I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 218



Adam dan Nina sama-sama memacu kuda masing-masing saling susul-menyusul menuju kota, sesekali keduanya berhenti untuk beristirahat sejenak sampai penat keduanya mereda dan setelah itu mereka berdua pun melanjutkan perjalanan kembali hingga akhirnya melihat gerbang kota tinggal berjarak beberapa meter di hadapan mereka.


“Apa butuh tanda pengenal?” tanya Adam sembari memperlambat lajunya mengikuti Nina yang kini juga melambat.


“Tidak perlu, ini bukan kota besar penjagaannya tidak akan ketat jika mau cepat masuk berikan saja sekeping uang pada penjaganya maka kita akan langsung dipersilahkan masuk.” Jawab Nina kemudian merogoh kantung uangnya mengambil sekeping uang emas dan melemparkannya pada pengawal yang berjaga di perbatasan.


Prajurit refleks langsung menangkap uang yang di lemparkan Nina ke arahnya, “Tuan apa sekarang aku boleh masuk?” tanya Nina sembari mengedipkan sebelah mantannya kemudian tersenyum ramah.


“Tentu saja, silahkan Nona,” ucap si penjaga gerbang perbatasan ramah sembari mempersilahkan Nina dan Edward masuk.


“Ah! aku masih punya beberapa teman yang sebentar lagi juga akan datang tolong perlakukan mereka dengan baik, mereka akan datang menggunakan kereta kuda dan kusirnya bertubuh besar.” Ucap Nina memberitahukan si  penjaga gerbang.


“Akan saya ingat Nona.”


“Terimakasih Tuan.” Ucap Nina kemudian segera memacu kudanya melewati gerbang menuju pusat kota diikuti oleh Adam.


Keduanya mulai masuk ke daerah perkotaan yang ramai dan tidak lama kemudian seorang anak laki-laki datang dengan sendirinya menghampiri keduanya.


“Orang baru tuan?” tanya nya sambil memamerkan gigi-gigi kuningnya yang sepertinya tidak pernah ia bersihkan.


Adam mengangguk menjawab pertanyaannya.


“Saya bisa menunjukkan jalan kemanapun anda inginkan untuk kunjungi tuan.” Ucapnya lagi menawarkan bantuan.


“Baiklah, tunjukkan jalan ke penginapan.” Adam melempar sekeping koin dan si anak langsung sumringah dan berlari menunjukkan tempat yang diiginkan Adam.


“Ikuti saya tuan.” Ucapnya sambil berlari-lari kecil.


Edward dan Nina melompat turun dari kuda masing-masing mengikuti anak yang kini sudah jauh di depannya.


“Kau terlalu gampang percaya Adam.” Ucap Nina dalam perjalanannya mengikuti si anak kecil tadi.


“Ini lebih baik dari pada harus berkeliaran di kota yang belum kau tahu bagaimana keadaannya.” Jawab Adam kemudian segera menghampiri anak yang kini sedang berjongkok menunggunya di depan sebuah bangunan kayu yang tidak terlihat seperti sebuah penginapan.


“Tuan dan Nona bisa menitipkan kuda-kuda kalian disini jika mau, di penginapan tidak ada yang mau mengurus kuda pengunjungnya.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah bangunan yang ada di belakangnya.


Adam mengintip ke dalam terlihat kandang-kandang kuda dan beberapa kuda di dalamnya setelah itu ia kembali melemparkan satu keping koin pada si anak.


“Kerja bagus Nak.” Ucapnya kemudian masuk ke tempat penitipan kuda yang ditunjukkan padannya.


Setelah Adam masuk seorang pria paruh baya yang rambutnya hampir sudah tidak ada lagi yang berwarna hitam menghampiri mereka.


“Selamat datang Tuan, Nona, mau menitipkan kuda?” tanyanya ramah sembari menyambut tamu-tamunya.


Adam dan Nina mengangguk bersamaan.


“Ah! baiklah silahkan ikuti saya , biaya sewa sehari seharga dua koin silver tuan.” Ucapnya sambil membukakan dua kandang kuda kosong untuk kuda milik Nina dan Adam.


“Baiklah, kami titipkan selama tiga hari.” Ucap Adam kemudian menyerahkan enam koin.


Si pemilik kandang mengangguk paham kemudian menutup kembali kandang kuda setelah kuda milik Adam dan Nina masuk.


“Akan kami rawat dengan baik kudanya tuan.” Ucapnya ramah melepaskan kepergian Adam dan Nina.


Adam mengangguk sekali kemudian langsung pergi dari sana mengikuti anak jalanan tadi yang sekarang tengah menuntun mereka berdua menuju penginapan yang sedang mereka cari.


Hampir lima menit anak yang menuntunnya itu berjalan kemudian berhenti dan menunjukkan beberapa bangunan pada Adam dan Nina.


“Semua bangunan itu adalah penginapan tuan, tapi penginapan yang terbaik di kota ini adalah tempat itu?” ucap si anak sembari menunjukkan sebuah bangunan paling tinggi dijalan yang mereka datangi itu.


“Nak, bisakah kamu menunjukkan penginapan yang sepi dan jarang pengunjungnya?” pinta Nina.


Si anak mengerutkan alisnya tampak berfikir dengan keras karena baru kali ini ada orang yang menginginkan tinggal di penginapan yang sepi dengan pengunjung.


“Anda yakin?” tanyanya lagi memastikan, kemudian langsung dijawab oleh anggukan oleh Nina.


“Baiklah, silahkan ikuti saya.” Ucapnya kemudian kembali meneruskan perjalannya sampai ke ujung jalan yang kini telah terlihat lebih sepi dari sebelumnya.


“Disini penginapan yang paling jarang peminatnya Tuan, Nona. Tempatnya tidak bagus makannya jarang pengunjung yang datang.” Ucapnya sambil menunjukkan sebuah bangunan yang memang terlihat sepi tapi di depannya terpasang papan yang menuliskan naman penginapannya.


“Baiklah kami akan tinggal disini, tapi bisakah kami minta tolong lagi padamu?” tanya Adam kemudian orang yang ditanyainya langsung mengangguk.


“Boleh asalkan ada tukarannya, tuan.” Ucapnya dengan jujur.


“Tenang saja, ambil ini.” Adam kembali memberikan dua keping koin padanya.


“Ah! terimakasih banyak tuan.” Ucapnya kegirangan, “sekarang apa yang ada perlukan?” tanyanya lagi sambil memasukkan keping uang yang diberikan Adam padannya ke dalam kantung lusuhnya.


“Kamu tunggulah seseorang di tempat yang tadi kami pertama kali bertemu, temanku akan datang sebentar lagi mereka menggunakan kereta dan kusirnya adalah temanku wajahnya sangar dan badannya besar kulitnya agak hitam, jika dia datang kamu tunjukkan tempat penitipan kuda tadi katakan padannya untuk menitipkan keretanya di sana dan tuntun mereka ke penginapan ini.” Adam memberitahukan pada si anak apa yang harus di kerjakannya. “Apa kamu paham?” tanyanya mematikan.


Si anak mengangguk, “Tenang saja Tuan, akan saya lakukan dengan baik.” ucapnya yakin dan kembali tersenyum memamerkan gigi-giginya.


“Baiklah, sekarang pergilah.” Ucap Adam kemudian tanpa diulang lagi si anak langsung berlari ke arah mereka tadi datang.


Adam dan Nina melihat anak itu pergi sampai tidak terlihat lagi setelah itu keduanya juga pergi meninggalkan penginapan yang ditunjukkan padannya.


“Sebaiknya kita cari penginapan yang lain saja.” Ucap Adam kemudian dibalas anggukan oleh Nina.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka mencari penginapan hingga mereka melihat penginapan kecil yang ada di tengah-tengah penginapan besar lainnya.


“Ting!” bunyi lonceng menyambut kedatangan keduanya saat mereka membuka pintu.


“Selamat datang tuan dan Nona.” Sambut seorang perempuan yang sepertinya merupakan pemilik bisnis penginapan tersebut.


Nina mengangguk tersenyum membalas sapaannya kemudian langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan begitu pula dengan Adam.


“Bagaimana?” tanya Nina ketika keduanya telah selesai memeriksa.


“Disini cukup bagus, tidak banyak pengunjung juga tidak sepi jadi orang-orang tidak akan curiga jika kita keluar masuk ke sini.” Jawab Adam dengan suara kecil.


“Madam, berapa biaya sewa di penginapan anda?” Tanya Nina sambil tersenyum ramah.


“Sehari sepuluh koin silver Nona ucapnya lagi.” memberitahukan Nina dan Adam.


“Oh! Hargannya tiga kali lipat dari penginapan yang terakhir kali kami pesan.” Ucap Nina sedikit terkejut.


“Kalian pasti dari desa kan?” tanyanya.


“Penginapanku ini termaksud yang paling murah disini.” ucapnya lagi sambil setengah berbisik. “Tapi walaupun murah kualitasnya sama dengan penginapan-penginapan besar di sebelah.” Ucapnya lagi sambil melirik ke luar.


Nina hanya tersenyum mendengarnya “Baiklah, kami akan menginap disini selamat tiga hari.” Nina merogoh kantung uangnya mengeluarkan sejumlah uang yang disebutkan si pemilik penginapan tadi.


“Nah, pilihanmu bagus sekali nona, ah! kalian bisa menyebutku Mary, aku pemilik penginapan ini.” Ucapnya sambil mengambil uang sewa yang diberikan oleh Nina dan menghitungnya kembali setelah dirasa tidak ada yang kurang ia pun langsung memasukkannya ke dalam kantung uang miliknya.


“Uangnya cukup.” Ucapnya sambil tersenyum ramah, “Silahkan ikuti saya.” Mary berjalan pergi diikuti oleh Nina dan Adam.


“Ini kamar kalian berdua, bagaimana baguskan?” Mary membuka sebuah kamar di dalamnya hanya ada satu tempat tidur tapi terlihat cukup luas untuk ukurannya.


“Bersenang-senanglah selama tiga hari.” Bisik mary dengan senyuman jailnya kemudian melenggak pergi meninggalkan keduanya setelah menunjukkan ruangan.


Nina dan Adam terbelalak kemudian saling pandang setelah itu berusaha menahan tawa masing-masing.


“Sepertinya ada kesalahpahaman disini.” Gumam Nina sambil menahan tawa


Adam mengangguk setuju dengan perkataan Nina, “Benar, dia pikir kita pasangan. Nina cepat minta kamar yang lain.” Ucapnya mendorong Nina menyusul mary yang semakin menjauh.


“Madam Mary!” panggil Nina setengah berlari sementara Adam menyusul di belakangnya.


“Kami tidak ingin kamar yang itu, bisakah kami menyewa dua kamar dengan beberapa tempat tidur di dalamnya? Sebenarnya kami ada lima orang tiga pria dan dua wanita, teman-temanku yang lain akan menyusul nanti.”


“Ah! kalian bukan pasangan ya?” serunya sedikit kecewa.


Nina dan Adam langsung mengangguk mengiyakan.


“Maafkan saya sudah salah mengira kalian pasangan.” Ucap madam mary menyesal, “Baiklah saya akan segera mengaturnya kembali.” Ucapnya kemudian menuju sebuah ruangan setelah itu kembali lagi dengan membawa dua kunci.


“Silahkan ikuti saya.” Madam Mary kemudian menyusuri koridor setelah itu berhenti di sebuah kamar dengan bertuliskan nomor 2 di pintunya dan langsung membukanya kemudian memperlihatkannya pada Adam dan Nina.


“Kalian akan menempati kamar nomor dua dan kamar nomor tiga.” Madam Mary menunjuk ke pintu kamar no 3, kedua kamar berhadapan jadi mudah untuk ditemukan. “Ini kamar yang sering digunakan jika ada rombongan yang datang, masing-masing kamar ada tiga tempat tidur di dalam, harga sewanya sedikit lebih mahal dengan kamar sebelumnya, apa kalian berdua mau?” tanyanya lagi.


“Kami akan mengambil ini Madam, ucap Nina kemudian menyerahkan dua koin emas pada madam mary.”


“Ini terlalu ....” Madam mary terkejut saat melihat uang yang diberikan Nina padannya.


“Ah! kami ingin pelayanan terbaik selama menginap disini Madam Mary, mohon bantuannya.” Ucap Adam kemudian menutup kembali tangan madam Mary yang masih terbuka menunjukan dua keping uang di atas telapak tangannya.


“Ka- kalau begitu, uang yang sebelumnya akan saya kembalikan.” Ucapnya sambil merogoh kembali kantung uangnya  dan menyerahkannya pada Nina setelah itu barulah madam Mary memberikan kunci kedua ruangan dan langsung pergi kembali ke depan untuk menyambut tamu-tamu yang lainnya.


“Adam kamu kembalilah ke penginapan sebelumnya, untuk menunggu kedatangan yang lainnya sebelum mereka datang dan tunggu sampai anak jalanan itu benar-benar pergi sebelum mengantar mereka ke sini, sepertinya selain menunjukkan jalan pada pendatang baru anak itu juga menjual informasi.” Ucap Nina memberitahu dan memperingati Adam.


“Kau sendiri?” tanya Adam.


“Aku akan berjalan-jalan sebentar ke kota untuk melihat situasi di kota ini.”


“Baiklah. Aku mengerti, kau berhati-hatilah jangan sampai ada yang mengikutimu atau mencurigaimu.” Ucap Adam yang juga memperingati Nina sebelum berpisah.


“Aku mengerti, kau juga jangan sampai ada yang mengikutimu.”


Keduanya kemudian berjalan keluar secara beriringan, Nina tersenyum ramah saat melewati meja tempat Madam Mary berjaga setelah itu langsung keluar dari penginapan dan keduanya pun berpisah menuju tempat tujuan masing-masing.


“Sepertinya masih lama.” Gumam Adam setelah menunggu lama di penginapan sebelumnya.


“Aku akan pergi mengisi perut ku sebentar dan kembali lagi kesini.” Ucapnya berjalan pergi dari tempat tunggunya dan berjalan menuju sebuah rumah makan yang tidak terlalu jauh dari tempat sebelumnya.


Adam memasuki salah satu rumah makan yang ditemukan paling dekat dengannya namun setelah masuk ke dalam pandangan orang-orang malah langsung tertuju padanya membutanya merasa tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian hingha Adam akhirnya memilih keluar dari rumah makan itu dan kembali mencari tempat makan lainnya.


“Apa-apaan itu?!” gumanya kesal kemudian melihat kembali papan yang terpasang di depan tempat makan yang tadi di masukinnya dan menemukan bahwa disana ternyata tempat perkumpulan khusus para wanita, Adam bergidik takut dan mempercepat langkahnya hingga ia sekali lagi menemukan rumah makan yang baru.


Sebelum memutuskan untuk masuk ke sana Adam dengan teliti memperhatikan papan namanya dan orang-orang yang keluar masuk dari rumah makan yang menjadi targetnya setelah merasakan tidak ada yang aneh Adam pun akhirnya masuk ke dalam.


Adam mengisi perutnya sampai benar-benar penuh dan kemudian teringat kembali akan tugasnya setelah menyelesaikan seluruh makannya, cepat-cepat ia kembali ke penginapan dan dilihatnya Troy, Edward dan Leathina yang mengenakan jubah dan tudungnya menutupi rambutnya serta si anak yang tadi ditugaskan Adam untuk mengantar mereka.


Saat melihat Adam anak itu langsung berlari menyambut Adam. “Tugasku sudah selesai, apa sekarang aku sudah boleh pergi?” tanyanya dengan bersemangat sepertinya karena sudah tidak sabar untuk membelanjakan uang yang telah ia peroleh.


“Iya kau sekarang sudah boleh pergi.” Ucap Adam sementara si anak lansung berlari meninggalkan mereka.


“Silahkan ikuti saya Bos Ed.” Ucap Adam sopan kemudian langsung menuntun ketiganya menuju penginapan yang telah ia sewa bersama Nina sebelumnya.


“Bukan disana ya?” Tanya Troy saat meninggalkan penginapan yang pertama.


“Disana terlalu sepi dan sepertinya anak tadi juga menjual informasi pada orang lain jika diminta, bisa bahaya jika ada yang curiga apalagi sampai tahu dimana kita tinggal.” Jawab Adam sambil terus berjalan.


“Tapi Nona Lea anda akan lebih menarik perhatian orang-orang jika berpenampilan seperti itu.” Ucap Adam sambil memperhatikan Leathina yang sekarang bahkan hampir seluruh tubuhnya hampir tidak terlihat.


“Bukan mauku, seseorang memaksaku.” Jawab Leathina kemudian melirik Edward yang berjalan di sampingnya.


Mendengar perkataan Leathina Adam terdiam sejenak kemudian berbicara kembali.


“Bos sebaiknya rambut Nona Leathina diubah warnanya saja agar bisa bergerak dengan bebas, seperti yang sering anda lakukan.” Ucap Adam memberanikan diri untuk berbicra karena kasihan melihat Leathina yang sepertinya sedang kepanasan sekarang.


“Leathina tidak bisa menggunakan sihir seperti itu dan walaupun bisa jika ia menggunakannya secara terus-menerus tidak akan baik bagi kesehatannya.” Jawab Edward.


“Bagimana jika diwarnai? Baru-baru ini ada yang menemkan cara merubah warna rambut dengan bahan-bahan herbal dan akhir-akhir ini mewarnai rambut sedang digemari orang-orang .” Celetuk Troy.


Adam membulatkan matanya begitu juga dengan Leathina yang sangat setuju dengan perkataan Troy tapi kegembiraan keduanya tidak berlangsung lama, Adam dan Leathina kemudian menatap Edward menunggu tanggapan yang akan keluar dari ulut Edward.


“Terserah Leathina karena rambutnya yang akan diubah bukan punyaku.” Jawab Edward yang tampak tidak terlalu mempermasalahkannya.


Leathina dan Adam refleks saling pandang, “Aku akan menemani Nona Leathina nanti untuk mencari herbal pengubah rambut.” Bisik Adam kemudian dibalas dengan anggukan antusias oleh Leathina karena merasa senang akhirnya bisa bebas keluar setelah lama terkurung baik di mansion Almo maupun di penginapan.


...***...