
Mereka berlima terus memacu kuda mereka secepat mungkin hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah lereng gunung yang harus mereka lewati sebagai bagian terakhir dari perjalanan mereka untuk sampai di hutan timur.
Damian segera mengamati keadaan sekitar ia melompat turun dari kudanya dan menunduk ke bawa lereng dan saat berada di pinggir lereng yang merasakan angin yang sangat kencang menerpanya.
“Bahaya,” ucapnya memberitahu yang lainnya “Jalannya terlalu kecil dan curam dan anginnya sangat kencang sangat berbahaya jika kita tetap melanjutkan perjalanan kita sekarang.” Damian berbicara sambil memperhatikan jalanan curam yang akan mereka lewati.
“Benar kata Damian, mataharinya juga sebentar lagi terbenam akan semakin berbahaya jika kita melanjutkan perjalanan di kegelapan malam.” Ucap Zeyden yang juga ikut berkomentar setelah melihat keadaan yang memang berbahaya.
“Kalau begitu kita akan beristirahat disini untuk malam ini,” Duke Leonard mempertimbangkan pendapat Damian setelah melihat keadaan yang benar-benar cukup berbahaya jika mereka masih tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan.
Akhirnya duke Leonard memutuskan untuk beristirahat dan menunggu angin kencang berhenti. Mereka menemukan sebuah gua kecil yang tidak jauh dari tempat mereka berhenti, mereka pun memilih untuk menggunakan gua itu sebagai tempat peristirahatan bagi mereka berlima.
“Aku akan kembali ke hutan berburu hewan untuk makan malam nanti.” Edward berdiri dan dengan sukarela pergi berburu untuk mencari makanan mereka malam ini, ia tidak menggunakan kudanya dan memilih untuk berjalan kaki agar lebih muda untuk berburu.
“Kalau begitu aku juga akan pergi untuk mencari kayu bakar sebagai penghangat kita karena sebentar lagi sepertinya akan turun hujan jadi sebelum kayu-kayunya basah aku akan memungutnya terlebih dahulu,” Damian juga akhirnya pergi mencari kayu bakar di sekitar gua untuk dijadikan bahan api unggun mereka nanti.
“Aelfric kau juga pergilah mencari kayu bakar bersama Damian,” Zeyden meminta Aelfric untuk ikut dengan Damian mencari kayu bakar dan dengan terpaksa Aelfric segera berlari menyusul Damian yang kini sudah agak jauh di depannya.
“Aku juga akan pergi memeriksa kondisi sekitar sekaligus mencari kayu bakar.” Zeyden juga pergi dari gua dan hanya menyisakan Duke Leonard sendiri yang menjaga barang-barang serta kuda mereka.
Duke Leonard menghela nafas panjang kemudian menyadari bahwa mereka akan kesulitan jika tidak mempunyai air untuk diminum nanti saat yang lainnya telah kembali, menyadari hal itu Duke Leonard segera mengambil botol bambunya yang ia buat saat dalam perjalanan dan ia juga mengambil botol-botol bambu milik yang lainnya untuk diisi dengan air.
Dengan langkah santai duke Leonard keluar dari gua untuk mencari sumber air terdekat dari tempat mereka menginap. Setelah berjalan selama hampir sepuluh menit lamanya ia melihat sungai kecil dari kejauhan dan segera berjalan ke arah sana untuk mengambil air dan dengan hati-hati duke mulai mengisi air pada botol satu-persatu sampai semuanya penuh ia pun segera kembali ke gua khawatir akan barang-barang dan kuda mereka yang ia tinggalkan sendiri.
...
Edward berjalan meninggalkan gua tempat mereka beristirahat dan karena belum menemukan adanya tanda-tanda hewan yang bisa ia buru untuk dijadikan makan malam ia memilih berjalan semakin jauh masuk ke dalam hutan.
“Srak”
Tiba-tiba seekor rusa berlari keluar berlawanan arah dengan Edward dan dengan cepat Edward segera mengambil kesempatan itu dan melemparkan sebuah belati pada rusa yang sedang berlari itu.
Belati Edward tepat mengenai kaki belakang rusa hingga berhasil membuat rusa itu terjatuh dan tidak lagi bisa berjalan. Tapi, saat Edward akan mengambilnya gerombolan kelinci juga tiba-tiba berlari keluar dari hutan berlawanan arah dengannya.
Edward tidak terlalu mempedulikan kelinci-kelinci yang berlari melewatinya itu, menurutnya rusa yang tadi berhasil ia buru sudah cukup bagi mereka berlima jadi ia membiarkan kelinci-kelinci dan memilih untuk tidak mengganggunya.
“Kenapa semua hewan berlarian keluar dari hutan?” tanya Edward saat ternyata bukan hanya rusa atau kelinci saja yang berlarian keluar dari hutan melainkan burung dan hewan kecil lainnya pun berterbangan meninggalkan hutan. “Mungkin ini akibat rombongan goblin yang menjajah tanah mereka.” Gumamnya kemudian tanpa berfikir panjang lagi segera mengikat rusa yang kini telah mati mengeluarkan banyak darah dan setelah itu ia segera membawanya kembali ke tempat peristirahatan mereka.
...
“Oh, kau ternyata menyusul ku Aelfric,” tanya Damian riang saat ternyata Aelfric juga mengikutinya untuk pergi mencari kayu bakar.
“Aku tidak mengikutimu karena aku mau ya, aku pergi karena aku disuruh oleh Zeyden untuk membantumu mencari kayu bakar,” ucap Aelfric membantah perkataan Damian.
“Baiklah, baiklah, aku tau kok, ayo kita bawa pulang banyak kayu bakar agar malam ini kita bisa tidur tanpa kedinginan karena sebentar lagi sepertinya akan hujan lebar,” Damian hanya tersenyum kemudian segera mempercepat langkah kakinya untuk mencari kayu bakar.
Mereka berdua mulai fokus dengan pekerjaan mereka dan menunduk memunguti ranting-ranting kayu satu persatu.
“Ada apa Aelfric?” Tanya Damian saat Aelfric tiba-tiba terdiam dan terlihat was-was sambil mengamati sekelilingnya.
“Ada sesuatu yang berjalan ke arah sini.” Jawabnya sambil fokus melihat kesatu titik.
“Sark”
“Srak”
Tiba-tiba rombongan kelinci berlarian melewati mereka membuat Aelfric dan Damian terlihat lega saat mengetahui hanya rombongan kelinci yang tadi ia rasakan keberadaanya.
“Apa perlu kita tangkap untuk makan malam?” Tanya Damian saat melihat banyak kelinci yang melewatinya.
“Tidak usah, Edward sekarang pasti telah menangkap sesuatu untuk kita makan nanti untuk sekarang kita hanya perlu mencari kayu bakar saja.”
mereka menunggu rombongan-rombongan kelinci itu lewat terlebih dahulu setelah itu barulah mereka kembali mencari kayu bakar.
“Tapi apa kau tidak merasa aneh melihat kelinci-kelinci itu berlari melewati kita begitu saja?” Tanya Damian lagi sambil memunguti ranting-ranting kering.
“Itu terjadi mungkin karena rombongan goblin telah menguasai rumah mereka dan mau tidak mau kelinci-kelinci kecil itu harus melarikan diri untuk melindungi diri mereka sendiri,” Jawab Aelfric yang juga sedang fokus memunguti ranting-ranting kering.
“Berarti itu sudah hukum alam ya, dimana yang kuat lah yang mampu bertahan hidup.”
“Anggap saja seperi itu, ayo kembali Damian. sepertinya kita sudah banyak memungut kayu bakar.”
Damian mengangguk kemudian segera menysul Aelfric yang berjalan lebih dulu untuk kembali ke gua.
Mereka berdua berjalan dengan langkah terburu-buru ingin cepat-cepat kembali ke gua karena langit terlihat semakin gelap dan sesekali terdengar bunyi serta kilatan petir yang menyambar berkali-kali.
“Ayo cepat,” seru Damian saat melihat gua mereka dari kejauhan.
Mereka berdua semakin mempercepat langkah kaki untuk segera sampai tapi tiba-tiba terhenti saat melihat ke arah tempat mereka berdua mengikat kuda-kuda mereka.
“Srak”
Mereka berdua menjatuhkan ranting kayu yang tadi mereka gendong dengan erat, mereka berdua kemudian saling pandang satu sama lain karena kebingungan melihat situasi mengerikan yang terjadi pada kuda-kuda mereka.
“Kenapa kalian meletakkan kayu bakar di luar gua seperti itu, pungut kembali kayu-kayu itu dan letakkan di dalam gua agar tidak basah terkena hujan,” zeyden yang akhirnya tiba melihat Damian dan Aelfric hanya berdiri mematung di depan gua serta ranting-ranting yang telah mereka pungut berserakan di bawa kaki-kaki mereka.
“Ada apa ...?” setelah mendekat Zeyden pun ikut berjejer bersama keduanya dan melihat ke arah mana pandangan Aelfric dan Damian tertuju betapa terkejutnya Zeyden ketika melihat keadaan kuda-kuda mereka yang telah mati mengenaskan.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berdiri di luar seperti orang bodoh” tanya Edward yang juga datang tidak lama setelah Zeyden datang.
“Apa-apaan ini?!” tanyaanya ketika ikut terkejut melihat kondisi kuda-kuda mereka.
Darahnya berserakan dimana-mana, tidak ada bekas sayatan atau tebasan benda tajam dan hanya terlihat bekas-bekas cakaran kuku-kuku tajam serta bekas gigitan yang terlihat.
“Ini bukan ulah manusia,” Ucap Edward yang pada akhirnya kembali sadar dan mulai mengamati sekitarnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tela terjadi.
“Ada apa?” tanya Duke Leonar yang paling akhir sampai dan melihat keempat orang yang ikut bersamanya itu tengah berdiri di luar gua dan dengan serius mengamati sesuatu.
“Duke?” panggil mereka berempat hampir bersamaan saat melihat suara Duke Leonard.
“Astaga, apa yang terjadi selama aku pergi mengambil air,” ucapnya tidak percaya saat melihat hal yang sama dengan apa yang dilihat yang lainnya.
“Kami tidak tahu, saat kami berdua datang keadaanya sudah seperti itu.” Jawab Aelfric dan Damian pelan, karena mereka berdua lah yang sampai terlebih dahulu dibanding yang lainnya.
Duke segera memeriksa barang-barang mereka yang ia simpan di dalam gua dan tidak menemukan hal-hal yang aneh selain kuda-kuda mereka mati mengenaskan.
“Untung lah barang-barang kalian tidak diganggu,” Duke Leonard kemudian menyimpan botol-botol air di dalam gua.
“Aelfric, Damian, kalian berdua pungut kembali ranting-ranting kayu yang berserakan itu dan simpan di dalam gua. Edward bawa kemari hasil buruan mu dan zeyden tolong nyalakan api untuk memasaknya.”
“Baik,” Jawab mereka hampir bersamaan.
“Duke, apa kita tidak perlu mengubur mayat kuda-kuda itu?” tanya Zeyden yang terlihat tidak nyaman melihat mayat kuda yang berantakan itu.
“Tidak perlu kalian cepat lakukan saja apa yang perlu kalian kerjakan.”
“Anda ingin kemana?” Tanya Edward saat Duke Leonard hendak keluar kembali dari gua setelah menyimpan tempat air minum yang ia bawa.
“Aku ingin memeriksa secara langsung bangkai-bangkai kuda itu,”
“Aku juga akan ikut denganmu Duke,”
“Baiklah.”
“sepertinya pelakuknya baru akan pergi ke gua tapi terhenti saat Aelfric dan Damian datang kemudian segera melarikan diri.” Edward melihat langka kaki yang berlumuran darah yang hendak berjalan ke arah gua tapi tiba-tiba terhenti kemudian berbalik dan lari begitu mendengar seseorang datang.
“Itu benar Edward, lihatlah.” Duke Leonard menunjuk jejak-jejak kaki manusia bercampur dengan jejak kaki hewan buas di sekitarnya.
“Pelakunya adalah sekawanan werewolf, manusia serigala!” Edward dengan cepat dapat menangkap maksud dari Duke Leonard saat menunjuk jejak-jejak kaki yang diperlihatkan Duke Leonard padanya.
“Apa kita akan memburunya?” Tanya Edward pada Duke Leonard.
“Tidak usah, itu akan menghabiskan banyak tenaga sebaiknya simpan tenaga mu karena mulai besok kita akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, ayo bantu aku mengubur bangkai-bangkai kuda malang ini.”
Keduanya segera menggali lubang dan setelah menggali cukup dalam duke Leonard dan Edward mulai meletakkan bangkai-bangkai kuda mereka ke dalam lubang dan mulai menimbunnya kembali untuk menutupi bangkai nya agar tidak berbau.
Setelah selesai duke Leonard kembali ke sungai bersama Edward untuk mencuci badan mereka yang kotor saat menggali tanah dan terkena bangkai kuda.
“Srek”
Samar-sama terdengar suara dari arah semak-semak yang tidak jauh dari tempat mereka berdua membersihkan diri.
“Duke, anda mendengarnya juga?” Tanya Edward waspada dan mulai mempertajam pendengarannya.
Duke Leonard mengangguk kemudian menjawab pertanyaan Edward dan segera waspada.
“Tak”
“Hek”
Edward dengan cepat melemparkan belatainya ke arah semak-semak terdengar pekikan yang disusul dengan lolongan panjang setelahnya.
“Manusia serigala, hati-hati Edward pengelihatanya tajam di malam hari,” Duke Leonard segera memperingati Edward yang dengan cepat berlari ke balik semak-semak dan menarik pedangnya dari sarungnya.
“Seekor serigala yang terpisah dari kawanannya?” Edward melihat di balik semak-semak dan melihat seekor serigala yang kini mengerang kesakitan karena kakinya terluka terkena belati yang tadi dilemparkan oleh Edward.
“Heik,” Serigala tadi terpekik kesakitan saat Edward mencabut belatinya secara sembarangan dan memegang punggung lehernya kemudian mengankat serigala itu untuk diperlihatkan pada Duke Leonard.
“Ikat dia dan bawa ke gua,” ucap duke Leonard memerintah Edward setelah melihat dari dekat serigala yang diperlihatkan Edward padanya, Edward menuruti perkataan Duke dan mengikat kaki-kaki serigala itu dan membawanya ikut bersamanya ke gua.
“Kenapa kalian lama sekali?” seru Aelfric saat meliha Duke Leonard dan Edward kini berjalan kembali ke gua.
“Kalian cepat lah kesini dan bergabung bersama kami, daging rusanya sudah hampir matang,” Zeyden segera meminta Duke Leonard dan Edward untuk mempercepat langkah kaki mereka agar bisa sama-sama menikmati makan malam yang telah matang.
“Wah, kalian membawa hewan buruan lagi,” ucap Damian senang melihat Edward mebawa sesuatu di tangannya.
“Ini, kenapa kau membawa hewan jadi-jadian ini kesini ...?” tanya Aelfric saat menyadari sesuatu pada serigala yang di bawa Edward.
“Ada apa?” tanya Damian kebingungan.
“Apa jangan-jangan yang membunuh kuda-kuda kita adalah hewan yang kau bawa ini, Edward?” tanya Zeyden penasaran setelah melihat bahwa yang di tangkap oleh Edward dan Duke Leonard adalah salah satu dari ras werewolf atau manusia serigala.
“Heh? Apa sih yang kalian bicarakan, bukankah dia hanya serigala biasa?” tanya Damian kebingungan karena tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh Zeyden dan Aelfric.
“Ini itu manusia serigala,” jawab Aelfric memberitahu Damian.
“Bagaimana kalian membedakannya dengan serigala biasa? Bagaimana pun aku melihatnya hewan ini hanya terlihat seperti serigala bisa.” Tanya Damian lagi pada Aelfric karena masih tidak dapat menemukan perbedaan yang dikatakan oleh Aelfric.
“Lihat matanya, serigala biasa memiliki warna mata hitam atau abu-abu tapi serigala yang dibawa oleh Edward ini memiliki mata merah,” Aelfric menjelaskan pada Damian sambil menunjuk ke arah mata serigala yang dibawa oleh Edward.
...***...