
“Padahal kamu hanyalah si pembuat onar dan selalu menyulitkan semua orang, bahkan para tetua pun terus berusaha melindungi dan menutupi semua kesalahanmu, dasar tidak berguna!”
“AKU BILANG HENTIKAN!!” Bentak Aelfric dan berusaha menjaga kestabilannya dan masih menahan dirinya untuk tidak ikut marah setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Aelfar.
“Kenapa? Apa aku salah, kau terlalu kekanak-kanakan Aelfric.” Ucap Aelfar berdecak kesal kemudian segera melepaskan seluruh anak panah yang ia buat dari cahaya tadi.
“AKU BILANG HENTIKAN!!” Teriak Aelfric yang sudah tidak dapat lagi menahan emosinya.
Warna bola mata Aelfric berubah menjadi kuning keemasan dengan cahaya yang menyelimuti tubuhnya dan menghancurkan sihir yang digunakan Aelfar untuk mengikatnya kemudian tiba-tiba cahaya tersebut berubah menjadi perisai yang melindungi teman-teman manusianya dan yang lainnya agar terlindung dari serangan anak panah Aelfar.
“Argh”
Pekik Aelfar saat tiba-tiba Aelfric menyerangnya secara mendadak.
“Aelfric!” teriak Zeyden saat melihatnya terus menerus menyerang Aelfar tanpa ampun dan membuat Aelfar kewalahan untuk menangkis serangan Aelfric.
“Hentikan! Kau akan membunuh saudaramu sendiri,” Seru Edward dan dengan menggunakan pedang miliknya Edward menghancurkan perisai yang dibuat Aelfric untuk melindunginya kemudian segera menghentikan Aelfric yang terus menyerang Aelfar secara membabi-buta karena emosi.
Zeyden segera menangkap Aelfric sementara Duke Leonard mengentikan pergerakan Aelfar yang terlihat akan kembali menyerang Aelfric yang kini telah dihentikan oleh Edward.
“Hentikan, tetap diam dan tunjukkan jalannya sekarang!” ucap Duke Leonard memerintahkan Aelfar agar segera membukakan jalan untuk mereka.
Aelfar menyerah, ia tidak mungkin balik melawan dalam keadaan terdesak seperti itu. Dengan berat hati Aelfar akhirnya membuka jalan menuju dunia para elf dan menuntun Duke Leonard dan yang lainnya.
Aelfar menghentakkan kakinya kemudian terlihat sebuah barrier pelindung yang menyelimuti seluruh hutan dan beberapa saat kemudian muncul sebuah jalan di hadapan mereka yang menghubungkan ke dunia elf.
“Arah sini,” ucap Aelfar kemudian berjalan lebih dulu dan diikuti oleh yang lainnya.
Mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam dunia elf, mereka yang merupakan ras manusia menjadi tontonan para elf. Tatapan tidak suka terarah pada mereka berlima terlebih pada Farkas yang merupakan ras manusia serigala. Ras yang dianggap sama dengan hewan hutan pada umumnya.
Farkas yang menyadari hal itu kemudian memilih untuk berjalan dengan menundukkan pandangannya tidak berani melihat mata orang-orang yang memandang dirinya dengan merendahkan Farkas.
“Angkat kepalamu tinggi-tinggi, jangan merendahkan dirimu sendiri,” Edward yang menyadari hal itu berbicara pada Farkas dengan sedikit berbisik ia membantu Farkas yang terlihat tertekan karena pandangan semua orang padanya.
“Farkas angkat kepalamu, kau harus bangga pada dirimu sendiri.” Ucap Damian yang juga menyadari hal yang sama dan ikut menyemangati Farkas.
Farkas yang mendengar orang-orang disekelilingnya berusaha menghiburnya perlahan-lahan menepis rasa takutnya dan mulai berjalan dengan baik, tidak ia pedulikan lagi bagaimana para elf memandangnya.
“Kami ingin bertemu tuan Delfa,” Ucap Aeflar saat sampai pada sebuah kastil sederhana berwarna putih yang sedikit berjauhan dengan rumah-rumah penduduk elf lainnya.
“Untuk apa?” Tanya beberapa elf muda yang berdiri di depan pintu yang sedang bertugas berjaga di depan kastil tersebut.
Ia melihat sekelompok manusia yang masuk ke dalam kekuasaan mereka kemudian menatap Farkas dan segera mendengus karena tidak terlalu menyukainya.
“Tunggu sebentar aku akan bertanya lebih dulu pada tuan Delfa apakah ia ingin menerima tamu sekarang atau tidak.”
“Tunggu!” Tuan Leonard menghentikannya untuk memberikan sesuatu, “Berikan ini padanya saat kamu menanyainya,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah gulungan surat pada elf yang sedang berjaga itu.
Penjaga muda itu melirik Duke Leonard kemudian mengambil gulungan yang diberikan padanya dengan kasar dan setelah itu ia segera masuk ke dalam meninggalkan mereka semua di depan pintu luar tanpa mempersilahkan masuk untuk duduk beristirahat.
Mereka semua menunggu dengan sabar di depan pintu kastil dan tidak menunggu lama seseorang keluar dan penjaga tadi dengan patuh berdiri di belakangnya dengan sedikit menunduk.
“Duke Leonard, maafkan ketidak sopanan anak-anakku yang terlalu kasar dan tidak menyambut mu dengan baik,” Ucapnya sambil meletakkan telapak tangannya di depan dadanya kemudian sedikit membungkuk untuk meminta maaf.
“Delfa, sudah lama tidak berjumpa. Kau sama sekali tidak berubah.” Duke Leonard pun menyambutnya dengan ramah kemudian merangkulnya dan sedikit menepuk pelan punggungnya. “Apa kabar kawan lama?” tanyanya yang terlihat sedikit merasa lega saat masih diberi kesempatan bertemu dengan teman lamanya itu.
“Aku baik Leonard,” ucapnya sambil balas merangkul Duke Leonard. “Kau seharunya tidak bersikap santai sepeti ini saat berkunjung sebagai utusan kerajaan,” ucapnya lagi dan kembali melepas rangkulan Duke Leonard sementara Duke Leonard pun melakukan hal yang sama.
“Aku benar-benar minta maaf Duke Leonard, anak-anakku benar-benar memperlakukanmu dengan buruk. Aku bahkan tidak menyangka salah satu anak kesayanganku menyerangmu,” ucapnya lagi sambil melirik ke arah Aelfar sementara Aelfar hanya menundukkan kepalanya.
“Tidak apa-apa Delfa, tapi sejak kapan kamu memiliki banyak anak,” Ucap Duke Leonard dengan nada bercanda karena terus menyebut perihal anak-anaknya yang ia pun bahkan belum menikah.
“Hahaha, semua orang yang ada di dalam hutan hitam adalah anak-anakku Duke. Jadi dimana anakku yang membuat kalian kewalahan selama beberapa waktu.”
“Paman,” Aelfric akhirnya berbicara dan menampakkan dirinya yang sedari tadi terus bersembunyi di belakang Damian dan Zeyden.
“Oh, Astaga kemari kau!” ucapnya dengan nada yang sedikit keras.
Aelfric menurut dan segera datang ke hadapan Delfa.
“Aww, Paman sakit!” teriak Aelfric saat Delfa menarik salah satu telinganya sampai memerah.
“Oh, astaga sekali lagi maafkan aku. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam.” Ucapnya sambil terus menarik telinga Aelfric hingga membuat Aelfric terus berteriak menahan sakit bahkan sampai harus berjinjit untuk mengurangi rasa sakitnya ketika pamannya menariknya masuk ke dalam.
Mereka semua masuk ke dalam kastil dan duduk di sebuah ruangan yang sepertinya memang dirancang sebagai ruangan untuk berdiskusi.
Delfa dengan bahasa isyarat memerintahkan pada Aelfric duduk berlutut di lantai sementara dia dan yang lainnya duduk di atas kursi, dan saat Aelfric menggerakkan badannya sedikit saja Delfa sudah menatapnya dan mengancamnya hingga membuat Aelfric terpaksa harus menurut karena takut hukumannya bertambah parah.
“Terimakasih telah mengantar salah satu anakku kembali ke hutan timur, aku benar-benar sangat bersyukur dia bertemu orang-orang baik seperti kalian, jadi kapan kalian kembali ke kerajaan biarkan aku tahu agar aku bisa mempersiapkan hadiah untuk kalian.”
“Terimakasih Delfa, aku datang secara langsung ke sini untuk mengantar Aelfric pulang karena memiliki kepentingan lain. Biarkan aku meminta bantuan Aelfric untuk sementara waktu dan setelah urusanku selesai kau bisa menghukumnya sepuasmu.” Duke Leonard kembali serius saat memulai pembicaraan dengan Delfa.
“Aku tentu senang jika anak-anakku bisa membantumu Duke Leonard, silahkan gunakan saja dia semau mu.”
“Sekarang tunjukkan di mana pamanmu itu tinggal Aelfric, kita harus bergegas untuk membawanya kembali.” Ucap Duke Leonard sedikit terburu-buru dan terlihat tidak sabaran.
“A-anu... tuan duke, s-sebenarnya pamanku itu adalah orang yang sedang berdiri dan berbicara dengan mu sekarang,” Aelfric berbicara dengan terbata-bata takut jika pamannya malah langsung menghukumnya karena telah menjual namanya kepada Duke Leonard.
“Dia pamanmu?” tanya Duke Leonard tidak percaya karena perangai keduanya sangat berbeda.
Aelfric sendiri memiliki sifat kekanak-kanakan dan sangat temperamen, sementara Delfa memiliki sifat yang tenang, selalu berhati-hati dan berfikir sebelum bertindak.
“Oh, benar. aku pamannya yang selama ini bertugas menjaganya setelah kedua orang tuanya meninggal, dia anak dari kakakku.”
“Maksudmu anak dari pemimpin sebelumnya?”
“Iya benar. Dan setelah aku pensiun maka mungkin dia yang akan menggantikan aku.”
“Paman!” teriak Aelfric dan Aelfar hampir bersamaan, keran ucapan pamannya yang tidak bisa dianggap remeh.
“Kenapa?” tanya Delfa pada keduanya.
“Sudah berapa kali aku katakan aku tidak ingin menjadi penerusmu,” Ucap Aelfric menentang perkataan Delfa.
“Aku juga tidak akan setuju jika orang itu kau jadikan penggantimu paman,” Aelfar berbicara sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya kemudian membuang pandangannya ke arah lain karena tidak ingin melihat Aelfric yang kini menatapnya.
“Delfa, maafkan aku. Tapi bisakah kau membantuku?” tanya Duke Leonard yang kembali serius.
“Tentu saja aku akan membantumu, selama aku masih bisa membantu.” Jawab Delfa yang juga terlihat sangat serius karena baru kali ini Duke meminta bantuan padanya, “Apa yang membuatmu sempai jauh-jauh datang kesini hanya untuk meminta bantuan ku Duke? sepertinya masalahnya terlihat sangat serius.” Tanya Delfa penasaran karena dengan memikirkan sifat milik duke Leonard yang tidak pernah mau meminta bantuan pada siapapun tiba-tiba datang padanya dan meminta bantuannya secara langsung.
“Paman,” ucap Aelfric yang segera beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah Delfa kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Delfa dan ia pun terlihat sedikit terkejut jika dilihat dari raut wajahnya.
“Jadi begitu, putrimu mengalami insiden dan berakhir jatuh dalam tidur abadi,” Delfa terlihat sangat serius kemudian segera memikirkan sesuatu, "Jadi apa yang kau inginkan dariku Duke Leonard, aku bisa membantumu seperti apa?” tanya nya setelah lama berfikir.
“Maafkan aku Delfa, tapi bisakah kau datang ke kerajaan untuk melihat kondisi putriku terlebih dahulu?” tanya Duke Leonard pada Delfa dengan penuh harapan.
“Aku sangat ingin membantumu Duke, tapi sayangnya aku sekarang bukan Delfa yang dulu kau kenal, sekarang aku bertugas untuk melindungi dan memimpin semua elf disini. Jika aku pergi dan mengosongkan posisiku maka mungkin akan terjadi kekacauan disini, kau tahu sendirikan banyak orang yang memaksa masuk ke sini dan menginginkan tanah kami dan bahkan ingin ditangkap bangsa elf."
“Ikutlah dengan kami sebentar Tuan Delfa,” pinta Edward yang ikut membantu Duke Leonard untuk meminta bantuannya agar mau ikut dengan mereka kembali ke kerajaan dan melihat kondisi Leathina secara langsung.
“Aku tahu putrimu sangat lah penting Duke. Tapi, maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa meniggalkan hutan timur dan membuat seluruh elf berada dalam bahaya.” Delfa sekali lagi dengan berat hati menolak ikut karena posisinya yang tidak bisa ia kosongkan.
“Delfa aku mohon, ini adalah permintaan pertama dan terakhirku untukmu sebagai teman.” Ucap Duke Leonard yang masih bersikeras menginginkan Delfa untuk ikut dengan nya kembali ke kerajaan.
“Aku benar-benar sangat ingin membantumu duke, Mengingat bagaimana kau dulu sangat sering membantuku Duke. Tapi maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa pergi meniggalkan hutan timur sekarang.”
“Paman aku mohon ikutlah dengan mereka, kau tahu anak Duke Leonard lah yang menyelamatkan ku. Jika bukan karena Leathina mungkin aku sudah di lelang di pasar gelap oleh para penjahat tapi beruntungnya anak Duke Leonard sangat pintar dan menyadari saat melihat penjahat yang menangkap ku kemudian mengikuti mereka.”
“Itu salahmu, karena keras kepala ingin pergi ke dunia luar secara diam-diam,” celetuk Aelfar setelah mendengar cerita Aelfric.
“Aelfar!!” teriak Aelfric geram.
“Diam kalian berdua!” bentak Delfa dan berhasil membuat keduanya terdiam.
“Aelfar, keluar lah sebentar.” Delfa akhirnya meminta Aelfar untuk keluar terlebih dahulu.
“Paman, ini tidak adil. Bukankah yang membuat keributan bukan hanya aku saja,” Aelfar tidak setuju karena hanya dirinya sendiri yang disuruh keluar oleh pamannya.
“Keluar sekarang Aelfar dan kembali lanjutkan tugasmu untuk menjaga barrier hutan agar tidak ada penyusup yang masuk ke dalam.” Ucap Delfa dengan menaikkan intonasi suaranya dan penuh dengan penekanan hingga membuat Aelfar tidak lagi bisa membantah serta langsung keluar meninggalkan mereka.
Aelfar, mendengus kesal. Sebelum keluar ia meliat ke arah Aelfric dengan tatapan tidak suka “Dasar, pembawa masalah,” gumam Aelfar pelan saat berjalan melewati Aelfric karena akan meninggalkan ruangan.
Aelfric yang mendengar ucapan Aelfar memilih untuk diam, tidak ingin menanggapi ucapan Aelfar yang terdengar seperti menghinanya.
...
Di dalam dimensi putih tak berujung yang kini ia tempati Leathina terlihat bosan menunggu, beberapa kali ia berkeliling mencoba mencari sesuatu yang tidak tahu apa yang sebenarya ia cari di dalam diensi tersebut sebab yang ada hanya kilauan cahaya dengan tempat yang seluruhnya berwarna putih.
Kupu-kupu yang tadi menemaninya sudah lama pergi meninggalkannya sendirian di tempat tak berpenghuni itu.
“Aku ingin muntah karena selalu melihat warna putih dan cahaya yang menyilaukan ini.” Gumam Leathina kemudian duduk dan segera berbaring ke sembarang tempat karena kelelahan berkeliling mencoba mencari jalan kembali.
“Aku sepertinya tidak akan bisa berbuat apa-apa disini sebelum seseorang menginginkanku untuk kembali, memangnya ada ya orang yang akan bersikeras menjemput ku hanya untuk melihatku membuka mata kembali?” Leathina menghembuskan nafas berat dan menutup matanya dan fokus pada pikirannya mencoba untuk kembali sendiri ke dunia nyata.
“Haiss!” Leathina mendengus kesal.
“Ini tidak akan berhasil sebelum seseorang menjemput ku!” ucapnya emosi karena usahanya tidak kunjung behasil setelah berkali-kali mencoba mencari jalan pulangnya sendiri tapi terus saja gagal.
“Kenapa tadi kupu-kupu itu tidak langsung membawaku kembali setelah membawaku ke mari sih!” Leathina kembali terbangun dan duduk bersila sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya dan mengingat kembali apa yang diberitahukan padanya sebelum kupu-kupu itu pergi meninggalkannya.
“Jadi bagaimana caranya aku bisa kembali ke dalam tubuhku?”
“Tentu saja dengan mengembalikan jiwamu ke dalam tubuh Leathina.”
“Semudah itu ya, Jadi tunggu apa lagi bawa aku kembali sekarang.”
“Maafkan aku tapi kali ini aku tidak bisa membantumu, Leathina. Kau harus mencari jalan pulang mu sendiri.”
“Baiklah akan aku lakukan, jadi kearah mana aku harus pergi?” tanya Leathina sembail melihat ke sekelilingnya yang terlihat hanya seperti ruang hampa, seluruhnya sama dan tidak memiliki perbedaan.
“Soal itu, sebenarnya kau tidak bisa pergi mencarinya sendiri di demensi kosong seperti ini jika kau bersikeras maka mungkin jiwamu akan pergi terlalu jauh dari tubuhmu dan malah membuatmu kesulitan untuk kembali, tapi tenang saja masih ada jalan lain yang lebih aman yang bisa membawamu kembali menempati tubuh Leathina.”
“Benarkah ada jalan aman untuk aku gunakan kembali ke tubuh Leathina?” tanya Leathina sedikit merasa lega mendengarnya. “Katakan apa yang harus aku lakukan agar bisa kembali dengan aman?” Tanya Leathina antusias karena sudah sangat ingin kembali ke dunia nyata.
“Kau hanya perlu duduk diam di sini dan menunggu seseorang untuk datang menjemputmu dan mengarahkan jiwamu kembali ke tubuh mu.”
“Hanya Itu?” tanya Leathina sedikit tercengang ketika mendengar cara aman baginya untuk kembali ke tubuhnya.
“Iya, kau hanya perlu menunggu. Tapi Leathina kenapa ekspresimu berubah menjadi menakutkan seperti itu?” tanyanya ketika melihat ekspresi wajah Leathina yang kini berubah menjadi muram dengan pandangan kosong.
“Bagaimana aku tidak begini, jika membayangkan saja itu sudah tidak mungkin!” Seru Leathian yang terlihat sangat depresi.
“Apa maksudmu? Tentu saja mungkin kan. Ayahmu pasti akan mati-matian mencari cara untuk membawamu kembali, kau tahu sendirikan keluaramu sangat mencintai mu.”
“Bukan, bukan hal itu yang aku khawatirkan.”
“Jadi apa, yang membuatmu begitu tertekan Leathina.”
“Jika salah satu dari mereka datang ke sini dan meliat wujud asli dari jiwaku maka bagaimana mungkin mereka akan percaya bahwa aku Leathina, mereka mungkin akan langsung meninggalkanku karena tidak percaya.”
“Tenang saja itu tidak akan terjadi, mereka pasti akan menerimamu apapun bentukmu selama kau masih hidup.” Ucapnya sambil menunjukkan sebuah cermin dan memperlihatkan pantulan cahaya yang masih berwujud Isabella.
“Hufft”
Leathina kembali menghembuskan nafas panjang setelah mengingat apa yang tadi diberitahukan padanya sebelum ditinggal sendiri.
“Aku tidak tahu jika nanti mereka menerimaku atau tidak saat tahu kebenaran bahwa aku sebenarnya bukan Leathina melainkan hanya jiwa yang beruntung menetap di tubuh Leathina, apa mungkin aku akan langsung di buang?”
“Tidak, tidak, jangan pikirkan hal sekejam itu. Aku harus bisa bersabar dan menunggu dengan tenang disini.” Leathina mencoba menenagkan pikirannya dan menghirup nafas dalam-dalam kemudian menhembuskannya melalui mulutnya secara perlahan.
“Tapi, apa mungkin mereka akan bersikeras menginginkan aku kembali? Aku tahu mereka tidak membenciku tapi aku tidak tahu sejauh mana mereka mencintaiku sampai harus membawaku kembali.” Baru sesaat ia melepaskan pikiran negatifnya dan mencoba berfikri positif tiba-tiba pikiran negatifnya kembali memenuhi kepalanya karena khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya nanti saat orang-orang mengetahui wujud dririnya yang sebenarnya.
Karena tidak punya pilihan Lain Leathina akhirnya hanya bisa pasrah dan memilih untuk meunggu di tempatnya yang sekarang sampai seseorang datang menjemput nya.
...
...***...