
Terdengar keributan di luar ruangan, Aleda datang mencari Edward yang tidak kunjung datang ke ruangannya disaat yang bersamaan prajurit yang kebetulan lewat berpatroli menemukan rekannya yang berjaga di depan pintu pingsan kemudian memaksa masuk ke dalam ruangan Tuan Baul karena tahu ada penyusup di kediaman mereka.
“Sepertinya di luar sedikit kacau.” Gumam Edward sambil melihat pintu yang kini sudah digedor-gedor dari luar oleh para prajurit.
“Kau!”
“I- iya?!” Jawab Tuan Baul spontan.
“Tidak ada orang yang pernah datang kesini, katakan pada orang-orang mu bahwa kau sengaja mengunci pintu dari dalam, paham!”
“Ba- baik.”
“Jika kau mencoba mengejar ku maka aku akan mengejar mu kembali, dan melaporkan pada kerajaan bahwa kau menyelundupkan barang-barang berharga masuk ke kerajaan tanpa membayar pajak kerajaan,”
“Ekh! Da- darimana kau tahu?!”
“Memangnya bagaimana lagi caramu bisa kaya kalau tidak menggunakan cara kotor.”
“Apa kau akan melaporkannya?”
“Tergantung dari tindakan yang kau ambil, ingat aku akan memburumu jika kau mengejarku.” Ancam Edward.
“Baik, baik, saya tidak akan melakukannya. Tapi, tolong jangan laporkan pada kerajaan!”
“Brak!”
“Bark!”
Para penjaga semakin gencar mendobrak pintu dari luar.
Edward tidak lagi menggubrisi Tuan Baul dan melompat ke luar jendela untuk melarikan diri.
“Brak!”
Pada dobrakan yang berikutnya pintu berhasil terbuka, para penjaga yang panik langsung memeriksa seluruh ruangan dan tidak menemukan apa-apa, Tuan Baul juga tidak berani memberitahukan karena takut jika orang yang tadi mengancamnya benar-benar melaporkannya pada kerajaan, jika itu terjadi ia bisa langsung datang ke pengadilan dan akan mengalami kerugian yang lebih banyak atau yang lebih parah bisa dipenjarakan karena menyelundupkan barang secara ilegal.
Saat seluruh penjaga sibuk menyisir di dalam kediaman untuk mencari si penyusup bersamaan dengan Aleda yang juga sibuk mencari laki-laki yang di bawa oleh Nona Aleda karena tiba-tiba menghilang, Edward segera meninggalkan kediaman Tuan Baul memasuki jalan kecil kemudian melepas penutup wajahnya dan jubahnya setelah itu berjalan memasuki jalan utama.
Edward berjalan dengan terburu-buru menuju pintu gerbang kota takut jika di tinggal oleh Tuan Cade yang tidak sabar menunggunya.
“Ah! Masih ada.” Gumam Edward lega saat melhat kereta milik Tuan Cade masih berada di gerbang kota kemudian melambai ke arah Tuan Cade yang duduk bersandar menunggunya.
“Tuan!” serunya kemudian langsung berlari ke kereta.
“Kenapa kau lama sekali, aku hampir meninggalkanmu jika kau tidak datang sekarang!” ucap Tuan Cade dongkol karena bosan menunggu Edward yang terlalu lama berkeliaran di kota.
“Maaf! Saat ingin ke gerbang kota saya malah tersesat.” Ucap Edward beralasan dan langsung melompat naik ke atas kereta duduk di samping Tuan Cade yang kini bersiap meninggalkan kota untuk kembali ke desa.
“Aku dengar tadi benar-benar ada laki-laki yang di bawa paksa oleh anak orang kaya di kota, aku pikir itu kau.” Ucap Tuan Cade bercanda.
“Ah! Hahah, tentu saja bukan lebih baik aku lari.” Balas Edward ikut bercanda, sengaja ia tidak memberitahukan Tuan Cade agar tidak banyak yang perlu ia jelaskan.
“Iya, betul juga jika itu benar-benar kau maka bagaimana nasib kekasihmu di desa nanti, hahah.”
Mendengar Ucapan Tuan Cade membuat Edward kembali mengingat Leathina dan yang lainnya di desa, wajahnya menjadi murung khawatir jika terjadi sesuatu dengan Leathina.
“Bagaimana keadaanya sekarang pasti sudah bangun, sudah dua hari aku meninggalkannya dan aku baru bisa samapi ke desa besok.” Batin Edward khawatir.
“Kau memikirkan kekasihmu ya?” tanya Tuan Cade ketika melihat Edward yang tiba-tiba diam dan berubah murung tidak seperti tadi yang terus membalas candaannya. “Tenang saja, tidak akan ada yang merebutnya di desa. Kalau memang dia selingkuh otaknya pasti rusak, bagaimana bisa menghianati kekasihnya yang tampan ini.”
“Anda terlalu memuji, tapi sayangya dia belum jadi pasanganku.” Ucap Edward pelan.
“Terus, dia apa mu sekarang?”
“Hanya sebatas teman.”
“Tapi kau menyukainya kan?” tanya Tuan Cade lagi.
Edward tidak menjawab ia hanya mengangguk pelan.
“Ah! Kisa cinta anak muda sekarang kenapa sulit sekali, dulu kami hanya menyatakan cinta terlebih dahulu jika diterima ya langsung menikah.”
“Kalau di tolak?”
“Cari lagi lah.”
“Kalau tidak bisa digantikan bagaimana?”
“Kau harus berusaha mempersiapkan dua hal.”
“Apa yang harus dipersiapkan?” Tanya Edward penasaran.
“Pertama kuatkan hati kalau di tolak.”
“Kedua?”
“Yang kedua kau juga harus menguatkan hati jika diterima nantinya.”
“Kenapa?”
“Karena diterima atau ditolak sama-sama perlu menyiapkan hati bedanya yang satu harus kebal sakit hati yang satunya harus kebal dengan bagaiman kalian menjalani hubungan kalian agar tidak pupus di tengah perjalanan.”
“Begitu ya.” gumam Edward yang walaupun ucapan Tuan Cade hanya candaan belaka ia merasa perkataanya itu ada benarnya.
“Makanya selagi ada waktu katakan saja perasaanmu secepatnya sebelum menyesal.” Sambung Tuan Cade lagi.
“Iya, Pasti akan saya lakukan tapi setelah mendapatkan kepercayaannya karena sepertinya terlalu banyak rahasia yang ia miliki.”
“humm, betul, betul, yang pertama harus kau rebut bukan hatinya tapi kepercayaannya.” Gumam Tuan Cade merasa perkataan Edward memanglah benar.
Selama perjalanan panjang yang mereka tempuh menuju desa kembali mereka habiskan saling berbagi kisah dan cerita. Edward tentu saja tidak memberitahukan identitasnya ia hanya menceritakan cerita kehidupan para pemuda pada umumnya sementara Tuan Cade lebih sering bercanda dibandingkan berbicara dengan serius.
Seharian penuh mereka habiskan dalam perjalanan saat sampai di kota kemarin mereka sampai di siang hari dan saat kembali matahari telah hampir tenggelam, Tuan Cade telah terbiasa pulang pergi dari desa ke kota jadi tidak masalah baginya melakukan perjalanan di malah hari. Mereka hanya singgah beberapa kali untuk beristirahat jika lapar dan mengantuk selebihnya tentu saja fokus kembali ke desa.
“Kita sebentar lagi akan sampai, desa ada di dapan sana.” Tuan Cade memberitahukan Edward yang sedari kemarin sudah tidak sabar untuk kembali.
“Benarkah?! Kalau begitu saya turun di sini saja, Tuan Cade. Terimakasih atas tumpangannya.”
“Kenapa tidak sekalian sampai di desa? Daripada harus jalan kaki.”
“Tidak apa-apa, saya ada keperluan lain juga jadi harus turun di sini tuan.”
“Ya, baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika kau nanti menyesal ya.”
“Hahaha, tidak akan Tuan, pokoknya terimakasih atas tumpangannya.”
“Iya, iya, selamat tinggal.”
Edward segera melompat turun dari kereta milik Tuan Cade kemudian melambaikan tangannya melepas kepergian Tuan Cade yang kini telah melanjutkan perjalanannya kembali ke desa, sementara Edward sendiri juga melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki sambil memastikan tidak ada orang di sekitarnya kemudian segera mengenakan penutup wajah dan jubahnya untuk menyembunyikan kembali identitasnya sebelum kembali ke desa.
Edward berhenti sejenak di depan penginapan dilihatnya seluruh jendela dan pintu di tutup rapat. Orang-orang yang berjaga di sekitar penginapan yang dilihatnya sebelum pergi pun tidak terlihat lagi dan juga tidak ada suara apapun yang dapat Edward dengar dari dalam penginapan.
“Apa ada sesuatu yang terjadi selama aku tidak ada?” gumamnya kemudian sekali lagi memperhatikan sekitarnya untuk memeriksa keadaan di sekitar penginapan.
Tidak ada yang aneh selain pintu dan jendela penginapan yang di tutup rapat, orang-orang disekitarnya tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
“Hah! Mungkin hanya perasaanku saja”. Gumam Edward menenangkan diri kemudian menghela nafas.
“Prakkkk
Baru saja Edward berniat masuk terdengar suara yang cukup besar dari dalam penginapan, membuatnya langsung waspada dan menerobos masuk.
“AAAaaa!” pekik si pemilik penginapan saat tiba-tiba sebuah pedang menempel di lehernya.
“Bos!”
“Tuan Ed!”
Seru Troy dan Adam secara bersamaan ketika tiba-tiba melihat Edward yang tidak mereka sadari kapan Edward datang dan tau-tau sudah menarik pedangnya.
“Tu- tuan, tolong lepaskan saya!” pinta si pemilik penginapan memohon pada Edward untuk di lepaskan.
“Duh! Hampir saya leherku putus.” Gumam si pemilik penginapan lega kemudian dengan terburu-buru menajuh dari Edward.
“B- bos, tidak ada yang terjadi si gendut itu tidak sengaja menjatuhkan ember berisi air.” Adam menjawab pertanyaan Edward, sementara Troy bersembunyi di balik punggung Adam. ”Adam, bagaimana jika Tuan Ed tau kalau aku menyentuh Nona Leathina dan bahkan membuatnya pingsan?” bisik Troy gugup.
“Kau pasti akan langsung dibunuh ditempat.” Ucap Adam balas berbisik pada Troy.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanya Troy panik.
“Selama tidak di tanya kau diam saja, bodoh.” Bisik Adam kemudian mendorong Troy menjauh darinya.
“Ada apa dengan kalian berdua selama aku pergi?” tanya Edward melihat Troy dan Adam saling tarik menarik, “Apa kalian berubah menjadi pasangan.” Ucapnya lagi sambil berlalu melewati mereka berdua.
“Ahk! Tentu saja Tidak!” teriak Adam dan Troy spontan kemudian saling mendorong menjauhkan diri masing-masih setelah itu langsung mengikuti Edward yang kini telah pergi lebih dahulu menuju ruangan yang di tempati Leathina.
“Tuan Ed?!” Nina terkejut melihat Edward yang akhirnya kembali setelah beberapa hari menghilang secara mendadak.
“Tuan selamat datang kembali,” sambut Nina kemudian.
“Nina kenapa dia masih tidur?” Tanya Edward khawatir melihat Leathina masih tertidur. “Ini sudah lebih dari tiga hari, dan Leathina masih tertidur?”
Troy menegang, keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya takut jika Edward benar-benar membunuhnya karena berani menyentuh Leathina tanpa sepengetahuannya.
“Ini aneh seharusnya dia sudah bangun paling lambat selama dua hari tertidur karena pada hari itu Leathina memang tidak pernah beristirahat dan kelelahan setelah perjalanan jauhnya sampai ke tepi tebing, tapi lewat dari itu berarti ada yang bermasalah dengannya.” Gumam Edward khawatir dan langsung menghampiri Leathina yang masih pulas tertidur. “Apa ada yang terluka? Apa mungkin ada luka dalam?” Edward yang semakin lama semakin khawatir kemudian memeriksa Leathina dengan hati-hati.
“T- tuan Edward sebenarnya No ...”
“Kalian panggilkan dokter terbaik di desa!” Edward yang panik langsung memerintah tidak memberikan kesempatan pada Nina untuk memberikan penjelasan.
“Apa ini?” gumam Edward menemukan luka lebam di leher Leathina kemudian dengan seksama memeriksanya.
“Bagaimana bisa ada luka lebam di tubuhnya? Apa ada orang yang menyerang kalian selama aku tidak ada?”
“Tu- tuan Ed, tidak ada yang seperti itu Nona Leathina aman walaupun memang ada penyerangan.” Jawab Nina mewakili Troy dan Edward.
“Jadi darimana luka ini berasal tidak mungkinkan Leathina memukul dirinya sendiri atau kalian yang memukulnya?” Tanya Edward mencurigai ketiga bawahannya.
“Ekh!” pekik Troy pelan kemudian semakin lama semakin menyusut dan berusaha berlindung di balik punggung Nina.
“Aku memang membuatnya pingsan dengan cara memukulnya tapi sudah aku pastikan agar tidak sampai menyakitinya dan tidak meninggalkan bekas seperti ini tapi kenapa tiba-tiba jadi lebam.” Gumam Edward pelan kemudian kembali memeriksa luka lebam yang ada di leher Leathina.
“Tuan maafkan kami sebenarnya luka lebam yang ada di leher Nona Leathina itu karena Troy yang memukul Nona Leathina, Tuan Ed.” Nina akhirnya memberitahu Edward alasan dibalik luka lebam yang ada di leher Leathina.
Troy menarik Nina tidak menyangka Nina benar-benar melaporkannya. “Kau harus mempertanggung jawabkan kesalahana mu.” Bisik Nina kemudian melepaskan secara paksa tangan Troy yang terus menarik-nariknya agar berhenti melaporkannya.
Edward langsung tajam menatap Troy meminta penjelasan lebih lanjut kenapa ia sampai berani menyentuh Leathina.
Tatapan Edward malah semakin membuat Troy semakin ketakutan.
“S- saya tidak sengaja Tuan Ed, kemarin saat hanya saya yang berjaga tiba-tiba Nona Leathina terbangun dan karena panik saya malah membuatnya pingsan lagi.”
“Hah!” Edward menghela nafas berat, “Bisa-bisanya kau membuat kesalahan seperti ini.” Ucapnya kemudian melihat ke arah Adam. “Adam lakukan hal yang sama dengannya.” Edward telah menentukan hukuman untuk Troy kemudian meminta Adam untuk melakukannya.
“Baik bos!” Jawab Adam spontan.
“Adam, kenapa kau tersenyum?” tanya Troy pelan saat Adam berjalan ke arahnya.
“Ah, maafkan aku Troy. Sayangnya aku harus melakukan ini, jadi jangan melawan.” Ucap Adam.
“Tapi kau seperti menikmati untuk melakukannya, kau senang memukulku kan!” Troy mengelak tapi tidak berani melawan karena Edward masih ada di depannya.
“Tak!”
“Akh! Sialan kau Adam.” Ucap Troy sebelum benar-benar hilang kesadaran setelah dipukuli oleh Adam.
Sekali pukulan dengan kekuatan penuh oleh Adam berhasil membuat Troy jatuh tidak sadarkan diri dan tergeletak begitu saja di atas lantai.
“Kau sepertinya sangat menikmati pekerjaanmu.” Bisik Nina kesal pada Adam.
“Hahah, kapan lagi kau bisa memukul beruang itu dengan bebas tanpa perlawanan ini merupakan pekerjaan paling menyenangkan yang perah aku lakukan.” Balas Adam sambil tersenyum karena merasa puas setelah berhasil memukul Troy.
“Bagaiman dengan tubuhnya bos?” tanya Adam bersemangat.”
“Taruh di tempat yang tidak bisa ku lihat, untuk sekarang aku tidak ingin melihatnya.” Jawab Edward kemudian dengan hati-hati membaringkan Leathina kembali dan menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk kepala Leathina.
“Apa sudah kalian obati?” tanya Adam.
“Sudah Tuan, tapi untuk hari ini saya belum sempat mengoleskan salep sebelum anda datang.” Jawab Nina kemudian memperlihatkan obat saleb yang baru akan ia oleskan tapi tidak jadi karena kedatangan Edward.
“Baiklah, kemarikan obatnya aku yang akan mengoleskannya.” Pinta Edward sementara Nina langsung memberikan obatnya pada Edward.
“Kalau begitu kami akan pamit keluar dulu tuan, kami akan datang kembali setelah anda selesai mengobati luka Nona Leathina.” Ucap Adam.
Edward tidak menjawab dan kemudian terdiam fokus menajamkan pendengarannya dan terus melihat ke arah pintu kamar.
“Ada apa Tuan?” tanya Nina merasa ada yang aneh.
Edward tidak menajwab ia hanya memberi isyarat meminta Nina dan Adam untuk diam sebentar.
“Katakan!” ucap Edwar memerintah sengaja ia besarkan suaranya kemudian menunjuk ke arah pintu memberitahukan Nina dan Adam.
“Ada yang menguping pembicaraan kita?” tanya Nina dengan berbisik kemudian dibalas dengan anggukan membenarkan pertanyaan Nina.
"Saya akan segera mengurus nya Tuan Ed." Ucap Adam tapi di cegat oleh Nina karena Nina melihat isyarat dari Edward untuk segera menghentikan Adam.
"Ada apa?" Tanya Adam bingung.
"Apa saja yang terjadi selama aku tidak ada?" Tanya Edward sambil memberikan isyarat untuk berpura-pura tidak tahu dan bertindak seperti biasanya.
Nina dan Edward mengangguk secara bersamaan, menurut pada Edward.
"Kemarin ada beberapa orang yang berjaga di sekitar penginapan, sepertinya mereka mencurigai bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di penginapan ini karena tiba-tiba pengingat ditutup dan tidak menerima penyewa lagi selama kita tamu terakhir masuk ke sini." ucap Nina mulai melapor pada Edward.
"Kalian membersihkan mereka?" Tanya Edward.
"Beberapa orang yang mencoba menyelinap masuk kami bersihkan tapi beberapa orang lainnya yang tidak masuk kami biarkan." Nina kembali berbicara menjawab pertanyaan Edward.
"Tapi tiba-tiba Troy bosan dan memburu mereka diam-diam Bos." Sambung Adam menambah laporan Nina yang menurutnya masih belum lengkap.
"Kalian mendapatkan informasi?"
"Ah, soal itu kami tidak menemukan apa-apa. saat mereka menyelinap saya langsung menghabisi mereka semua karena takut menyerang Nona Leathina dan kemudian Troy juga tidak berpikir panjang dan langsung menghabisi juga." Jawab Adam.
"Hah!" Edward menghela nafas, "Baiklah, setidaknya kalian berhasil melindungi Leathina selama aku tidak ada, sekarang keluar lah."
Nina menatap Edward tidak yakin karena di luar ada yang menguping pembicaraan mereka tapi kemudian Edward mengangguk memberitahukan isyarat bahwa mereka harus keluar secara tiba-tiba untuk bisa menangkap si penyusup.
"Trak!"
Nina dan Adam paham kemudian langsung membuka pintu secara mendadak.
"Aakkkkh!!!" Pekik anak laki-laki saat Adam langsung mencekik karena berada di depan pintu.
"Tu- tuan! saya datang untuk memberitahu bahwa air mandi yang anda minta tadi sudah siap."
"Ban?!" Adam ikut terkejut saat orang yang ada di depan pintu ternyata adalah Ban pekerja yang dipekerjakan oleh si pemilik penginapan dan langsung melepaskan cengkeramannya yang mencekik lehernya.
"Baiklah, kau kembali lah sekarang." Ucap Adam segera meminta Ban untuk pergi.
"Ah! dia anak yang bekerja disini bos." Adam memberitahukan Edward yang kini menatapnya.
"Aku tahu." Ucap Edward. "Awasi anak itu dan orang-orang yang sering berkeliaran di sekitar sini." sambungnya lagi.
"Baik Tuan!"
Jawab Adam dan Nina bersamaan.
...***...