
“Apa yang terjadi selama aku pergi, Fiona?”
Ed’ berjalan menuju ruangan pribadinya di ikuti oleh Fiona di belakangnya dengan wajah panik, membuat Ed’ menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres selama ia pergi ke pusat kota.
“Salah satu anggota kita tertangkap saat menjalankan misi pembunuhan salah satu bangsawan, Tuan.” Fiona berbicara dengan meletakkan dokumen yang berisi informasi orang yang menjadi target pembunuhan dan orang yang menjalankan misi itu.
“Oh, ini dari kalangan bangsawan.” Ucap Ed’sambil membuka dokumen yang diberikan oleh Fiona.
“Ini bisa menjadi masalah yang sangat serius jika orang kita membeberkan informasi saat di interogasi oleh penjaga nanti.”
“Apa yang kau takutkan Fiona, orang-orang kita sangat Loyal walau disiksa dan di ancam pun mereka tidak akan membeberkan informasi dari markas ini.”
“Tapi tetap saja tuan, aku ragu jika yang satu ini akan tetap loyal sampai akhir.”
“Apa maksudmu, Fiona? Apa ada dari orang-orang kita yang berkhianat.”
“Bukan, bukan begitu Tuan Ed’ hanya saja orang yang menjalankan misi ini memiliki sifat licik, aku menemukan beberapa informasi bahwa dia sering menerima misi pembunuhan secara langsung tanpa dia laporkan ke markas terlebih dahulu.”
“Maksudmu orang ini menyimpang, dan tidak mematuhi aturan?”
“I.. iya tua.” Fiona takut-takut memberitahu Ed’.
“Siapa?”
“Namanya Roland, dia bahkan memiliki bawahannya sendiri yang ikut padanya. Salah satu pelanggannya yang tidak ia laporkan adalah dari keluarga Viscont, bernama Yasmine, Roland sering menerima misinya secara langsung.”
“Oh, calon-calon pemberontak rupanya, dan rubah ini benar-benar lihai.” Ucap Ed’ sambil mengambil sebuah foto yang di berikan oleh Fiona untuk dilihatnya.
“Apakah orang yang kamu kirim untuk menyelesaikan misi ini masih hidup?”
“Masih Tuan, informan kita mengatakan bahwa dia sudah di tangkap beberapa hari yang lalu dan di masukkan di penjara bawah tanah dan sekarang sedang di interogasi.”
“Kirim orang untuk membunuhnya.”
“Baik Tuan.”
Ed’ memberi perintah tanpa ragu-ragu dan segera dilaksanakan oleh Fiona.
...
Setelah kepergian anak-anak ke perkotaan Leathina dan Adam kembali ke mansion, Leathina beristirahat selama sehari penuh dan tidak pernah keluar dari kamarnya untuk memulihkan energinya dan sebenarnya tidak ada lagi yang bisa ia kunjungi dan lakukan selain menetap di kamar penginapannya itu.
“Ah, astaga aku bosan.” Leathina merenggangkan badannya kemudian beranjak dari tempat tidurnya berjalan ke arah lemari kayu tempatnya menyimpan barang-barangnya.
Leathina membongkar semua barang-barang miliknya mencari pakaian yang masih layak ia gunakan, karena ia hanya membawa beberapa pakaian saja saat meninggalkan kediaman Yarnell dan beberapa pakaian yang ia bawa kini telah sobek karena ia gunakan berlatih, menyelesaikan misi dan bertarung.
“Sepertinya aku harus membeli beberapa pakaian baru dan membuang ini, ini sudah sobek.”
“Aku akan pergi ke desa terdekat dan membeli beberapa pakaian di pasar.”
Leathina memilih secara asal gaunnya yang masih layak ia gunakan kemudian mengambil uang dan segera memakai jubahnya.
Cepat-cepat ia keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga setelah sampai di lantai dasar yang juga digunakan sebagai bar serta tempat berkumpulnya orang-orang, Leathina mengedarkan pandangannya mencari seseorang kemudian matanya tertuju pada sosok laki-laki bertubuh besar dan berkulit kecoklatan yang kini duduk dan sedang berbicara santai dengan teman-temannya.
“Troy!” Panggil Leathina sambil melambaikan tangannya.
“Syukurlah kau pulang dengan selamat.” Leathina berbicara setelah melihat Troy membalas lambaiannya kemudian segera berjalan ke meja tempat Troy berada
“Oh, Lea. Bagaimana keadaanmu?” Melihat Leathina berjalan ke arahnya Troy segera berdiri kemudian menyambut Leathina dan membuka lebar-lebar kedua tangannya, melihat itu Leathina menyambutnya dan memeluknya sebagai tanda pertemanan mereka, hal itu sudah sering mereka lakukan karena telah menganggap Leathina sebagai adik perempuan mereka.
“Troy, bisakah aku meminjam kudamu.” Ucap Leathina kemudian melepaskan pelukan Troy kemudian kini merangkulnya.
“Kau mau kemana Lea?”
“Aku ingin ke desa terdekat untuk membeli beberapa pakaian, Lihatlah.” Leathina berbicara sambil menunjukkan beberapa pakaiannya yang sobek.
“Oh, Astaga kau sudah waktunya membeli gaun bau Lea. Tapi, apa kau tidak pergi dengan Adam?” Troy berbicara sambil ikut memperhatikan pakaian Leathina pada ujung lengannya yang sudah sobek dan memperlihatkan sedikit kulitnya.
“Tidak, sepertinya Adam sedang menyelesaikan pekerjaan penting hari ini, aku belum melihatnya hari ini.”
“Kalau begitu ikutlah dengan kami Nona Lea, kami baru akan ke desa.” Tiba-tiba Nina berbicara dan mengajak Lea ikut dengannya.
“Oh Nina! Jangan panggil aku Nona, panggil aku Lea saja anggap aku adikmu yah, tapi aku baru melihatmu apa kau baru pulang dari misi.” Melihat Nina membuat Leathina segera melepaskan rangkulan Troy dan berlari ke pelukan Nina yang kini membuka lebar kedua tangannya.
“Oh, astaga kenapa kau selucu ini, Lea.” Nina berbicara sambil menunduk dan mengelus-elus kepala Lea, Tubuh Nina lebih besar dari ukuran wanita normal sehingga banyak orang yang takut berhadapan dengannya.
“Sejak kapan kau mau ke desa Nina? Bukanya kau bilang hari ini akan beristi Aww..”
Troy bingung melihat perilaku Nina yang tiba-tiba berubah dan mempertanyakan perubahan sikapnya itu tapi belum sempat ia menyelesaikan perkataanya Nina sudah menginjak kaki Troy hingga membuat Troy mengerang kesakitan.
“Kapan aku bilang akan beristiraha, aku tadi mengatakan ingin ke desa karena ada keperluan yang harus aku beli.”
“Kau ingin membiarkannya pegi sendiri padahal orang-orang dari kerajaan masih memburunya. Kalau kau tidak ingin dia kenapa-kenapa ikuti saja apa kataku, bodoh.” Nina berbisik pada troy kemudian mengancamnya hingga membuat Troy mau tidak mau harus mengikuti perintahnya.
"Ah, i..iya baiklah, baiklah, kalau begitu ikutlah dengan kami.” Ucap Troy dengan ragu-ragu membenarkan perkataan Nina.
“Tapi dibandingkan dengan ke desa terdekat bukankah lebih baik ke kota saja di sana lebih banyak pilihan, maksudku bukan di pusat kota seperti di kerajaan tidak mungkin kita akan ke sana tapi kota terdekat walaupun tidak sebaik di perkotaan tapi aku masih bisa menemukan barang yang aku cari di sana.” Troy melanjutkan omongannya memberikan opsi pada Leathina.
“Baiklah, ayo kita ke sana.” Leathina dengan semangat menyetujui perkataan Troy.
“Aku juga akan ikut dengan kalian, ada barang yang harus aku beli di kota.”
“Aku juga.”
Beberapa orang yang lainnya pun akhirnya ikut dengan Leathina, Troy dan Nina ke kota dengan alasan ingin membeli beberapa barang keperluan mereka.
Mereka berombongan menuju kota terdekat menggunakan kuda, dan karena semuanya ingin menerima Leathina berkuda bersama akhirnya Leathina malah diberikan satu kuda lagi untuk digunakan sendiri agar menghindari keributan.
“Nah, kita sudah sampai. Setelah sampai ternyata aku tidak menemukan toko yang menjual barang yang sedang aku cari jadi aku memutuskan aku ingin ikut Lea saja untuk membeli gaun baru, kalian para pria apa ingin ikut dengan kami?”
“Aku ingin ikut denganmu juga, harus ada pria yang menjaga para wanita bukan.” Troy berbicara sambil segra mengambil posisi dan berdiri tepat di samping Nina. Sementara Nina yang mendengar perkataan Troy menjadi sedikit jijik dan menunjukkan ekspresi tidak sukanya.
“Memangnya kau pikir kami lemah? Aku bahkan bisa membantingmu dan Lea pernah mengalahkanmu.” Ucap Nina dengan nada mengejek pada Troy.
“Kalian ingin kemana?” Troy tida terlalu mempedulikan ucapan Nina dan segera menanyai orang-orang yang tadi ikut bersamanya.
“Kami akan ke arah lain, ada sesuatu yang akan kami beli.”
Mereka semua kemudian berpisa sementara Troy, Nina dan Lea berjalan ke sebuah toko pakaian sederhana.
“Nah masuklah, Lea kami akan menunggumu di luar?” Nina dan Troy berhenti di depan pintu masuk dan mempersilahkan Leathina masuk ke toko pakaian.
“Eh, kalian tidak ikut masuk?” Leathina bingung mendengar perkataan Nina.
“Ah, orang-orang seperti kami biasanya tidak di sambut baik jika memasuki toko-toko seperti ini. Kami akan berakhir di tuduh sebagai pencuri atau semacamnya.”
“Benar kata Nina, kami sebaiknya menunggu di luar saja.”
Nina berbicara sambil menunjuk ke pakaiannya. Nina berpakaian seperti pria karena pekerjaanya hal yang sama juga berlaku pada Troy tubuh besarnya membut oran-orang takut padanya hingga mereka tidak selalu di sambut dengan baik.
“Kalau kalian tidak bisa masuk bersamaku maka aku tidak akan membeli di toko ini, ayo tunjukkan di toko seperti apa kalian sering membeli pakaian? Aku akan membeli pakaian di sana.” Leathina berbicara sambil menarik tangan Troy dan Nina meninggalkan toko pakaian iyang mereka datangi itu.
“Kami biasanya membeli pakaian di pedagang-pedagang biasa yang menjajakan pakaiannya di pinggir jalan, bukan di dalam toko tapi Kau tidak perlu bertindak seperti ini Lea, hanya karena kami.”
“Apa maksudmu, sekarang aku adalah bagian dari kalian. Kami makan dan minum-minuman yang sama.”
“Terlalu berbahaya jika kita berkeliaran di pinggir jalan Lea, masuk lah di toko pakaian itu kami.. kami juga akan ikut masuk.” Nina berbicara sambil menarik kembali Leathina ke toko yang tadi.
“Benarkah?”
“Iya, tentu saja. Jadi pilihlah pakaian yang banyak.”
“Tentu saja.”
Mereka bertiga akhirnya bersama-sama masuk ke dalam toko pakaian, mata Nina begitu berbinar – binar saat melihat berbagai macam pakaian yag digantungkan di setiap sudut ruangan dan karena takut-takut Nina dan Troy hanya mengikuti Leathina dari belakang.
“Nina, Troy, pilih pakaian yang kau sukai. Nina kau setidaknya harus punya satu gaun yang bisa kau gunakan berkencan nanti, kau juga Troy belilah satu pakaian yang bisa kau gunakan menemui pasanganmu nanti. Tenang saja pemilik toko ini tidak akan berani meremehkan kalian, jika mereka melakukannya maka tunjukkan saja pedang kalian.” Leathina meminta Troy dan Nina juga membeli pakaian dan pada kalimat terakhir Leathina sengaja berbisik agar tidak menakuti orang-orang sementara Nina dan Troy yang mendengar bualan Leathina hanya tertawa kemudian segera melihat-lihat pakaian yang akan mereka beli.
Setelah memutuskan pakaian – pakaian yang ingin mereka beli, mereka kemudian meminta penjaga toko untuk membungkuskannya dan membayarnya dan segera keluar dari toko pakaian dengan tentengan berisi pakaian yang mereka beli di tangan mereka masing-masing.
“Wah, itu tadi menyenagnkan Lea.” Nina berbicara sambil merangkul Leathina sementara Troy berjalan di belakang mereka.
“Apa tidak ada lagi barang yang kamu inginkan, Lea?” Tanya Troy pada Leathina.
“Tidak ada aku hanya membutuhkan beberapa pakaian saja, bagaimana dengan kalian berdua?”
“Kami juga sama, kami hanya membeli barang-barang ini saja.”
“Hahah, kalain berdua aneh sekali hari ini. Sepertinya kalian sedang mengawalku.” Leathina beebicara dengan nada candaan karena Nina dan Troy tidak biasanya bertingkah seperti itu.
“Oh, tunggu aku disini sebentar.”
Saat berjalan pulang menuju dimana kuda mereka titipkan, Leathina tidak sengaja melihat toko yang menjual alat menjahit dan merajut di seberang jalan, Leathina segera menyuruh Nina dan Troy menunggunya sebentar karena ingin membeli beberapa barang di sana.
“Apa kita tidak ikut?” Tanya Troy pada Nina saat melihat Leathina telah berjalan menuju toko alat-alat jahit dan rajut berada.
“Tidak usah, lagi pula kita bisa mengawasinya dari sini. Akan terlalu mencurigakan jika kita terus mengikutinya kemana-mana.”
“Baiklah, aku akan ikut katamu saja Nina.”
Mereka berdua kemudian hanya mengamati Leathina dari kejauhan, mata mereka terus membuntuti kemana perginya Leathina karena khawatir sesuatu terjadi pada Leathina.
“Kau tidak biasanya, seperti ini Nina.” Troy yang mulai bosan mencoba memulai pembicaraan pada Nina yang masih fokus mengawasi Leathina dari kejauhan.
“Apa maksdumu Troy? Aku selalu seperti ini.” Jawab Nina singkat dan matanya masih mengawasi Leathina yang kini sibuk memilih benang untuk di beli.
“Biasanya kamu haya diam dan memasang wajah menakutkan agar orang-orang tidak mendekatimu.” Troy berbicara sambil menirukan gestur tubuh dan mimik muka dingin Nina yang selalu Nina tunjukkan pada orang-orang.
“Kau gila ya!” melihat Troy menghinanya dengan terus menirukan dirinya membuat Nina geram dan berusaha menendang dan memukuli Troy hingga matanya kini teralihkan.
“Kau keterlaluan Nina, padahal aku hanya bercanda tapi pukulanmu benar-benar keras.” Troy berbicara sambil mengusap-usap kepalanya yang habis dipukuli oleh Nina.
“Salahmu sendiri.” Ucap Nina acuh tak acuh dan kembali meneruskan pengawasannya pada Lea.
Setelah puas memukuli Troy karena jengkel Nina akhirnya kembali mengawasi Leathina tapi dimanapun Nina mencari keberadaan Leathina matanya masih belum menemukan sosok Lea, di toko peralatan yang tadi di datanginya.
“Sialan!” Umpat Nina sambil terus mencari.
“Ada apa Nina, kau masih marah?” Troy segera bertanya ketika mendengar Nina mengumpat.
“Kemana perginaya, Lea?”
“Apa maksudmu, bukankah dia ke toko itu...?” Ucapan Troy terputus matanya kini liar mencari Lea ke segala arah.
“Bagaiamana bisa hilang? Dia tadi barusan berdiri di sana.”
“Diam kau bodoh, lihatlah ulahmu, kalau Lea hilang kau yang harus menaggung kemarahan tuan Ed’ dan kemarahanku tentunya.”
“Disana!” seru Troy saat melihat dua orang laki-laki membawa Lea memasuki sebuah gang yang tidak ramai di lewati orang-orang.
Nina dan Troy segera berlari mengejar Lea yang kini sudah tidak terlihat karena memasuki gang tersbut bersama beberapa pria yang menariknya dengan paksa.
...***...