
“Sudah cukup sampai disini!” Reka kehidupan yang Isabella lihat tiba-tiba terhenti, “Kau sudah melihat banyak kehidupan masa lalumu yang seharusnya kau lupakan Isabella.” Ucapnya memberikan Isabella peringatan.
Di Sekeliling Isabella tiba-tiba berubah dan kini telah menjadi ruangan putih tak berujung kembali, hanya ada dirinya dan kupu-kupu berwarna biru tua yang kadang-kadang mengitarinya dan juga terkadang hinggap di bahu atau kepala Isabella.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh kau tidak akan pernah bisa kembali.” Ucapnya memperingati Isabella kembali.
“Apa aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal pada ayahku?” Tanya Isabella dengan nada sedih berharap permintaannya dikabulkan berharap agar rasa bersalahnya pada ayahnya sedikit berkurang.
“Aku bisa membantumu,” Mata Leathina membulat penuh harapan dan penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh lawan bicaranya selanjutnya.
“Tapi, kau sudah tidak boleh kesana lagi Isabella, di sana bukan duniamu lagi kau harus menerima keadaan mu yang sekarang dan cobalah untuk melupakan masa lalumu, jangan terikat terlalu lama.” Ucapnya membuat Isabella kembali terlihat sedih.
“Kau tahu, kadang-kadang perpisahan tidak harus di ucapkan. Karena itu akan membuat mereka akan semakin kehilangan.” Ucapnya menasehati Isabella.
Isabella mengangguk paham kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan keinginan-keinginan yang menurutnya akan sangat kelewatan jika ia ucapkan.
“Aku tahu,” jawab Leathina kemudian kembali termenung. “Tapi, jika suatu saat nanti ayahku juga telah meninggal dan kebetulan bertemu denganmu tolong sampaikan rasa terimakasihku dan kata maaf ku padanya.” Ucap Leathina memberitahukan keinginan sederhananya.
“Aku tidak janji, tapi akan aku lakukan jika punya kesempatan.” Jawabnya yang tidak memberikan kepastian pada Isabella.
“Apa aku bisa bertanya satu hal lagi?” tanya Leathina dan matanya terus mengekori kemana terbangnya kupu-kupu berwarna biru tua yang terus berterbangan disekitarnya.
“Tidak!” balasnya tegas pada Isabella, “Aku tidak akan memberitahukan mu lebih banyak lagi.” Ucapnya kemudian hinggap di bahu Isabella.
“Aku bahkan belum mengucapkan apa permintaanku tapi kau sudah menolak.”
“Aku tidak akan memberitahu apapun lagi padamu!”
“Pelit sekali,” Isabella mencibir tapi ucapannya tidak dipedulikan sama sekali oleh lawan bicaranya itu, “Padahal aku hanya ingin tahu kenapa Yasmine bisa berubah seperti itu, sangat disayangkan bahwa dia mempunyai sifat jelek yang menghancurkan dirinya sendiri, apa karena aku muncul dan dia merasa terancam bahwa aku akan mengambil tempatnya?” gumam Leathina dan diakhiri dengan bertanya pada dirinya sendiri.
“Itu bukan karena dirimu,” jawab lawan bicara Isabella memecahkan lamunan Isabella yang sekarang sedang menerka-nerka apa yang sebenarnya telah terjadi. “Apa kau tidak pernah mendengar kata pepatah apa yang kau tanam maka itulah yang akan kau panen.” Ucapnya memberitahu Isabella.
“Maksudmu apa yang aku tanam, itulah yang kamu tuai.” Leathina mencoba membenarkan kata pepatah yang diberitahukan padanya.
“Duh, sama saja kok jadi tidak usah di perpanjang.” Jawabnya membela dirinya karena tidak ingin disalahkan.
“Kau tahu sendiri kan bahwa Yasmine berbuat seperti itu dengan kesadaran penuh, tidak ada yang memintanya menjadi jahat seperti itu.” Ucapnya lagi yang akhirnya kembali serius dan memberitahukan pada Isabella.
“Tapi bukankah biasanya sesuatu terjadi karena ada faktor pemicunya, dan Yasmine menjadi jahat seperti itu karena aku mengubah jalan ceritanya bukan.” Gumam Isabella pelan masih sedikit merasa bersalah.
“Jadi karena merasa bersalah padanya kau ingin mengikuti takdirmu yang sebenarnya dan mati di eksekusi tanpa perlawanan. Jika itu mau mu sih silahkan maka kita akan bertemu lagi nanti.”
Isabella menggeleng dengan cepat, tidak ingin mengikuti takdir yang telah ditentukan untuknya Isabella bertekad ingin menjalani hidupnya sebagai Leathina dengan sebaik mungkin.
“Bukan kau penyebabnya Isabella, mungkin pemicunya karena sifat serakah yang ia miliki. Kau tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain atau apa yang sedang ia rasakan dihatinya. Manusia itu makhluk rumit untuk dipahami, jadi jangan mempersulit dirimu sendiri Isabella.”
“Iya aku tahu, terimakasih telah memberitahuku.” Jawab Isabella kemudian menepis perasaan rasa bersalahnya.
“Nah, baiklah sepertinya sudah waktunya kita berpisah disini Isabella.”
“Sekarang?” Tanya Isabella terlihat sedikit kecewa, karena masih ada banyak hal yang ingin ia tanyakan padanya.
“Memangnya kau ingin tinggal disini selamanya?” Tanyanya ketika mendengar pertanyaan Isabella yang terlihat seperti orang yang kecewa.
Isabella kembali menggeleng dengan cepat menjawab pertanyaan yang ditanyakan padanya, “Aku ingin kembali.” Ucapnya kemudian memberitahu keinginannya.
“Maka kau harus kembali Isabella.”
“Bagaimana aku bisa kembali?” tanya Isabella kebingungan karena sepanjang pengelihatannya hanyalah ruangan putih yang tidak memiliki ujung.
“Seseorang akan menuntunmu kembali, tunggulah sebentar lagi. Tapi untuk sekarang cobalah mencari jalan keluarmu sendiri jika kau ingin benar-benar kembali.” Ucapnya memberitahu Isabella.
“Oh iya, pesanku sama seperti pertemuan kita yang pertama. Jangan terlalu cepat untuk mati atau menyerah berusahalah terlebih dahulu dan sampai jumpa lagi semoga kita tidak akan bertemu dalam waktu singkat.” Ucapnya mengakhiri ucapannya kemudian setelah itu kupu-kupu yang sedari tadi terbang mengitari Isabella perlahan-lahan berubah menjadi butiran-butiran pasir berwarna biru kemudian menghilang di udara karena terbawa oleh angin.
Sudah berjam-jam isabella mencari jalan kembali untuknya tapi ia masih tetap tidak menemukan sebuah jalan yang bisa membawanya kembali yang ia lihat hanyalah ruangan putih tak berujung dengan cahaya yang menyilaukan matanya.
“Sepertinya aku akan terjebak disini cukup lama.” Gumam Isabella sambil mendudukkan dirinya disembarang tempat karena tidak menemukan apa-apa. “Aku akan menunggu seseorang untuk menuntunku.” Sambungnya lagi kemudian duduk sambil memeluk lututnya.
...
Setelah kembali dari kediaman keluarga Yarnell, Edward segera memberitahu pelayannya untuk memberikan kamar pada Aelfric sebagai tempat beristirahat selama ia menetap di kastilnya sedangkan Edward sendiri segera kembali ke ruangannya.
Edward duduk diatas kursi berlapis bantal kemudian mengacak kasar rambutnya hingga berantakan dibuatnya.
Tok... tok... tok
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon, Edward yang baru saja duduk kemudian segera berdiri kembali dan berjalan ke arah pintu balkon kamarnya untuk membukanya karena sudah mengetahui siapa yang mengetuk pintunya sekarang.
“Trak”
Terdegar deritan saat Edward membuka pintu balkon ruangannya dilihatnya tiga bawahannya yakni Adam, Troy, dan Nina yang telah berdiri di balkon untuk menunggunya membukakan pintu balkon untuk mereka bertiga.
“Salam tuan Ed’.” Sapa ketiganya hampir bersamaan setelah Edward membuka pintu balkon dan menemui mereka bertiga.
“Bagaimana?” Tanya Edward dingin, dan langusung mengajukan pertanyaan pada ketiga bawahannya.
Mendengar pertanyaan dingin dari Edward mereka semua hanya terdiam tidak berani menjawab dan malah menunduk kebawah, tidak berani melihat Edward karena misi yang diberikan pada mereka secara langsung oleh Edward gagal karena tidak berhasil menemukan Yasmine.
“Jadi kalian gagal menemukannya ya.” Gumam Edward ketika melihat tanggapan ketiga bawahannya tidak terlihat bagus saat mendengar pertanyaannya.
“Maafkan kami tuan.” Ucap ketiganya hampir bersamaan dan masih tidak berani untuk melihat Edward.
“Laporkan!” ucap Edward dan memberikan sedikit penekanan pada ucapannya agar ketiganya tidak lengah.
“kami mengikuti bercak-bercak darah yang mengarah memasuki hutan hitam, petunjuk yang tuan Edward beritahukan pada kami. Tapi saat mengikuti jejak itu masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan hitam tiba-tiba dalam pencarian kami muncul kabut hitam yang menghalagi pencarian.” Troy melaporkan apa yang telah terjadi selama pencarian yang mereka bertiga lakukan.
“Jadi kalian berhenti melakukan pencarian hanya karena terhalang kabut?” tanya Edward dan membuat ketiganya sedikit merasa cemas takut jika Edward menghukum mereka bertiga.
“T-tidak tuan, kami tetap melanjutkan pencarian memasuki hutan hitam.” Jawab Nina dengan ragu-ragu karena merasa takut.
“Jadi apa yang terjadi?” Tanya Edward lagi pada ketiga bawahannya karena belum puas dengan laporan yang mereka sampaikan padanya.
“Kami kembali melanjutkan pencarian masuk ke dalam hutan hitam mengikuti bercak-bercak darah sebagai jejak acuan kami,” ucap Adam kemudian kembali melaporkan pada Edward.
“Tapi saat ditengah-tengah pencarian kami, bercak darah yang kami ikuti sebagai petunjuk tiba-tiba menghilang tidak terlihat lagi bercak darah ataupun jejak-jejak bekas ditapaki kaki manusia. Namun, saat kami bertiga melakukan penyelidikan di sekitar hilangnya jejak Yasmine secara misterius kami menyadari bahwa disekitar hilangnya jejak yang kami ikuti banyak ranting-ranting yang patah serta beberapa bekas cakar di dahan-dahan pepohonan bahkan sebagian pohon ada yang rebah atau patah. ” Adam memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan hitam.
“Kami menduga bahwa Yasmine yang terluka telah menarik perhatian hewan ataupun monster penghuni hutan hitam dan menangkapnya, jadi sekarang kemungkinan besar Yasmine telah mati diserang hewan atau monster buas.” Ucap Troy memberitahu spekulasinya pada Edward.
“Itu hanya dugaanmu, kalian tidak melihat jazadnya ataupun melihat secara langsung bahwa Yasmine diserang hewan atau monster buas.” Jawab Edward tdak ingin langsung menerima pendapat ketiga bawahannya.
Adam, Troy, dan Nina membenarkan perkataan Edward bahwa tidak ada dari mereka yang melihat jasad Yasmine atau melihat Yasmine diserang hewan buas secara langsung di hutan hitam.
“Baiklah aku telah mendengar laporan kalian, besok Winter akan mengirimkan para prajurit ke hutan hitam untuk mencari Yasmine. Kalian menyusup dan menyamarlah menjadi salah satu prajurit yang dikirmkan Winter kemudian ikutlah bersama mereka untuk mencari keberadaan Yasmine di hutan hitam.” Edward memberikan perintah baru pada Adam, Troy, dan Nina.
“Akan kami laksanakan tuan Ed’.” Jawab Adam, Troy, dan Nina hampir bersamaan.
“Baiklah, untuk sekarang kembalilah ke peginapan kalian untuk beristirahat.”
Ketiganya mengangguk mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Edward kemudian mereka beriga melompat dan sengan cepat menghilang dari hadapan Edward.
Setelah ketiganya telah pergi Edward kemudian segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkonnya kembali. Menjatuhkan dirinya dikursi panjang berlapis bantal kemudian mengusap wajahnya kasar.
...***...