
Sorak – sorai para penduduk kerajaan terdengar terutama pada alun – alun kerajaan Coferland. Para penduduk datang ke festival bersama keluarga atau orang – orang yang mereka cintai.
Dan di sepanjang jalan perkotaan didirikan berbagai macam stand kedai makanan dan toko mainan, ada juga toko perhiasan, pakaian dan bahkan barang – barang antik, membuat susana menjadi semakin meriah dan penuh sesak akibat para pengunjung yang berdatangan dari berbagai daerah untuk turut merayakan hari ulang tahun sang kaisar
Suasana semakin meriah saat menjelang malam hari, lampu – lampu dinyalakan di seluruh jalan – jalan di kota dan para penjual menghiasi tempat mereka berjualan semenarik mungkin untuk menggait para pelanggan ke toko mereka.
Leathina duduk di depan meja rias dengan wajah malas karena sebenarnya ia tidak ingin hadir pada acara pembukaan nanti malam tapi ia terus didesak oleh Anne yang sedari tadi sudah mempersiapkan semuanya untuk Leathina.
“Gaun mana yang ingin nona pakai, gaun yang ini atau yang ini?” Dengan semangat Anne memperlihatkan pada Leathina gaun – gaun yang menurutnya paling cantik jika dikenakan oleh Leathina.
“Aku ingin memakai gaun ini.”
Dari semua pilihan yang diperlihatkan Anne untuknya Leathina memilih sebuah gaun berwarna pink gelap agar gaun yang ia pakai tidak kontraks dengan warna rambutnya yang berwarna merah.
“Baiklah jika nona sudah memutuskan, aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat Nona cantik.”
Anne segera membantu Leathina untuk mengenakan gaun yang telah Leathina pilih sendiri setelah itu merias wajah Leathina dan terakhir merapikan rambut Leathina.
“Nah sudah selesai, Sekarang Nona Leathina bisa membuka mata.”
Leathina membuka matanya kemudian melihat pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya setelah itu memutar badannya tiga puluh derajat ke kanan dan ke kiri setelah melihat dirinya sendiri Leathina malah tertegun karena melihat hasil karya Anne pada wajahnya dan rambutnya.
Apa yang terjadi dengan wajahku, apa gadis ini sedang bereksperimen dengan wajahku. Astaga lihatlah bedaknya bukan main tebalnya wajahku sepertinya sudah seperti gorengan yang dibaluri tepung sebelum dimasukkan pada wajan penggorengan dan lihatlah warna merah di bibirku, ini membuatku ingin masuk ke dalam lubang dan bersembunyi.
“Bagaimana? Bagaimana hasilnya Nona, apa sebagus itu sampai Nona tidak bisa berkomentar? Seperti dugaanku Nona leathina akan selalu cantik di segala situasi aku harap nona akan menemukan orang yang spesial di pesta nanti.” Anne melontarkan pujian pada hasil karyanya sendiri ia terlalu bersemangat berharap di pesta nanti Leathina dapat menemukan pasangan sejatinya.
“Anne?”
“Iya Nona, apa masih ada yang ingin nona kenakan?”
“Anne, apa kamu sedang menggambar karikatur di wajahku?”
“Karikatur apa maksudnya?”
“Maksudku apa kamu mencoba membuatku menjadi cosplayer badut, oh astaga aku lupa dimana aku berada sekarang kamu pasti tidak paham."
"Maksudku apa kamu mencoba membuatku menjadi bahan tertawaan orang – orang, Anne?”
“Maafkan aku nona tapi gaya ini sedang digemari oleh para gadis – gadis sekarang, aku mempelajarinya kemarin dari seorang wanita katanya jika kamu ingin memikat laki – laki warna bibirmu harus semencolok mungkin dan pastikan wajahmu tertutupi oleh bedak.”
“Kamu belajar dari wanita mana? Aku yakin pasti dia wanita pemilik rumah malam.”
“Rumah malam? Tapi nona masih terlihat cantik.”
“Ah kamu terlalu polos Anne, dan itu membuatku frustasi.”
“Maafkan aku Nona, aku pikir Nona Leathina akan menyukainya.”
“Aku tidak menyukainya sama sekali, jangan melakukan hal – hal seperti ini pada wajahmu atau wajah wanita lain, paham?”
“Saya paham Nona, aku tidak akan mengulanginya lagi, maafkan aku nona.”
“Tidak apa – apa, ambilkan aku air untuk mencuci wajahku.”
Leathina membasuh wajahnya sampai bersih kemudian mengeringkan wajahnya dengan kain yang diberikan Anne untuknya.
Setelah wajahnya benar – benar kering Leathina mulai fokus pada wajahnya mengoleskan sedikit bedak dan juga mengoleskan sedikit lipstik di bibirnya agar ia tidak terlihat pucat.
“Nah ini sudah cukup, kamu akan terlihat cantik jika berdandan natural seperti ini.” Leathina bergumam sambil terus berkutat dengan alat – alat kecantikan yang ada di depannya dan menerapkannya secara hati – hati pada wajahnya.
Mata Anne terus memerhaikan tangan – tangan Leathina yang sangat cekatan dalam memilih warna dan menerapkan pada wajahnya, ia kagum melihat kemampuan nonanya itu.
“Selanjutnya rambut, harus aku apakan rambutku ini.”
Tangan Leathina membuka sanggulan rambutnya yang sebelumnya dilakukan oleh Anne untuknya, kemudian menyisirnya sampai rambutnya lurus kembali.
Tangan Leathina dengan terampil mengepang rambutnya sendiri kemudian melilitkannya dan sebagi sentuhan terakhir Leathina menggunakan penjepit rambut yang berbentuk daun. Membuatnya terlihat semakin cantik dan anggun.
“Bagaimana menurumu Anne?”
Leathina telah selesai berdandan dan segera berdiri kemudian berputar memperlihatkannya hasil kerja kerasnya pada Anne agar Leathina bisa mendengar pendapat dari pelayan pribadinnya itu.
“Cantik sekali Nona.” Anne sangat mengagumi penampilan Leathina, bahkan Anne sampai tidak mengedipkan matanya karena kagum akan kecantikan Leathina dan dengan semangat Anne mengambilkan beberapa sepatu dan menjejerkannya di depan leathina.
“Nona Leathina, pilihlah sepatu yang ingin anda kenakan.”
“Aku akan memilih sepatu yang paling nyaman aku pakai di kakiku, toh sepatunya tidak akan terlihat karena tertutupi gaunku yang panjang.” Akhirnya Leathina memilih sepatu berwarna merah yang menurutnya nyaman ia gunakan dan warnanya tidak kontraks dengan warna pakaiannya.
“Nah sudah selesai, Nona benar – benar cantik sekali kalau begitu ayo kita keluar sekarang orang – orang mungkin sudah menunggu Nona.”
“Kamu tidak bersiap Anne? apa kamu akan pergi dengan pakaian seperti itu?”
Melihat Anne yang pakaiannya tidak berubah dan masih mengenakan pakaian pelayan membuat Leathina sdikit merasa risih melihatnya.
“Tentu saja Nona, karena aku adalah seorang pelayan.”
“Tapi bukankah festival ini bisa dihadiri oleh semua golongan?”
“Aku akan mengadiri festival sebagai pelayan Nona Leathina, sudah menjadi tradisi bahwa wanita bangsawan harus memiliki setidaknya satu atau dua pelayan yang terus mengikutinya kemanapun majikannya pergi.”
“Tidak, tidak, aku tidak setuju. Pergi dan gantilah pakaianmu dengan pakaian yang kamu beli kemarin.”
“Tapi nona?”
“Atau harus aku yang mengantikan pakaianmu.” Karena Anne tidak mau menuruti perkataannya akhirnya satu – satunya cara untuk memerintahnya adalah mengancamnya.
“Tidak nona, tidak perlu aku akan menggantinya sendiri.”
Dengan ancaman yang diberikan Leathina selalu berhasil membuat Anne takut atau membantah.
Anne segera pergi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian pesta setelah itu datang kembali ke ruangan Leathina, tapi setelah sampai Anne hanya berdiam di depan pintu kamar Leathina dan tidak berani membuka pintu, karena malu.
......***......