat malu menghadapi anda Tuan Yarnell muda, saya meminta maaf mewakli istri dan anak saya. Sepertinya memang benar yang anda katakan pendidikan di keluarga saya sepertinya bermasalah, akan saya pastikan untuk memberi anak saya hukum dan mendidiknya lagi.” Ucap Tuan Baines menerima kesalahan istri dan anaknya dengan lapang dada.
“Saya pikir Madam Baines sudah tua hingga gampang lupa saya insiden saat itu terjadi bukankah kau juga ikut memohon pada kakakku Leathina untuk menyembuhkan anak tertuamu yang terluka.” Nicholas sengaja mengungkitnya agar Madam Baines dapat sadar diri.
“Saya tidak perlu mendapat balas budi, hanya saja usahakan agar anda mengajari istri dan anak anda untuk tidak menyebar berita palsu.”
“Baik akan saya ingat, sekali lagi maafkan saya, saya harap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik.” Ucap Tuan Baines, “Apa lagi yang kau tunggu cepat segar minta maaf.” Bisiknya pada istri dan anaknya.
Dengan terpaksa Nyonya Baines dan anaknya membugkuk meminta maaf pada Nora dan Nicholas.
“Saya juga berharap masalah ini cukup sampai disini saja, terimakasih telah mengakui kesalahan anda saya pikir anda cukup bijak sebagai seorang bangsawan.” Ucap Nicholas tegas, kemudian beranjak dari tempatnya diikuti oleh Nora.
“Paman Blyhte, terimakasih telah meluangkan waktu anda.” Ucap Nicholas sopan diikuti oleh Nora, “Terimakasih paman.” Ucap Nora.
“Hahaha, tidak masalah. Aku kagum dengan kalian berdua yang tidak terpancig emosinya, kalian sudah dewasa seingatku dulu Nicholas selalu mengutamakan emosi lebih dahulu saat bertindak.” Balas Tuan Blyhte.
“Paman.” Nicholas mengelak.
“Kalau begitu saya pamit Paman Blyhte, permisi Tuan dan Madam Baines.” Pamit Nicholas sopan sebelum pergi.
“Aku akan mengantar kalian berdua sampai ke kereta kalian.” Ucap Tuan Baines ikut beranjak dari tempat duduknya.
“Ah, tidak perlu repot- repot tuan ba ...”
“Brak!”
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka memotong perkataan Nicholas yang akan menolak tawaran Tuan Baines yang ingin mengantarnya pergi.
“Ayah!” Seru Nora kebingungan saat tiba-tiba melihat ayahnya yang sibuk datang.
“Apa yang terjadi?” tanya Nicholas yang ikut kebingungan karena tidak menyangka ayahnya tiba-tiba datang.
...
[Satu jam yang lalu]
Dengan langkah terburu-buru seorang prajurit datang menelusuri koridor menuju ruangan kerja Duke Leonard.
“Tuan maaf menganggu.” Ucapnya yang masih dengan terburu-buru memasuki ruangan kerja Duke Leonard.
“Ada apa?” tanya Duke.
“Tuan Muda Nora berselisih dengan anak dari keluarga Baines pada pesta yang di adakan oleh Tuan Blyhte, saya baru mendapat kabarnya dan segera melaporkan pada anda.”
“Apa yang sedang terjadi di sana, tidak biasannya Nora hilang kendali dan menunjukkan emosinya pada orang-orang.” Gumam Duke.
“Baiklah, persiapkan kereta, aku akan segera ke sana.”
“Baik tuan.”
Cepat-cepat ia menyiapkan kereta untuk perjalanan duke menuju kediaman keluarga Blyhte.
Dengan terburu-buru kereta membawa Duke menuju kediaman keluarga Blyhte, duke khawatir jika Nicholas pun ikut hilang kendali dan mengamuk bersama adiknya, duke sudah dapat menduga apa yang membuat putra bungsu nya itu bisa emosi. Apa lagi jika bukan karena seseorang menyinggung Leathina.
“Sudah samapi Tuan.”
Cepat-cepat Duke turun dari kereta menuju aula mansion keluarga Blyhte tempat perjamuan diadakan.
“Tuan Duke!”
“Duke Leonard.”
Sapa orang-orang yang terkejut melihat Duke datang tiba-tiba.
Tidak Duke Leonard peduli kan orang-orang yang menyambutnya dengan ramah matanya langsung mencari seseorang kemudian menemukan Nyonya Blyhte yang sedang berbicara dengan tamu-tamunya.
“Oh astaga! Tuan Duke Leonard, selamat datang aku tidak tahu anda akan datang.” Ucap Nyonya Blyhte terkejut melihat keberadaan Duke Leonard, karena semenjak insiden naga yang mengamuk Duke belum pernah datang ke pesta perjamuan mana pun karena sibuk mengurus kerajaan sekaligus mencari putrinya yang hilang.
“Madam Blyhte, maaf datang terlambat tapi bisa kah kau memberitahukanku di mana anak-anakku berada sekarang.”
“Ah, anda pasti sudah dengar bahwa Nora terlibat perkelahian dari anak keluarga Baines.”
“Iya betul.”
“Baiklah, silahkan ikuti saya.”
Duke Langsung mengekori langkah kaki Nyonya Blyhte yang mengantarnya menuju sebuah ruangan yang letaknya sedikit lebih jauh dari banquet.
“Dia ada di ruanga ...”
“Brak!”
Belum sempat Nyonya Blyhte menyelesaiakan ucapannya duke Leonard sudah lebih dulu mendobrak pintu.
Dilihatnya Nicholas dan Nora berdiri dan berpamitan dengan Tuan Blyhte dan Tuan Baines.
“Ayah!” Seru Nora kebingungan saat tiba-tiba melihat ayahnya yang sibuk datang.
“Apa yang terjadi?” tanya Nicholas yang ikut kebingungan karena tidak menyangka ayahnya tiba-tiba datang.
“Ah, Duke Leonard maafkan saya tidak menyambut kedatangan anda.” Ucap Tuan Blyhte mencoba mencairkan keadaan yang menjadi kembali tegang setelah kedatangan duke Leonard.
“Ayah, masalahnya sudah selesai kami baru akan kembali.” Nicholas segera menghampiri ayahnya, tidak yakin apa yang akan dilakukan Duke jika tidak segera ia jelaskan.
Duke melirik Nora sekilas kemudian dilihatnya seorang anak lagi yang penuh memar diwajahnya bersembunyi di balik tubuh Tuan Baines.
“Baiklah ayo pulang.” Ucap Duke kemudian langsung membalikkan badannya meninggalkan ruangan.
“Saya akan mengantar anda.” Ucap Tuan Baines mengikuti langkah Duke Lonard yang sudah berjalan lebih dahulu.
Tuan Blyhte juga mengikuti tapi sengaja memperlambat langkah nya untuk memberikan waktu pada Tuan Baines agar bisa berbicara dengan Duke Leonard.
“Tuan maafkan perilaku anak saya yang tidak sopan pada anak-anak anda.” Tuan Baines memulai obrolan.
“Apa anakku memaafkan anakmu?” tanya Duke tiba-tiba.
“Mereka bilang tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi, anak dan istriku juga sudah meminta maaf atas ketidaksopanan mereka, saya pun akan menghukum anak saja dan mendidiknya kembali.”
“Kalau begitu, masalahnya cukup sampai disini saja saya tidak ingin menganggu keputusan yang dibuat oleh anak-anakku.”
“Anda membesarkan anak-anak anda dengan baik.”
Duke berhenti ditatapnya Tuan Baines dengan tatapan tanda tanya.
“Ah, maksudku aku kagum dengan anak-anak anda. Anak anda Nicholas menghadapi masalah adiknya tanpa terbawa emosi, biasannya anak-anak muda akan menyelesaikan masalah dengan amarah dibandingkan dengan kepala dingin.”
“Untunglah, dia sudah jau lebih dewasa.” Batin Duke Leonard membandingkan Nicholas yang dulu, anaknya itu selalu terbawa emosi jika terlibat masalah dan mengutamakan amarahnya terlebih dulu dibandingkan berfikir dengan tenang.
“Terimakasih sudah datang berkunjung duke, selamat tinggal.” Ucap Tuan Blyhte.
“Terimakasih Duke,” Ucap Tuan Baines.
Duke mengangguk sopan kemudian langsung masuk ke dalam kereta kuda duduk di depan anak-anaknya yang saling buang muka terhadap satu sama lain.
...***...