
Anne mendengus kesal kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak ingin melihat pelayan yang menghujat Leathina, ia pun berusaha sabar sampai menunggu kepala koki selesai menyiapkan makanan yang dimintanya.
“Ini, sudah selesai dimasak kepala koki. Hati-hati membawanya karena masih panas.” Ucap seorang pelayan wanita memberikan Anne sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur panas dan beberapa makanan lainnya yang baik dikonsumsi saat dalam masa pemulihan.
“Terimakasih, kalau begitu aku akan segera kembali untuk mengantarkannya.” Anne segera menerimanya kemudian langsung membawanya menuju kamar Leathina.
“Permisi.” Ucap Anne sopan saat akan membuka pintu kamar karena takut menganggu orang-orang nantinya.
Setelah membuka pintu dilihatnya ruangan telah kosong, tidak ada lagi orang yang berkerumun diruangan Leathina.
“Ah, Nona.” Serunya saat melihat Leathina yang masih berbaring di atas kasurnya dengan posisi meringkuk.
“Nona makananya sudah siap, aku akan membantu memperbaiki posisi nona Leathina agar bisa makan dengan nyaman.” Ucap Anne sambil meletakkan nampan berisi makanan untuk Leathina di atas meja dan berjalan mendekati Leathina.
“Nona?” panggil anne tapi tidak ada respon.
Anna mengitari tempat tidur ingin memeriksa keadaan Leathina dan dilihtanya kini Leathina tengah tertidur dengan pulas.
“Astaga, Nona ketiduran. Nona pasti sangat kelelahan.” Gumamya sambil membantu Leathina memperbaiki posisi tidurnya agar tidak kesakitan saat terbangun nantinya.
“Ah, maafkan aku Nona Leathina. Aku pasti telah membangunkan anda.” Ucapnya saat melihat Leathina menggeliat sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Ada apa Anne?” tanya Leathina masih dalam setengah kesadarannya.
“Aku membawakan makan untuk Nona Leathina, saya akan menyiapkannya agar nona leathina makan dengan nyaman.”
Leathina berusaha bangun tapi tenaganya belum cukup kuat untuk menopang dirinya sendiri, anne dengan sigap membantu Leathina dan membuatkan sebuah sandaran dari beberapa bantal yang ia tumpukan agar Learhina bisa duduk bersandar.
“Ah, terimakasih Anne. Maafkan aku karena merepotkanmu.”
“Nona tidak merepotkanku sama sekali, ini tugasku dan aku senang melakukannya. Jadi jangan mengatakan hal seperti itu lagi nona Letahina.” Ucap Anne.
Leathina hanya tersenyum mendengar ucapan Anne kemudian memandang ke luar jendela kamarnya.
“Anne bisakah kau membukakan jendela untukku?”
“Angin diluar cukup kencang, bagaimana jika nanti nona terkena demam. Tubuh nona leathina masih lemah.” Anne menolak takut jika Leathina terkenan demam dan jatuh sakit karena terkena hawa dingin.
“Aku tidak akan sakit lagi jadi bukalah untukku, aku merasa pengap.”
“Baiklah nona.” Ucap Anne yang akhirnya setuju dan langsung membuka tirai yang menghalangi cahaya dan membuka jendela utamanya.
Setelah anne membuka jendela masuklah angin segar menerpa kulit leathina dan membuat rambutnya sedikit berterbangan terkena angin.
“Tap”
Anne lagsung menutup jendela kembali saat dirasakan angin terlalu kencang.
“Kenapa? Buka saja anne.” Pinta Leathina kembali.
“Tapi, anginnya sangat kencang nona Leathina.”
“Aku bilang tidak apa-apa, jadi buka saja.” Pinta Leathina lagi dan anne pun langsung membukanya kembali.
“Bawakan makananku.” Pinta Leathia pada Anne yang masih berdiri di depan jendela karena masih kahwatir.
“Baik nona.” Jawab Anne patuh dan segera menyiapkan makanan untuk Leathina kemudian meletakkan meja kecil di depan leathina dan menyusun makanan disana agar Leathina dapat dengan mudah menggapainya.
“Apa perlu aku bantu nona?” tanya Anne saat melihat Leathina yang berusaha memegang sendok tapi terus terjatuh karena tangannya gemetaran.
“Ah, sepertinya aku akan merepotkanmu dalam beberapa waktu kedepan Anne.” Ucap Leathina saat menyadari ternyata separuh fungsi tubuhnya sulit ia gerakkan
“Duh, Nona Leathina saya tidak direpotkan sama sekali dan ini sudah tugas saya.” Ucap anne gemas karena leathina masih mengucapkan hal yang sama secara berulang.
“Maaf nona.” Ucap anne meminta Leathina membuka mulutnya agar bisa mneyuapinya.
Leathina menurut dan terus memakan suapan demi suapan yang diberikan Anne untuknya.
“Silahkan makan ini Nona.” Ucap Anne kemudian menyuapkan Leathina beberapa pil kemudian segera memberikan Leathina air.
“Pahit!” ucap Leathina segera meminum air yang diberikan Anne untuknya. “Apa itu?” tanyanya lagi.
“Ah, ini obat agar kondisi tubuh nona Leathina lekas membaik. Kepala koki yang memberikannya .”
“Kepala koki?”
“Iya selain memasak kepala koki juga bisa meramu beberapa herbal dan mengetahui mana makanan yang baik untuk pemulihan tubuh.”
“Jadi begitu.” Gumam Leathina menanggapi perkataan Anne.
Anne membersihkan mulut Leathina setelah meyelesaikan makanananya, dan segera membereskan mangkuk dan hendak membawanya kembali ke dapur tapi sebelum itu Anne membantu Leathina memperbaiki posisinya terlebih dahulu agar Leathina dapat tidur dengan nyaman.
“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Leathina penasaran.
“Nona hampir sebulan penuh tidak sadarkan diri.”
“Selama itu?”
Anne mengangguk cepat menjawab pertanyaan Leathina.
“Apa saja yang terjadi setelah aku tidak sadarkan diri selama itu?”
“Setelah nona tiba-tiba menghilang saat lampu padam, zeyden melacak lokasi nona dengan sihirnya dan menemukan nona telah jauh masuk ke dalam hutam.”
“Ah, aku ingat bagian itu. Aku mengejar Yasmine. Terus apa lagi yang terjadi?”
“Tuan Duke leonard bersama tuan Winter dan pangeran Edward mengikuti tuan zeyden menuju hutan tempat ia merasakan aura milik nona Leathina.”
“Menemukanku dengan aura sihir? Ah, aku ingat malam itu aku juga menggunakan sihirku untuk menyembuhkan denisa, Zeyden yang akrab dengan sihir pasti bisa merasakannya walau aku telah menyamarkan sihirku.” Batin Leathina mulai mencoba mengingat alur kejadian yang telah ia alami dan menggabungkannya dengan beberapa kejadian yang tidak ia alami dengan bantuan Anne.
“Setelah mereka gergegas pergi tidak lama kemudian mereka datang dan membawa nona Leathina telah dalam keadaan tidak sadarkan diri di gendongan duke Leonard.” Anne memberitahukan apa yang ia lihat pada malam itu.
“Apa yang sebenarnya nona Yasmine lakukan pada Nona Leathina sampai nona pulang dengan keadaan mengenaskan seperti itu?”
“Kami bertarung.” Jawab Leathina singkat.
“Ah, aku sebaiknya harus melaporkan pada duke bahwa Yasmine mengunakan sihir hitam.” Batin Leathina ketika mengingat pertarungannya dengan Yasmine malam itu.
“Dan setelah itu apa ynag terjadi?” tanya Leathina lagi penasaran.
“Duke dan yang lainnya panik, nona tidak kunjung sadar walaupun telah diobati oleh Andy. Untungnya Tuan Aelfric membantu dan memeriksa nona.”
“Aelfric?” tanya Leathina lagi.
“Itu, tuan Aelfric bisa melihat kedalam jiwa seseorang karena dia berasal dari bangsa elf dan mendapati bahwa tubuh nona Leathina tidak memiliki jiwa di dalamnya. Tuan Aelfric mengusulkan bahwa pamannya yang ada di hutan timur mungkin dapat memberikan bantuan jadi duke leonard bersama dengan pangeran Edward, tuan Aelfric dan tuan Zeyden yang ternyata juga ikut segera melakukan perjalanan ke hutan timur untuk meminta bantuan pada paman ynag dimaksud oleh tuan aelfric.”
“Mereka melakukan perjalanan sejauh itu hanya untukku?” tanya Leathina.
“Iya Nona, dan sebenarnya mereka semua baru saja kembali dan langsung ke sini untuk mengobati nona leathina.”
“Jadi, ayah dan yang lainnya belum beristirahat sama sekali? Baiklah aku paham kembalilah Anne aku ingin beristrahat.” Ucap Leathina yang akhirnya mengerti dan meminta Anne segera keluar.
“Baik Nona,” ucap Anne patuh dan segera kembali ke dapur dengan membawa nampan berisi mangkok yang tadi ia bawakan untuk Leathina.
...***...