I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 24



Leathina kini berbaring di atas kasurnya mencoba mencari posisi tidur yang nyaman agar luka yang ada di lengannya itu tidak terasa sakit Leathina telah mencoba semua posisi tidur tapi sayangnya lengannya masih terasa sangat nyeri karena lukanya. karena telah pasrah akhirnya Leathina memilih untuk duduk dan bersandar di sandaran yang ia buat dari tumpukan bantal tidurnya.


“Uh sakit sekali.”


Andaikan aku tahu kejadiannya akan sekacau ini dari awal aku tidak mengizinkan Nora untuk terus mengunjungiku sehingga si anak pemarah itu tidak perlu menantangku berduel dan aku pun tidak perlu merasakan sakit seperti ini.


“Tapi bagaimana agar aku bisa mengingat caranya menggunakan pedang seperti yang Leathina lakukan selama ini, sampai sekarang ingatannya masih belum muncul, mudah – mudahan saja mereka tidak mencurigai perubahan yang terjadi pada Leathina, tapi sampai sekarang pun dari pengamatanku belum ada yang benar – benar menyadari bahwa salah satu keluarganya telah pergi untuk selamanya, ya kasihan sekali Leathina karena memang selama ini tidak ada yang benar – benar memperhatikannya sehingga perubahan sebesar apapun yang ia lakukan pasti tidak akan disadari oleh orang – orang kecuali satu yaitu julukan jahatnya yang pasti akan selalu melekat padanya walau dia tidak melakukan apa – apa sekalipun, "ah menyedihkan sekali.”


Leathina berbicara pada dirinya sendiri sambil terus memeriksa dan memperhatikan lukanya yang telah dibalut dengan perban putih tapi perban yang membalut lukanya itu masih saja ditembus oleh darah yang belum kering dan masih ada sedikit darah mengalir dari luka di lengannya karena terlalu banyak bergerak.


“Humm sihir penyembuh yah? Kenapa tidak aku coba saja.”


Terbesit pada benak Leathina untuk mencoba menggunakan kekuatan sihir penyembuh yang di hadiahkan untuknya. Leathina dengan hati – hati membuka perban pembalut yang membalut Lukanya kemudian terlihat luka pada Lengan Leathina masih berwarna merah segar.


“Aw .. aww ....”


Leathina meringis kesakitan saat tidak sengaja tangannya melakukan kesalahan saat melepas perban lukanya hingga kain pembalut yang ia lepaskan justru menyentuh luka di lengannya itu.


“Sakit sekali.”


“Nah sekarang bagaimana agar aku bisa menggunakan kekuatan sihir penyembuhku, apa aku harus mengucapkan mantra terlebih dahulu?”


“Baiklah kalau begitu.”


“SEBUHKAN!”


“Wahai kekuatanku sembuhkanlah lukaku ini!”


“Wahai dewa penyembuh sembuhkan luka yang ada di lenganku ini.”


“Semua roh yang ada pinjamkan aku kekuatan dan sembuhkan lukaku ini!”


“Apa sih yang sedang aku lakukan sekarang!”


Leathina berusaha mempelajari bagaimana caranya menggunakan sihir dengan mencoba mengucapkan semua mantra yang pernah dia baca pada novel – novel fantasi saat berada di kehidupan sebelumnya.


“Ahhh aku malah seperti orang bodoh bagaimana caranya agar aku bisa menggunakannya. kalau begini ceritanya kan sama saja bohong, memiliki kekuatan tapi tidak bisa digunakan.”


Leathina mendengus kesal karena menganggap dirinya dari tadi hanya melakukan hal – hal bodoh, Leathina masih belum bisa menggunakan sihir penyembuh yang diberikan padanya.


“Oh aku tahu sekarang, biasanya di dalam cerita – cerita yang pernah aku baca sebelumnya jik kamu mempunyai kekuatan sihir bawaan kamu tidak perlu mengucapkan mantra tapi dengan mengontrol pikiran maka kamu akan bisa mengendalikan segala sesuatunya.


“Walau bagaimanapun aku harus bisa mempelajari sihir ini, karena kedepannya pasti aku akan banyak terluka karena masih belum bisa menggunakan pedang.”


“Baiklah akan aku lakukan.” Leathina bertekad untuk mempelajari sihir penyembuh karena itu Leathina berusaha mencobanya.


“Akan aku lakukan seperti ini dan mari kita pusatkan perhatian dan apa betul seperti ini?”


Leathina kemudian memperbaiki posisi duduknya yang tadi hanya bersandar kini duduk bersila dan memejamkan matanya, ia memfokuskan pikirannya pada satu titik yaitu pada lengan kananya yang sedang terbuka, memikirkan bahwa ia sedang menyembuhkannya setelah pikirannya sudah terpusat dan membayangkan sebuah proses penyembuhan pelan – pelan Leathina membuka matanya dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas lukanya dan masih terus memfokuskan pikirannya untuk menyembuhkan luka yang ada di lengannya itu.


“Berhasil! Apa akau berhasil menggunakannya?”


Leathina yang melihat perkembangannya itu sangat senang hingga terus memperhatikan bagaimana sihirnya menyembuhkan lukanya.


Luka pada lengan Leathina berangsur – ansur mengalami pemulihan, pinggiran luka perlahan – lahan berregenerasi dan membentuk sel – sel kulit baru dan pelan – pelan menjalar menutupi separuh luka yang ada pada lengan kanan Leathina.


“Aku berhasil menggunakan sihir penyembuh, tapi ini terlalu lamban hanya pinggiran lukanya saja yang mengalami penyembuhan sementara aku sudah kelelahan karena kehabisan energi, aku harus banyak berlatih untuk menggunakan sihir penyembuh ini.”


“Sudah cukup sampai di sini saja dulu, aku kelelahan sendiri mungkin karena ini pertama kalinya aku belajar menggunakannya.”


Energi Leathina sudah terkuras banyak hanya untuk mengeluarkan sedikit aura penyembuh, akhirnya Leathina berhenti menggunakan sihir penyembuh miliknya dan memilih untuk beristirahat.


“Tap .. tap .. tap ..”


“Siapa itu?”


Tiba – tiba secara samar – samar Leathina mendengar suara derap langkah kaki yang berjalan mendekati kamarnya kemudian berhenti tepat di depan pintu kamar Leathina dan tidak ada suara lagi setelah itu, sementara Leathina segera mengubah posisinya yang tadi duduk menjadi berbaring dan segera menutup matanya berpura – pura untuk tidur.


Suara langkah kaki siapa itu? Karena ini sudah menjelang tengah malam dan sudah tidak ada pelayan yang beraktivitas aku jadi bisa mendengar suara kaki yang samar – samar mendekat dan berhenti di depan pintu kamarku, tapi kenapa dia tidak bersuara lagi. Apa karena aku terluka dan banyak orang yang sudah mengetahui bahwa aku tadi kalah dalam pertarungan hingga orang – orang yang  sudah lama membenci Leathina menggunakan kesempatan ini untuk mengirim seseorang untuk membunuh dan melenyapkanku ini sebuah kesempatan bagus karena aku sedang terluka jadi tentu saja sangat mudah untuk membunuhku.


Mengetahui keadaanya dalam bahaya Leathina dengan terburu – buru segera meniup lentera yang masih menyala di dalam kamarnya untuk memadamkannya agar jika terjadi apa – apa Leathina bisa terbantu saat bersembunyi jika ruangan dalam keadaan gelap.


Apa aku harus menyelimuti seluruh tubuhku saja dengan selimut aku benar – benar sedang ketakutan sekarang.


“Trekkk.”


Belum sempat Leathina menyelimuti tubuhnya dengan selimut tiba – tiba pintu kamar Leathina terbuka dan samar – sama dari kegelapan Leathina melihat bayangan hitam seorang pria memasuki ruangannya dan berjalan perlahan mendekatinya. Karena tidak tahu harus melakukan apa lagi akhirnya Leathina hanya pasrah dan berpura – pura tidur di atas kasurnya.


“Gelap sekali.” Kemudian terdengar suara gumaman laki – laki yang membuat Leathina semakin ketakutan.


Bukankah itu suara milik Duke Leonard, untu apa dia malam – malam datang ke kamarku seperti ini? Leathina membatin mempertanyakan keberadaan sosok pria tersebut.


“Tak.” Duke Leonard kemudian mengeluarkan pematik api dari saku celananya kemudian menyalakan lentera yang berada tidak jauh dari tempat tidur Leathina.


Jangan, jangan nyalakan lenteranya. Aduh aku tadi lupa membalut lukaku kembali bagaimana jika dia menyadari ada yang aneh dan mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir penyembuh.


Setelah menyalakn lentera dengan api, Duke Leonard kemudian mengangkat Lentera tersebut dan mendekatkannya untuk melihat Leathina lebih dekat lagi, terlihat anak perempuan satu – satunya itu sedang tertidur, kemudian mata Duke Leonard tertuju pada luka di lengan Leathina yang tidak terperban.


“Apa dia membuka pembalut lukanya sendiri karena merasa sakit dan tidak nyaman? Tapi lukanya berisiko mengalmi infeksi jika dibiarkan terbuka seperti itu.”


Setelah melihat luka Leathina yang terbuka begitu saja Duke Leonard kemudian meletakkan kembali lentera yang dipegangnya kemudian mengambil pembalut yang ada di samping Leathina dan dengan hati – hati membalut kembali luka yang ada di lengan Leathina, setelah itu Duke Leonard segera mematikan lentera yag tadi dia nyalakan dan segera keluar dari kamar Leathina.


Huh. Dia membalut lukaku cukup baik, tapi apa itu tadi? jantungku hampir meledak karena kaget, kenapa dia tiba – tiba datang ke ruanganku, dunia benar - benar akan kiamat jika dia melakukannya karena rasa kasih sayang. Tapi untung saja dia tidak terlalu memperhatikan perubahan yang terjadi pada lukaku. Baiklah cukup untuk hari ini, sekarang aku akan benar – benar akan tidur, aku butuh istirahat hari ini benar – benar melelahkan.


..... ***......