
“Lea!” Pekik Adam dengan panik saat melihatnya memasuki mansion bersama Troy dan Nina.
“Oh, Adam kau sudah kembali rupanya?” Sapa Leathina sembari mengangkut barang belanjaannya memasuki mansion di bantu oleh Troy.
“Lea, Bos Ed’ memintaku untuk membawamu pergi dalam beberapa hari. Ayo kemasi barang-barang mu segera.” Adam berjalan menghampiri Leathina dan menyeretnya naik ke lantai dua menuju kamar penginapan Leathina.
“Adam, ada apa? Kenapa kau sangat terburu-buru, apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Jangan bilang kalau.. “ Leathina menatap mata Adam lekat-lekat mencari tahu sendiri apa yang membuat Adam sangat khawatir hingga membuat dirinya harus terburu-buru meninggalkan markas.
“Iya Lea.” Seakan mengetahui isi kepala Leathina Adam kemudian mengangguk pasti membenarkan apa yang di pikirkan oleh Leathina sekarang.
“Astaga, sebentar Adam aku akan berkemas sebentar.”
“Baiklah Leathina, kalau begitu aku akan mempersiapkan kuda dan menunggumu di depan.”
Dengan terburu-buru Leathina menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya, dan segera membuka lemari pakaian dan mengambil tas kain miliknya beberapa baju yang rusak ia tinggalkan dan memasukkan secara sembrono pakaian yang baru saja ia beli di toko ke dalam tas kainnya.
“Kenapa tiba-tiba, mereka datang kembali ke kota pinggiran seperti ini, bukankah beberapa waktu yang lalu mereka telah memeriksa wilayah ini!”
“Slak”
Leathina menutup kasar lemari pakaiannya mengenakan kembali tudung kepalanya dan segera turun kembali sambil menggendong tasnya.
“Lea hati-hati.” Ucap Troy pada Leathina saat melewatinya tidak berani menghentikannya karena Leathina terlihat sangat terburu-buru.
“Oh, Troy terimakasih.” Leathina spontan menghentikan langkah kakinya memeluk Troy dan Nina sebentar dan segera keluar dari tempat itu dan dilihatnya Adam sudah menunggunya di depan dengan seekor kuda.
“Adam, mana kuda untukku?” Taya Leathina saat ia hanya melihat satu kuda yang telah ditunggangi oleh Adam.
“Lea, ulurkan tanganmu kita harus cepat keluar dari sini.”
Karena tidak punya pilihan lain Leathina hanya mengikuti perkataan Adam dan mengulurkan tangannya, adam meraihnya dan mengangkatnya naik ke atas kuda bersamanya dan segera memacu kudanya meninggalkan mansion.
“Adam, kali ini siapa yang datang?”
“Adikmu.” Jawab Adam singkat dan kembali fokus memacu kudanya degan kecepatan maksimal.
“Huh, Nicolas?”
“Iya, Bos Ed’ mengatakan Duke diam-diam mengirim anaknya ke kota perbatasan.”
“Untuk mencari ku?”
“Iya, sepertinya mereka telah mendapatkan informasi mengenai keberadaan mu di kota ini.”
“Di mana Ed” sekarang?”
“Bos Ed’ kembali ke kerajaan, dia tidak bisa meninggalkan kerajaan terlalu lama.”
“Kerajaan? Apa kau tahu identitas Ed’ yang sebenarnya, Adam?” Tanya Leathina pada Adam.
“Eh.. ah, soal itu aku..” Adam menunjukkan ekspresi seakan-akan dirinya telah salah berbicara dan berakhir seperti anak kecil yang berusaha mengelak.
“Tidak usah kau kasih tahu kalau memang aku tidak boleh tahu.” Ucap Leathina dan kemudian kembali fokus menatap jalanan yang ada di depannya.
“Lea, soal itu..”
“Tidak apa-apa, Adam.”
“Nah, kemana kau akan membawaku? Apa kita akan ke kota seberang atau pergi ke tempat yang lebih jauh?” Leathina berusaha mengalihkan pembicaraannya karena melihat Adam merasa tidak enak hati karena tidak memberitahukan Leathina yang sebenarnya, walaupun sebenarnya Leathina telah mengetahui apa yang tidak ingin Adam katakan.
“Kita tidak akan pergi kemana-mana.”
“Eh, jadi kemana kita akan pergi?”
“Kita tidak akan kemana-mana karena kita tidak bisa, jika kita sekarang keluar dari kerajaan kita akan ditemukan penjaga perbatasan jadi untuk sekarang kita hanya ke kota dan bersembunyi di sana, apa kau tidak masalah?”
“Tidak apa-apa, selama aku tidak tertangkap.”
“Baiklah, pegangan Lea, agar kau tidak jatuh.”
“Kau pikir aku anak kecil.”
“Ah, padahal tadi aku baru ke sini bersama Troy dan Nina.” Leathina bergumam sambil membaringkan tubuhnya di kasur penginapan yang ia tempati.
“Adam, menurutmu kapan para prajurit itu akan kembali?” tanya Leathina pada Adam yang baru saja meletakkan tas kain Leathina.
“Mungkin dua atau tiga hari, mereka baru akan kembali.”
“Setelah itu?” tanya Leathina lagi pada Adam.
“Kenapa kau bertanya seakan-akan kau tidak punya tujuan lain?” Tanya Adam pada Leathina.
“Ya, karena sepertinya kamu telah menerima perintah dari Ed’ untuk terus mengawasi ku.”
“Kau menyadarinya? Setelah para prajurit kembali ke kerajaan Bos Ed’ memintaku membawamu kembali ke markas kami.”
“Tentu saja aku menyadarinya. Jadi seperti itu?”
“Kau tidak keberatan?”
“Sepertinya Ed’ tidak akan membiarkan aku pergi kemana-mana untuk saat ini. Ed’ juga berjanji akan melindungi ku.”
“Kau akan lebih aman jika bersama dengan kami.”
“Tapi akan berbahaya bagi kalian jika aku terus tinggal di sana, para penjaga bisa saja menangkap kalian dengan tuduhan penculikan atau semacamnya.”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu Lea, tidak ada yang merasa terancam karena keberadaan mu.”
“Benarkah? Woahp Aku sepertinya mengantuk.” Leathina menutup mulutnya karena menguap dan membalikkan tubuhnya membelakangi Adam yang kini duduk di sisi tempat tidurnya.
“Lea?” Panggil Adam sambil menatap punggung Leathina yang sekarang membelakanginya.
“Apa?” Jawab Leathina sambil menahan rasa kantuknya.
“Kenapa kau lari dari keluargamu?”
“Karena keberadaan ku tidak di inginkan di sana, makanya aku ingin mencari tempat untukku sendiri.”
“Bagaimana jika ternyata selama ini mereka mencarimu karena ingin kau kembali.”
“Haha, itu tidak mungkin, mereka bukan datang mencari tapi memburu buronan. Kau tahu aku hampir membunuh adikku sendiri dan aku akan di hukum untuk itu aku masih ingat dengan jelas mereka akan menyeretku ke penjara.”
“Tapi Lea, kau tidak melakukannya bukan?”
“Yah, aku tidak melakukannya tapi orang-orang pikir aku melakukannya sekeras apapun aku mencoba menjelaskan kebenarannya mereka semakin membenciku. Lagi pula orang sampingan sepertiku pada akhirnya sudah di takdir kan untuk di singkirkan, bahkan Ed’ juga akan melakukannya nanti tapi belum saatnya karena belum waktunya.
“Orang sampingan? Disingkirkan oleh bos Ed’? Leathina apa maksudnya itu?” tanya Adam pada Leathina karena tidak bisa memahami maksud perkataan Leathina.
“Lea apa maksudmu?” Tanya Adam lagi karena Leathina masih belum meresponnya.
“Lea?”
“Ummm.”
Adam terus bertanya tapi tidak ada jawaban Leathina hanya bergumam tidak jelas menanggapi ucapan Adam.
“Lea kau tertidur?”
“Oh, astaga kau tertidur rupanya.”
Karena tidak ada tanggapan dari Leathina Adam memeriksa keadaan Leathina dan dilihatnya perempuan yang ada di depannya itu telah tertidur pulas dengan posisi meringkuk.
“Kau akan pegal jika tidur dengan posisi seperti ini, Nona.”
Adam melepaskan alas kaki Leathina yang masih terpasang di kakinya, membetulkan posisi tidur Leathina dan kemudian menyelimutinya dengan selimut yang ia ambil dari lemari penginapan yang ada di kamar yang mereka tempati itu.
Setelah memperbaiki posisi Leathina, adam tanpa suara berjalan keluar meninggalkan Leathina sendiri yang kini tengah tertidur karena kelelahan, Sebelum benar-benar pergi Adam sempat mengintip sebentar ke dalam untuk memastikan keadaan Leathina dan setelah itu segera menutup kembali pintu dari luar.
...***...