
Leathina berdiri di depan meja yang penuh dengan hidangan makanan yang memang disiapkan khusus untuk para tamu yang hadir tapi tidak ada satu makanan yang dihadapannya berhasil menarik minatnya ia hanya menatap semua makanan dengan tatapan kosong sambil memegang sebuah garpu dan piring kosong tanpa berniat untuk mengisinya dengan makanan.
Setelah bergegas pergi meninggalkan Pangeran Yardley dan Pangeran Edward Leathina memilih untuk mengisi perutnya sampai penuh tapi entah kenapa Leathina malah tidak bersemangat saat melihat makanan, dan berakhir melamun di depan semua makanan itu.
“Aku punya firasat buruk, apa aku pulang saja?” batin Leathina yang terhanyut dalam perang batinnya dengan dirinya sendiri.
“Jantungku terus berdebar tanpa aku tahu sebabnya, mungkin aku kelelahan sebaiknya aku memang harus pulang untuk beristirahat.” Leathina menyentuh dadanya kemudian menydari bahwa sejak awal perasaannya memang benar-benar aneh dan tanpa pikir panjang lagi Leathina meletakaan kembali piring dan garpunya kemudian bergegas untuk pulang ke mansionnya.
“Aku akan memberitahu seseorang bahwa aku akan pulang lebih dulu agar keluargaku tidak khawatir.” Gumam Leathina sambil terus melangkah keluar.
“Akh!”
“Prakk!”
Dari arah yang berlawanan seorang pelayan wanita yang juga sedang terburu-buru sambil membawa sebuah nampan berisi gelas menabrak Leathina hingga keduanya terjatuh dan semua gelas yang pelayan wanita itu bawa berjatuhan ke lantai.
“Arkh!”
“Maafkan saya nona, saya benar-benar tidak sengaja!” Pekik si pelayan yang langsung bersujud karena takut dihukum akibat kecerobohannya.
“Leathina!” Nicholas dan Nora yang kebetulan melihat kejadian itu bergegas menolong Leathina yang masih terduduk di lantai kesulitan berdiri karena lantainya licin ditambah pakaiannya yang berat.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Nicholas sambil membantu Leathina berdiri dengan hati-hati.
“Apa kakak terluka?” Tanya Nora yang khawatir kemudian berjongkok sambil membersihkan gaun Leathina dengan sapu tangan miliknya.
“Leathina, apa yang terjadi?” tanya Pangeran Edward yang hampir bersamaan datang dengan Pangeran Yardley kemudian disusul oleh Winter yang kini juga datang karena khawatir.
“Ah, aku ....”
“Kau sengaja?!”
Leathina baru akan menjelaskan keadaanya tiba-tiba Nichols telah berteriak lebih dulu membentak si pelayan wanita yang menabrak Leathina.
Sipelayan yang ketakutan hanya bisa bersujud sambil memohon ampun atas dirinya sendiri, terlihat jelas bahwa pelayan tersebut benar-benar ketakutan karena seluruh tubuhnya gemetaran.
“Ada apa?” Tanya Duke Leonard yang datang bersamaan dengan istirinya Duchess Nice.
Takut Leathina kedinginan cepat-cepat Duke Leonard membuka jubahnya dan memberikannya pada Leathina karena gaunnya basah.
“Aku tidak apa-apa kalian tidak usah berlebihan.” Tegur Leathina pada Nicholas.
“Ayah, aku sungguh tidak apa-apa.” Leathina kembali menjelaskan kepada Duke Leonard agar semuanya kembali tenang.
“Tapi pelayan itu sepertinya sengaja mela...”
“Nicholas! Hentikan, aku sungguh tidak apa-apa.” Leathina dengan tegas menghentikan Nicholas yang menaruh curiga tidak berdasar pada pelayan yang menabraknya tadi.
“Kau kembalilah dan bersihakan kekacauaun ini.” Ucap Pangeran Yardley lembut meminta si pelayan untuk membersihkan lantai yang licin akibat tumpahan minuman yang dibawa oleh pelayan tadi.
“BRAKKKK!”
“BRAKKKK!”
“BRAKKKK!”
“BRAKKKK!”
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras yang berasal dari atas, benturan yang terdengar itu terus terjadi secara berulang-ulang hingga seluruh bangunan terasa bergetar. Terdengar seperti sebuah batu besar dibenturkan Ke dinding beton secara berulang-ulang.
Seketika seluruh ruangan menjadi hening karena semua orang fokus mendengarkan dan merasakan getaran yang terjadi akibat benturan tersebut.
“Apa yang terjadi?” tanya Raja Daylend pada perajurit, tapi tidak ada jawaban karena semua orang yang ada di dalam ruangan memang benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Duke Leonard?” Tanya Raja Daylen sekali lagi.
“Saya akan segera mengetahuinya yang mulia.” Jawab Duke dengan tegas.
“Hubungi menara sihir untuk memantau seluruh area dan cari tau apa yang sedang terjadi! Tambah dan perketaan penjagaan disekitar Raja dan Ratu!”
“Siap!”
Duke dengan tegas memberikan perintah kemudian semua prajurit termaksud Winter bergegas dalam formasi untuk melindungi Raja dan Ratu.
“Tetap di dalam ruangan, jangan sampai kalian terpisah sampai aku kembali.” Ucap Duke Leonard memberitahukan keluarganya.
“Nicholas aku titipkan ibumu, Leathina dan adikmu Nora, lindungi mereka.” Bisik Duke Leonard sebelum pergi.
“Baik Ayah.”
Sebelum pergi mencari tahu sendiri Duke Leonard terlebih dahulu mengamankan keluarganya.
“SEMUANYA JANGAN PANIK DAN TETAPAH BERADA DIDALAM RUANGAN.” Teriak Pangeran Edward memberi arahan pada para tamu agar susananya tidak semakin kacau.
“BRAKKKK!”
“TRAKKKK!”
Disaat yang bersamaan dengan suara benturan terakhir tiba-tiba langit-langit bangunan yang digunakan sebagai aula banquet roboh meninggalkan sebuah lubang besar di langit-langit dan sekilas terlihat kilatan merah yang berbentuk bola api besar yang sepertinya sedang megintip dari celah tersebut.
“Akkkkkk!”
“Aaaaaaaa!”
“Tolong!”
“Seseorang terluka.”
Runtuhnya langit-langit bangunan membuat susana menjadi semakin kacau, runtuhannya menimpa orang-orang hingga banyak yang terluka dan karena itu semua orang menjadi panik kemudian saling berlomba untuk menyelamatkan diri.
Karena panik dan berusaha melarikan diri akibatnya semakin banyak orang yang terluka akibat saling tabrak, dorong bahkan melukai yang lainnya agar bisa keluar terlebih dahulu.
“APA YANG TERJADI?” tanya Leathin saat diihatnya Zeyden masuk ke dalam dengan penuh luka dan banyak darah yang ia muntahkan.
“Naga penghuni hutan hitam tiba-tiba memasuki kerajaan, menghembuskan nafas api dan menyerang siapaun yang ia lihat.”Zeyden memberi penjelasan singkat. “Jangan keluar dan jangan membuat banyak pergerakan monster itu bisa menghanguskan kita sekaligus dengan nafas apinya.” Zeyden kembali memperingati semua orang yang masih keras kepala ingin menyelamatkan diri sendiri.
“Winter bawa Raja dan Ratu ke tempat yang aman terlebih dahulu!” Duke mengambil keputusan cepat setelah mendengar penjelasan singkat Zeyden, “Nichols tuntun yang lainnya keluar dari bangunan ini, selain parjurit silahkan ikuti Nicholas.” Teriak Duke memberikan interuksi.
“Leathina bawa ibu dan adikmu, ikuti Nicholas.” Bisik Duke sambil menyentuh pipi Leathina lembut.
“Ayah, aku bisa membantu.”
“Tidak, kau harus pergi ke tempat yang aman bersama yang lainnya.” Tolak Duke Leonard dengan tegas.
“Nicholas bawa kakakmu!”
Nicholas segera mematuhi ucapa ayahnya dan menarik paksa Leathina meninggalkan ruangan diikuti oleh semua tamu lainnya.
“Kenapa tiba-tiba muncul naga disini?” batin Leathina cemas sambil mengikuti Nicholas yang menariknya pergi bersama ibu dan adiknya untuk meninggalkan ruangan.
“BRAKKK!”
Naga yang dimaksud oleh Zeyden menghempaskan ekornya hingga seluruh atap bangunan hancur dan tidak meninggalkan sisa.
Kini dapat terlihat dengan jelas wujud naga yang membuat panik semua orang, terlihat sosok makhluk besar berwarna silver dengan warna bola mata merah menyala terlihat mulutnya masih mengeluarkan asap.
“Ayah!” Teriak Leathina saat melihat ayahnya tertimpa bangunan yang runtuh dari atas ulah si naga yang mengamuk.
Saat bangunan runtuh dan berjatuhan salah satu balok besar jatuh tepat di atas Ratu dan Raja, Duke yang melihatnya langsung berlarih ke arah mereka berdua berupaya untuk menyelapatkan Raja dan Ratu dan walaupun keduanya berhasil ia selamatkan sayangnya yang terkena dampaknya malah duke hingga membuat punggung kanan hingga lengan kanannya tidak bisa ia gerakkan karena terluka.
“Nicholas bawa ibu dan sudaramu pergi!” Duke Leonard kembali berteriak memerintah Nicholas.
“Ayah, semua pintu tertutup reruntuhan. Kita semua terkurung.” Jawab Nicholas sambil mengamati seluruh pintu masuk dan pintu keluar.
“Kita semua terkurung!”
“Kita akan mati disini!”
“Tidak tolong aku tidak mau mati disini!”
Semua orang kembali panik saling berlarian menuju pintu keluar berusaha mendobrak pintu yang sudah jelas tidak bisa terbuka dan karena itu orang-orang kembali saling bertabrakan bahkan melindas orang-orang yang memang sudah terluka.
“Ah, Ayah!” Pekik Leathina panik saat seseorang menginjak lengan ayahnya.
Leathina refleks langsung berlari ke arah Duke Leonard yang terlihat menahan sakit dilengannya tanpa sadar ia menggunakan kekuatannya untuk mengobati luka ayahnya hingga benar-benar sembuh.
“Le-leathina dari mana kau bisa mendapatkan kekuatan ini?” ucap Duke Leonard dengan terbata-bata karena terkejut.
“Leahina kau seharunya tidak menunjukkan kemampuanmu sekarang!” Teriak Pangeran Edward yang langsung berlari ke arah Leathina.
“A-ada apa? Tanya Leathina gugup karena Pangeran Edward tiba-tiba sebegitu marahnya padanya.
Belum sempat Leathina mendengar jawaban dari pertanyaannya tiba-tiba semua orang kini telah berlari menyerbu Leathina.
“Nona selamatkan saya juga.”
“Tolong sembuhkan tanganku.”
“Kakiku terkilir!”
“Mataku tidak bisa melihat karena terkena abu reruntuhan bangunan.”
Pangeran Edward terlambat memperingati Leathina akibatnya ia pun tidak bisa menggapai Leathina untuk melindunginya karena orang-orang langsung mengerumuninya.
“Tidak-tidak bisa seperti ini.” Gumam Leathina khawatir.
Dilihatnya monster yang masih ada diluar mengintip kembali ke dalam bangunan melalu celah atap yang bolong.
“Akh!”
“Ahhh!”
Untuk menghindari keributan yang berkelanjutan Leathina dengan gesit menarik belatinya yang ia sembunyikan dibalik gaunnya kemudian melindungi dirinya sendiri agar tidak ada yang berani mendekatinya hingga mengenai beberapa orang yang masih keras kepala untuk menariknya.
“Leathina?” panggil ayahnya panik.
“Paman ini pedang milik paman.” Disaat yang bersamaan Winter memberikan pedang milik duke yang disimpan setelah memasuki ruangan.
Winter hanya berhasil sampai di depan pintu sebelum Naga tadi mengamuk hingga tidak sempat keluar bersama Raja dan Ratu dan memilih untuk membawanya kembali berkumpul bersama yang lainnya.
“Jangan bergerak jika kalian tidak ingin mati Monster itu masih mengintai kita yang terkurung disini jadi jangan membuat keributan dan tetaplah tenang, jika ada dari kalian yang menolak maka saya tidak punya plihan lain selain memerintahkan prajurit untuk merobek mulut kalian semua agar tidak bisa lagi bersuara dan mematahkan kaki kalian agar tidak lagi berlari!” Teriak Leathina tegas membuat semua orang mendadak terdiam hingga menjadi hening.
Setelah berhasil menangkan keadaan kembali Leathina meminta semua orang untuk tidak berdiri di bawah atap yang masih utuh dan meminta mereka semua berkumpul di tempat yang atapnya sudah bolong hingga terlihat langit malam yang gelap pekat.
Setelah Leathina mengaturnya bersama dengan ayahnya dan dengan bantuan Winter dan Pangeran Edward dan Yardley Leathina mulai mengobati orang-orang yang terluka parah terlebih dahulu.
Leathina sengaja tidak mengobati semua orang ia memilih untuk mengabaikan orang-orang yang hanya mengalami luka kecil untuk menghemat energinya sendiri.
“Terimakasih Leathina.” Ucap Zeyden setelah diobati oleh Leathina. “Tapi apa tidak apa-apa jika orang-orang mengetahui kemampuanmu ini?” bisik Zeyden sedikit khawatir.
“Berhentilah mengkhawatirkanku.” Jawab Leathina sambil membantu Zeyden berdiri kembali.
“Nah karena aku sudah menyebuhkanmu maka cepat buat perisai dan lindungi semua orang terutama anak-anak dan wanita.” Pinta Leathina pada Zeyden.
“Nona sembuhkan saya juga saya kesakitan, saya akan membayarnya berapapun yang nona minta.”
“Sembuhkan saya juga, saya mohon.”
“Saya juga, saya tidak ingin cacat.”
Setelah tenang beberapa saat orang-orang yang berwatak serakah dan egois kembali bersuara bersikeras meminta Leathina untuk mengobati lukanya.
“Haiss! Kalian tidak masuk kedalam prioritas, nyawa kalian tidak akan melayang hanya karena keseleo atau tergores aku butuh menyimpan energiku selama terkurung disini.” Gumam Leathin dengan malas mendengar keluhan para orang serakah dan egosi itu.
“Tapi tetap saja ini terasa sakit!”
“Betul.”
Mereka yang merasa diperlakukan tidak adail kembali memancing keributan. Membuat Leathina malas meladeni mereka dan memilih untuk mengabaikan.
Leathina sibuk memperhatikan tingkah laku Naga yang tiba-tiba mengamuk itu, berusaha mencari solusi dan jalan keluar agar bisa selamat.
“Kenapa setelah bebas dari monster kecil seperti Yasmine aku malah dihadapkan dengan monster besar ini.” Gumam Leathina yang masih mengamati situasi tapi terganggu karena orang-orang kembali membuat keributan.
“Leathina tidak bisa mengobati kalian semua, sihir penyembuh mengorbankan energi pemiliknya untuk ditransfer ke tubuh orang yang sedang ia obati dan jika Leathina menggunakannya terus menerus yang ada akan membuat Leathina berada dalam kondisi kritis karena kehilangan energinya!” Ucap Zeyden yang tidak tahan mendengar ocehan semua orang yang tidak diobati oleh Leathina.
“Leathina?” panggil ayahnya kahwatir.
“Aku tidak apa-apa ayah.” Seakan tahu apa yang dipirikkan oleh ayahnya cepat-cepat Leathina menenagkan duke sebelum duke meminta seseorang untuk menahannya.
“Lagipula kenapa kakakku harus bertanggung jawab menyembuhkan kalian!” Ucap Nicholas dengan nada arogannya.
“Benar, bukankah kalian semua membenci kakakku? Jadi untuk sekarang menjaulah dari kakakku.” Ucap Nora mendukung ucapan Nicholas.
“Humm, dasar penjilat!” Gumam Pangeran Edward yang tiba-tiba merasa geli melihat tingkah orang-orang yang berubah setelah tahu bahwa hanya Leathina yang dapat menyelamatkan hidup mereka.
“BRAKKK!”
Tiba-tiba terdenga lagi suara dentuma keras namun kali ini dampaknya lebih keras dari dentuman sebelumnya.
Untungnya prediksi Leathina benar, tidak banyak orang yang terluka akibat reruntuhan karena berdiri di bawa atap yang sudah rusak jadi tidak ada yang terkena reruntuhan lagi ditambah sihir Zeyden yang melindungi semua orang hingga tetap aman.
“Untunglah.” Batin Leathina yang merasa lega karena tidak ada yang terluka akibat dentuman tdi.
“BRAKKK!”
“TRAKKK!”
Dentuman berikutnya membuat seluruh bangunan terguncang hingga dinding pada pada salah satu sisi runtuh akibat didobrak oleh naga.
Kini terlihatlah sosoknya yang seutuhnya, dinding yang runtuh tersebut bisa digunakan sebagai jalan keluar karena terbuka lebar sayangnya disana berdiri seekor naga yang berukuran yang sangat besar menghalani hingga tidak ada yang berani bergerak melewati jalan tersebut.
“Sialan! Bagaimana caranya mengalahkan monster sebesar itu ditambah nafas apinya, dijarak seperti ini saja aku sudah merasa kepanasan.” Gumam Leathina kebingungan.
“Buat perisai jangan sampai monster itu maju, Serang jika kalian mendapatkan kesempatan!” Teriak Duke Leonard memberi perintah.
Seketika semua prajurit langsung berbaris di depan membentuk tameng dengan tubuh mereka sendiri dan menghadapkan senjata mereka ke arah Naga yang kokoh berdiri di depan mereka.
...***...