
“Jangan sembarangan kamu, siapa juga yang menyukai wanita arogan sepertinya.” Zeyden segera membantah ucapan teman – temannya karena malu di pasang – pasangkan dengan anak perempuan telinganya sedikit memerah karena berusaha menyembunyikan rasa malunya sendiri.
“Iya benar juga kata Zeyden dia itu arogan sekali, pernah aku tidak sengaja berpapasan dengannya dan menyapanya tapi dia bahkan tidak menoleh sedikitpun.” Anak laki – laki lainnya ikut menimpali ucapan Zeyden mengenai Leathina.
“Aku dengar dari orang tua aku, bahwa dia itu ternyata anak dengan darah campuran, bukan bangsawan murni seperti kita.” Salah satu dari kumpulan anak – anak remaja laki - laki tersebut juga ikut menambah cerita mengenai Leathina, membuat suasana perbincangan mereka menjadi semakin hidup sehingga suara mereka bahkan bertambah besar sampai terdengar oleh Leathina yang kebetulan juga berada di taman tersebut.
Leathina yang duduk di balik pohon rindang mau tidak mau akhirnya ikut mendengar alur perbincangan mereka, karena suara anak laki – laki yang sedang berkumpul tersebut sangat besar sehingga bisa di dengar oleh siapa pun yang ada di sekitar taman tersebut.
“Benarkah? Ternyata hanya anak dengan darah campuran tapi tingkah lakunya sudah seperti putri kerajaan saja.”
“Nah kalian tahu sendirikan bagaimana gadis itu, jadi jangan menjodohkan aku lagi dengannya. Itu sangat memalukan.”
“Iya walaupun dia cantik dan pintar jika bukan bangsawan murni sama saja dengan aib.”
“Ibunya jangan – jangan adalah wanita malam yang berhasil merayu Tuan Duke Leo... Argghh.”
“Plakk!!”
“Kamu berdarah.”
“Pergi ke ruangan berobat sekarang.”
“Siapa yang berani melemparku?”
Tiba – tiba saja sebuah batu dilemparkan dan mengenai kepala anak yang berbicara tadi sehingga kepala anak tersebut mengalami sedikit pendarahan membuat perbincangan mereka terputus dan malah fokus mencari si pelaku.
“Oh astaga tanganku bergerak sendiri aku kira ada kecoa yang harus aku bunuh karena menganggu.” Leathina berbicara sambil beranjak dari tepat duduknya dan menepuk – nepuk pakaiannya untuk membersihkan tanah yang menempel di bajunya.
“Siapa di sana? keluar kalau kamu berani! asal kamu tahu yah kamu mencari masalah dengan orang yang salah.” Kumpulan anak – anak yang tadi berteriak menyuruh orang yang melempar segera keluar dari balik pohon.”
“Ternyata yang terkena lemparanku orang? Bukan hama?” setelah membersihkan pakaiannya barulah Leathina keluar dari balik pohon menampakkan dirinya.
“Le.. leathina? Saat melihat seorang gadis keluar dari balik pohon tersebut anak – anak yang tadi tergagap dan terkejut melihat orang yang tadi menjadi topik pembicaraannya tiba – tiba muncul.
“Leathina?”
“Maafkan aku maksudku Nona Leathina. Se.. se.. sejak kapan kamu di sana?”
“Entahlah mungkin sejak kalian belum menginjakkan kaki di taman ini.”
“Ja.. jadi Nona, mendengar semuanya?”
Leathina tidak menjawab pertanyaan anak tersebut dan malah berjalan mendekati Zeyden kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah zeyden dan mengamatinya beberapa saat dan setelah itu Leathina menjauhkan kembali wajahnya dan membuat Zeyden terkejut karena Leathina tiba – tiba mendekatinya.
“Kamu keterlaluan Leathina.” Zeyden sangat marah ketika mendengar dan melihat perlakuan Leathina padanya.
“Oh dan kalian tahu secara tidak sadar kalian telah menghina nama keluarga Yarnell, hey kamu sebutkan siapa nama keluargamu.” Leathina tidak memperdulikan Zeyden yang marah, Leathina hanya fokus melihat anak – anak yang lainnya yang tadi ikut berbicara merendahkan dan menghina ibunya.
“Ma.. maafkan kami Nona Leathina.”
“Orang tuamu bahkan menjilat dibawa kaki keluarga Yarnell. Ohiya bukannya kamu dari keluarga Baron yang bisnis keluarganya hampir bangkrut dan datang ke kediaman Yarnell untuk memohon bantuan, dasar anjing yang menggigit tangan tuannya sendiri.”
“LEATHINA KAMU SUDAH SANGAT KETERLALUAN!” Anak yang disebutkan Leathina sangat marah karena malu Leathina menyebutkan rahasia keluarganya yang hampir bangkrut.
Anak tersebut segera merapalkan mantra dan keluarlah sebuah peluru – peluru yang terbuat dari tanah menyerang Leathina secara bersamaan.
Leathina yang melihat itu segera menarik pedang milikknya dari sarungnya yang ia bawa di pinggangnya dengan cepat ia membela peluru – peluru yang mengarah padanya ia menerobos serangan – serangan yang diarahkan padanya dan saat mendekati siperapal sihir Leathina memutar pedangnya memukulkan gagang pedangnya ke arah perut anak tersebut sehingga membuat anak yang merapalkan mantra tadi terpental dan terjatuh, melihat itu Leathina segera mengayunkan pedangnya ke arah anak tersebut.
“Maafkan aku.. maafkan aku, aku mohon jangan tusuk aku.. aku megaku salah, aku telah menghina keluarga Duke Yarnell.”
Melihat lawanya telah mengaku salah dan kalah Leathina segera menghentikan serangannya tepat di leher lawanya membuat kulit lawanya sedikit tergores oleh pedang milikknya dan mengeluarkan sedikit darah karena goresan tersebut.
“HENTIKAN LEATHINA!” Zeyden yang melihat temannya berdarah segera berteriak menghentikan leathina karena menganggap tindakan Leathina sudah sangat berlebihan.
Zeyden juga merapalkan sebuah mantra yang memunculkan sebuah angin kencang, angit tersebut menerpa badan Leathina sehingga Leathina sedikit terguncang oleh angin yang dibuat Zeyden dengan mantra miliknya, setelah itu angin tersebut berkumpul pada satu titik dan membentuk sebuah sabit dan sabit yang terbuat dari angin itu mengincar tangan Leathina yang masih memengang pedangnya.
Leathina segera memasang kuda – kudanya agar tidak terjatuh saat diterpa oleh angin saat melihat sebuah sabit yang terbentuk dari kumpulan angin mengincarnya Leathina dengan cepat mematahkan sihir tersebut dengan membelahnya dengan pedang miliknya sehingga angin yang tadi ribut segera mereda kembali.
“Wah.. wah.. kamu memang benar – benar ingin membunuhku dengan menyerangku dengan sihir pembentuk tingkat sedang, Zeyden bahkan mengubah angin menjadi senjata tajam untuk memotong tanganku.”
“Tidak.. itu tidak benar. Aku hanya mencoba menghentikanmu karena sudah keterlaluan.”
“Benarkah aku yang salah? Jadi sekarang orang bisa membenarkan dan tidak masalah jika kamu menghina aku dan ibuku, aku bahkan tidak pernah mengusik kalian tapi kalian malah selalu mengangguku, Dan walaupun aku berdarah campuran tapi aku tidak merendahkan martabtaku seperti kalian dan orang tua kalian?”
“Tidak.. itu juga tidak benar aku hanya..” Zeyden kebingungan menjawab perkataan Leathina.
“Pengecut! Jangang pernah menyebutkan namaku lagi dengan mulut kotor kalian, ini peringatan terakhir dariku.” Leathina segera menarik pedangnya dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungya.
“Oh iya laki – laki pengecut sepertimu tidak pantas di sandingkan denganku sebuah penghinaan jika aku dipasangkan denganmu, Zeyden!”
Setelah berbicar Leathian segera pergi meninggalkan taman tersebut dan tidak memperdulikan lagi Zeyden yang masih terpaku di tempatnya karena perkataan kasar Leathina untuknya sementara teman – temanya yang lain segera membantu salah satu temannya yang tadi dikalahkan oleh Leathina
...
......***......