
...
“Kemana monster itu membawa putriku.”
Duke Leonard dengan gusar membolak-balikan dokumennya. Dokumen – dokumen yang seharusnya dapat duke Leonard selesaikan dengan cepat malah menjadi tertumpuk-tumpuk di meja kerjanya karena tidak bisa fokus membaca dan menganalisis isi dari dokumen-dokumen yang harus ia selesaikan itu.
Pikirannya berkeliaran entah kemana namun satu yang pasti ia masih tetap memikirkan satu-satunya putrinya yang masih belum ada kabar tentang keberadaannya sekarang.
Kabar burung mulai bertebaran bahwa putrinya itu telah mati, bahwa dijadikan tumbal untuk menenangkan Naga yang mengamuk di kerajaan. Karena Leathina tidak bisa ditemukan dimana pun bahkan setelah mencari ke semua kerajaan Leathina tetap tidak bisa ditemukan, tidak lama setelah itu tersebar lah kabar bahwa Leathina telah meninggal membuat Duke semakin frustasi.
Bagaimana tidak frustasi Duke Leonard dan putrinya Leathina baru saja rukun, Duke yang lama tidak memperhatikan Leathina sejak kecil mulai mencoba menjadi ayah yang baik untuk putrinya satu-satunya itu dan di saat ia baru akan memulai bencana malah muncul mengorbankan putrinya hanya untuk menyelamatkan orang-orang di kerajaan yang dulunya membenci putrinya.
Duke menjadi muak dengan dirinya sendiri setelah kehilangan Leathina, membuat temperamennya menjadi tidak stabil akibat rasa bersalahnya yang menggunung.
“Argh!!!”
“Kenapa harus putriku!!”
Ucap duke, tangannya ia kepal sekeras-kerasnya untuk menahan dirinya agar tidak mengamuk.
“Aku pikir aku adalah laki-laki yang paling beruntung, memiliki kedudukan yang tinggi di kerajaan bahkan memiliki istri yang ku cintai dan mencintaiku tapi kemudian wanita yang ku perjuangan itu malah memilih mati hanya untuk anak yang belum pernah ia lihat wajahnya, anak yang tinggal di rahimnya itu membunuh istriku. Aku yang merasa di tinggalkan malah memupuk rasa benci yang tidak berdasar membuatku membenci darah daging ku sendiri. Setelah kehilangannya aku menjadi pria yang dingin kemudian menikah kembali hanya untuk mendapatkan keturunan yang baru untuk menjadi penerus ku yang layak mengabaikan putri pertamaku, saat itu aku pikir tidak perlu memberinya perhatian hanya membebaskan apapun yang ia inginkan sudah cukup menjadi bentuk tanggung jawabku untuknya. Dan sekarang aku baru sadar aku adalah laki-laki bajingan sekaligus ayah yang gagal, kenapa baru sekarang aku merasa bersalah!”
Setiap memulai hari baru setelah Leathina menghilang membuat duke Leonard semakin digerogoti rasa bersalah atas perbuatannya di masa lalu.
Ia selalu memikirkan bagaimana nasib Leathina, apakah ia makan dengan baik, bisa tidur tanpa kedinginan atau apakah putrinya itu benar masih hidup.
“Aku seharusnya mendengarkan nasehat Daylend waktu itu.” Gumam Duke Leonard yang kembali mengingat saat Raja Daylend selalu memperingatkannya atas apa yang ia lakukan pada putrinya dahulu, “Daylend bahkan pernah menggendong Leathina waktu kecil, aku ini ayah yang buruk kenapa baru sekarang kepikiran.” Gumamnya lagi.
Duke Leonard tersenyum pahit saat tidak bisa mengingat satu pun kenangan baik tentang dirinya dan putrinya Leathina saat putri perempuannya itu masih kecil.
Yang Duke Leonard bisa ingat hanyalah mendorong Leathina menjauh ketika Leathina mencoba akrab dengannya sampai putrinya itu menyadari bahwa sekeras apapun ia mencoba maka ia tidak akan bisa mendapat perhatian darinya, semenjak itu Leathina berhenti mengikutinya dan perlahan-lahan menjauh kemudian menjadi orang asing di tempat tinggal yang sama.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Duke Leonard kemudian menunggu seseorang masuk setelah ia mempersilahkan.
“Maaf tuan.” Ucap pelayannya takut ketika mendapati Duke Leonard menatapnya dengan mengerutkan alisnya kemudian tanpa ekspresi langsung menyela kehadirannya.
“Ada apa?!” tanya duke.
“Ini surat – surat pada bulan ini yang belum tuan baca dan memberi balasan kebanyakan dari surat ini adalah undangan menghadiri banquet dan permintaan untuk bisa datang berkunjung ke sini tuan.”
Dengan takut-takut ia mendekati duke meletakkan kumpulan surat yang sudah sebulan terbengkalai tidak duke pedulikan.
“Apa aku harus datang ke pesta banquet sementara putriku masih belum aku temukan!” ucap duke menahan emosi. “Apa-apaan mereka, dasar penjilat!” umpatya lagi menatap dengan kesal tumpukan surat dengan cap lilin dari berbagai simbol keluarga lain.
Setelah mengantarkan surat cepat-cepat si pelayan pamit pergi tidak berani berlama-lama tinggal di dalam ruangan duke Leonard karena takut membuat Duke Leonard menjadi tambah emosi akan keberadaanya yang mungkin menganggu tuannya itu.
“Sampah!”
Umpat Duke setelah melihat semua simbol keluarga yang tertera pada surat yang di tujukan untuknya, tanpa membaca Duke langsung membuang semua surat – surat itu ke tempat sampah.
Ini bukan pertama kalinya duke mendapat surat dari keluarga lain, berkali-kali kediamannya dikirimi surat dari sumber yang sama setiap bulannya setelah Leathina menghilang membuatnya hapal betul apa yang si pengirim inginkan.
Walaupun dengan kalimat yang disusun serapi mungkin bahkan berisi segala pujian kehormatan untuk keluarganya yang berjasa atas insiden kemarin sebagai penyelamat kerajaan karena pengorbanan yang Leathina lakukan untuk menenangkan sang Naga, inti dari semua surat yang di buangnya itu sama, mereka hanya ingin sekedar mengetahui keberadaan Leathina.
“Hufft ....” duke menghela nafas panjang disandarkannya punggungnya pada sandaran kursi miliknya kemudian menatap langit-langit ruangannya yang berwarna putih bersih.
“Aku tidak tahu bagaimana bisa putriku Leathina memiliki kemampuan langka seperti itu.” Gumamnya sambil mengingat-ingat bagaimana Leathina tanpa ragu-ragu menerobos reruntuhan bangunan hanya untuk menyelamatkan dan menyembuhkan kakinya yang terjepit reruntuhan.
“Tapi seharusnya waktu itu kau tetap menyembunyikan kemampuanmu itu, dalam keberuntungan yang kau punya karena memiliki kemampuan yang istemiwa disaat yang sama kau juga mendapatkan kemalangan, karena tahu kemampuanmu lebih dari pengguna penyembuh lainnya orang-orang malah ingin memanfaatkanmu untuk kepentingan mereka sendiri.”
Duke mengusap kasar wajahnya kemudian berusaha kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang kini telah menggunung.
“Kenapa harus rela menyembuhkanku saat itu, setelah semua yang aku lakukan padamu. Leathina andai saja saat insiden itu kau mengabaikanku mungkin aku tidak akan setertekan ini saat kehilanganmu. Aku jadi malu padamu dan ibu mu.” Batin duke yang kembali diselimuti rasa bersalah.
Yang membuat duke lebih hancur dan tertekan adalah saat mengingat bagaimana Leathina tanpa ragu-ragu berlari padanya dan langsung menyelamatkannya ditengah-tenga situasi berbahaya yang mungkin saja nyawanya sendiri bisa hilang, saat itu juga duke menyadari bahwa ia benar-benar seorang pecundang memikirkan bahwa bagaimana bisa ia selama ini mengabaikan putrinya yang sungguh-sugguh mencintainya itu.
...
“Paman Leonard.” Panggil Winter, agar Duke Leonard menyadari keberadaanya.
“Kau sudah kembali Winter, bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?” Duke Leonard langsung bertanya berharap mendapat perkembangan atas usaha pencarian yang dilakukan Winter kali ini.
“Saya tidak dapat menemukan petunjuk apa pun mengenai keberadaan Leathina, tapi saya janji akan berusaha lebih keras lagi untuk melakukan pencarian paman.” Ucap Winter memberitahukan hasi pencariannya.
“Jadi belum ada kabar apa-apa tentang Leathina.” Gumam Duke Leonard, dapat dengan jelas diketahui bahwa duke benar-benar kecewa bahkan samapi saat ini belum menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan putrinya Leathina.
“Paman, maafkan aku.” Ucap Winter yang juga tidak kalah kecewanya.
“Tidak apa-apa kembalilah, kau ku beri izin untuk istirahat dalam beberapa hari.”
“Paman aku tidak perlu beristirahat aku masih bisa melakukan pencarian kembali.”
“Tidak bisa kau harus beristirahat, sudah sebulan penuh kau ke luar kerajaan untuk melakukan pencarian kau pasti lelah.”
“Baik paman.” Winter akhirnya mengalah walau sebenarnya ia ingin secepatnya kembali melakukan pencarian tapi tidak berani membantah perintah duke Leonard.
...
Nora dengan malasnya mengikuti langkah kakaknya Nicholas, dengan ekspresi di wajahnya itu bisa tertebak bahwa ia benar-benar tidak ingin pergi. Jika bisa memilih dia ingin tetap tinggal di rumah untuk menunggu Leathina pulang, Setelah Leathina menghilang ia takut jika suatu hari kakaknya pulang dan tidak bisa menyambutnya.
“Ayo jalan dengan benar.” Ucap Nicholas, ditariknya tangan Nora agar dapat berjalan sejajar dengannya membantunya memperbaiki postur tubuhnya yang sedikit membungkuk.
“Perbaiki posisimu, kau tidak seperti anak dari keluarga duke saja.” Omel Nicholas kembali terdengar, “Kau ingin Leathina melihatmu jadi pecundang seperti ini setelah dia pulang nanti, kau sebaiknya jangan seperti ini Leathina sudah jadi pahlawan di kerajaan jadi kau sebai adiknya bersikaplah lebih keren sedikit.”
“Aku tidak suka pergi ke banquet, disana mereka hanya selalu mencari-cari kesalahan orang lain untuk ditertawakan.” Guamam Nora mengutarakan alasannya kenapa ia rewel dari tadi.
“Tahan sebentar saja, ayah dan ibu tidak bisa hadir jadi kita berdua terpaksa harus datang ke sana sebagai perwakilan keluarga duke. Kita disana hanya sebentar, jadi tenang saja.”
“Baiklah, setelah menunjukkan diri usahakan untuk mencari alasan untuk kembali.” Ucap Nora tegas.
“Asal kau bersikap baik disana.”
“Iya.” Jawab nora singkat.
Setelah sampai di banquet keduannya di sambut dengan baik, tentu karena latar belakang mereka itulah kenapa mereka berdua diperlakukan sedikit istimewa.
Setelah menyapa tuan rumah Nicholas juga menyapa beberapa tamu lainnya dari keluarga bangsawan lainnya hal itu wajib ia lakukan jika datang ke banquet. Sementara Nora di minta pergi ke perkumpulan anak-anak yang dibuatkan khusus tempat bermain untuk anak-anak seusiannya agar tidak mengacau di tempat orang-orang dewasa berkumpul.
Sampai tiba-tiba terjadi keributan dari tempat para anak-anak, membuat para tamu menjadi terusik dan penasaran dengan apa yang terjadi di sana.
“Anak dari keluarga Yarnell bertengkar dengan anak dari keluarga Baines.”
“Itu tidak akan mudah terselesaikan.”
“Betul, mereka berdua dari golongan bangsawan atas.”
Ucap orang-orang yang tidak sengaja di dengar oleh Nicholas yang masih mengobrol dengan tamu-tamu lainnya, dengan sopan Nicholas meminta izin untuk pergi kemudian segera memeriksa keberadaan adiknya.
“Ada apa?” tanya Nicholas pada orang-orang yang dilihatnya berkerumun.
“Anak dari keluaga Yarnell dan Baines bertengkar.” Jawab yang di tanya sambil fokus melihat perkelahian diantara cela-cela orang yang juga ikut berkerumun.
Tidak ada yang berani melerai perkelahian dua anak bangsawan tinggi yang sedang berlangsung, mereka takut ikut terseret dan mendapatkan masalah jika berani ikut campur hingga perkelahian yang terjadi berakhir sebagai tontonan orang-orang.
Dengan langkah terburu-buru Nicholas langsung menuju tempat yang di maksud kemudian segera menerobos orang-orang yang sedang berkerumun untuk menonton perkelahian.
Nicholas terkejut ketika melihat adiknya memukuli anak dari keluarga Baines habis-habisan, menyadari akan terjadi masalah yang lebih besar jika perkelahian terus berlanjut Nicholas segera menarik Nora menjauh karena mendomisai perkelahian agar tidak lagi memukul lawannya.
“Lepaskan!”
“Lepaskan!”
Teriak Nora memberontak untuk dilerai, sementara lawannya sudah terkapar tidak berdaya di lantai.
“Siapa yang berani-berani menyentuhku.” Ancam Nora yang kembali berusaha memukul.
“Aku bilang lepaskan!” teriaknya lagi memberontak ingin kembali melanjutkan perkelahian pada lawannya yang terlihat telah sekarat.
“Plak!”
Tanpa berkata apa-apa lagi Nicholas langsung menampar wajah Nora yang masih mengamuk, membuat Nora seketika tertegun kemudian terdiam saat menyadari bahwa yang menariknya adalah kakaknya sendiri.
“Kenapa kau berkelahi?!” tanya Nicholas pada Nora sambil berusaha mengontrol ekspresi wajahnya.
Nora mendengus kesal menolak menjawab pertanyaan kakaknya Nicholas kemudian ditatapnya anak yang sudah terkapar dengan tatapan tidak suka.
“Kau tidak mau bicara?” Ucap Nicholas lagi yang mulai ikut terpancing emosinya.
“Aaaaaa!”
Tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita yang datang dengan terburu-buru, menerobos orang-orang yang berkerumun kemudian langsung menghampiri anak yang kini terduduk sambil meringis karena tinju yang ia terima dari Nora.
“Anakku! Oh tidak ankku sayang!” pekiknya yang terdengar pilu, orang yang mendengarnya pasti akan salah paham jika ia tengah menangisi anaknya yang telah meninggal.
“Ibu sakit.” Keluh sang anak saat ibunya datang sambil memegangi wajahnya yang memar bekas tinju yang di berikan Nora padannya.
“Siapa?” Tanyanya tiba-tiba sambil melihat orang-orang yang berkerumun, “Anak dari keluaga mana yang berani-berainnya mencari masalah dengan keluarga Baines.” Terikanya emosi kemudian matanya langsung tertuju pada Nora dan Nicholas dalam sekejap wanita itu langsung tahu dengan siapa anaknya bertengkar.
“Kau dari keluarga mana?!” tanyanya sarkas dan merendahkan ketika menyadari bahwa mereka berdua tidak di dampingi oleh orang tuannya, itu berarti ia punya kesempatan lebih besar untuk menyalahkannya sebagai anak yang tidak terdidik dengan baik.
“Mana orang tuamu?! Membiarkan anaknya datang ke acara seperti ini sebelum menyelesaikan pendidikan moralnya, sungguh memalukan orang tua nya pasti sama memalukannya dengan anak-anakknya.” Ucapnya dengan luwes merasa besar karena mengira tidak ada yang akan membela dua anak yang sedang mematung di depannya itu.
Nora mengepalkan tangannya bersiap untuk membalas perkataan si wanita yang telah menghina seluruh keluarganya tadi, tapi Nicholas segera mencengkram kuat bahunya membuat Nora tidak berkutik dan hanya terdiam.
“Dia menghina kakak Leathina itulah kenapa aku memukulnya.” Gumam Nora pelan.
“Aku tahu, adikku yang paling disanyangi oleh kakak tertua kami tidak akan bertindak semberono tanpa alasan.” Balas Nicholas dengan sedikit berbisik.
“Diam saja, biar aku yang urus.” Bisik Nicholas lagi.
“Maafkan kami madam.” Nicholas memulai membuka obrolan dengan wanita yang merupakan Nyonya dari keluarga Baines, tingkat kebangsawananya tidak bisa disepelehkan keluarga Baines juga berkontribusi untuk menunjang kerajaan itulah mengapa orang-orang harus berfikir dulu jika ingin bersinggungan dengan mereka.
“Sudah tau adikmu itu salah baguslah kau meminta maaf, tapi aku tidak akan membiarkan ini.” Ucapnya dengan arogan.
“Tapi Madam, Sepertinya yang perlu mendapatkan pendidikan kembali itu anda. Aku baru kali ini menghadapi orang dewasa yang mengajak berkelahi anak-anak seperti kami.” Balas Nicholas dengan senyuman yang mengembang di pipinya, membuat Nyonya dari keluarga Baines itu malu.
“Kau!” pekiknya tidak terima, “Penjaga, seret dua anak kurang ajar ini pergi dari sini! Katakan pada orang tuannya bahwa mereka harus mengajari anak-anaknya dengan baik.”
“Jangan berkata seperti itu madam.”
“Kenapa?! Panggil orang tuamu ke sini.”
“Ah! Ayah saya Duke Leonard Yarnell sedang sibuk di kerajaan jadi tidak bisa datang dan ibu saya Duchess Nice, sepupu dekat ratu Juliette juga punya urusan penting jadi tidak bisa datang untuk bertemu dengan anda.” Ucap Nicholas yang dengan sengaja menyembut nama lengkap dan titel kedua orang tuannya.
Mendengar siapa orang tua anak yang telah dimakinya itu mmebuat Nyonya dari keluarga Baines langsung tergagap, tidak menyangka masalahnya menjadi runyam tidak seperti yang di pikirkanya semula.
...***...