
...
...
Kereta kuda yang ditumpangi Anne dan Leathina telah memasuki area pusat perkotaan mulai banyak orang – orang yang memenuhi jalanan dan terlihat pula banyak toko – toko di sepanjang jalan tersebut.
“Kita akan sampai di mana Anne?”
“kita akan turun di jalan Tailor Nona, di sepanjang jalan sana semuanya khusus tempat para penjahit dan toko pakaian.”
Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua sampai pada tempat yang di maksud oleh Anne, kusir yang mengantar mereka segera turun dan membukakan pintu kemudian mempersilahkan Anne dan Leathina turun dari kereta.
“Sudah samapi Anne?” kusir tersebut berbicara sambil mengulurkan tangannya agar Anne bisa memegangnya saat turun nanti.
“Iya Terimakasih, jemput kami di sini nanti tiga jam lagi ya.”
Setelah Anne memberitahu kapan harus datang untuk menjemput mereka berdua kusir yang mengantar Anne dan Leathina segera pergi meninggalkan mereka.
“Nah sekarang kita harus ke mana terlebih dahulu Anne?”
“Ah ayo kita ke toko Nyonya Rissa dulu, di sana adalah toko paling populer bagi wanita – wanita bangsawan dari seluruh toko – toko pakaian yang ada di kerajaan.”
“Baiklah ayo ke sana.”
Leathina mengikuti Anne yang berjalan ke arah sebuat toko baju yang memiliki palang bertuliskan “Ny. Rissa Store” di sana juga terlihat beberapa wanita – wanita muda yang sepertinya ingin membeli pakaian di sana.
“Umm Anne.”
“Ada apa Nona Leathina kenapa kita berhenti di sini?”
Leathina menarik tanggan Anne sehingga Anne menghentikan langkah kakinya dan segera menanyai keadaan Leathina.
“Sepertinya aku tidak bisa masuk ke sana dengan berpakaian seperti ini.” Leathina berbicara sambil menunjuk dirinya sendiri yang hanya mengenakan jubah yang hampir menutupi seluruh badanya.
“Kalau aku mengenakan jubah masuk ke dalam toko pakaian wanita bangsawan aku pasti akan di usir, sekarang aku lebih mirip pengembara dari pada seorang bangsawan.”
Saat Leathina berbicar Anne juga ikut memperhatikan Leathina dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Iya benar kalau Nona Leathina masuk ke toko elit dengan pakaian seperti itu Nona pasti akan di usir, kalau begitu kita lepas saja jubah yang nona pake dengan begitu mereka akan menghormati Nona.”
“Tapi itu pasti akan menarik perhatian orang – orang dan mereka tentu akan mengenaliku dan melaporkanku pada Duke nantinya kalau itu terjadi kita berdua pasti akan dikuhum nanti.”
“Iya semua yang di katakan Nona benar, apa kita kembali saja.”
“Eh jangan. Degarkan aku kamu tahukan bahwa aku telah membatalkan tunanganku dengan pangeran Yardley.”
Anne segera mengangguk mengiyakan perkatan Leathina.
“Iya betul Nona Leathina harus menjadi yang tercantik setiap saat.”
“Jadi kamu masuklah sendiri bawa tanda pengenal dari Keluarga Duke dan katakan bahwa kamu adalah utusan dari Keluarga Duke Yarnell. Kamu tahu kan baju seperti apa yang aku suka kan?”
“Aku tahu. Nona menyukai pakaian sederhana tapi elegan dan tidak menyukai pakaian yang terlalu banyak manik – maniknya atau pita yang menggantug di gaun.”
“Nah betul kamu semakin pintar saja Anne.” Anne yang mendengar pujian dari Leathina tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
“Jadi kamu masuklah ke dalam sendirian dan pilihkan aku beberapa gaun yang bisa aku gunakan di perayaan nanti.”
“Bagaimana dengan Nona Leathina?”
“Tenang saja Anne aku akan duduk pada restoran di seberang jalan dan menunggumu di sana sampai kamu selesai memilih pakaian untukku dan pilihlah juga beberapa pakaian untuk dirimu sendiri.” Leathina berbicara sambil menunjuk sebuah rumah makan yang ada di seberag jalan.
“Apa kamu paham Anne?”
“Iya Nona aku akan memilihkan pakaian yang paling bagus untuk Nona Leathina.”
“Nah sekarang masuklah aku mempercayakan pekerjaan penting ini padamu Anne dan usahakan pilihlah dengan hati – hati jangan terlalu terburu – buru dalam memilih.
Anne kemudian mengangguk dengan cepat dan segera menjalankan pekerjaan penting yang diberikan Leathina padanya, sementara Leathina melambaikan tangannya memberikan tanda bahwa dia akan baik – baik saja sendiri.
Setelah Anne hilang dari pandangan Leathina karena telah memasuki Toko pakaian Nyonya Rissa, Leathina kemudian segera berbalik dan membetulkan tudung kepalanya agar rambut merahnya tidak terlihat.
Leathina berjalan menyeberagi jalanan menuju toko makanan yang di tunjukknya tadi dan duduk sebentar di toko tersebut sambil terus melihat Anne yang ada di seberang jalan, Anne pun sama dia masih terus menoleh ke seberang jalan memastikan keadaan majikannya itu dari balik kaca toko tapi setelah beberapa saat berlalu Anne jadi lupa mengenai Leathina dan hanya fokus melihat pajangan pakaian – pakaian yang ada di dalam toko, Leathian yang melihat Anne sudah tidak memperhatikannya lagi segera pergi dari toko makanan itu dan berjalan menuju alun – alun kota.
Baiklah ke mana aku harus pergi terlebih dahulu untuk mengamati jalan – jalan yang ada di kerajaan ini? Berdasarkan garis besar yang ada di novel jika aku mengarah ke barat aku akan sampai pada pemukiman kumuh di sana adalah tempat tinggal orang – orang miskin yang mata pencariannya hanya bertani di sana juga merupakan sarang penjahat dan para bandit. Dan jika aku memilih ke timur di sana adalah tempat tinggal para bangsawan kalangan ellit itu bukan tempat yang cocok aku datangi karena aku juga tinggal di sana. Kalau aku mengarah ke utara aku akan sampai pada perbatasan kerajaan dan di sana merupakan sarang para monster aku bisa mati sebelum hari eksekusiku tiba jika aku ke sana. Nah baiklah kalau begitu aku akan berjalan ke arah barat terlebih dahulu di sana mungkin bisa menjadi tempat yang cocok sebagai tempat pelarianku.
“Hay cantik! Mau kemana?”
Saat Leathina hendak pergi meninggalkan alun – alun tiba – tiba saja Leathina di datangi oleh seorang laki – laki yang tidak dikenalinya.
“Apa kamu mengenaliku tuan?” Leathina mencoba menanyai laki – laki itu karen takut bahwa mereka akrab tapi Leathina yang tidak bisa mengigatnya.
“Oh tentu aku akan selalu mengenali wanita cantik sepertimu, walaupun kamu menutupi separu wajahmu dengan tudung jubah aku masih bisa mengenali wanita secantik dirimu.”
“Ih laki – laki jenis sampah rupanya.” Leathina bergidik ngeri saat melihat laki – laki yang sedang berdiri di depannya itu, laki – laki itu mengenakaian pakaian berwara terang dengan dua kancing paling atas tidak dia pasang dan rambutnya dipenuhi oleh minyak rambut dan di belah dua sehingga jidat laki – laki itu terihat dengan jelas.
“Bukan, bukan sampan nona cantik. Asal kamu tahu aku adalah laki – laki paling tampan di sini dan aku sudah terbiasa menjadi rebutan para wanita – wanita cantik.”
“Oh kebetulan sekali aku bukan wanita cantik dan aku tidak pantas menjadi penggemar wanitamu jadi jangan pernah muncul lagi dihadapanku.” Setelah berbicara Leathina langsung pergi meninggalkan laki – laki narsis itu.
......***......